
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Sepanjang perjalanan yang di lalui oleh Ezra dan Queene, hanya diisi dengan keheningan.
Ezra yang tidak bisa diam, gelisah, saat perjalanan yang biasanya seru, tiba-tiba menjadi garing sunyi layaknya ia membonceng sebuah manekin.
Haloo ... Kemana sahabatnya yang biasanya ceriwis?
Ezra curiga, jika ini ada kaitannya dengan kejadian di stadium dan pulang sekolah tadi.
Lagian ngapain sih, si Gavriel pake acara antar pulang segala.
"Ya ampun, yang tadi aja belum selesai, di tambah pake anter dia pulang," batin Ezra.
"Tapi ... Sebenarnya kenapa harus marah ya? Apa ini hanya perasaan aku," lanjutnya masih dalam batin.
Tidak ingin pusing sendiri, ia pun menurunkan kilometer kecepatannya, membuat Queene yang di bonceng, mengernyit alis bingung.
Seorang Ezra bawa kendaraan pelan, oh ... Sepertinya akan muncul produk baru, kulit durian ada ekstraknya.
"Que!"
Merasa di panggil, Queene yang tadi hanya melihat jalanan memajukan wajahnya, lebih dekat dan bersisian dengan pipi sebelah kiri sahabatnya.
"Apa?" balas Queene dengan suara keras.
"Que, sebenarnya kamu kenapa sih, hari ini?" tanya Ezra to the point.
Queene yang menerima pertanyaan dari sahabatnya tersentak kaget, ia tidak sadar jika tingkahnya di perhatikan temannya, yang ternyata lebih peka dibandingkan dia.
"Ak-aku? Aku kenapa?" tanya balik Queene, lengkap dengan nada gugupnya.
"Iya, kamu. Kamu tahu nggak sih, hari ini kamu aneh sekali, apalagi waktu di stadium indoor sekolah."
Ezra dan segalanya, kepekaan, blak-blakan dan juga tidak pikir panjang. Selalu berhasil membuatnya merasa percuma, jika apa yang sedang dirasakannya, disembunyikan dihadapan seorang Ezra.
"Aish! Kenapa mesti nanya sekarang sih," batin Queene sedikit sebal.
"Aku-aku nggak apa-apa kok."
"Serius!"
"Iya!"
"Benarkah?" tanya Ezra belum juga puas.
Plak!
"Jangan terlalu dipikirkan, aku tidak apa-apa kok!" seru Queene setelah menampol bahu Ezra pelan.
Oke .. Karena Ezra tidak ingin membuat sahabat perempuannya kesal, terlebih mereka masih diperjalanan, ia pun menghembus napas lelah dan menyerah.
"Nanti tanya lagi," batinya.
"Baiklah, yang penting kalau ada apa-apa kasih tahu aku," balas Ezra mengalah.
Queene tidak menjawab, melainkan menenggelamkan wajahnya di punggung milik sahabatnya.
Rasa hangat dan aroma dari Ezra berbeda dengan sahabat yang satunya, yang saat ini entah sedang apa.
"Bodo amat," batinnya berusaha tidak perduli.
Setelahnya tidak ada percakapan lagi, saat mereka sibuk dengan segala pikirannya masing-masing.
Tidak terasa, Queeneira dan Ezra sampai juga di depan teras rumah keluarga Wardhana, rumah dari orang tua Queeneira.
Ckitt!
Bunyi rem terdengar saat Ezra menghentikan laju kendaraannya, dengan Queene yang segera turun dari motor tersebut.
Ezra menerima helm yang di ulurkan Queene untuknya, lalu mengaitkannya di belakang motornya.
"Makasih yah, Ez," ujar Queene dengan senyum kecil.
Senyum yang seharusnya lebar dan bersinar kini redup, saat si empunya sedang galau, karena alasan tidak jelas akan perasaannya sendiri.
"Iya ... Oh iya Que," ujar Ezra menjeda kalimatnya, yang di balas dengan gumaman dari Queene.
"Hmm?"
"Queene, aku mau tanya boleh?" tanya Ezra menatap sahabatnya, ingin melihat bagaimana ekspresinya.
"Iya?" tanya Queene penasaran.
"Asal jangan tanya soal Dismenore, pasti aku jawab," lanjut Queene meledek, membuat pipi Ezra merona seketika dengan salah tingkah.
"Ais! Jangan bahas itu lagi, Que!" sewot Ezra malu sendiri.
Jangan ingatkan ia akan kebodohan haqiqinya kemarin, bahkan sepupunya si nggak peka Gavriel seharian menertawakannya tanpa sungkan dan permisi.
"Lagian kamu, kalau penasaran tanya dengan Google, otak itu dipakai untuk berpikir," ujar Queene santai, lebih tepatnya mengalihkan pembicaraan.
Ia tidak mau kalau sampai Ezra membahas lagi pertanyaan beberapa saat lalu, ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang tadi.
"Ble-ble-ble."
Queene terkekeh kecil, saat melihat sahabatnya mendumel dengan ledekannya.
