
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Masih di halaman depan sekolah SMP dari Selyn, sekolah yang dulu juga menjadi sekolah Queene dan Gavriel.
Di samping mobil dengan merek terkenal, serta harga ratusan juta, berdiri dua remaja perempuan yang saling melihat.
Satu melihat dengan pandangan meminta, lalu satunya lagi melihat dengan alis terangkat sebelah, kagum dengan ucapan blak-blakan dari teman sekelasnya.
"Kemana tadi sikap terima saja, saat ada Selyn di tengah-tengah kami," batin seseorang yang menatap kagum perempuan satunya.
"Boleh aku duduk di depan," pinta Keineira, menatap orang yang juga menatapnya dengan datar.
"Di depan? Maksudnya, duduk di samping Gavriel?" tanya Queene memastikan.
Anggukan kepala mantap di terima dari Keineira, yang menatapnya dengan senyum manis sengaja, seakan ia tidak berpengaruh dengan tatapan datar perempuan di depannya.
"Iya, aku ingin membicarakan sesuatu dengan Gavriel," sahut Kei dengan alasannya.
Queeneira merotasi bola matanya, heran dengan sikap perempuan di depannya. Dulu nih, dulu sekali, saat ia pertama kali bertemu dengan teman sekelasnya ini. Perasaannya, Kei bukan perempuan yang menunjukkan keagresifan seperti ini, cenderung pemalu dan lemah lembut dengan tutur katanya.
Tapi sekarang baca saja, dia dengan tanpa tendeng alih-alih memintanya untuk dia yang duduk di depan, di samping sahabat yang juga di cintainya.
(Sepertinya, Kei benar-benar menyukai seseorang Gavriel)
"Woiya jelas," batin Queeneira menjawab celetukan Author edan.
"Kamu bisa bertanya saat sampai di sekolah," balas Queene dengan nada tidak peduli.
"Selama bukan Gavriel yang meminta, jangan harap aku akan memberi kesempatan. Cukup di sekolah aku mengalah, karena mengalah belum tentu kalah," batin Queeneira menatap jengah Kei, yang saat ini bergerak salah tingkah.
"Tapi Queene, aku benar-bena-
Tin-tin!
Kedua remaja ini terpaksa berhenti dari debat mereka, saat Gavriel yang heran dengan mereka yang ada di luar, tidak masuk setelah sekian lama.
Hari sudah siang, mereka harus sampai sekolah sebelum gerbang di tutup.
"Kore o kiite, watashi wa damatte inai wakede wa arimasen. (Dengar ini, saya diam bukan berarti membiarkan.)" ujar Queene datar, sebelum membuka pintu penumpang samping kemudi, meninggalkan Keineira yang menatap udara kosong kesal.
"Apa artinya Queene memulai pernyataan untuk bersaing," batin Kei, lalu ikut masuk kedalam mobil, duduk di belakang dengan hati panas saat di depan sana, pasangan sahabat itu saling berdebat.
"Gav! Kita berangkat," sela Kei menginterupsi, sehingga perdebatan antar sahabat itu terpaksa berhenti.
Gavriel dan Queene pun menoleh, dengan dua ekspresi berbeda.
Gavriel yang menatap datar, namun dengan binar tidak enak dan Queeneira yang menatap teman sekelasnya dengan datar, sebal.
"Sorry," gumam Kei dengan nada tidak enak.
"Tidak, tidak apa-apa. Kita berangkat," sahut Gavriel kemudian menghadap ke arah depan, begitu pun dengan Queene, yang ikut menghadap depan setelah mengirim tatapan sebal, yang tidak di tutupinya lagi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, dengan tanpa obrolan saat ketiganya diam mendengarkan lagu yang di putar oleh Gavriel, atas permintaan sahabatnya, Queene.
__ADS_1
Lagu dari Zigaz__Sahabat jadi cinta.
Kudapati diri makin tersesat🎶
Saat kita bersama🎶
Desah napas yang tak bisa dusta🎶
Persahabatan berubah jadi cinta🎶
Sesekali akan terdengar gumaman mengikuti lirik lagu, baik dari Queene maupun Gavriel, lalu keduanya akan saling melihat untuk saling terkekeh pula.
Tak bisa hatiku menafikkan cinta🎶
Karena cinta tersirat bukan tersurat🎶
Meski bibirku terus berkata tidak🎶
Mataku terus pancarkan sinarnya🎶
Sedangkan di belakang mereka ada seseorang lagi, yang memperhatikan dalam diam, apalagi saat keduanya saling terkekeh dengan santai.
"Apa ini," batinnya.
Apa yang kita kini tengah rasakan🎶
Mengapa tak kita coba 'tuk satukan🎶
Mungkin cobaan untuk persahabatan🎶
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan🎶
"Oh iya, Tav!" seru Queene memanggil, yang di jawab gumaman singkat dari Gavriel yang di panggil.
"Hn."
"Itu, Mama bilang kalau mau ke Hongkong, kita bisa tinggal di rumah kung-kung (Kakek)," ujar Queene tiba-tiba, saat ia ingat akan obrolan mereka tentang rencana liburan nanti.
By the way, mereka berempat memang rencana ingin liburan ke negara dengan sebutan beton, untuk berlibur ke daerah pusat belanja dan juga taman bermain Disneyland.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Gavriel, mananggapi perkataan sahabatnya, tanpa menoleh ke arah samping, ia masih fokus dengan jalanan di hadapannya.
