
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ruang kepala sekolah
Saat ini Gavriel sedang duduk di hadapan kepala sekolah, pak Edmund Harris.
Gavriel sedang mengurus surat yang kemarin sampai di meja kerja kepala sekolah, surat yang langsung di tunjukkan kepada Edmund, selaku pihak yang dibutuhkan selain orang tua Gavriel.
Edmund walaupun sedikit tidak rela, tetap membantu Gavriel untuk proses kelanjutan secara ikhlas.
Ia juga bangga dengan apa yang digapai oleh Gavriel saat ini, tidak heran Wijaya ada di belakang nama muridnya, pasti mudah mendapatkan apa yang diinginkan.
"Bapak akan proses ini secepatnya, kamu jangan khawatir. Yang jelas, saat ini kamu hanya perlu fokus dengan ujian kenaikan saja. Ok, Gavriel," ujar Edmund yang dibalas dengan anggukan kepala pelan dari Gavriel.
"Baik, Pak. Saya akan lakukan sesuai arahan bapak."
"Bagus! Jadi, apa kamu benar sudah memikirkan ini matang-matang?" tanya Edmund sekali lagi.
"Hn. Tentu saja sudah, Pak Edmund," jawab Gavriel lugas, sehingga Edmund pun menghela napas, pasrah.
"Baik lah, bapak hanya doakan yang terbaik untuk semuanya," timpal Edmund.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Gavriel. Kalau begitu, apa masih ada yang harus kita bahas?" tanya Edmund kemudian.
"Tidak Pak, saya permisi, maaf sudah mengganggu waktu istirahat bapak."
"Tidak masalah, silakan, Gavriel."
Berdiri dari duduknya dan menunduk hormat singkat, Gavriel pun berjalan ke arah pintu, membuka dan menutupnya dengan pelan. Menyisakan sang kepala sekolah yang melihat pintu dengan senyum bangga, juga senyum sedih disaat bersamaan.
Di luar ruangan kepala sekolah, Gavriel yang merasa jika ia ada janji dengan sahabatnya, berniat kembali ke kelasnya.
Ia berjalan sedikit cepat dan sesekali akan mengangkat tangannya, sebagai balasan saat ia di sapa juga diajak untuk istirahat bersama oleh anggota basket, yang bertemu di sepanjang koridor sekolah.
Ia hanya perlu melewati beberapa kelas lagi, untuk sampai di kelasnya sendiri. Dahinya mengernyit, saat mendengar selentingan obrolan teman sekolah, terutama kaum hawa yang menyebut nama sahabat dan teman sekelasnya dalam obrolan mereka.
Ada apa, pikirnya.
Ia semakin penasaran, saat sahabatnya juga di sebut kasar oleh mereka dan itu membuatnya semakin cepat melangkahkan kakinya, menuju kelasnya berada untuk menemui keduanya.
Sesampainya ia di depan kelas, ternyata tidak ada dua orang yang tadi dibicarakan oleh murid-murid sekolahnya, yang ada hanya ada sepupunya dan juga dua perempuan teman Keineira.
"Ezra!"
Ketiga orang yang sedang saling berhadapan ini sama-sama melihat ke arah asal suara, dan menemukan Gavriel yang menetap mereka dengan ekspresi bertanya.
"Gavriel!"
"Gav, Queene, dia."
"Kenapa? Ada apa Ezra?" tanya Gavriel tenang, saat sahabatnya disebut panik oleh sepupunya.
"Queeneir-
Intan yang tidak ingin temannya di salahkan segera menyela ucapan Ezra, yang terdiam dan hendak membantah namun kalah cepat lagi dengan Intan dan Raiya.
"Gavriel, Keineira di tarik paksa oleh Queeneira. Kenapa kasar sekali sih!"
"Bukan Gav, buka-
"Seharusnya kalau memang ingin bertanya yang baik-baik dong. Masa kamu diam saja, Gavriel. Kamu harus bantu Keineira."
"Hei! Kalian berdua ini mimpi ya? Cari bantuan nggak gini juga caranya. Dasar perempuan kurang perhatian."
"Ezra kok kamu kasar sama perem-
"Stop!"
Dengan bentakan dari Gavriel, mereka bertiga yang sedang sibuk adu mulut pun berhenti, melihat ke arah Gavriel yang saat ini melihat ke arah mereka dengan wajah kesal.
