Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Ada Yang Jaim


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Lima bulan berikutnya


Mall Kota S


Di sebuah toko perlengkapan Bayi dan Anak, ada Kiara dan dua Mami yang sedang berburu perlengkapan untuk keperluan Si inces, keturunan dari Wijaya muda seoson dua.


Gavriel turut serta dalam membantu, maksudnya membantu merecoki Mommy dan dua Neneknya, dengan cara memasukkan barang-barang apapun yang di lihatnya, di troli yang Ia duduki saat ini.


"Yang itu Adik belum butuh, Kakak!" tegur Kiara lembut, Ia menatap Gavriel lalu mengusap kepala Anaknya sayang.


"Letakkan kembali yah!" Lanjutnya sambil mengambil barang yang tadi di ambil Anaknya dan meletakkan di tempat semula.


"Dek, yum?"


Gavriel menanggapi seruan Sang Mommy, dengan mata bulat berkedip polos. Sehingga membuat Kiara mau tidak mau terkekeh.


"Huem ... Belum butuh, nanti kalau Adik sudah bisa berjalan Kakak bisa belikan ini untuk adik. Got it?" sahut Kiara menjelaskan.


Gavriel mengangguk imut lalu melihat ke kanan dan kirinya, menatap sekeliling dengan binar mata penasaran.


"Momm, tu!"


Kiara mengikuti arah di mana Anaknya menunjuk, di sana Ia melihat Seseorang berjalan ke arah mereka lengkap dengan pakaian kantornya.


"Dadd!!"


"Dirga nyusul ke sini?" tanya Sarah kepada Anaknya.


"Aku juga baru tahu Mah," balas Kiara apa adanya.


Di ujung koridor ada Dirga di ikuti Dani, berjalan dengan pelan ke arah tiga wanita yang di sayanginya.


Tap!


"Dadd!"


Dirga tersenyum lebar dan dengan semangat Ia segera mengangkat Gavriel, yang mengulurkan tangan ke arahnya untuk masuk kedalam gendongannya.


Hup!


"Haloo, Kid. Sudah belanjanya?" tanya Dirga setelah mengecup gemas pipi gembil Sang anak.


"Hi-hi!"


"Belum selesai Yank, Gav sibuk memasukkan benda apa saja saat belanja. Kerja dua kali, dasar!" balas Kiara mendengus geli.


"Hi-hi!"


Gav terkikik saat dengan sengaja Sang Mommy mencolek pinggangnya, Dia bergerak heboh di gendongan Dirga yang kualahan menahan beban Anaknya.


"Wah kakak pintar yah!" gumam Dirga memuji, menuai kekehan senang dari Gavriel.


"Kamu tidak bekerja, Ga?" ujar Sarah bertanya.


Ia melihat ke arah Menantunya yang balas melihatnya.


"Kerja Mah, kebetulan ada inspeksi bangunan di lantai enam. Di bawah ketemu sama Pak Anto juga," balas Dirga menjelaskan.


Putri dan Sarah mengangguk mengerti.


"Kamu mau ikut belanja Yank, Temenin kami?" ujar Kiara bertanya, melihat ke arah Suaminya dengan pandangan berharap.


Senyumnya berubah jadi dengusan, saat mendapat gelengan kepala dari Suaminya.


"Sorry yank," balas Dirga dengan senyum tidak enak.


Kiara mengangguk mengerti, balas tersenyum tipis.


"Tapi biar Gavriel Aku yang bawa, biar Aku yang jaga. Bagaimana?" lanjut Dirga dengan pandangan berharap. Hum ... Berharap mendapatkan senyum lebih lebar dari Istrinya.


Kiara mau tidak mau mengangguk dengan senyum sedikit agak lebar, Ia tahu Sang suami sedang merayunya dan itu membuatnya tidak enak untuk marah.


"Oke ... Tapi kalau sudah selesai hubungi Aku yah, mungkin Kami akan makan siang di sini. Ia kan, Mah?" balas Kiara, lalu bertanya kepada kedua Maminya.


"Iya ... Jangan terlalu lama, Gavriel harus makan siang, Ga!" ujar Putri memperingati.


Dirga mengangguk mengerti, lalu melihat ke arah Kiara dan menyerahkan Gavriel kepada Dani sebentar.


"Gendong Gav sebentar, Dan!" ujar Dirga memerintah.


"Oke!" balas Dani mengambil alih Gavriel kedalam gendongannya.


"Sama Om dulu yah," gumam Dani pelan, Ia menahan tubuh Gavriel yang berusaha ingin turun seperti mengajaknya pergi.


"Nggih, Dan-dan!"


"Nanti dulu, tunggu Daddy yah, Tuan muda!" sahut Dani.


Setelah memastikan Sang anak nyaman di gendongan tangan kanannya, Dirga mengusap kepala Kiara sayang, kemudian berjongkok dengan tangan berada di atas perut buncit Sang Istri.


"Daddy pergi kerja lagi, tapi kakak di bawa yah .... Inces sama Mommy, Eyang dan Oma dulu yah. Oke?" gumam Dirga di depan perut Kiara, Ia meletakkan telinganya ingin mendengar reaksi calon Anaknya.


