
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Wait __Cover Exo
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Stasuin Sunny bay, Yam O, Hong Kong.
Empat remaja laki-laki terdiri dari Rajendra, Ardan, Didi serta satu lagi yang belum bernama ini, sedang berdiri dengan pose keren menurut mereka, sambil menunggu kedatangan adik kelas mereka.
Menunggu sambil bersenda gurau, tidak hentinya si ketua OSIS dengan cap gelo dari adik kelas kesayangan ini, memeriksa handphone saat belum juga melihat penampakan keempatnya.
"Janjian jam berapa sih?" celetuk Didi saat merasa pose kerennya percuma, karena tidak ada satupun yang melirik ke arahnya, padahal jumlah orang yang berlalu-lalang tidak bisa di katakan sedikit, kalau mau dibilang penuh dan sedikit sesak.
"Seharusnya jam segi- ah! Itu mereka!"
Rajendra atau juga Ge, yang melihat rombongan adik kelasnya turun dari kereta pun berseru semangat, sehingga Ardan, Didi dan satunya lagi pun berdiri dengan posisi siap tebar pesona.
"Mana-mana!"
Ge tidak bisa untuk tidak mendengkus kesal, saat melihat tiga temannya yang heboh karena kedatangan empat adik kelas, tepatnya adik dari adik kelas mereka, yang saat ini tampil manis dengan overall dan baju kaos putih sebagai dalaman.
"Gila! Cakep banget," seru ketiganya kompak, lengkap dengan mata berbinar senang.
"Ck ... Giliran yang cakep-cakep langsung pada kompak," dengkus Ge kesal, kemudian dengan sengaja meraup wajah ketiga bergantian.
"Makan nih," timpal Ge, menuai seruan kompak tidak terima dari temannya.
"Kamvret lu!"
"Bodo!"
Disisi rombongan Gavriel, mereka jalan dengan Selyn yang memeluk lengan Queeneira erat, sedangkan Gavriel dan Ezra yang berjalan bersisihan.
"Sudah lama, kak?" tanya Queeneira, saat sudah sampai di depan keempat kakak kelasnya.
"Nggak kok, kami baru sampai," balas Ge mewakili ketiga temannya, dengan anggukan kepala sebagai persetujuan dari Ardan dan yang lainnya.
"Syukurlah," desah Queeneira lega, saat ia merasa tidak enak membuat kakak kelasnya menunggu.
"Selyn, apa kabar dek. Sudah sarapan?" tanya Ardan dengan ramah, lengkap dengan senyum sok charming, padahal Ardan memang lumayan tampan hanya sedikit gesrek kelakuannya.
"Sudah, Mas Ardan!" balas Selyn ceria, membuat Ardan berbunga namun tidak untuk Didi dan teman satunya, yang mendengkus sebal, merasa kalah start dari si koko Ardan saat tebar pesona.
"Kalau belum, nanti kit-
"Sebaiknya kita cepat menunggu di pintu sana," sela Gavriel saat melihat gelagat ganjen dari kakak kelasnya, yang menatap adiknya dengan binar minat yang kentara.
Selyn dengan segera menoleh ke arah sang kakak, yang selalu curiga dan tidak suka jika ia sudah mulai mengobrol dengan seorang laki-laki lain. Ia menatap kakaknya dengan pipi menggembung kesal, sehingga Gavriel yang merasa adiknya kesal pun ikut mendengkus.
"Kemari!" titah Gavriel dengan nada mutlak, membuat Selyn kesal dan menghentak kaki sebelum menghampiri dan berdiri disisi sang kakak.
"Is!"
Ezra yang melihat adik sepupunya pindah di samping sepupunya pun berinisitif, pindah kesisi sahabatnya saat kakak kelasnya hendak mendekati. Ia hanya ingin mengantisipasi kejadian, yang bisa saja terjadi saat mereka sedang kumpul seperti ini.
"Duluan kak," sela Ezra datar, saat Ge hendak mengeluarkan kalimatnya.
Ge lagi-lagi mendengkus kesal dengan alasan beda, saat melihat tingkah sengak adik kelasnya. Dalam hati ia bertanya, sebenarnya laki-laki dalam persahabatan adik kelas ubreknya ini menganggap si ubrek apa sih, sehingga ia merasa aneh dengan sikap kedua laki-laki yang ada di sekitar Queeneira.
Kalau Selyn sih ia tidak heran, woiya jelas, karena ia tahu jika si shinigami yang adalah adik kelasnya yaitu seorang kakak, yang menjaga agar adiknya tidak didekati oleh laki-laki model temannya, Ardan.
