
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ruang inap Dirga
Suasana di ruangan milik Dirga kali ini berbeda dari sebelumnya. Jika beberapa waktu lalu suasana sedih menyelemuti ruangan, maka kali ini tidak.
Terdengar suara kikikan lucu dan suara dari orang-orang yang bercengkrama, dengan pusatnya adalah Si pemilik kamar dan tentu saja buntalan yang tidak mau lepas dari Sang Daddy.
Kiara duduk di sampingnya, mengawasi Sang anak agar diam pada tempatnya, sebab Gav akan bergerak heboh jika merasa tidak di perhatikan.
Entah dapat sifat dari mana, tapi yang jelas Gav memiliki satu penyakit aneh jika sedetik tidak di perhatikan, penyakit caper kalau anak sekarang sebut.
Pernah suatu hari, sewaktu Ia sedang sibuk dengan beberapa urusan, Ia tidak sempat melihat Gav yang sedang bermain sendiri. Alhasil Ia harus merasakan perutnya keram, saat Gav yang mencari perhatian dengan cara membuka dan menutup wajahnya sambil berkata 'Baaa' berulang dan di akhiri dengan cengiran khas dua gigi depannya.
Di ranjangnya Dirga sibuk menepuk-nepuk kepala Sang anak, yang saat ini sedang sibuk memakan cemilan bayinya.
"Pintar, makan yang banyak. Got it?" ujar Dirga.
"Hi-hi!"
Kikian Gav terdengar lucu, di telinga Dirga yang sudah tidak mendengarnya lebih dari 2 pekan.
Tidak lama terdengar suara ketukan dari arah luar ruangan, di susul pintu terbuka pelan.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
"Halo epri badi!" seru seseorang semangat.
Pintu terbuka lebar kemudian masuk Raka Si orang yang tadi berseru semangat, di belakangnya ada pasangannya dan selanjutnya para sahabatnya yang tersenyum lebar, saat masuk ke ruangannya.
"Selamat siang Semuanya!" seru kaisar sopan.
"Selamat siang," balas mereka bersamaan.
Kedua sahabatnya beserta Kaisar segera berjalan mendekat, ke arah ranjang di mana Dirga berbaring. Sedangkan Para istri lebih memilih duduk terlebih dahulu, terlebih Fania yang sedang hamil muda.
"Yoo ... Bagaimana rasanya lepas dari maut?" tanya Raka meledek. Menutupi fakta jika Ia menangis saat Dirga kecelakaan, bahkan mengaku kangen dan akan mengecupnya.
"Batter than from yesterday," balas Dirga menyambut uluran kepalan tangan sahabatnya.
Tos!
"Welcome back, Bro!" ujar Faro bergantian tos dengan Raka yang menyingkir ke samping.
"Thanks, Bro," balas Dirga tersenyum tipis.
"Yo ... Wijaya, jangan cepat sehat!" seru Kaisar bercanda.
"Terima kasih, Gue tahu Lu paling khawatir!" balas Dirga dengan senyum menyebalkan.
"Gue kira bakal kalem, tapi songong mah songong aja," dumel Kai sewot. Tapi tidak lama saat Dirga mengulurkan kepalan tangannya, yang di sambut dengan segera oleh Kaisar.
"Thanks, atas bantuan Lu Kai!" ujar Dirga tulus.
Pelajaran yang Ia dapat selagi musibah kemarin adalah ini, kejahatan akan melahirkan kejahatan yang lain dan kebaikan sendiri, akan melahirkan kebaikan yang lainnya juga.
Setidaknya musuh lamanya dalam merebutkan Sang istri, menjadi teman saling membantu dan mempercayai.
"Ga!" panggil Faro tiba-tiba.
Ia menduduki dirinya di samping kanan Dirga, sedangkan Raka di samping kiri dan Kaisar sendiri ikut menyapa keluarga Istrinya atau juga Sarah tante dari Fania.
"Apa?" balas Dirga cepat.
Ia memberikan Gav pada Kiara saat Anaknya, minta turun bermain dengan Quine dan Ezra di ujung sana.
"Lu mau tahu nggak?" balas Faro menggantung,membuat Dirga penasaran.
"Apaan?"
"Ini tentang seorang yang mau mengecup kening Lu, sewaktu Lu sad-
Brugh!
Sebuah apel melayang yang masih sempat di tangkap Faro, menghentikan kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan olehnya.
"Bangke, bercanda oy!" seru Raka dengan wajah malu.
Ia tahu maksud dari permainan kata sahabat sengklehnya, jadi Ia segera menghentikan dari pada malu setelahnya.
Faro terkekeh mendengar nada sewot dari Raka, sedangkan Dirga menatap tidak mengerti ke arah dua Sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Dirga penasaran.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, jangan dengerin kata Si sengkleh satu itu, sesat. Percaya deh sama Gue!" balas Raka cepat.
Perkataan dari Raka yang membantah, terdengar lucu di pendengaran Faro yang masih betah terkikik kecil.
"Apaan sih, kasih tahu Gue!" seru Dirga bertanya.
