
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Aquariums park kota S
Mobil sport yang di kendarai oleh Dirga, dengan penumpang seorang istri dan anak yang lucu, sampai di area parkir Aquariums park.
Aquariums park adalah sebuah taman rekreasi, dengan ikon utama sebuah Aquarium besar di bawah tanah, yang menampilkan keindahan bawah laut dengan ikan dan terumbu karang indah.
Sebenarnya bukan hanya menyuguhkan pemandangan sebuah Aquarium besar, Aquariums park ini juga ada sebuah taman bermain dan juga taman bunga, dengan beragam jenis bunga tumbuh subur.
Dirga turun terlebih dahulu, lalu sedikit tergesa ke arah pintu lainnya, kemudian membukakan pintu untuk Istri dan Anaknya.
Ceklek!
Kedua tangannya terulur, tanda meminta menyerahkan Gav pada gendongannya.
Mengetahui seberapa beratnya beban Sang anak, tentu saja membuat Dirga sadar diri dan membantu dari pada Sang Istri kelelahan.
"Terima kasih, Daddy!" seru Kiara ceria.
Mereka sepakat akan selalu menambahkan kata terima kasih dan maaf, jika mereka melakukan sesuatu agar Sang anak mengikuti perbuatan baik seperti itu.
Bagi Kiara cukup Sang suami saja, yang jarang mengucapkan terima kasih saat menerima bantuan. Ia mau Gav bukan hanya sempurna secara fisik, tapi juga sempurna dengan segala kelakuannya suatu hari nanti.
"Tidak masalah, sayang!" ujar Dirga senang.
Mereka berjalan dengan tangan saling bertautan, menuju bagian tiket dan memasuki area taman, yang pemandangannya mampu menghipnotis mata.
"Lihat taman bunga, jadi ingat taman di desa Nuan. Kangen sekali rasanya," gumam Kiara dengan senyum kecil.
Dirga yang berjalan di samping Kiara dan mendengar gumaman dari Istrinya, ikut mengingat masa lalu, saat-saat Ia dengan gencar melakukan pendekatan kepada Istrinya.
Ia terkekeh di akhiri dengan dengusan geli, saat ingat kelakuannya dulu, kelakuan yang sama sekali tidak Ia sangka di seumur hidupnya.
"Kamu percaya nggak, kalau Aku bilang Kamu adalah perempuan satu-satunya yang Aku dekati dengan cara seperti itu. Kamu juga satu-satunya perempuan, yang membuat Aku keluar dari kebiasaan Aku?" sahut Dirga bertanya pada Kiara, yang melihatnya dengan bibir mencebil meledek.
"Biing sikili!(bohong sekali!)" seru Kiara meledek.
"Ye ... Orang seriusan juga, malah nggak percaya. Nyebelin, bawel gendut!" balas Dirga menyebut Kiara dengan panggilan jaman mereka baru bertemu.
"Ih ... Itu panggilan Aku dulu, jangan di ingat dong!" seru Kiara tidak terima.
"Emang kamu bawel gendut, salah Aku di mana coba?" balas Dirga bertanya dengan santai.
Gyut!
"Akh .... Takit sayang, utututu!"
Kiara tertawa senang saat mendengar suara desisan manja Suaminya, karena cubitan mautnya yang bersarang di pinggang Suaminya.
"Rasakan, suruh siapa mengolok Aku dengan sebutan gendut. Aku kan nggak gendut, tapi berisi!" seru Kiara di sela-sela tawanya.
"Ye ... Sama aja lah yank, berisi dan gendut sama-sama ada isinya. Dasar!" balas Dirga dengan kepala menggeleng pelan.
"Intinya gendut, titik!" lanjut Dirga menyebalkan.
Plak!
"Ih ... Marah nih, huemb!" ujar Kiara dengan pipi menggembung lucu.
Dirga terkekeh dan melepas tangannya yang sedang menggengam tangan Istrinya, lalu menusuk pipi Istrinya gemas.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Gendut tapi cantik, he-he-he!" seru Dirga lalu terkekeh kecil.
Kiara melengos malu, lalu membawa tangan Sang suami kedalam gengamannya lagi.
"Disir gimbil, (dasar gombal)" gumam Kiara pelan, menuai dengusan geli dari Suaminya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, menuju tempat yang sudah di janjikan oleh sahabatnya.
Di ujung sana, tepatnya di dekat pintu masuk Aquariums, mereka bisa melihat sahabat mereka berkumpul, sengaja menunggu kedatangan mereka.
