Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Bilang Saja Suka


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Lewis Capaldi__Someone You Loved.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Long Ping, Yuen Long, New territories.


Kediamanan Chen


Gavriel dan Ezra kembali dari acara olahraganya siang hari, dengan keadaan rumah sepi, saat biasanya sang adik merecokinya dengan rengekan manja ketika ia selesai jika olahraga di rumah.


Di depannya ada Ezra, yang berjalan santai menuju kamar, sedangkan ia sendiri lebih memilih ke arah dapur, hendak menuntaskan hasrat dahaganya.


Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air kemasan dengan rasa lemon, membuka tutup dan meminumnya sekali teguk.


Ahh!


Seketika rasa haus hilang, tenggorokannya lega saat air dengan rasa asam itu membasahi tenggorokannya yang tadi kering.


Mata tajam turunan Wijaya ini memandang sekitar, melihat keadaan dapur sempit namun tidak sesak dengan seksama. Mulai dari tempat biasa nenek Nena masak, lanjut ke bagian lainnya dan yang terakhir adalah meja makan dengan piring di tutup dengan wraping bag di atasnya.


Alis terangkat dengan sempurna, penasaran dengan sesuatu yang ada di piring tersebut. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati meja, berhenti dan menatap isi piring dengan kening berkerut penasaran.


Di dalam piring ada apa? Tentu saja makanan. Tapi yang jadi pertanyaan adalah makanan itu untuk siapa?


Di sebelah piring yang berisi dua tangkup roti isi itu adalah small note, dengan tulisan rapih ciri khas sahabatnya, yang bertuliskan namanya dan juga sepupunya.


Dimakan, Tav, Ez.


Membaca dalam hati, Gavriel tersenyum kecil dengan kepala menggeleng pelan, lucu dengan tingkah manis sahabatnya, yang masih perhatian padahal kemarin sempat ada ketegangan di antara mereka.


"Queeneira," batin Gavriel memanggil nama sahabatnya.


Ia memutuskan untuk membawa piring itu ke dalam kamar, sembari menunggu sepupunya yang saat ini mungkin sedang mandi.


Sambil berjalan santai, ia juga mengecek handphonenya, berharap dapat pesan dari sang adik yang mengabari akan keberadaan mereka saat ini. Namun sayang, tidak ada pesan sama sekali dari sang adik, membuatnya mendesah lelah saat yakin, jika adiknya sangat kesal kepadanya.


"Hais .... El," lirihnya, kemudian kembali memasuki handphonenya ke dalam kantung hoodienya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka bersamaan dengan sepupunya, yang sedang membuka hoodienya, sehingga perut dengan hiasan ABS belum sempurna terpampang di hadapannya.


"Kirain lagi mandi," ujar Gavriel melangkah masuk dan meletakkan piring yang di bawanya di meja yang ada di kamar mereka.


"Belum, nanti dulu, tadi abis kepoin Instakilo doi," balas Ezra dengan cengiran khasnya, menjelaskan sesuatu yang sama sekali tidak ditanya oleh sepupunya.


"Nggak nanya," dengkus Gavriel, merebahkan dirinya di kasur dan mendesah lelah.


"Sengaja ngasih tahu, biar nanya, dodol," sewot Ezra sebal sendiri, saat perkataannya dibalas dengan dengkusan tidak peduli dari sepupunya.


Meskipun begitu, sebenarnya Gavriel tidaklah benar-benar tidak peduli dengan apa yang dilakukan sepupunya. Ini adalah caranya, saat Ezra sendiri mengerti bagaimana tabiatnya.


"Apa tuh yang di piring?" tanya Ezra penasaran, kemudian mendekati piring untuk melihat isinya.


"Sandwich," beo Ezra saat sudah melihat isi piring yang adalah dua tangkup roti isi.


"Hum, dari Que, buat kita," sahut Gavriel singkat.


Gavriel menutup matanya dengan lengan, setelah membuka hoodie dan hanya menyisakan kaos singlet berwarna putih, dengan tubuh berkeringat.


"Nggak cukup segini mah," dumel Ezra, kemudian mengambil handuknya.


"Cari makan di luar yuk!" ajaknya kemudian.


"Boleh aja, tp sandwichnya buat aku," sahut dan pinta, bukan meminta lebih tepatnya menyatakan kepemilikan.


"Ck ... Bilang aja, kamu juga kurang makan segitu," sewot Ezra dengan decakan kesal.


"Oh ... Atau kamu jadi rakus karena buatan Que yah? Hayoo ... Ngaku," lanjut Ezra menggoda Gavriel, yang salah tingkah dengan pipi berubah warna yang segera ditutupinya.


