
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Boleh tanya?" ujar Dirga.
Saat ini Kiara sudah duduk di atas ranjang dan menghadap ke arahnya.
"Apa?" balas Kiara
"Yang tadi siang itu apa sih? Aku penasaran!" seru Dirga bertanya. Ia melihat wajah Sang istri dengan ekspresi serius, yang malah di balas dengan senyum geli.
Kiara terkekeh mendengar pertanyaan Suaminya, maka dengan senyum kecil Ia hanya balas mengecup pipi Suaminya lalu merebahkan diri di sampingnya.
"Sudah malam, istirahat dulu, Oke?" balas Kiara menahan kikikan.
"Sayang!" panggil Dirga manja.
"Hi-hi!!"
Kiara terkikik saat mendengar nada manja dari Suaminya, yang saat ini sedang menusuk-nusuk pipi kanan Kiara dengan gamas.
"Kamu mau tahu banget yah atau mau tahu sekali?" ujar Kiara. Ia membalikkan badannya menghadap ke arah Dirga, yang saat ini mendengus kecil mendengar pertanyaan darinya.
"Miwi tiwi bingit dih! (mau tahu banget deh!)" balas Dirga dengan tangan mencubit kecil pipi Istrinya.
"Ugh ... Jangan pake cubit yank, takit cau! (sakit tahu)" seru Kiara manja.
"Oke ... Kasih tahu Aku kalau begitu," ujar Dirga memaksa.
Kiara menghela nafas pasrah, saat Suaminya sudah dalam mode absolut dan itu artinya Dia benar-benar penasaran.
"Baiklah, Aku kasih tahu deh ...." ujar Kiara dengan nada pura-pura menyerah.
Sebelum menjawab Ia berdehem sebentar, menghilangkan kikikan gelinya.
"Jadi tuh, sewaktu Kamu kecelakaan-
Kiara menghentikan kalimatnya merasa hatinya di cubit, saat mengingat kenangan pahit tentang kecelakaan Suaminya, terlebih Ia sendirilah yang membukanya.
Dirga menggengam tangan Kiara yang saling meremas gelisah, seakan sedang sakit menahan luka yang ternyata terbuka lagi karena ulahnya.
"Nggak apa-apa sayang, kalau Kamu nggak bisa cerita!" ujar Dirga lembut. Ia mengusap perlahan hingga tangan yang tadi kaku, berangsur rileks.
"Bukan, itu bukan inti yang mau Aku ceritakan. Tapi ini tentang sahabat Kamu yang sangat mencintai Kamu, layaknya keluarga tapi tanpa kenal batas!" ujar Kiara menjelaskan cepat.
Suaminya bukan ingin cerita tragedi itu, tapi penjelasan tentang pertanyaan Dia yang belum terjawab tadi siang. Jadi Ia sebagai orang yang tahu, alangkah baiknya memberi tahu.
"Maksudnya?" tanya Dirga memastikan.
"Kamu beruntung memiliki Raka dan Faro sebagai sahabat, Kamu tahu bahkan mereka berdua tidak segan untuk menangis, saat kejadian itu," balas Kiara menjelaskan.
Dirga terdiam mendengar cerita dari Sang Istri yang benar adanya, bukan hanya karena kejadian ini. Tapi memang sahabatnya selalu ada di depan, saat Ia membutuhkan bantuan apapun itu, tolong di catat apapun itu.
Bukan sekali atau dua kali mereka dalam situasi seperti ini, mereka ada untuk saling bahu-membahu. jadi jika terjadi masalah pada salah satu di antara mereka, bukan hanya satu yang akan lawan hadapi tapi tiga sekaligus.
"Kamu benar, Aku memang beruntung memiliki mereka. Tanpa mereka Aku juga tidak akan menjadi Dirga yang sekarang, tapi Dirga yang tidak bisa di sentuh!" balas Dirga menyetujui.
"Benar kan? Aku juga dulu punya Elisa, yang selalu ada di samping Aku dan sekarang Aku juga ada Kamu, yang selalu lindungi Aku!" seru Kiara tersenyum manis.
Dirga tidak tahan melihatnya, di kuasai oleh rindu yang menggebu serta senyum dari bibir menggoda istrinya, maka Ia memajukan wajahnya yang di respon baik oleh istrinya.
Ciuman panjang di hari kedua Ia membuka mata, ciuman pelepas rindu pada istrinya yang di akhir oleh senyum bahagia dari mereka masing-masing.
"Wajah Kamu merah sayang!" seru Dirga menggoda. Ia menaik turunkan alisnya, yang di hadiah oleh Kiara tampolan manja.
"Ih ... Senang sekali menggoda Aku!" balas Kiara malu.
"Duh ... Manisnya!"