Dari sini Dirga bisa melihat Raka, yang melambai tangan semangat ke arahnya.
"Heboh, bikin malu saja," gumam Dirga seperti bisikan. Tapi Kiara yang di sebelahnya bisa mendengar dengan jelas, jadi Ia pun mencubit lengan Suaminya dengan mata melotot tajam.
Gyut!
"Kamu saja yang sombong, itu tandanya mereka menyambut Kita dengan semangat. Huh .... Dasar!" seru Kiara menggerutu kesal.
Dirga mendengus saat mendengar gerutuan Sang istri, Ia dengan jahil mengucup pipi Sang istri dan menuai pekikan kesal dari Istrinya yang malu di lihat pengunjung di sekitarnya.
"Yah ... Dasar tidak tahu malu!" seru Kiara sebelum di tarik dengan semangat oleh Dirga yang tertawa tanpa dosa.
"Bagus dong, kan artinya dedeknya Gav otewe lahir ke kedunia!" balas Dirga di sela-sela tawanya.
"Ugh!"
Mereka pun berjalan dengan sedikit cepat, tersenyum lebar saat melihat mereka semua tersenyum ke arahnya.
"Yo ... Sehat bro!" seru Raka dengan cengiran khasnya.
"Sakau nih!" balas Dirga lalu tertawa dengan edan bersama dengan sahabatnya.
"Ha-ha-ha .... Bang-
Dirga segera membekap mulut Raka, sebelum Raka mengeluarkan kata mutiaranya. Ia dengan mata melotot mendesis tajam, membuat Raka terkekeh canggung.
__ADS_1
"Gue bantai Lu, sampe anak-anak niru omongan Lu,"
"Ehe-he ... Sorry, sorry!" balas Raka setelah terkekeh canggung.
Pasangan dari masing-masing melihat ke arah Para suami, dengan alis berkerut penasaran.
"Sakau apaan Bang?" tanya Amira dengan ekspresi bingung, melihat ke arah Abang sepupunya dan Raka bergantian.
Ketiganya terkekeh saat melihat pasangan mereka penasaran, karena kata-kata yang jika di cari di kamus pun tidak akan ketemu.
"Sakau itu ... Bukannya yang overdosis gitu yah?" ujar Elisa sama bingungnya.
Mereka tambah terkekeh saat mendengar jawaban dari Elisa, yang jika mengikuti arti universal emang artinya itu.
"Ha-ha-ha!"
"Yah ... Kenapa malah makin tertawa, jawab dong kalau salah!" seru Kiara kesal.
Para Bayi yang saat ini ada di gendongan Para Daddy, melihat orang dewasa di hadapan mereka dengan tatapan polosnya.
Sedangkan Gavriel menepuk-nepuk pipi Sang Daddy dengan heboh, penyakit minta di noticenya kumat.
"Hi-hi, lah-alah!"
Dirga yang tadinya terkekeh semakin terkekeh, saat Sang Putra meminta perhatiannya.
"Benar sayang, jawaban Onty Elisa salah. He-he!!" sahut Dirga lalu mengucup pipi Putranya gemas.
"Lalu apa sayang, kasih tahu dong!" seru Kiara mengulangi pertanyaan penasarannya.
Raka dan Faro masih saja terkekeh sampai terbatuk dengan lebaynya dan jika saja anak dari masing-masing tidak menepuk pipi mereka kesal, mungkin keduanya semakin ngekek sampai guling-guling di lantai Aquariums Park.
"Oke, oke ... Lagian Kalian ini penasaran banget sih. Yang pasti kata-kata ini tidak akan Kalian temukan di kamus mana pun, apalagi di google atau juga bertanya dengan profesor sekalipun!" seru Dirga sombong, menuai anggukan dari kedua sahabatnya.
"Kata-kata ini buatan Kami, kalau lagi bosen sama bahasa baku!" seru Faro menyahuti.
"Ya sudah lah, kasih tahu saja yang jelas. Baba!" sahut Elisa menatap Suaminya dengan wajah penasaran.
"Kasih tahu Ga, ini kan gara-gara Lu. Coba Lu nggak ungkit bahasa alay jadul Kita!" ujar Raka sambil menyenggol Dirga yang sedang di siksa Putranya.
"Ha-ha-ha ... Sudah ah, nggak usah di bahas!" seru Dirga menghindar dengan entengnya.
