Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Ditinggal Liburan Berjama'ah


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Ini sudah lewat dua minggu sejak mereka makan bersama, dengan insiden tersembunyi yaitu dua sahabat yang saling bersinggungan.


Hari ini pun adalah hari terakhir mereka belajar di semester awal, untuk setelahnya liburan musim panas selama satu minggu penuh kedepan.


Di kelas 10 IPS 1 sudah duduk tiga orang sahabat, dilingkupi suasana aneh dengan Ezra yang menjadi penengah, ia bagaikan orang yang tinggal di dua alam berbeda.


Sebenarnya ia tahu apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya, tapi .... Sekali lagi tapi, ia tidak bisa begitu saja mencampuri urusan pribadi keduanya.


Bagi Ezra, selama mereka tidak saling terbuka dan saling memaafkan dari hati masing-masing, ia menengahi pun akan percuma.


Gavriel, sepupunya keras kepala dengan pilihannya. Sedangkan Queeneira, sahabatnya yang lebih memilih memendam sendiri.


Lalu ia sendiri ... Hanya bisa menghela napas, saat lagi-lagi keduanya saling diam, melirik lalu melengoskan kepala mereka ke arah lain.


"Haih, bikin suasana tidak seru. Mana sebentar lagi kami akan libur bersama," batin Ezra melihat ke arah dua sahabatnya lelah.


Getaran pada saku celananya, membuat Gavriel dengan segera memeriksa handphone miliknya. Di layar handphonenya tertera nama sang adik sebagai si pemanggil, ia pun dengan segera menggeser tombol hijau dan menempelkan handphonenya, di telinga kanannya.


"Hn."


"Mas!"


Gavriel mengerutkan keningnya, saat mendengar nada senang dari adik kesayangannya.


"Iya, ada apa El?"


Seketika dua sahabatnya mendekat ke arahnya, menempel dan ingin ikut dengar suara adiknya, yang sudah dianggap adik pula oleh dua sahabatnya.


"Mas, El depan sekolah Mas."


Queene yang tadi melakukan perang dingin memekik senang, sebelum berlari menuju pintu kelas dan keluar kelas, meninggalkannya dan sepupunya, yang hanya mampu mengedip-ngedipkan kelopak mata kagum.


"Mas ... Mas, dengar El kan?"


Gavriel tersentak kaget, saat mendengar suara sang adik, yang merasa khawatir saat dirinya tidak membalas ucapanya.


"Hum, Mas dengar kok," sahut Gavriel setelah sadar dari rasa kagumnya.


"Astaga, dia tetap menjadi yang paling lucu, saat ada El di tengah-tengah kami," batin Gavriel dengan senyum geli.


"Kalau gitu, Ma-, ah! Mba Que!"


Kali ini pekikan senang adiknya terdengar disusul suara sahabatnya, yang juga terdengar senang, masih dengan panggilan tersambung.


"Mas, Mba Que sudah jemput El, El boleh masuk kan?"


Hari ini hanya ada beberapa pengumuman sebelum libur musim panas, dan kebetulan pihak sekolah pun membebaskan kunjungan, dengan murid sendiri sebagai penjamin si tamu tersebut.


"Iya, kamu masuk sama Que. Mas tunggu sini, oke."


"Ok!"


Gavriel pun meletakkan kembali handphonenya, kedalam saku celana kemudian melihat sepupunya yang juga melihatnya.


"Ada apa?" tanya Gavriel dengan nada datar.


"Tidak apa-apa, kagum saja dengan Que. Jika sudah tentang El, pasti langsung antusias," ujar sepupunya menjelaskan.


Gavriel hanya bisa mengangguk, saat apa yang dikatakan sepupunya, memang benar adanya.


Tidak lama dari panggilannya diputus, di pintu kelas mereka terlihat adiknya, dengan sahabatnya yang dipeluk lengannya, sebelum dilepas, dengan dirinya yang kemudian menerima pelukan erat dari sang adik.


"Mas!" seru El semangat.


Brukh!


Grep!


"Ah! Akhirnya bisa masuk ke sekolahan, Mas," gumam Selyn yang ada dipelukan Mamasnya.