"Jelaskan dengan benar. Kenapa dengan mereka berdua? Kenapa sampai Queeneira menarik tangan Keineira, jelaskan," ujar Gavriel dengan nada rendah, menatap ketiganya dengan tatapan tajam.
Gavriel yang seperti ini membuat Intan dan Raiya, yang belum terbiasa dengan tatapan tajam dari Gavriel pun mendadak nyalinya ciut. Namun tidak dengan Ezra, yang sudah terbiasa dengan tatapan tajam Gavriel, ia menjelaskan apa yang diketahuinya dengan lancar, sehingga Intan dan Raiya pun mengelak lagi.
"Queeneira hanya bertanya, apa yang dibicarakan oleh Keineira kepadamu, Gavriel. Tapi Keineira bilang, jika dia sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perubahan sikap kamu."
"Bukan! Tapi yang benar adalah Queeneira yang menarik tangan Keineira kasar, hingga Keineira kesakitan. Lalu menyeret Keineira entah kemana."
Gavriel melihat sepupunya dan Intan bergantian, yang menyampaikan penjelasan dengan dua jawaban yang belum ia terima sepenuhnya.
Sepupunya tidak pernah berbohong, tapi tidak serta-merta ia menganggap apa yang dikatakan oleh teman sekelasnya bohong.
Sahabatnya bukan orang yang suka bermain kasar, tidak mungkin jika Queeneira akan melakukan hal seperti itu, jika tidak ada yang membuatnya harus melakukan itu.
__ADS_1
Tapi Queeneira hanya melakukan serangan fisik dengan seorang laki-laki, Queeneira bukan orang yang menyakiti sesama.
Jadi, siapa yang harus dipercayai olehnya.
Tidak, bukan ini yang harus aku utamakan. Tapi keberadaan keduanya, yang harus aku tahu lebih dulu, batin Gavriel cemas.
"Oke, aku mengerti."
Jawaban ambigu dari Gavriel, membuat Intan dan Raiya sedikit kecewa, mereka kira Gavriel akan marah dengan Ezra, lalu membela mereka berdua.
"Tapi Keiene-
"Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskan. Sekarang yang penting, kemana mereka berdua saat ini?" sela Gavriel datar, kemudian bertanya dengan nada tegas.
"Tidak tahu."
"Ez?" tanya Gavriel kepada sepupunya, namun sayang Ezra pun menggelengkan kepalanya, hingga ia pun mengumpat dalam hati, kesal saat ia juga bingung dengan keberadaa-
Ah! Aku tahu, pikir Gavriel saat terlintas ide di kepalanya.
Dengan begitu, Gavriel pun berbalik dan sedikit berlari keluar kelas untuk bertanya kepada mereka, yang tadi membicarakan keadaan dua perempuan yang sedang dicarinya.
Setelah mengetahui keberadaan keduanya, Gavriel pun bergegas pergi ke tempat mereka berada.
Koridor di dekat aula, sesuai dengan informasi yang ia dapatkan. Setelah bertanya dengan ia yang harus tahan, saat malah ditanya basa-basi padahal dirinya sedang buru-buru.
Dengan sedikit berlari, akhirnya Gavriel pun sampai di tempatnya kedua perempuan yang dicarinya, dengan satu yang sedang berusaha menahan satu lainnya, dan berakhir dengan satunya yang jatuh seperti di dorong oleh satunya.
Beberapa saat sebelumnya.
Keineira yang mengulurkan handphone ke arah Queeneira, menarik kembali handphonenya untuk ia simpan di saku blazer sekolahnya.
Namun sayang, Queene tidak membiarkan itu dan mengambil dengan cepat handphone itu, untuk dilihat sekali lagi apa yang tadi di lihatnya.
"Kembalikan, Queene. Kamu tidak mau kan, jika foto itu sampai ke tangan Gavriel, apalagi kalau murid-murid sekolah tahu, kelakuan kamu dengan kakak OSIS di sekolah," ancam Keineira berusaha merebut handphone miliknya, namun sayang Queeneira tidak membiarkannya.
Queeneira tanpa banyak bicara menghapusnya, tapi Keineira yang mengetahui itu malah tertawa dan mengatakan sesuatu yang membuat Queeneira semakin marah.
"Ha-ha-ha! Percuma kamu hapus, Queeneira. Karena sebenarnya aku sudah mencopy foto itu, yang artinya aku masih punya foto itu di folder lainnya."