"Ih ... Sudah buat penasaran, malah di gantung gini. Kejam sekali!" seru Kiara kesal.
Ia menatap Suaminya menuntut, saat pertanyaannya belum di jawab sama sekali.
Puk! Puk! Puk**!
Dirga menepuk kepala Kiara sayang, merayu Sang istri agar melupakan kata-kata absurd yang tadi Ia ucapkan.
"Bagaimana kalau Kita semua masuk sekarang, sepertinya anak-anak sudah tidak sabar untuk melihat ikan dan terumbu karang di dalam. Bagaimana, heum?" ujar Dirga lembut, Ia melihat dengan senyum charming membuat Kiara akhirnya mengangguk.
Dirga tersenyum jahil, mengedipkan sebelah matanya menggoda Sang istri.
"Boleh, tapi kasih hadiah servic spesial yah!" bisik Dirga di telinga Kiara, membuat Kiara melotot dan segera memukul lengan Dirga yang langsung terkekeh puas.
"Kebiasaan ih," sembur Kiara dengan wajah merona.
Di saat pasangan Wijaya sedang bermesraan dengan tanpa malu, pasangan Raka dan Faro juga sibuk dengan pertanyaan istri masing-masing mengenai perkataan absurd dari Dirga.
Raka hanya tersenyum dengan cengiran kampretnya, sedangkan Faro mencubit pipi Istrinya dengan bisikan yang hanya mereka saja yang tahu.
Kegiatan mereka tidak luput dari penglihatan berpuluh-puluh pasang mata, adegan romantis ala keluarga harmonis jelas terlihat bagi siapa saja yang menyaksikan.
Bahkan tidak jarang ada yang sengaja mengambil memotret mereka, khususnya untuk pasangan Wijaya yang memang selalu menjadi langganan lensa kamera paparazi.
"Masuk yuk!" seru Faro semangat, mengajak semuanya dengan wajah berbinar senang.
"Kuy!"
"Cuz!"
"Yey!"
"Yuk!"
Akhirnya setelah obrolan ngalur-ngidul ala pertemuan geng edan, Mereka pun meninggalkan pintu masuk, berjalan bersisihan dengan pasangan masing-masing menuju ke tempat tujuan.
Mereka menuruni tangga dengan lampu kecil di setiap undakan anak tangga. Suasana gelap dengan bantuan cahaya berwarna biru dari lampu, membuat mereka merasa seperti di salam goa.
Dari ujung tangga bawah sini, mereka bisa melihat kumpulan pengunjung yang melihat ke satu titik. Itu artinya awal lorong Aquariums sudah hampir mereka capai.
Setelah ruang gelap akhirnya mereka sampai di ruangan utama, di mana kaca dengan kualitas terbaik menampilkan bermacam-macam populasi ikan.
Bukan hanya Ikan, mahluk laut lainnya juga terlihat dengan jelas. Terumbu karang cantik menghiasi setiap permukaan, menyembunyikan ikan kecil dan juga spesies lainnya.
Mereka berhenti di satu tempat, saat ada Ikan Pari besar melintas dengan anggunnya.
Gerakan ekor dan badan ikan layaknya sayap, membuat gerakan ikan Pari seperti melambai dengan luwesnya.
"Woah ... Lihat itu ikan pesut!" seru Raka edan, membuat Amira yang ada di sebelahnya menampol punggung Suaminya gemas.
"Kok ikan pesut? Itu jelas-jelas ikan duyung, Pipi!" sahut Amira sewot sama edannya.
Ezra yang ada di gendongan Raka hanya memandang ke depan dengan mata bulat berbinar senang, tanpa memperhatikan pertengkaran absurd antara Mimi dan Pipinya.
Tangan mungilnya menyentuh permukaan kaca, di ikuti dengan kikikan kecilnya.
"Hi-hi, tan!"
Raka dan Amira yang tadinya rusuh berduaan, menoleh ka arah Anaknya dengan senyum geli.
__ADS_1
"Yes Kiddo, itu namanya ikan. Lebih tepatnya Ikan Pari besar, mengerti?" sahut Raka lembut.
"Tan, yi!"
Raka mengangguk kemudian mengusap kepala Ezra sayang, di ikuti Sang Mimi mengecup gemas pipi Ezra yang terkikik geli.
"Hi-hi!"
"Nah .... Yang itu namanya ikan Paus!"
Kali ini dengan serius Raka menyebut satu per satu jenis ikan, yang lewat di hadapan mereka berdiri.