"Ngaco! Aku memang sedang lapar. Lapar sekali," elak Gavriel, tanpa mengubah posisinya, masih rebahan dengan lengan menutupi kedua mata dan pipinya.

__ADS_1


"Sial," batin Gavriel malu.


"Ohh ... Lapar sekali yah, oke deh kalau begitu. Nanti makan yang banyak yah di luar sana," ledek Ezra dengan senyum geli.


"Hn."


Kekehan kurang ajar terdengar dari Ezra, dengan Gavriel yang mengumpati dirinya saat salah tingkah.


"Lapar, lapar, mulai lapar," ledek Ezra bersiul senang, kemudian semakin menjadi dengan gelak tawa saat Gavriel melemparnya dengan hoodie milik sepupunya yang tadi dilepas.


Brukh!


"Bangke! Mandi sana," umpat Gavriel malu.


"Wo-ko-kok! Idi ying miri-miri, (Ada yang marah-marah)" ledek Ezra semakin menjadi, kemudian memasuki kamar mandi dengan segera, saat melihat sepupunya bangkit dari rebahan dan hampir melemparnya lagi dengan sepatunya.


"Bilang aja kalau suka!"


Blam!


Brak!


Seruan dari Ezra sebelum masuk kamar mandi adalah hal terakhir yang di dengar Gavriel, sebelum pintu tertutup dengan sepatu yang melayang dan membentur, menimbulkan suara debaman keras. Sedangkan si pelaku hanya bisa tertawa keedanan di dalam kamar mandi, merasa lucu dengan sepupunya yang sebenarnya seperti orang suka, namun juga seperti tidak.


"Ck-ck-ck ... Sahabat jadi cinta, bisakah," gumam Ezra dengan decakan sok dewasa.


Di luar kamar mandi, Gavriel yang masih rebahan santai perlahan membuka matanya, menyentuh dadanya di mana jantungnya berada. Ia merasakan debaran kencang, saat dirinya menyebut nama sahabatnya di dalam hati.


Sebenarnya apa arti dari debaran kencang pada jantungnya, seakan ada rasa melilit tidak sakit namun menyenangkan, dengan bumbu tidak nyaman disaat bersamaan.


"Aku nggak mungkin punya perasaan berbeda kan, sama sahabatku sendiri," batin Gavriel masih memegang dadanya, merasakan debaran menyenangkan saat ingat waktu yang dilaluinya bersama para sahabatnya.


"Suka?" gumam Gavriel, dengan kening mengernyit bingung.


"Tentu saja, aku dan dia sudah bersama selama enam belas. Bahkan Momm bilang aku lebih dulu bermain dengan Que, dari pada Ezra yang beda beberapa bulan umurnya dariku," lanjut Gavriel, menjawab gumamannya sendiri.


"Iya, kan?" tanyanya lagi.


Tidak ingin bingung sendiri, dengan sesuatu yang lagi-lagi belum pernah dipelajarinya. Gavriel pun bangun dari rebahannya, lebih memilih memakan sandwich yang dibuat sahabatnya dan kembali mengecek handphonenya, berharap sang adik mengirimnya pesan.


"Ck, bodoh," umpatnya untuk diri sendiri.


Sambil mengunyah sandwich di tangannya, Gavriel melihat halaman rumah kakek Fendi, dengan tangan satunya mengetik balasan pesan singkat untuk adiknya.


To: El__🐰


Pulang jangan terlalu larut.


Status : Terkirim


"Habis ini kemana," monolog Gavriel, kemudian mengambil lagi sisa sandwich di piring dan memakannya, tidak peduli jika sepupunya akan menanyakan bagiannya.


Tidak lama kemudian, sepupunya keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar, terlihat dari tetesan air dari rambutnya.


"Buruan mandi, terus cari restoran," kata Ezra dengan tangan sibuk menggosok rambutnya yang basah, dengan handuk kecil. Sesekali ia akan mengancak rambutnya, kemudian menggosoknya lagi.


"Hn."


Gavriel tanpa banyak protes, menuruti apa yang di katakan oleh sepupunya. Ia memasuki kamar mandi, membawa handuk dan pakaian gantinya, tidak seperti sepupunya yang gemar pamer ABS.


Blam!


Pintu tertutup, dengan Ezra yang berjalan menghampiri piring tempat sandwich tadi di letakkan. Ia menggerutu dengan bibir mencebil, saat bagian miliknya ternyata dimakan juga oleh sepupunya.


"Dasar rakus, padahal kalau makanan dari yang lain belum tentu dimakan sendirian," dengkus Ezra dengan kepala menggeleng geli.


Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu, saat sepupunya mengerti arti sahabatnya untuk sang sepupu.