Ia harap Ezra melupakan semuanya, ia belum siap unt-
"Que, aku mau nanya serius."
Atau tidak.
Ternyata pengalihannya tidak berguna, saat melihat Ezra menatapnya dengan wajah serius.
"Ya?"
__ADS_1
Hatinya sudah dag-dig-dug menunggu pertanyaan Ezra, dalam hati ia merapal do'a hujan agar Ezra cepat pulang.
Eh! Kalau hujan, malah semakin lama pulangnya.
"Oke hentikan, Que," batinnya dengan kepala menggeleng pelan.
"Queene."
"Iya Ez, apa?"
"Queene, apa kamu tadi cemburu dengan Kei?" tanya Ezra akhirnya frontal juga, baginya tingkah sahabat perempuannya sudah terlalu mencurigakan.
"Apa?"
Queene tentu saja kaget, bahkan matanya melotot saat mendengar pertanyaan tepat sasaran dari sahabat laki-lakinya.
Ah! Kenapa Ezra yang kelewat peka sih, kenapa bukan dia saja yang peka?
Ups!
"Kok apa! Aku tanya apa kamu cemburu, melihat kedekatan Gavriel dan Keineira?" tanya Ezra lebih frontal.
Ia menikmati bagaimana ekspresi kaget, lalu berganti menjadi raut wajah biasa lagi, dari sahabat perempuannya saat ini.
Mulai ingin menyembunyikan sesuatu, ya?
"Cemburu apa sih, ngaco."
Ezra melihat dengan alis terangkat, saat sahabat perempuannya menampik dengan nada gugup seperti itu.
Oh ayolah ... Mereka sudah bersahabat dari umur '0' bulan hingga sekarang, masa ia tidak tahu saat Queene sedang memberikan ekspresi berbeda seperti ini.
"Queene, jangan berbohong di hadapan aku," ujar Ezra menatap mata sahabatnya serius.
Queene balik menatap Ezra, kemudian menghembuskan napas lelah.
Sudah di bilang percuma ia berbohong dihadapan sahabatnya, sebenarnya jika tadi Ia tidak segera menyingkir dari hadapan dia, ia yakin jika dia akan bertanya lebih banyak.
Sama seperti Ezra, Gavriel pun peka terhadapnya.
Tapi ... Kenapa kalau perasaan dengan sebutan suka dia tidak peka?
Itu yang dibingungkan oleh Author.
(Timpukin Author)
"Ez, aku tidak cemburu kok. Tapi aku hanya merasa aneh, saat ada perempuan lain dekat dengannya," ujar Queene jujur, tanpa melihat ke arah Ezra.
Menghindari kontak mata, saat Ezra menghujaminya dengan tatapan menyelidik.
"Dengan sebab?" tanya Ezra layaknya petugas introgasi.
"Tidak tahu," lirih Queene jujur.
"Queene, kamu suka sama Gavriel?"
"Apa?"
"Aku pulang, kamu istirahat," lanjut Ezra sambil menepuk kepala sahabatnya sayang.
Ia meninggalkan Queene yang berdiri, dengan tangan melambai singkat.
"Suka?" gumamnya pelan, dengan tangan memegang bagian dadanya yang berdegub kencang.
Suka seperti apa?
Ia pun melangkahkan kakinya, berjalan memasuki rumah setelah merubah lagi, raut wajahnya menjadi ceria seperti biasa.
"Assalamualaikum, Mama, ngo fanlai la!" seru Queene ceria. (Mama, saya pulang!)
"Waalaikum salam, Lei la Queene, Mama hai jui fong!" (Kemari Queene, Mama di dapur!)
"Haiyah!" (Iya!)
Queene yang mendengar seruan sang Mamanya pun berjalan, mengikuti arahan sesuai yang diucapkan sang Mama.
"Mama, co ti mea?" (Mama, sedang apa?)
"Jui sung, kolei la, pong sau Mama!" seru Elisa, menolehkan wajahnya ke arah sang anak dengan senyum hangat. (Masak, kemari, bantu Mama)
"Ngo wun sam sin a, hou mou?" balas Queene, menuai anggukan kepala mengizinkan dari sang Mama. (Saya ganti baju dulu, bagaimana?)
"Hou lah, faiti ma!" (Baiklah, cepat ya!)
"Hai-hai!" (Iya lah)
Queene pun berbalik arah, menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Ceklek!
Ia membuka pintu dan menutupnya pelan, lalu memasuki kamar dengan nuansa biru lembut tersebut.
Warna biru ...
Warna kesukaannya dan warna kesukaan dia juga.
Harum khas seorang Queene adalah japanes cherry blossom.
Aroma bunga sakura dari jepang ini adalah aroma kesukaannya, wanginya yang lembut membuatnya nyaman.
Dia juga bilang aroma khasnya adalah aroma kesukaannya yang keempat, setelah aroma keluarganya.
Di dinding kamarnya terpajang beberapa foto, foto mereka berempat.
Ada juga beberapa foto dirinya dan dia, serta foto saat mereka berlibur bersama, saat musim panas beberapa tahun lalu.