"Oke, kalian sudah siap?" tanya Ardan mengambil alih, saat melihat Ge yang sedang perang batin.
"Sudah, El sudah siap, Mas Ardan!"
Gavriel membawa kepala adiknya, untuk masuk dalam pelukannya, saat sang adik menjawab dengan nada ceria yang membuat kakak kelasnya kesenangan. Ia ganti menatap Ardan dengan tatapan tajamnya, tidak rela saat sang adik ceria di hadapan si kakak kelas.
"Hn."
Entah kenapa, baik itu Ge ataupun Ardan, keduanya tidak bisa untuk tidak mendengkus saat menerima jawaban bernada dingin dari Gavriel dan Ezra. Tapi mereka tidak menanggapi ini dengan serius, Ge bahkan kembali melihat Queene dengan binar mata senang, saat memikirkan jika mereka bisa menghabiskan waktu dengan bersenang-senang.
"Yuk, kita tungg-
"Kalian juga disini!"
__ADS_1
Kalimat yang akan Ge ucapkan, terpaksa harus ditelan kembali, saat mendengar seruan dengan nada kaget, dari arah tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Mereka pun kompak menoleh ke asal suara, di sana mereka melihat tiga remaja dan satu perempuan yang asing bagi mereka.
Diantara ekspresi kaget dari mereka, ada ekspresi tidak nyaman dari sahabatnya dan Ezra menyadari itu. Ia menoleh ke arah sepupunya, yang juga melihat ke arah tiga remaja itu dengan tatapan biasa, tidak kaget seperti memang sudah tahu atau memang ini disengaja.
"Astaga! Apa lagi ini," batin Ezra lelah.
Ketiga remaja ini pun menghampiri kedelapan orang, yang masih menatapnya dengan raut wajah kaget.
"Kalian mau ke Disneyland juga? Wah! Bisa bareng gitu yah!"
Intan yang tadi memanggil kedelapan orang ini mengulangi pertanyaannya, saat ia tidak mendapatkan jawaban, dan hanya tatapan tidak percaya sebagai jawaban yang terimanya.
"Kalian, mau ke Disneyland juga?"
Karena tidak ada yang menjawab pertanyaan adik kelasnya, akhirnya Ge pun mengambil alih dan bertanya dengan tatapan kaget ke arah adik kelasnya, Intan.
Intan mengangguk dengan semangat, saat kakak kelas mereka akhirnya menanggapinya dengan pertanyaan juga.
"Iya! Kami ingin ke Disneyland juga. Bisa kebetulan gini yah," balas Intan masih dengan nada senangnya.
"Iya, bisa gitu yah."
Tidak bisa menjawab lagi perkataan adik kelasnya, Ge pun hanya bisa tersenyum canggung saat merasakan atmosfer canggung dari adik kelas satu dengan adik kelas satunya, yang saat ini berdiri dengan ekspresi wajah kaku padahal tadi ada senyum meski kecil di wajahnya, Queeneira.
"Oh iya! Bagaimana kalau kita bersama-sama saja, sepertinya akan lebih seru kalau kita beramai-ramai. Pastinya, kita juga akan lebih lebih aman, jika di sekeliling kita adalah orang yang kita kenal. Setuju kan?"
Intan menatap satu per satu teman negara asalnya, dengan pandangan memohon yang membuat mereka tidak enak, apalagi Ge dan tiga lainnya, karena bagaimana pun mereka juga meminta untuk bersama dengan rombongan adik kelasnya.
Diam.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dengan nada memohon dari Intan, sehingga Intan pun merasa sedih dan memilih mundur, dengan senyum kecil menyembunyikan kekecewaannya. Dan itu membuat Queeneira merasa kasian, ia pun menghela napas menatap ketujuh orang lainnya, lalu menatap ketiga teman sekelasnya, setelah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi saat di taman hiburan nanti.
"Biarlah, lagian kalau pun mereka bersama, aku tidak akan terlalu memikirkannya, saat banyak orang di sekitarku," batin Queeneira setelah menghela napas.
"Kalian bisa gabung kok kenapa meminta izin, toh kalian jalan dengan kaki masing-masing. Santai saja."
"Mba!"
"Tidak apa-apa, lebih ramai lebih baik."
Selyn yang hendak protes terpaksa tidak jadi, saat Queeneira melanjutkan kalimatnya dengan cepat, menatap ketiganya tanpa melihat ke arah Selyn, yang saat ini menampilkan ekspresi tidak suka, yang ia sembunyikan di dalam pelukan sang kakak.