Gavriel menggelengkan kepala, dengan bibir tersenyum geli, balas dan mengusap rambut adiknya lembut.

__ADS_1


Tuk!


"Lebay kamu, El. Kamu bisa kapan aja kesini, hanya tinggal menyebut nama unkel," dengkus Ezra meledek, setelah mengetuk belakang kepala adik sepupunya pelan.


"Apa sih Mas Ez, sewot aja. Iri yah, El peluk Mas Gav, bukan peluk Mas Ez. Iya kan," dumel Selyn melotot kesal ke arah Ezra, dengan bibir mencebil lucu.


Buagh!


"Ouch!"


Kalau tadi Ezra yang mengetuk belakang kepala si bontot Selyn, maka kali ini Ezra sendiri yang jadi bahan samsak tinju, oleh Queene yang melotot garang ke arah sahabatnya, yang tertawa alih-alih marah.


"Jangan ganggu adikku, mau aku beri, heum?" sembur Queene pura-pura marah, menuai kekehan dan ledekan dari Selyn, yang memeletkan lidah mengejek ke arah Ezra.


"Blee ... Rasakan," ledek Selyn dengan senyum puas terpatri.


"Ish! Kalian kejam sekali," misuh Ezra, mengusap lengannya, korban dari tinjuan seorang Queene, si preman kesayangan mereka.


Gavriel melihatnya dalam diam, saat ketiga orang kesayangannya saling bercanda, dengan adiknya yang masih ada didalam pelukan hangatnya.


Pemandangan ini tentu saja membuat yang lain penasaran, apalagi saat melihat perempuan muda dengan paras cantik, memeluk santai seorang King dari kelas mereka.


Siapa?


Mungkin inilah rata-rata pertanyaan dari mereka, tapi tidak dengan orang yang sudah tahu, atau pun yang pernah bermain dengan mereka berempat.


"Kei, itu adiknya Gavriel," bisik Raiya, sambil menyenggol lengan teman cantiknya, yang juga sedang melihat ke arah tiga sahabat dengan tambahan murid lain berseragam SMP disana.


"Iya, tapi sampai sekarang dia belum bercerita," balas Kei bergumam, melihat ke arah sana dengan hati ingin ikut serta.


Ya ... Ingin ikut dalam obrolan seru mereka di sana. Ingin kenal dengan adik dari laki-laki yang disukainya, serta ingin berdekatan dengannya, dengan Gavriel yang sudah dekat dengannya beberapa waktu ini.


"Apa kamu tidak bertanya, Kei?" tanya Intan dengan nada kaget.


Dalam hatinya berpikir, bagaimana bisa temannya tidak bertanya masalah status dengan dia, sedangkan mereka sudah dekat seperti itu, tanpa ada kejelasan tentang status dia yang sudah atau belum punya.


"Aku tidak mau memaksa," jawab Kei memandang Intan dengan senyum kecil, serta gelengan kepala pasrah.


"Aku ingin dia yang bercerita, bukan aku yang bertanya," lanjutnya sedih.


"Tapi Kei, mungkin saja Gavriel sendiri, yang malah menunggu kamu untuk bertanya," sahut Intan gemas, saat melihat sendiri gerakan pasif dari teman cantiknya.


"Tidak bisa seperti itu, Intan. Gavriel berbeda, dia bukan seseorang yang akan memberikan penjelasan atau juga jawaban, saat dia ditanya. Itu kata Papa, saat dia pulang dari rumah beberapa waktu lalu," ujar Kei menjelaskan saat mengingat obrolannya dengan sang Papa, tepatnya saat Gavriel mengantarnya pulang.


"Tapi kalau mereka yang bertanya, kenapa Gavriel bisa menjelaskan dengan santai?" tanya Intan belum puas, yang diangguki kepala setuju dari Raiya yang juga penasaran.


"Beda lah, mereka itu bukan hanya teman bagi Gavriel, tapi aku rasa segalanya," sahut Kei dengan nada gemas, melihat dua temannya dengan bibir mencebil.


"Tapi kok bisa yah?"