"Uh ..."
"He-he ... Tapi sepertinya, pertanyaan Aku belum di jawab deh yank!" tanya Dirga masih penasaran.
"Kamu yakin masih ingin tahu?" tanya Kiara.
"Iya dong!" balas Dirga cepat.
"Yakin?" tanya Kiara sekali lagi.
"Aku sih Iyes!" balas Dirga berkelakar.
"Oke deh!" seru Kiara pura-pura pasrah.
"Jadi itu, Raka bilang ...
"Iya ....
Dirga menyahuti setiap perkataan kiara dengan nada mendayu, gemas dengan kalimat dari Istrinya yang terlalu terbelit-belit.
"Raka bilang akan mengecup kening Kamu, saat Kamu sadar nanti!" lanjut Kiara cepat kemudian melihat ekspresi Suaminya.
Ia melihat Sang suami yang mengangguk-anggukan kepala, sedang memikirkan kalimat darinya dengan nada cepat.
"Hm ... Raka bilang akan mengecup kening Aku, jika Aku sadar. Hum ... Ya-ya,"
Kiara terkikik saat Sang suami masih memproses kalimat darinya.
"Aku di kecup saat sadar, hum ..."
Kali ini gumaman panjang yang di dengarnya.
Kikikannya tentu saja semakin menjadi.
"Bisa jadi lola gitu sih," batin Kiara geli.
"Tunggu!"
__ADS_1
"Hum?" balas Kiara bergumam. Bahkan saat ini Ia sudah kembali berbaring, saat Suaminya masih memproses kalimat sederhana darinya.
"Pinjamin Aku handphone Kamu!" pinta Dirga tiba-tiba.
Kiara mengernyit heran mendengar permintaan dari Suaminya.
"Untuk apa?" tanya Kiara cepat.
"Pinjamkan saja sayang," balas Dirga dengan nada manis.
Kiara pun tidak ambil pusing, dengan permintaan Suaminya. Tangannya terulur mencoba meraih handphone miliknya, yang Ia letakan di samping ranjang Suaminya.
"Nih ... Untuk apa sih?" ujar Kiara, tangannya memegang handphone yang Ia sodorkan kehadapan Suaminya.
Dirga segera menerimanya dan dengan cepat mencari kontak handphone seseorang. Setelah ketemu nomor yang akan di hubunginya, Ia menekan tombol panggil dan meletakkannya di telinga kanannya.
Tut! Tut! Tu-
"Ya Ra, ada apa?"
Suara seorang yang sangat di hafalnya terdengar, Ia pun mengambil nafas dalam kemudian mengucapkan kalimat sinis andalannya.
"Najis, Raka kampret awas Lu kemari, Gue pastikan bibir Lu lebih dulu mencium penggorengan, sebelum mencium kening Gue!"
Tut!
Lalu langsung memutuskan panggilan sepihak, tanpa berfikir jika orang yang menerima panggilan darinya melongo.
Kiara yang menjadi saksi kelakuan absurd Suaminya hanya bisa melongo, matanya berkedip-kedip lucu lalu sadar ketika pipinya merasakan sesuatu yang basah.
"Istirahat sayang, sudah malam. Nih handphonenya!" ujar Dirga cepat sambil memberikan handphonenya kembali.
"..."
"Kenapa?" tanya Dirga heran.
"Kamu nelpon Raka hanya ingin bilang seperti itu?" tanya Kiara heran.
"Iya, itu lebih baik dari pada kosa-kata yang lain," balas Dirga santai.
Kikikan Kiara terdengar setelahnya, saat handphonenya bergetar singkat tanda pesan masuk. Ia membuka dan membaca pesan singkat, yang kelewat singkat dari orang yang barusan Sang suami telpon.
_______________________________
From:Raka Amira
Lu yang najis Dirga, mati aja Lu.
________________________________
"Ya ampun kalian benar-benar manis sekali!" seru Kiara menggoda.
"Jangan bercanda sayang!"
"Ha-ha-ha!"
"Kamu mau Aku cium lagi?"
"Kamu berani tinggalin aku?"
"Ha-ha-ha!! Manisnya ...."
"Kiara, sini Kamu Aku cium,"
"Kabur ..."
Kiara dengan kekehan kecilnya, pindah ke ranjang di mana ada Anaknya tertidur dan segera merebahkan diri di samping Anaknya.
Ia meninggalkan Dirga sendiri yang saat ini masih misuh-misuh, karena Istrinya lebih memilih menemani Sang anak tertidur, di bandingkan dengan mendengarkan gerutuan darinya.
"Awas yah, terima hukum dari Aku nanti!" seru Dirga pura-pura kesal.