Lalu di sampingnya ada pasangan keluarga Wardhana, Faro dan Elisa juga tidak kalah semangat menjelaskan jenis-jenis ikan yang lewat dengan sesekali tertawa saat Anak perempuannya bertepuk tangan gembira.
"Hi-hi, Tav!"
"Eh ... Queene panggil Gav? Ada apa?" sahut Kiara yang kebetulan memang berdiri bersisian dengan Elisa.
Queene menampilkan senyum lebarnya, dengan tangan menunjuk ke arah Aquarium.
"Sepertinya Queene ingin menunjukan kepada Gav, jika Ia senang melihat ikan!" seru Elisa dengan senyumnya, hingga kedua matanya menyipit.
"Gav bahkan sudah fokus, lihat Dia sibuk dengan Daddy-nya," balas Kiara mendengus ke arah samping. Dimana ada Dirga yang sedang menunjukan segala macam yang ada di dalam Aquarium, dengan Gav yang bergerak heboh.
Elisa dan Kiara terkikik senang, lalu melanjutkan kegiatan masing-masing bersama keluarga kecilnya.
Mereka menelusuri Aquarium besar dari ujung, hingga ujung dari bagian Aquarium. Melihat dengan ekspresi senang, di iringi dengan candaan dan obrolan senang lainnya.
Bukan hanya berkeliling, mereka juga mengambil gambar ikan berenang dan foto bersama menggunakan kamera digital yang sengaja Elisa bawa.
"Ah ... Aku tidak tahu jika akan ada kegiatan seru seperti ini, jadi tidak membawa kamera kan!" seru Kiara menyesal.
"Lain kali Kita kemari lagi, ajak Mama, Papa dan Kakek. Oke?" ujar Dirga melihat Sang istri dengan senyum kecil.
Kiara mengangguk dengan senyum lebar lalu bergelayut manja di lengan Suaminya.
"Yakusoku?" ujar Kiara semangat.
"Hai, yakusoku!" balas Dirga cepat.
Gavriel menepuk-nepuk dada Sang Daddy meminta perhatian, membuat Dirga melihat ke arahnya dengan alis terangkat sebelah.
"Ada apa, sayang?" tanya Dirga penasaran.
"Yun-uyun!"
"Heum ... Turun? Mau jalan sendiri?" sahut Dirga lalu bertanya dengan ekspresi tidak yakin.
"Di sini terlalu ramai, Gav belum pandai berjalan!" seru Kiara melarang.
Gav dengan kepala menggeleng, meronta ingin turun membuat Dirga mau tidak mau menurunkan Sang anak, dari pada jatuh dari gendongannya.
"Oke, oke ... Daddy turunin nih, jangan ngambek. Janji!" seru Dirga mengalah.
Ia pun berjongkok, lalu dengan perlahan menurunkan Sang anak dari gendongannya.
Hup!
"Pelan-pelan, got it?" gumam Dirga di telinga Sang anak.
Gav terkekeh semangat, lalu mulai berjalan melangkah dengan kaki mungilnya dan sesekali berhenti untuk menyeimbangkan langkahnya.
"Hi-hi!"
Kekehan senang terdengar tanpa henti dari bibir Sang Putra, membuat pasangan Wijaya itu ikut terkekeh gemas.
"Di kantor juga gitu, pamer mau kasih lihat dan mau bilang jika Dia sekarang bisa bejalan sendiri. Dasar bayi sombong," ujar Kiara mendengus geli.
Dirga terkekeh bangga dengan sikap sombong Putranya, Ia merasa senang saat melihat Anaknya belajar pamer karena kebisaanya.
"That's my kid, of course dear. he-he!" balas Dirga tambah terkekeh puas saat istrinya melengos dengan bibir bergetar menahan tawa.
Ia pun mencolek pinggang Sang istri gemas, membuat Kiara ikut terkekeh merasa geli.
"Ih ... Colek-colek , emangnya Aku sabun colek?" sewot Kiara tapi tidak dengan bibirnya yang mengeluarkan tawa geli.
"Ha-ha-ha ... Sabun colek!" ulang Dirga geli.
"Dadd, Momm!"
"Yes honey!"
"Yes Kid!" sahut Mereka berbarengan..
"Hi-hi, tan, mo-emo!"
"Nemo sayang!"
"Hi-hi!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Next part ada gambarnya, tetap tunggu up nya yah ...
Ada yang mau tahu arti sakau?
Next episode di jelaskan. Oke ... Sampai babai
__ADS_1