Oke .... Mari tinggalkan tiga teman, yang penasaran dengan obrolan keempatnya, dengan salah satu jadi bahan pembicaraan mereka. Kita kembali lagi kepada empat orang, yang saat ini sedang berbincang seru, tanpa terganggu dengan tatapan orang lain disekitar mereka.


"Mas, El sudah bicara dengan Dadd dan Momm, katanya, kita bisa pilih liburan di luar atau dalam negeri. Terserah kita," ucap Selyn dengan nada semangat, duduk di sebelah sahabat perempuannya, yang memandangnya dengan binar ceria.


Gavriel melihat ke arah Selyn dengan kening mengerut. Saat memikirkan ucapan sang adik, yang tiba-tiba membahas masalah liburan.


"Lalu Momm dan Dadd, mereka juga ikut kan?" tanya Gavriel memastikan, saat ia mendengar kalimat mencurigakan dari adiknya.


Selyn menggelengkan kepala dengan cengiran lebar, membalas pertanyaan sang kakak tentang keikut sertaan kedua orang tua mereka.


"Dadd bilang, Dadd dan Momm ada perjalanan bisnis ke Prancis, jadi tidak bisa ikut," jawab Selyn sedikit sebal, tapi ia juga senang saat bisa mencoba liburan, tanpa ada pengawasan Mommy bawel dan Daddy overprotektifnya.


"Jadi ... Hanya ada kita, begitu?" tanya Ezra memastikan lagi, sebab kedua orang tuanya juga tiba-tiba ada perjalanan bisnis. Dengan gerakan mencurigakan saat mereka bilang, perihal kepergian mereka.


"Err ... Ada apa ini sebenarnya, kenapa orang tua kita seakan kompak, ingin meninggalkan kita saat liburan nanti. Apa ini akal-akalan mereka saja?" tanya Queene menatap satu per satu orang dihadapannya, dengan senyum canggung dan tatapan curiga.


Ia pikir hanya ia sendiri, yang di tinggal pergi saat liburan nanti. Ternyata dua sahabatnya juga seperti itu, bahkan alasannya pun sama.


Perjalanan bisnis.


Hell ... Mereka seketika sadar, akan kemodusan orang tua mereka masing-masing, tentang rencana liburan mereka nanti.


Mereka kompak melihat dengan mata menyipit tajam, kemudian terkekeh bersama, saat mereka mengetahui sendiri kelakuan orang tua masing-masing.


"Astaga! Mereka itu, bertingkah layaknya remaja, masih saja ingin honey trip berdua. Tanpa ada gangguan lucifer," desah Ezra berlebihan, menuai tampolan pada bagian kepalanya dari sang sepupu.


Pletak!

__ADS_1


"Akh! Sakit oy!"


Ezra melotot ke arah sepupunya, yang hanya balas menatap datar ke arahnya, tidak takut dengan tatapan sebal sepupu kupretnya.


Enak saja ia dipanggil dengan panggilan lucifer, panggilan mereka dulu saat masih kecil dan suka mengganggu ketenangan para orang tua.


"Yah elah Mas Ez, seperti tidak tahu mereka saja, dirumah saja inginnya berduaan, apalagi ada waktu libur satu minggu seperti ini."


Bukan Gavriel yang membalas dengan kalimat panjang, ucapan ngaco dari Ezra. Melainkan adik sepupunya, yang menatapnya dengan bibir mencebil lucu.


Keempatnya mengangguk setuju, kemudian terkekeh bersama, dengan dua orang yang saling lihat lalu sama-sama tersenyum.


Entah senyum karena alasan apa, tapi mereka sedang mencoba untuk tidak mencampur adukkan masalah, jika itu ada adik kesayangan ditengah-tengah mereka.


Ezra memandang dengan senyum ke arah sepupu dan sahabat perempuannya, saat keduanya bisa menyingkirkan masalah, ketika ada si bontot diantara mereka saat ini.


Ini yang disukainya, keduanya sama-sama tidak ingin membuat seorang Selyn, khawatir karena keadaan kacau mereka saat ini.