Jika saja Ia dalam keadaan sehat, sudah Ia pastikan jika dua Sahabatnya merasakan apa itu sakit sesungguhnya.
"Jangan bikin orang naik darah!" lanjut Dirga dengan nada memaksa.
"Ha-ha-ha!!"
"Ck ..." dengus Raka kesal dan malu.
Jangan sampai Dirga tahu, jika Dia sampai tahu sudah di pastikan Ia akan kena semprot dengusan sinis khas milik Tuan songong, yang saat ini sedang memandang ke arah mereka dengan tatapan Penasaran.
"Kenapa sih, seru sekali?" sela seseorang dari arah belakang mereka.
Di belakang mereka ada Elisa, yang tersenyum lebar ke arah Dirga.
"Bagaimana keadaan Kamu, Ga?" tanya Elisa khawatir.
"Sudah lebih baik, terima kasih, Sa!" balas Dirga tulus.
"Tidak ada terima kasih, dalam persaudaraan Kita, Ga!" balas Elisa tulus.
"Jadi, apa yang sedang kalian bahas?" lanjut Elisa bertanya.
Sang suami yaitu Faro memberi kode, berupa deheman sedangkan Raka yang mengerti maksud jahil sahabatnya salah tingkah.
"Nggak ada Sa, ini cuma candaan sesama laki-laki," ujar Raka menjelaskan.
"Oh ... Kirain tadi ada yang sedang membahas tentang-
"Maksudnya tentang seseorang ingin mengecup kening seseorang lainnya?" sahut suara lainnya. Yang ternyata adalah Kiara, yang juga ikut penasaran saat Elisa menghampiri para laki-laki.
Elisa mengangguk mengiyaknan, Faro cengengesan dan Raka salah tingkah, Ia lupa jika bukan hanya ada Faro saksi hidup dari ucapan ngaconya. Tapi ada Elisa yang pasti di beri tahu Faro dan Kiara yang pasti di beri tahu Elisa.
"Sialan," gumam Raka mengumpat.
Umpatan Raka yang mencurigakan membuat Dirga semakin penasaran, sehingga Ia sekali lagi bertanya kali ini khusus kapada Istrinya.
"Sebenarnya ada apa sih ini, Sayang?" tanya Dirga.
Sebelum menjawab pertanyaan Suaminya, Kiara lebih dulu melirik ke arah Raka yang bergerak salah tingkah.
Ia berdehem lalu menjawab dengan gelengan kepala, dengan sekali jawaban tegas dan meyakinkan darinya. Helaan nafas lega pun akhirnya terdengar dari Raka, menuai kikikan kecil dari Faro dan tentu saja Elisa.
"Tidak ada sayang, itu hanya ungkapan sayang seseorang. Sebaiknya Kamu jangan berfikir terlalu keras, itu tidak baik untuk kesehatan kamu. Got it?" ujar Kiara dengan senyum kecil.
Akhirnya mau tidak mau Dirga pun mengangguk,meskipun hatinya masih sangat penasaran, tapi jika itu sudah Sang istri yang berbicara maka Ia harus percaya.
"Nanti juga cerita," batin Dirga pasrah.
Yah ... Dirga akan bertanya lagi nanti, jika mereka sudah tinggal berdua.
"Selamat," desah Seseorang yang merasa selamat dari ancaman maut.
Obrolan mereka terhenti saat salah seorang balita di sana menangis, sepertinya anak dari Tuan songong berbuat ulah.
"Astaga!" desah dua Orang ibu bersamaan.
Setelah itu dua Ibu muda tersebut pergi meninggalkan para lelaki, bergantian dengan Hendri dan Fandi yang mendekat.
Untunglah letak tempat main para balita agak jauh dari ranjang pasien, sehingga suasana serius pun tidak mempengaruhi suasana ceria yang di rasakan para wanita.
"Jadi bagaimana dengan mereka?" ujar Dirga membuka pembahasan serius.
"Bima sudah mengirim mereka di tampat jauh dari kota, anak buah anggota Lu yang jaga ketat," balas Raka serius. Raut wajahnya yang tadi cengengesan berubah, sehingga yang ada hanya sosok Raka yang satunya.
"Kamu mau apakan mereka?" tanya Fandi penasaran.
Ia belum pernah melihat Dirga yang satunya, sikap kejamnya di dunia bisnis saja sudah menakutkan, apalagi kejam di sisi lainnya.
Dirga tidak langsung menjawab, melainkan melihat satu per satu dari orang-orang di depannya, yang memandang Ia menanti kelanjutan dari tindakan mereka setelah ini.
Sebelum menjawab Ia menghela nafas terlebih dahulu, menimbang lagi apakah benar harus seperti ini. Pengalaman spiritualnya di saat koma adalah bukti nyata, kedamaian akan sulit di raih jika kita sendiri masih menyimpan dendam.
Danau tanpa riak air di sana adalah cerminan hidupnya, yang walaupun di ganggu harus tetap tenang menjalani semuanya.
Maka dengan itu Ia sudah fikirkan, jika Ia akan melupakan kejadian lampau dan meraih kedamaian dengan membuka lembar baru.