"Ada apa, huem?" bisik Gavriel kepada sang adik yang hanya balas dengan gelengan kepala.
"El yang Mas kenal nggak begini, mana wajahnya. Mas mau liat senyum lebar El." masih berbisik, Gavriel meminta dengan lembut adiknya yang saat ini sedang cemberut.
"Ayolah, Mas kan ingin melihat wajah Mommy," lanjut Gavriel menggoda Selyn, saat sang adik masih belum menunjukkan wajahnya.
Gyutt!
"Aw-aw ... Yah El, kok dicubit sih," rintih Gavriel saat Selyn mencubitnya, alih-alih memperlihatkan wajah dengan bibir sedang mengerucut sebal.
"Mas, mau meledek El yah. Jelas-jelas wajah El mirip Daddy, malah bilang mau lihat wajah Mommy. Is ... Menyebalkan," dengkus Selyn yang akhirnya terkekeh juga, saat melihat sang kakak yang tersenyum geli akan jawaban sebal darinya.
"Ha-ha-ha ... Tapi El, sereman Daddy kalau lagi cemberut, beda sama El yang lucu dan imut."
Selyn semakin melipat wajahnya saat mendengar sang kakak, menyamakan dirinya dengan sang Daddy disaat sedang kesal seperti ini.
"Is! Nggak lucu, Mas," sungut Selyn semakin mengeratkan pelukannya, dengan sesekali memukul punggung lebar milik kakaknya sebagai pelampiasan.
Selagi kakak-adik ini bercanda dengan bisik-bisiknya, sisa orang di sekitar mereka masih membahas tentang empat tambahan anggota, yang ingin bergabung bersama mereka di taman nanti.
Queeneira yang menjawab dengan nada biasa, membuat Intan tentu saja tersenyum senang, senyum yang juga dibalas senyum kecil darinya.
"Terima kasih, Queene. Semuanya juga," sahut Intan dengan semangat.
Queeneira dan yang lainnya hanya mengangguk, kemudian mereka bersama-sama menunggu di depan pintu tempat menunggu kereta datang.
Kereta untuk menuju stasuin Disney resort hanya satu, dengan satu rel kereta dan satu gerbong kereta pula.
Disaat yang lainnya menunggu dengan diselingi obrolan, Keineira menatap ke arah Gavriel yang sedang berdiri masih dengan sang adik, yang menempel erat tidak sedikit pun berubah seperti tadi.
Dalam hati ia berpikir, apakah adik dari Gavriel akan tetap seperti itu, jika ia atau siapapun itu nanti akan menjadi kekasih Gavriel. Maksudnya, apakah Selyn akan tetap manja dan memperlakukan seorang kakak layaknya seperti seorang kekasih, yang selalu mesra di manapun dan kapanpun.
Ia akui ia cemburu dengan kedekatan Gavriel dan Selyn, meskipun ia tahu itu adalah cara keduanya untuk saling menyayangi, tapi tetap saja ada sebagian hatinya yang tidak suka, jika nanti mereka masih tetap seperti itu.
Ia tidak mau jika Gavriel terlalu memanjakan Selyn, meskipun Selyn adalah adik dari laki-laki yang ia sukai.
__ADS_1
Disaat Keineira sedang sibuk dengan pemikiran tidak sukanya, Gavriel tiba-tiba melihat ke arah sekitar dan tidak sengaja bertatapan dengan Keineira yang memang sedari awal melihatnya.
Gavriel memberikan senyum kecilnya, yang dibalas dengan senyum malu darinya, kemudian harus terputus saat kereta datang dan pintu terbuka, dengan penumpang yang berebut untuk segera memasuki gerbong.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya kereta yang mereka tumpangi berhenti, di stasiun Disneyland resort, menampilkan tempat dengan banyak tangga, serta stasiun dengan gaya seperti di negeri dongeng.
Naik ke atas, kemudian menscan kartu kendaraan (Patadong) masing-masing, akhirnya mereka pun bisa melihat dengan jelas gerbang dengan tulisan Disneyland Resort Hongkong, lengkap dengan huruf chiness.
Sebelum memasuki area taman, mereka menyempatkan foto beramai-ramai, dengan Susan sebagai fotografer dadakan, sehingga tidak ada di antara mereka yang tidak masuk ke dalam bidikan kamera milik Ezra.