"Um-um, nanti bertemu lagi. Kita makan siang bareng, janji deh!" Lanjutnya, lalu menggesekan hidungnya, di atas perut buncit istrinya yang terkekeh geli.

__ADS_1


Putri dan Sarah yang menyaksikan hanya mendengus geli, saat melihat kelakuan tidak Dirga sama sekali di hadapan mereka.


"Dasar," batin Keduanya kompak.


Lalu untuk Kiara sendiri entah harus malu atau tersenyum geli, saat dengan tidak malunya Sang suami berjongkok dan menempelkan telinganya di hadapan khalayak ramai seperti ini.


"Lebay kamu Ga, nanti juga ketemu lagi. Sudah sana kerja," sahut Putri mengusir Anaknya dengan kejam.


Dirga mendengus saat mendengar usiran kejam dari Mama kandungnya, tapi tersenyum lagi saat melihat ke arah Sang istri yang terkikik kecil.


Ia pun bangkit dari jongkoknya, berdiri tegap di hadapan Sang istri lalu tersenyum lembut.


"Sampai ketemu makan siang nanti, kirim Aku pesan dimana kalian makan. Oke?" ujar Dirga sambil menepuk kepala Kiara sayang.


Kiara mengangguk lalu tersenyum lebar, Ia melupakan fakta jika tadi Ia sempat kecewa dengan Suaminya, yang tidak bisa ikut menemaninya belanja.


Padahal sewaktu kehamilan pertama Gav dulu, Dirga masih sempat menemaninya belanja.


"Siap, sayang!" seru Kiara ceria.


"Good, bye Dear!" gumam Dirga senang, mengecup dahi Kiara sayang.


"Bye mom, mih!" lanjut Dirga melihat ke arah dua Maminya.


"Iya,"


"Jangan lupa!" seru Putri memperingati.


"Yes, Mom,"


Dirga dan Dani pun meninggalkan ketiganya, menuju keluar Baby Shop dan menuju lantai enam, dimana mereka melakukan inspeksi bangunan.


Sepeninggalya Dirga, Kiara, Sarah dan Putri melanjutkan lagi belanja mereka.


Memilih keperluan dan perlengkapan yang di butuhkan oleh calon Anak dan Cucu kedua mereka.


"Mih, Mah ... Pink atau soft blue?" tanya Kiara sambil menunjukan baju bayi lucu, di hadapan kedua Maminya yang langsung terpekik kompak.


"Pink! / Soft blue!"


"Huh!"


Keduanya saling melihat lalu mengerutkan kening dan menghadap ke arah Kiara, yang tersenyum canggung karena jawaban kompak namun beda pendapat.


"Jadi?"


"Soft blue! / Pink!"


Kali ini jawaban terbalik dari keduanya yang di dengar Kiara, sehingga Kiara pun terkekeh merasa lucu dengan pendapat kedua Maminya.


"Kalau begitu dua-duanya saja, bagaimana?" putus Kiara kemudian, Ia bertanya dengan nada geli kepada dua wanita yang di sayanginya.


Dug! Dug! Ukh!


Sarah dan Putri yang sedang terkekeh bersama, menoleh ke arah Kiara yang tiba-tiba meringis seperti menahan sakit.


"Kenapa sayang?" tanya Sarah khawatir, Ia mendekati Kiara dan ikut mengusap pelan perut buncit Sang anak.


"Apa ada yang tidak beres?" ujar Putri ikut bertanya dengan nada cemas.


Kiara menggeleng menjawab pertanyaan keduanya, lalu tersenyum kecil menenangkan.


"Tidak Mah, Mih. Ini sudah biasa, Dia aktif sekali. Apalagi kalau habis berinteraksi dengan Daddynya!" seru Kiara ceria menjelaskan, Ia menutupi keadaannya yang sering sakit akhir-akhir ini.


"Perasaan dulu sewaktu hamil Gav, Aku biasa saja?" batin Kiara bingung.


"Kamu yakin?" tanya Putri sangsi. Ia menatap gelisah ke arah menantunya, yang tersenyum dengan kepala mengangguk membenarkan.


"Iya Mih!" seru Kiara membalas dengan ceria.


"Oke ... Kita istirahat dulu, nanti lanjut mencari kebutuhan Si inces, oke?" putus Sarah, yang di angguki Putri dengan segera.


"Iya ... Kita istirahat dulu, nanti di lanjut. Sekarang Kita ke kafe saja, sambil minum santai!" seru Putri.


Ia mengajak besan dan menantunya ke salah satu kafe langganannya, setelah menantunya mengirim pesan kepada Sang anak.


Sedangkan di saat bersamaan, di sisi Dirga dan Dani, serta Gav yang bertransformasi menjadi diam dan menampilkan raut wajah biasa saja.


"Selamat siang, Tuan wijaya, Pak Dani!" sapa Kabag ramah.


"Hn,"


"Siang juga,"


"Bisa kita langsung periksa?" lanjut Dani mewakili bosnya.