Menjadi Dirga baru, bukan hanya karena Ia mengucapkan selamat hari baru kepada Sang istri, tapi juga Ia ingin menjadi Dirga yang seperti dulu.
Dirga yang tetap tenang dan penuh perhitungan.
"Tidak ada, Dirga ingin hidup tenang tanpa ada gangguan seperti ini lagi. Semuanya Biarkan yang lalu tetap berlalu, Kita lupakan saja. Biar Tuhan yang balas perbuatan mereka," ujar Dirga dengan sikap tenang.
__ADS_1
Jawaban dari Dirga menuai berbagai ekspresi dari orang yang mendengarnya.
Fandi yang tersenyum bangga, Hendri Sang Papa yang penasaran dan tentu saja Faro dan Raka yang kaget sebab ini sama sekali bukan seperti sahabatnya. Sedangkan Kai meskipun orang baru tapi Ia cukup tahu, jika perlu usaha pengendalian hati yang tinggi agar menerima semua dengan ikhlas.
Tapi walaupun begitu akhirnya mereka ikut menyetujui keinginan, yang memang terbaik untuk semuanya.
Mereka menjadikan ini sebagai pelajaran di kemudian hari, untuk tidak mencari masalah dengan orang yang bermasalah.
"Baiklah jika seperti itu, Kami menghormati keputusan Lu, Ga!" ujar Faro dengan senyum bangga.
Dirga Si songong yang kadang kebablasan, akhirnya bisa lebih menyikapi masalah tanpa harus terjerumus dan menjadi sosok yang lebih mengerikan di banding iblis.
Percakapan serius pun selesai, mereka akhirnya membahas hal ringan lainnya seputar kesehatan dan pengalaman Dirga di dunia lain atau pun berita kehamilan istri dari Kaisar yang diam-diam sudah menginjak tiga bulan.
Obrolan terus mengalir hingga tidak terasa hari menjelang sore, sahabatnya yang menjenguk pun harus pulang ke rumah masing-masing, menyisakan keluarga besar dari Dirga dan Kiara.
Skip
Malam hari
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, sudah terlalu larut bagi seorang balita yang nyatanya masih tetap segar, memandang Sang Daddy dengan sorot mata polosnya.
"Kiciknya Mommy, lihat jam berapa sekarang? Ini sudah larut malam sayang, Kita istirahat yuk!" ujar Kiara membujuk Sang anak yang masih betah duduk di pangkuan Suaminya.
"No-no!"
"Ya Tuhan, Dia berulah lagi!" seru Kiara mendengus pasrah.
Apa Ia bilang, Gavnya akan pindah haluan saat Suaminya bangun nanti dan itu terbukti. Terhitung sejak sore tadi, sehabis mandi Anaknya dengan segera merengek minta duduk di manja oleh Sang Daddy.
"Oke Kid, saatnya bobok tampan. Turuti apa kata Daddy, got it?" ujar Dirga membawa anaknya ke hadapannya. Sehingga Ia bisa melihat wajah tidak terima, dari buntalan gemuk yang adalah Anaknya sendiri.
"Dadd!"
"Besok kita main lagi, janji!" sahut Dirga dengan senyum tampannya.
"Ung!"
Akhirnya Gav mengikuti apa katanya, Dia mengulurkan tangan bantetnya ke arah Kiara yang mendengus kesal.
"Giliran Daddynya yang berkata, langsung di turuti!" batin Kiara iri.
Kiara menyambut uluran tangan Anaknya dan membawa Sang anak ke ranjang sebelah, menidurkannya sebentar hingga dengkuran halus akhirnya terdengar.
"Dasar .... Padahal sudah mengantuk tapi bandel, Giliran nempel dengan bantal langsung tidur," gumam Kiara dengan kepala menggeleng heran.
Ia pun menyelimuti tubuh Anaknya, lalu mengecup surai lebat milik Anaknya sayang.
"Mimipi indah sayang!" bisik Kiara lembut.
"Sudah tidur?" tanya Dirga.
Kiara menghadap ke arah Suaminya lalu mengangguk mengiyakan.
"Heum ... Langsung ***** (Nempel molor)" balas Kiara geli.
Dirga terkekeh mendengar jawaban lucu dari Istrinya, lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Sini, duduk di sini!" seru Dirga.
Kiara menurut, berjalan perlahan dan naik ke atas ranjang.
"Kenapa?" tanya Kiara.
"Nggak apa-apa, memang harus yah ada apa-apa?" balas Dirga santai.
Ia dengan segera mengecup kecil pipi gembil milik Istrinya, lalu memandang Kiara dengan ekspresi serius.
"Boleh tanya?" ujar Dirga
"Apa?"
"Yang tadi siang itu apa sih? Aku penasaran!" seru Dirga bertanya.
Kiara terkekeh mendengar pertanyaan Suaminya, maka dengan senyum kecil Ia hanya balas mengecup pipi Suaminya lalu merebahkan diri di sampingnya.
"Sudah malam, istirahat dulu, Oke?"
"Sayang!"
"Hi-hi!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah selanjutnya ....
__ADS_1