Jika sedang begini, Queene merasa tidak masalah jika mereka berkumpul jadi satu, tapi kalau sudah saatnya berpasangan, entah kenapa ia merasa tidak suka, lebih memilih sendiri saja daripada membuat hatinya kesal.
"Kita masih jauh loh, untuk masuk ke dalam taman bermain," ujar Susan yang sedari tadi hanya diam.
Susan tidaklah tua, tidak muda juga. Ia adalah mahasiswi yang kebetulan bekerja sebagai pemandu, untuk menambah uang jajan saat dirinya adalah mahasiswi dengan beasiswa dari pemerintah.
"Iya, setelah ini kita masih harus berjalan sedikit ke dalam, lalu masuk ke bagian karcis, dan berjalan lagi melewati rumah seperti di dalam cerita kartun. Dengan bangunan unik juga," sahut Queene menjelaskan sesuai dengan apa yang ia tahu.
"Kamu juga tahu?" tanya Susan kaget, dengan Queeneira yang hanya mengangguk tanpa niat menjelaskan jika ia sudah beberapa kali masuk ke taman sewaktu ia kecil, tepatnya saat ia liburan dengan sepupunya.
"Masuk yuk, Mba! Nggak sabar mau naik wahana," ajak Selyn, sekarang gantian menyeret Queeneira, melepas pelukan kakaknya dan berjalan dengan Queene yang menurutinya begitu saja.
Mengikuti jejak dari dua perempuan semangat di depan sana, rombongan kakak kelas adalah yang kedua, menyusul Selyn dan Queeneira tidak kalah semangatnya.
Sisa Ezra yang juga di seret begitu saja oleh Intan dan Raiya, sehingga kini hanya menyisakan Gavriel, Keineira dan Susan yang akhirnya jalan santai dibagian paling terakhir.
Selyn dan Queeneira sampai di kolam dengan patung paus besar, yang hidungnya mengeluarkan air mancur. Dengan mata berbinar senang, Selyn mengeluarkan handphone dan membuka aplikasi kameranya.
"Foto!" seru Selyn tanpa perlu jawaban dari Queeneira, yang hanya bisa pasrah saat wajahnya terpampang di layar handphone adik kesayanganya.
Chees!
Cekrek!
"Yey!"
Selyn berseri-seri saat melihat gambarnya dan Mbanya, yang terlihat uwu di layar handphonenya. Matanya menjelajah mencari sang kakak dan terpekik senang, saat melihat penampakannya.
"Mba tunggu sini, El mau jemput Mas!" titah Selyn seenaknya, kemudian lagi-lagi tanpa menunggu jawaban dari Queeneira berlari meninggalkannya, untuk menghampiri sahabatnya yang berjalan santai bersama teman sekelasnya, sedangkan di belakang sana ada seorang lagi yang sepertinya sengaja menghindar.
"Ck." padahal dalam hati ia berjanji untuk tidak kesal, tapi tetap saja ia tidak bisa untuk tidak berdecak, saat melihat sahabatnya dekat dengan teman sekelasnya.
"Menyebalkan," batinnya mendengkus kesal.
Selyn yang semangat dan dalam mood senang, menghampiri sang kakak yang berjalan tanpa obrolan, dengan seorang Mba yang ia tahu bernama Keineira.
Rival Mbanya, dalam memenangkan hati sang kakak, menurutnya.
"Mas! Kita foto dengan Mba, berempat juga sama Mas Ezra. Yuk!" ajak Selyn tanpa melihat dan mengajak Keineira yang terdiam, berhenti dari acara berjalannya, saat mendengar ajakan yang di tunjukkan untuk teman sekelasnya.
"Oke," sahut Gavriel kemudian pasrah saat di seret begitu saja, oleh adiknya yang tertawa kesenangan.
"Mas Ezra, ayo!"
"Iya!"
Sepeninggalnya Gavriel dari sisi Keineira, Keineira hanya melihat dalam diam saat keempat remaja di sana berfoto dan ia juga melihat ke arah kakak kelasnya, yang sedang berfoto berempat juga. Mereka seakan tidak terganggu dengan kegiatan masing-masing, padahal saat ini mereka sedang bersama-sama.
Puk!
Tepukan dari Susan membuat Keineira tersentak kaget, lalu menatap Susan dengan pandangan bertanya.
"Kamu suka dengan yang lelaki tadi?"
"Apa?"
"Tapi sayang. Sepertinya, orang yang memanggil teman kamu dengan panggilan Mas tadi, tidak suka dengan kehadiranmu, Mba Keineira."
"Maksudnya?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan sampai babai.