"Tidak masalah, lagian tempat tinggal kung-kung luas, dan juga sejuk," balas Queene dengan nada semangat.
Seketika kampung halaman dari sang kakek terlintas dalam bayangannya, meskipun negara Hongkong padat merayap dan rata-rata bangunan tempat tinggal tipe menyusun ke atas, tapi tempat tinggal kakeknya seperti kampung di kota tempat tinggal mereka.
"Dan juga, tempat tinggal kakek tidak jauh dari stasiun MTR, jadi akses kendaraan juga tidak susah," lanjut Queene semakin antusias.
Membayangkan bisa naik lagi kereta dengan fasilitas mumpuni, membuat perjalanan mereka pasti menyenangkan. Pikirnya senang.
"Oke deh, nanti kita bahas lagi yah, sama Momm dan semuanya," sahut Gavriel dengan senyum kecil.
"Kalian mau liburan ke Hongkong?" tanya Kei tiba-tiba, ikut nimbrung saat dirinya merasa seperti makhluk tak kasat mata.
"Siapa yang bilang dan larang jangan mengobrol di mobil, ternyata sendirinya gitu," batin Kei mendengkus kesal.
"Iya, kami semua," jawab Gavriel tanpa melihat ke belakang, ia hanya melihat melalui kaca spion, lalu mendapati anggukan kepala dari teman sekelasnya.
__ADS_1
"Sepertinya menyenangkan," ucap Kei dengan senyum kecil, menuai sahutan cepat dari Queene tanpa lirikan atau memandang, seperti yang di lakukan sahabat laki-lakinya.
"Tentu saja."
Suasana pun sunyi lagi, meski lagu terus berputar, berpindah dari Zigaz__Admesh__Exo hingga tidak terasa mereka pun sampai di area parkir khusus mobil, menuai tatapan penasaran dari penghuni sekolah, yang baru ini melihat mobil asing mengkilat nan mewah.
Dari pintu pengemudi ada Gavriel, yang turun dengan menutup pintu mobil, sedikit kuat sehingga menimbulkan debaman keras. Lalu disusul dengan pintu lainnya, menampilkan sosok Queene yang penampilan sedikit berubah, kemudian Keineira yang penampilannya seperti biasa sehari-hari ke sekolah.
Rambutnya yang biasa di kuncir ekor kuda, kini ia gerai dengan bentuk ikal di ujungnya.
"Langsung ke kelas?" tanya Gavriel saat mereka semua sudah ada di luar mobil.
Keineira baru saja ingin menjawab, tapi sayang harus tertunda saat Queene menyela cepat, sehingga kalimatnya terpaksa harus ditelan kembali.
"Tunggu Ezra Gav, tadi kirim pesan ke aku."
"Sebenarnya apa mau dia," batin Kei menatap Queene dengan hati kesal.
"Ezra belum sampai? Tumben sekali," tanya Gavriel tidak percaya.
"Hum ... Katanya abis antar Onty, pergi ke kantor Unkel, antar berkas," balas Queeneira dengan bahu terangkat.
Gavriel mengangguk lalu melihat teman mereka, yang dari tadi diam melihat ke arah mereka tanpa ikut serta berbicara.
"Kamu mau langsung atau tunggu Ezra?" tanya Gavriel memastikan.
Kei menatap Gavriel dan Queeneira bergantian, untuk mendapatkan ekspresi yang berbeda dari dua orang di hadapannya.
Inginnya sih bisa berjalan bersama Gavriel, namun sayang saat ia ingin menjawab, lagi-lagi suara seseorang menginterupsinya.
Kali ini bukan Queeneira, melainkan suara dua temannya yang memanggilnya dengan semangat. Membuat ia pun menghela napas, lebih memilih bersama temannya, dari pada menjadi orang aneh di antara ketiganya.
"Kei!"
Gavriel dan Queeneira pun ikut menoleh ke arah asal suara, melihat dua orang remaja putri berjalan bersama menuju ke arah mereka berdiri saat ini.
"Hai! Selamat pagi, semua!" sapa keduanya ramah, membuat Gavriel dan Queeneira balas dengan ramah.
"Selamat pagi."
"Kei, yuk masuk kelas. Aku mau cerita yang pasti buat kamu senang," ajak Intan kepada Kei yang akhirnya mengangguk mengiyakan ajakan temannya.
"Baiklah, sepertinya penting banget," sahut Kei dengan senyum lebar, berpura-pura semangat nyatanya sedang kesal, saat ada saja yang mengganggunya mengucapkan satu kalimat saja untuk Gavriel.
"Iya dong! Ini mengenai anu," sahut Intan ambigu, membuat Kei menggelengkan kepala.
"Oke-oke, baiklah Gav, aku ke dalam dulu dengan Intan dan Raiya. Sampai jumpa di kelas," ujar Kei sebelum mengikuti kedua temannya, yang menyeretnya menjauh tapi untunglah sudah di jawab dengan gumaman khas seorang Gavriel.
"Kali ini saja, aku harap kita bisa lebih dekat lagi," batin Keineira, menoleh ke arah belakang untuk bertemu pandang dengan Gavriel, yang juga masih melihatnya. Sebenarnya bukan hanya Gavriel, Queene pun melihatnya namun ia hanya menganggap satu dan mengenyahkan yang lain.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Terimakasih kak atas dukungannya.
Sampai babai.