"Baik, ikuti saya!"


Mereka pun memeriksa setiap sudut, dengan Seorang kepala yang memegang kendali lantai enam.


"Tuan muda juga ikut," ujar Si Kabag di sela-sela penjelasan.


"Hn, kebetulan bertemu," balas Dirga singkat.


Si kabag tersenyum kaku saat melihat raut wajah anak dan ayah, yang sama-sama pasang wajah biasa saja lalu melanjutkan lagi penjelasannya.


Dirga yang menggendong Anaknya mengernyitkan dahi heran, saat tidak mendengar atau melihat tingkah seperti biasa Sang anak.

__ADS_1


Biasanya Gav akan sibuk melihat sekeliling dengan tatapan penasaran, tapi ini lihat ... Jangan kan melihat dengan penasaran, bergerak heboh pun tidak.


Seketika Ia curiga jika Sang anak kena sambet jin penunggu gedung lantai enam.


(Ini bukan novel horor, Dirga yang katanya tampan. Ya kan Gue penasaran loh Thor, ya tapi bukan berarti kesambet dah, bimbing. Iya dah iya)


Dirga menggelengkan kepala menghilangkan fikiran iya-iyanya, lalu mendengarkan lagi penjelasan Si kepala bagian, sedangkan tangan kirinya yaitu Dani mencatat apa pun yang menurutnya penting.


"Tapi apa liftnya di tambah juga, Tuan Wijaya?" tanya Si Kabag, kepada Dirga yang melihat ke arahnya datar.


Gluek!.


Si Kabag takut sendiri saat melihat tatapan datar salah satu Owner, di tempat Ia bekerja saat ini.


"Hn, nanti Dani yang atur," balas Dirga, lalu melihat ke arah tangan kanannya.


"Dan, dengarkan?" lanjut Dirga singkat.


Dani mengangguk kepala mengerti, lalu mencatat apa yang di perintah bosnya.


"Oke, Bos!" balas Dani.


Mereka pun melanjutkan kegiatan pemeriksaan, dari satu bagian ke bagian yang lain.


Di saat mereka sedang istirahat dan berhenti melihat-lihat, Dirga merasakan handphone di saku celananya.


Ia merogoh saku celananya dan melihat notif pesan dari Sang Istri, membaca dalam hati dan menutup kembali pesan tersebut.


Ia melirik ke arah Dani yang mengangkat alis bertanya.


"Istirahat," gumam Dirga tanpa suara.


Dani mengangguk lalu berdehem, membuat Si kabag menoleh ke arah mereka.


"Kita lanjutkan nanti, sudah saatnya istirahat," ujar Dani dengan tangan terulur menunjukan arloji, yang saat ini menunjukan pukul setengah dua belas siang.


"Baik, terima kasih Tuan," ujar Sang kabag sopan.


Mereka pun berbalik arah, menuju lift dan turun ke lantai dimana Kiara, Mami dan Mertuanya berada.


Di dalam lift, Gavriel yang tadi diam mendadak heboh.


Dia menepuk-nepuk pipi Daddynya pelan, membuat Dirga heran dengan kelakuannya.


"Ada apa heum?" ujar Dirga menyahuti tepukan Anaknya.


"Dadd, au ana,"


"Hem? Mau kemana?" tanya Dirga mengulangi.


"Mau ketemu Mommy, sudah waktunya makan siang, kan?" ujar Dirga menjelaskan.


Gavriel tidak menanggapi, tapi berbalik menghadap ke arah dadanya dan nemplok lalu tertidur.


"Jangan tidur, makan siang dulu!" seru Dirga sambil menepuk bokong Sang anak yang terkikik kecil.


"Hi-hi!"


"Dasar, tadi kenapa diam saja? Giliran sekarang manja," bisik Dirga, tapi sayang Anaknya hanya terkikik lalu memukul-mukul pipinya pelan.


"Malah tertawa, dasar gembul!" seru Dirga lalu tertawa geli.


"Sepertinya Gav jaga image, Ga!" sahut Dani, saat mendengar tawa dari bosnya.


"Seperti itu? Gue baru sadar," balas Dirga dengan kening berkerut.


"Dasar anak siapa sih!" Lanjutnya kemudian terkekeh kecil.


"Anak Lu lah, siapa lagi!" dengus Dani sewot.


"Iya dong!"


"Terserah,"


"Makanya cepet nikah!" ledek Dirga dengan wajah mengesalkan.


"Tumben bener, biasanya bilang kawin bukan nikah!" seru Dani balas meledek.


"Manusia kan bisa berubah, iya kan Gav?"


"Hi-hi!"


"Tuh denger,"


"Bodo!"


Ting!


Pintu lift terbuka, Dirga dan Dani melangkahkan kaki mereka, menuju sebuah restoran sesuai dengan pesan yang di kirim oleh Kiara.


Di perjalanan saat menuju restoran, tiba-tiba ada suara panggilan yang menyebut nama Dirga dengan nada sopan namun terasa tidak asing di pendengarannya.


"Tuan Wijaya!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya .....


__ADS_2