"Takut, Aku takut sekali. Ha-ha-ha .... Selamat malam mantan tunangan arogan Aku. Selamat istirahat!" balas Kiara tanpa menghadap ke arah Dirga yang sebenarnya tersenyum.
"Tunggu saja," ujar Dirga
"Selamat malam juga," Lanjutnya
"Mimpi indah sayang!" gumam Dirga lirih. Lalu ikut mengistirahatkan tubuhnya, setelah itu terdengar dengkuran halus dari ketiganya.
Skip
Pagi datang cepat, kegiatan pemeriksaan tetap berjalan demi cepatnya proses penyembuhan Dirga.
Suasana tidak seperti kemarin, siang ini lebih berwarna dengan tingkah lenjeh Sang putra yang saat ini sedang bermain, dengan seorang yang dulu mereka kenal dari sebuah toko kue.
Istrinya bilang Ia tidak sengaja Bertemu dengan Dia, Si Ruby cantik pemilik dari toko kue Kafe Latte. Mereka berpapasan di koridor rumah sakit dan Si Gav yang saat itu sedang berjalan-jalan, meronta ke arahnya minta di gendong.
Alhasil Istrinya mau tidak mau, dengan wajah memelas meminta agar Dia menggendong Putranya.
Yah ... Untunglah Dia gadis yang baik dan sayang anak-anak, sehingga Dia balas dengan semangat lalu segera membawa Gav yang tertawa senang dalam gendongannya.
"Terima kasih ya Nak Ruby, maaf merepotkan!" seru Sarah dengan nada tidak enak.
Ia heran kenapa Cucu menggemaskannya, bisa cepat akrab seperti itu dengan orang asing.
"Tidak apa-apa Bibi, Ruby suka bermain dengan anak-anak. Terlebih jika itu Gav, iya kan tampan?" balas Ruby sopan.
Gav terkikik geli saat Sang kakak cantik, menjawili pipi gembilnya dengan gemas.
"Waktu itu Kami bertemu Ruby di Kafe Mah dan kebetulan Ruby ini anak Si pemilik Kafe, sepertinya Gav sudah menyukai Ruby di awal pertemuan!" sahut Kiara menjelaskan.
"Wah ... Benarkah? Kalau begitu, lain kali tante berkunjung ya ..." sahut Putri antusias.
"Boleh Tante, Ruby tunggu yah!" balas Ruby tidak kalah antusiasnya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Mereka yang di dalam berhenti sejenak dari aktivitas mereka saat ini, bahkan Dirga yang sedang menerima suapan dari Istrinya turut berhenti.
Sarah berdiri dari duduknya, lalu menghampiri pintu dan membukanya pelan.
"Iya?" ujar Sarah bertanya. Di depannya saat ini telah berdiri dua pasangan, dengan senyum ramah terpatri di bibir.
"Selamat pagi, apa benar ini kamar inap Dirga Mahesa?" tanya salah seorang dari keempatnya.
"Benar? Mau menjenguk, mari masuk!" seru Saran hangat.
"Terima kasih, permisi!" ujar mereka bersamaan.
"Dirga, ada temannya menjenguk nih!" seru Sarah semangat. Ia bahkan memekik senang saat melihat gadis berkepang, keturunan Turki dengan hidung mancung yang tersenyum ke arahnya.
"Cantik sekali!" seru Sarah semangat.
"Terima kasih, tante!" Balasnya malu.
"Namanya siapa?" lanjut sarah bertanya.
"Khanza tante, salam kenal!" balas khanza ramah.
"Wah khanza yah, nama yang cantik. Lalu apa ini kekasih Nak khanza? Tampan sekali!" ujar Sarah menggoda. Kebiasaannya yang cepat akrab dengan orang membuat Ia tidak malu, menggoda orang yang menurutnya bisa di ajak Seru-seruan.
Khanza dan Seorang laki-laki, yang di kira Sarah adalah kekasih dari Khanza tersenyum salah tingkah dan itu membuat senyum Sarah semakin lebar.
"Mih, jangan menggoda Daun muda! Lihat mereka berdua jadi malu!" seru Dirga memperingati. Ia kasihan dengan korban Seorang jiwa muda polos, yang di goda oleh seorang paruh baya yang adalah Mertuanya.
"Dirga nggak seru!" balas Sarah kecewa.
"Namanya siapa?" Lanjutnya bertanya tidak kapok.
"Arif tante, salam kenal!" balas anak lelaki tersebut memperkenalkan diri.
Wajah khas dengan hidung bangir, sangat tampan untuk ukuran anak sekolah.
"Kalian cocok, ya kan jeng?" ujar Sarah lalu meminta dukungan dari besanya.