"Kamu!"
Queeneira pun kembali mencari foto-fotonya, dengan Keineira yang berniat mengambil lagi handphonenya, tapi matanya yang melihat kehadiran orang lain pun segera membuat otaknya berpikir.
Seseorang itu sudah jelas Gavriel, dengan Ezra, Intan dan Raiya di belakangnya. Sehingga Keineira pun melanjutkan acara merebut ponsel, dengan berakhir ia yang di dorong Queeneira pelan, namun cukup sebagai bukti untuk saksi mata saat ia terjatuh dengan tangan menahan tubuhnya.
Brugh!
"Queeneira!"
"Keineira!"
Deg!
Dengan cepat Queeneira menoleh ke belakang, saat namanya disebut dengan suara yang sangat di kenal olehnya.
Pupil matanya melebar, melihat bagaimana Gavriel dan Ezra yang melihatnya dengan ekspresi terkejut. Kemudian ia melihat ke arah handphone di tangannya dan Keineira yang terduduk di lantai, lalu melihat dua sahabatnya lagi bergantian.
Kepalanya menggeleng, saat mereka berjalan mendekat ke arahnya, masih dengan ekspresi syok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tidak-tidak, aku tidak bermaksud begini," racau Queeneira masih dengan rasa syoknya.
Gavriel pun sampai lebih dulu, untuk merebut handphone milik Keineira dan melewati Queeneira, yang semakin tercengang dengan apa yang dilakukan sahabatnya barusan.
Wushh!
"Keineira! Kamu tidak apa-apa?"
"Gavriel, sakit."
Kepala Queeneira dengan cepat melihat ke arah sahabat dan teman sekelasnya, sahabatnya yang melewatinya begitu saja untuk menanyakan keadaan teman sekelasnya dengan ekspresi khawatir.
"Gavriel," gumam Queeneira tidak percaya, namun sayang Gavriel tidak mendengarnya. Gavriel fokus memeriksa keadaan Keineira, yang mengadu betapa ia takut di perlakuan kasar oleh Queeneira tadi.
"Gavriel, aku takut sekali. Tadi Queeneira kasar sekal-
"Tidak! Bohong, aku tadi-
"Que, diam," sela Gavriel dengan dingin, tanpa menatap ke arah Queeneira yang diam-diam meneteskan air matanya.
"Tapi-
"Ez, bawa Queeneira pergi dari sini."
Gavriel lagi-lagi menyela ucapan Queeneira, dengan memerintahkan sepupunya untuk membawa sahabatnya pergi, saat dirinya dalam keadaan bimbang.
"Tapi, Gavriel. Ini belum selesai, pasti Queeneira punya alasan, kenapa dia seperti ini," tolak Ezra tegas, dengan Gavriel yang terdiam.
"Sebenarnya apa, yang mau kamu lakukan dengan handphone Keineira, Queene?" lanjut Ezra bertanya, melihat Queeneira yang menatap Ezra dengan gelengan kepala, mencegah Ezra yang hendak mengambil alih handphone di tangan Gavriel.
__ADS_1
"Jangan, Ezra!"
Terlambat, Ezra lebih dulu melihatnya. Melihat foto dengan gambar dua orang yang membelakangi kamera, terlihat seperti sedang berciuman. Pelakunyaa tentu saja sahabat dan kakak kelasnya, terlihat jelas dari penampilan keduanya.
"Que," gumam Ezra tidak percaya, menatap sahabatnya yang mengelak dengan kepala menggeleng keras.
"Tidak Ezra. Ini bukan seperti yang kamu lihat."
Perdebatan antara sepupu dan sahabatnya, membuat Gavriel penasaran dengan apa yang dilihat sepupunya.
Ia berdiri dari jongkoknya, dengan Intan dan Raiya yang mengambil alih Keineira untuk di rengkuh mereka.
"Ada apa?" tanya Gavriel namun sayang, baik Ezra maupun Queeneira, keduanya tidak menjawab, hanya Queeneira yang melihatnya dengan air mata mengalir dan itu membuat Gavriel merasakan perasaan sakit dihatinya.
"Que, jawab aku. Ezra, jawab aku."
"Tidak Gavriel, jangan lihat. Itu tidak benar," racau Queeneira masih dengan air mata mengalir.