Senyumnya terulas cantik, saat mengingat moment disalah satu foto tersebut.
Ia berjalan mendekati salah satu foto, dengan objek dua anak kecil yang memamerkan senyum lebar, serta tubuh saling berpelukan dan menempel erat.
Foto dirinya dan dia saat umur lima tahun.
__ADS_1
"Apa dia masih ingat foto ini," gumamnya dengan tangan menelusuri bingkai foto tersebut.
Ia menggelengkan kepala pelan, hampir lupa dengan janjinya kepada sang Mama.
"Ya ampun, Mama pasti nungguin aku."
Ia pun bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai, ingin membantu sang Mama yang sedang memasak untuk makan malam nanti.
Ah! Ia juga ingin memperhatikan lebih serius, saat sang Mama menunjukan, bagaimana cara mengupas bawang merah tanpa membuat air matanya mengalir.
🍒🍒🍒🍒🍒
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di sisi Gavriel.
Ia saat ini sedang ada di halaman depan rumah teman sekelasnya, Keineira, yang ia antar pulang karena dia bilang tidak ada yang jemput.
"Terima kasih Gavriel, atas tumpangannya!" seru Kei dengan senyum lebar.
"Hn."
Meskipun hanya gumaman, Kei tahu jika Gav menerima ucapan terima kasih darinya.
"Aku langsung pulang, sam-
"Kei! Sudah pulang nak, dengan siapa?"
Ucapan Gavriel terpaksa berhenti, saat seseorang dari arah pintu menginterupsinya.
Di ujung pintu rumah teman sekelasnya, ada seorang wanita menampilkan raut wajah bingung.
"Itu Mamaku," gumam Kei saat melihat tatapan mata bertanya dari Gavriel.
"Sore tante, saya Gavriel teman sekelas Keineira. Salam kenal," ujar Gavriel sopan.
"Salam kenal, saya Indy Mamahnya Kei. Terima kasih sudah antar Kei pulang, mampir masuk dulu yuk!" ajak Indy tersenyum hangat.
"Em ... Terima kasih Tante, tapi ini sudah terlalu sore. Sebaiknya saya pulang saja, lain kali ya, Tente," tolak Gavriel secara halus.
Ia tersenyum tipis ke arah Mama dari Kei, yang menampilkan wajah sedikit kecewa, namun berganti menjadi senyum maklum.
"Baiklah! Lain kali jangan ditolak yah," balas Indy, yang diangguki kepala pelan oleh Gavriel.
"Insyaallah, tante."
"Baiklah, saya permisi. Assalamualaikum, Tante Indy, Kei!" lanjutnya kemudian menghidupkan mesin motornya, meninggalkan halaman rumah teman sekelasnya.
"Hati-hati!" seru keduanya bersamaan.
Sepeninggalnya Gavriel dari hadapan mereka, Indy pun melihat sang anak dengan tatapan menuntut dan penasaran.
"Siapa dia?" tanya Indy singkat.
"Teman Mah,"
"Teman apa teman?" tanya Indy menggoda, alisnya naik turun saat melihat anak gadisnya salah tingkah.
"Ih! Apa sih, orang cuma teman kok," elak Kei namun sayang tidak sejalan dengan pipinya yang memerah, dan itu membuat sang Mama semakin gencar menggodanya.
"Hayoo! Kasih tahu Mama!"
"Ih! Nggak loh Mah."
"Oh ya ....."
"Sudah ah Mah, Kei mandi dulu, gerah nih tadi abis latihan cheers."
"Iya deh iya," balas Indy pasrah.
"Aku ke atas dulu, bye Mah!" seru Kei kemudian berjalan ke arah kamarnya, lebih baik menghindar dari pertanyaan penasaran sang Mama.
"Oke sayang," balas Indy, yang tahu jika sang anak sedang malu.
Sepeninggalnya Kei, Indy menggeleng kepalanya saat ingat tingkah sang anak.
Baru ini anaknya diantar oleh seorang laki-laki, ia curiga jika dua remaja ini sedang dalam masa pendekatan.
Ia pun mengernyit saat mencoba mengingat nama, dari remaja laki-laki yang tadi mengenalkan diri dengan nama Gavriel.
Ia seakan mengingat, ia merasa pernah mendengar nama itu.
"Sepertinya nama Gavriel tidak asing," gumamnya sambil berjalan ke arah dapur.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
Intermezo:
Author lagi liat jalanan yang ramai sambil ngetik, sekalian godain cewek cantik yang lewat sambil lirik-lirik.
Gavriel : Thor, Queene kenapa sih sama aku?
Author : Lah ... Mana aku tahu.
Gavriel : Thor, Queene sebel ya sama aku?
Author : Lah ... Bocah, dibilang mana aku tahu!
Gavriel : Oke deh Thor, mungkin Queene sedang lelah.
Author geleng-geleng kepala, liat Gavriel galau karena di cuekin sahabat perempuannya.
Lain kali Gavriel, kalau ada yang minta bonceng izin dulu sama Queene, jadi nggak di cuekin.
Oke?
Benar-benar sekian.
__ADS_1
Sampai babai lagi.