"Benar sekali!" balas Putri semangat. Lalu kedua Mami dan Mama heboh itu terkikik bersama. Membuat sepasang muda-mudi tersebut bergerak salah tingkah.
"Khanza yah? Maafin tingkah tidak terduga dari Mama dan Mami Kakak yah, mereka memang suka bercanda," ujar Kiara dengan nada tidak enak.
"Em ... Tidak Kak, Kami maklum kok Kak. Kami juga tahu ini hanya bercandaan!" balas khanza tersenyum kecil.
"Khanza keponakan Saya tante, Mereka saya yang ajak kemari," ujar seorang gadis cantik, yang saat ini berdiri di sebalah seorang laki-laki yang juga tampan.
"Oh seperti itu, lalu siapa yang di samping Kamu ... Kalian juga cocok loh!" balas sarah gantian menggoda pasangan lainnya.
Kiara dan Dirga menepuk dahi mereka, heran dengan bawaan Sang Mama yang penyakitnya kumat jika sudah bersama dengan Sang Mami.
"Ini pasti hasil dekat-dekat dengan Mama deh, makanya Mami sarah berubah heboh," batin Dirga durhaka. Ia tidak menyadari perkataannya seperti menuduh, jika Maminya lah Si penyebar penyakit heboh.
Tapi memang sebelumnya sarah bukan orang yang heboh dan benar apa kata Dirga jika Putri atau juga Mamanya adalah Si biang heboh bagi Mami Mertuanya.
"Ha-ha-ha!" tawa kecil terdengar dari laki-laki yang berdiri di samping ranjang Dirga. Dia adalah Baruna, tunangan dari perempuan yang tadi menyebut jika khanza adalah sepupunya.
"Benarkah seperti itu, tante? Jika Saya dan wanita cantik ini cocok?" tanya Baruna semangat.
"Iya, tentu saja!" balas kedua Mama kompak.
"Tuh kan, apa kata Aku sayang, Kita itu pasangan paling cocok," ujar Baruna membuat Si wanita tersenyum malu.
"Namanya sheryl tante, Dia ini tunangan Saya!" ujar Baruna memperkenalkan.
"Wah ... Sudah tunangan? Pantas saja mesra, semoga langgeng sampai menikah yah!" ujar Sarah berdoa tulus.
"Amin Tante, terima kasih!" seru sherly dengan senyum kecilnya.
Kemudian setelah perkenalan singkat. Mereka menyapa Dirga Si orang yang sengaja di jenguk, khusus untuk Baruna mereka melanjutkan obrolan seputar bisnis. Sedangkan sheryl dan khanza, berbaur dengan Ruby yang hari ini di paksa Gav untuk bermain bersamanya.
Gelak tawa terdengar memenuhi ruang rawat, pemicunya adalah Gav yang tiba-tiba nemplok bergantian dengan Tamu hari ini.
Waktu terasa singkat, padahal mereka merasa baru sebentar bermain dengan balita Si biang onar. Tapi sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan artinya mereka harus undur diri.
"Yo ... Gue balik dulu Ga, cepat sehat ... Istirahat total, apalagi Lu bilang, cidera di paha yang paling parah!" ujar Baruna menasihati.
"Pasti, thanks yah Bar. Lu udah repot-repot jengukin Gue, yang lain juga terima kasih yah! Apalagi kalian sudah mau menemani Gav main juga, terutama Ruby yang mau aja di kerjain sama buntalan yang malah asik-asikan tidur nyenyak," ujar Dirga tulus. Ia tersenyum kecil, saat mereka hampir bersamaan membalas ucapan terima kasih darinya.
"Tidak apa-apa Kok, Papanya Gav. Aku senang bisa bermain dengan Gav seharian ini!" balas Ruby dengan tulus.
"Cepat sembuh Dirga!" ujar sherly.
"Semangat Kak Dirga!" seru khanza.
Dirga mengangguk menjawab semuanya.
"Terima kasih banyak Semuanya!" seru Kiara ceria.
Kiara pun mengantar mereka hingga depan pintu, lalu mengucapkan sekali lagi rasa terima kasihnya dengan nada ceria.
"Terima kasih!"
Dan mereka pun membalasnya dengan lambaian tangan sebagai perpisahan, sehingga Ia pun balas melambaikan tangan dengan semangat.
"Terima kasih Tuhan, masih banyak yang perduli dengan keluarga kecil hamba," batin Kiara bersyukur.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Special cast dari novel teman Aku :
Ruby dari Reinkarnasi Cinta Si Cantik Ruby
Sheryl dan Baruna dari Marriege Order
Khanza dan Arif dari mengagumimu
__ADS_1
Terima kasih telah membaca ....
Jangan lupa mampir kakak di novel yang ada di atas dan novel Aku yang berjudul Bukan Salahku