Gavriel pun melihat keduanya dengan perasaan tidak enak. Tapi ia akan semakin penasaran, jika ia tidak tahu dengan segera. Jadi dengan gerakan lambat, Gavriel pun mengulurkan tangannya, meraih handphone di tangan sepupunya dan melihat foto itu dengan ekspresi tidak terbaca.
Apa ini yang dimaksud oleh Keineira, jika dia punya foto Queeneira dan Ge sedang berciuman.
Hatinya sakit, cemburu, nyeri, kecewa dan segala rasa yang bercampur jadi satu.
Ia menatap nanar foto di handphone Keineira dengan tangan yang lainnya mengepal, menahan rasa bercampur itu dengan jantung seakan berhenti.
Sahabatnya, berciuman, dengan kakak kelasnya. Lalu, bagaimana dengan hatinya saat ini?
Hancur? Pasti, tapi kenapa, saat ini adalah keputusannya untuk melepas sahabatnya bahagia dengan yang lainnya, sesuai dengan yang diinginkannya.
Lalu, kenapa jantungnya seperti di remas oleh tangan tak kasat mata?
"Gavriel, itu tidak benar. Itu bukan sepert-
"Selamat, Queene. Aku hanya akan mengucapkan satu kalimat yaitu selamat. Selamat atas hubungan kamu dan kakak kelas kita."
"Gavriel, kamu gila!"
"Apa Ezra? Apa yang salah dengan ucapanku? Mereka sudah jadian, lalu aku bisa apa?"
"Gavriel, Queene bahkan menentang it-
"Cukup!"
Ucapan Ezra dengan cepat disela oleh Queeneira, yang melihat Gavriel dan Ezra berganti, dengan ekspresi kecewa saat Gavriel lebih percaya dengan sebuah foto, dibandingkan dengan dirinya yang adalah sahabatnya sendiri.
"Cukup! Gavriel aku kecewa sama kamu!"
Setelah mengatakan itu, Queene pun meninggalkan keduanya, berlari dengan cepat meninggalkan tempat yang membuat hatinya sakit.
Serta meninggalkan Ezra yang memanggil namanya, lalu melihat ke arah sepupunya yang diam saja.
"Queeneira! Ah! Sial!"
"Gavriel, ayo kita kejar!" ajak Ezra namun sayang, Gavriel hanya diam lengkap dengan ekspresi dinginnya saat melihat kepergian Queeneira tadi.
"Gavriel, ayo kit-
Ezra terdiam saat sepupunya melengos begitu saja, untuk menghampiri teman sekelas mereka, Keineira.
Apa-apaan ini!
Ezra tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh sepupunya.
Ia sebenarnya akan memarahi Gavriel, jika saja Gavriel tidak segera berlari untuk mengejar sahabatnya saat itu juga, setelah membisikan sesuatu entah itu apa, kepada Keineira yang terdiam kaku melihat kepergian Gavriel dengan mata melotot tidak percaya.
Tidak ingin tahu dengan apa yang dilakukan Gavriel terhadap Keineira, Ezra pun dengan segera berlari sekuat tenaga, menyusul sepupunya yang sudah jauh di depan sana.
Sedangkan Keineira, yang awalnya senang dan berada di atas awan harus merasakan jatuh, ketika Gavriel menghampirinya hanya untuk membisikan kata-kata yang membuatnya kalah telak.
Keineira, aku tahu kamu suka aku. Tapi dengan kamu menuduh sahabatku seperti itu, maka itu membuatku semakin tahu, jika rasa cintamu itu bukan cinta, saat kamu ingin mendapatkan aku dengan cara licik seperti ini.
Aku tahu siapa dan bagaimana sahabatku, jika katanya tidak maka aku yakin itu tidak.
Terima kasih, Keineira. Kerena dengan pelajaran ini, membuatku tahu dan semakin mengerti, ternyata aku menyayangi sahabatku bukan seperti aku menyayangi orang tua atau adikku.
Tapi seperti aku menyayangi dia lebih dari segalanya.
Terima kasih dan Juga lupakan aku, Keineira. Karena aku selamanya hanya akan punya satu cinta dan cintaku hanya akan aku berikan kepada perempuan, yang benar-benar bisa membuat duniaku jungkir-balik.
Dan aku yakin, jika itu bukan kamu.
Terima kasih, sekali lagi.
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.