"Kapan dan seperti apa nanti, aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian berdua," lanjutnya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, keduanya sudah siap dengan tampilan santai namun necis, dengan kaos berkerah garis biru-putih untuk Ezra, sedangkan Gavriel sendiri memakai kaos putih dengan kemeja strip sebagai luarannya.


Keduanya jalan santai melewati lapangan dengan rumput hijau, sesekali berhenti saat Gavriel memenuhi ajakan sepupunya, yang ingin berfoto dengan dalih kenang-kenangan, padahal ia mengambil foto untuk di posting di akun Instkilonya.


"Ayo Gav, backgroundnya keren," ajak Ezra dengan kamera shoot mode on.

__ADS_1


"Nggak mau," tolak Gavriel, namun tetap memasang pose, dengan Ezra yang mendengkus.


"Bibirnya mana?"


"Blee!"


Cekrek!



"Good, nice picture," gumam Ezra puas.


"Preett lah, buruan yuk! Katanya lavar," sewot Gavriel, membuat Ezra terkekeh saat tadi dirinya lah yang sibuk minta keluar cari makanan.


"Iya-iya ... Gavriel gini nih, kalau pawangnya dipinjem kakak kelas," sindir Ezra dengan Gavriel yang menendang bokong sepupunya kuat.


Buagh!


"Wassemmm, sakit bangke!"


"Mamvus," tandas Gavriel tidak peduli.


Keduanya menyusuri jalanan daerah long ping dengan santai, menikmati keramaian dengan berjalan kaki dan kingkai-kingkai (Bercerita), mencoba makanan dari yang sekedar jajanan pinggir jalan, hingga makanan berat di restoran. Keduanya jalan seperti pasangan sahabat pada umumnya, meskipun kurang lengkap tanpa kehadiran adik dan sahabat perempuannya.


Tidak terasa waktu sudah sore, saat mereka tiba di rumah dengan rumah Masih baca dalam keadaan sepi.


Pertanyaan adalah kemana kakek dan nenek Queeneira?


Masyarakat sini biasa melakukan kegiatan rutin kumpul bersama teman, di restoran dengan sebutan yam cha (Minum teh), namun sebenarnya kumpul, makan-makan sambil bercerita.


Keduanya masuk ke dalam rumah, memasuki kamar dan seperti biasa, melakukan hal yang biasa anak laki-laki lakukan.


Apalagi kalau bukan rebahan santay, sambil memainkan handphone masing-masing.


"Mereka pulang jam berapa?" tanya Ezra, tanpa melihat ke arah sepupunya, yang sibuk dengan jari bergerak lincah di layar handphonenya.


"Entah, El bilang mereka mau nonton," balas Gavriel tanpa minat, sebenarnya ia saat ini sedang menyembunyikan rasa kesalnya, saat dirinya tidak bisa menyaksikan sendiri, bagaimana sang adik yang pastinya memekik senang saat nonton bioskop.


"Ck, tahu gitu kita susul," gumam Ezra berdecak sebal.


"Hn."


Waktu berjalan maju seperti kata Ezra, tidak terasa pula jika malam tiba.


Nenek dan kakek Queeneira bilang pulang agak malam, sehingga mereka masih berduan hingga pukul menunjuk tujuh malam.


Gavriel yang merasa gelisah karena adiknya belum juga pulang, berjalan mondar-mandir di jendela kamarnya, lalu kembali lagi duduk di atas ranjangnya.


"Belum pulang juga," tanya Ezra, belum bosan dengan handphonenya.


"Belu-


"Makasih yah Mas, sudah ajak El jalan, he-he ... El senang hari ini."


Gavriel menelan lagi kalimat yang akan diucapkannya, saat mendengar suara adiknya di bawah sana.


"El tuh," sahut Ezra tiba-tiba.


Gavriel tanpa banyak bertanya berdiri dari duduknya, melihat ke arah jendela dan melihat adiknya yang berdiri berhadapan dengan kakak kelasnya, dengan perasaan lega dan kesal disaat bersamaan.


Lega saat akhirnya sang adik pulang, lalu kesal saat kakak kelasnya kurang asem sok dekat dengan adiknya.


Lalu ia melihat ke arah luar gerbang, di mana sahabatnya dan juga ketua OSIS mereka, berdiri dengan saling memunggungi namun tangan bertaut.


Siapa yang di pegang atau siapa yang memulai ia tidak tahu, tapi saat ia melihat jelas dari atas sini, bagaimana kakak kelasnya memajukan wajahnya ke arah wajah sahabatnya, seketika ia merasa marah meski masih bisa ditahannya dengan tangan mengepal erat.



"Fak, sedang apa mereka," batin Gavriel kesal, lalu melengoskan wajahnya, enggan melihat kejadian selanjutnya dari sahabat dan kakak ketua OSIS sekolahnya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya .....

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2