Oh ya ... Bagaimana tidak disebut kacau, jika dua sahabatnya akan sama-sama melengos, dan hanya menyahuti saat ia yang bertanya dan bercerita.


Tidak seperti mereka yang dulu, mereka yang saling berbagi cerita tanpa batas.


"Lalu, kira-kira, kemana kita akan liburan nanti?" tanya Selyn menatap satu per satu kakaknya dengan binar ceria.


Ketiga kakaknya saling melihat, lalu kembali melihat Selyn, si bontot sebagai pusatnya. Mereka menjawab dengan kompak pertanyaan dari Seyln, menuai gerutuan darinya saat merasa sedang dikerjai oleh ketiga kakaknya.


"Di rumah saja, dong!"


"Ah! Menyebalkan, Kenapa harus di rumah."


Tawa Keempatnya terdengar hingga meja tempat tiga remaja perempuan, yang masih melihat ke arah mereka dengan penasaran.


Ya .... Mereka hanya heran, kenapa setiap mereka kumpul, pasti obrolan mereka selalu terlihat seru dan mengasyikkan, beda lagi kalau ketiganya sedang berbicara dengan yang lainnya.


Bahkan, berbicara dengan mereka saat dulu mereka hang out, hampir semua obrolan tidak ada yang mampu mereka cerna, jika yang dibahas rata-rata keluar dari lisan si pacar kw seorang Gavriel.


Selyn yang penasaran dengan keadaan kelas sang Mamas, melihat sekitar dengan pandangan kagum. Kemudian ia tidak sengaja melihat kumpulan tiga kakak perempuan, yang waktu itu pernah bermain bersama mereka.


Keningnya berkerut saat melihat ketiganya, yang juga sedang melihat ke arahnya saat ini dengan senyum dan tangan melambai.


Selyn adalah pribadi yang welcome untuk semua orang, jadi ia pun melambai tangan dengan semangat, membalas lambaian tangan untuknya.


"Mas, mereka yang kemarin itu kan?" tanya Selyn menatap ke arah sana dan kakaknya bergantian.


Gavriel ikut melihat, kemudian mengangguk singkat membalas pertanyaan dari adiknya, yang juga mengangguk mengerti.


"Ow," gumam Selyn mengerti. Kemudian ia menyapa dengan senang, ke arah sana, dengan panggilan ajakan untuk bergabung dan itu membuat reaksi yang berbeda dari ketiganya.


Gavriel yang menatap Queene dengan pandangan ingin tahu.


Queeneira yang memandang Gavriel dengan air wajah keruh.


Serta Ezra, yang menahan diri agar tidak menepuk dahinya frustrasi.


Sedangkan Selyn, menatap dua kakaknya dengan pandangan penuh maksud, apalagi saat melihat ekspresi berbeda dari Mba kesayanganya.


"Benar kan, ini pasti ada hubungan dengan salah satu diantara ketiga kakak perempuan di sana," tebak Selyn dalam hati dengan senyum geli.


Ia merasa lucu dengan tingkah kakaknya, si jenius dalam bidang bisnis turunan sang Daddy. Namun sayang, jika itu masalah perasaan akan bodoh, dengan kadar kepekaan nol persen.


"Dasar Mamas, gini aja bikin repot. Giliran perusahaan, getol nggak pake lama langsung mengerti," lanjutnya masih dalam hati dan semakin terkekeh geli, saat melihat Mbanya menampilkan raut wajah bad mood, ketika ketiganya berjalan untuk bergabung dengan mereka saat ini.


"Tapi ... Bagaimana jika aku salah," pikir Seyln bingung, saat ada bayangan buruk hinggap di kepala cantiknya.


"Tidak-tidak, aku yakin kok."


Selyn pun menggelengkan kepala menolak kenyataan buruk, tentang hubungan kedua kakaknya kelak, dan itu membuat sang kakak yang melihatnya mengernyit bingung.


"Ada apa dengan, El," batin Gavriel khawatir.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Author lagi ada pesta di kediamanan sendiri, maaf jika tidak bisa mampir atau balas komentar satu per satu untuk saat ini.🤣

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2