
Season Dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Aula tempat acara MOS
Sebelum hukuman
Di mimbar kecil ada ketua OSIS, sedang menyampaikan sambutannya setelah pembina OSIS, membuka acara masa orientasi sekolah tahun ini.
Seorang siswa yang tadi menegur tiga sahabat di depan gerbang, menyampaikan sambutan dan menutup dengan perkenalan diri, dilanjut dengan perkenalan anggota osis yang lainnya.
"Jadi perkenalkan, saya adalah ketua Osis tahun ajaran ini. Nama saya adalah Rajendra Glen Saputra, kalian bisa panggil saya Ge. Saya kelas 2 Ips 1, apa sampai sini paham?" ujar ketua OSIS dengan panggilan Ge tersebut.
Ia menatap seluruh sudut, dari barisan depan hingga belakang dan seketika kesal, saat melihat seorang adik kelas berdiri dengan tangan menunjuk siswi di sampingnya.
"Ah! Ezra, siilin, gelud yu-
Rajendra pov on
Hai ...
Perkenalkan, gue Rajendra Glen Saputra.
Gue adalah ketua osis tahun ini.
Saat ini gue sedang menatap satu per satu adik kelas, setelah selesai menyampaikan pidato dan sebelum gue memberikan kesempatan, untuk anggota osis yang lainnya memperkenalkan diri mereka.
Saat gue sedang menatap ke arah depan, di ujung sana, gue melihat ada adik kelas yang entah kenapa, seperti pernah lihat sebelumnya.
"Hum, tunggu itu seperti yang tadi pagi?" Batinku bertanya bingung.
Gue memperhatikan dia lagi, yah ... Benar, itu cewek dan dua laki-laki, yang entah mengapa bisa punya tatapan mata seperti itu, di umurnya yang bahkan tua'an gue setahun.
Gue hampir saja terkekeh dalam hati, saat dia di pukul kepalanya entah karena apa, mungkin berdekatan dengan teman laki-laki di sampingnya.
Gue berniat membiarkannya, karena bagi gue hal seperti itu hanyalah masalah sepele, yang penting mereka mendengar apa yang tadi gue sampaikan.
Dan baru saja gue ingin menolehkan wajah gue ke arah lain, gue melihatnya berdiri dengan tangan menunjuk teman di sebelahnya.
Membuat gue kesal dan menegurnya karena dia sudah kelewat batas.
"Hey kalian bertiga, maju ke depan sekarang juga!" seru Gue menahan kesal.
Dia pun menoleh ke arah gue berdiri, lalu ke arah dua temannya bergantian.
"Eh! Saya kak?" Ujarnya dengan ekspresi, yang menurut gue sungguh lucu.
"What? Lucu?"
Sepertinya gue sudah gila.
"Iya! Siapa lagi! Sini kalian!" bentak gue, membuat suasana riuh seketika.
Aish ... Benarkan, pasti bikin rusuh.
Akhirnya tiga adik kelas yang tadi berbuat onar pun berdiri, di sini di samping gue. Dengan seorang laki-laki bername tag Ezra, sedangkan si perempuan bername tag Queeneira, lalu satunya lagi Gavriel.
Dari sini gue bisa melihat si siswi ubrek, sebutan gue untuk dia, sedang menyenggol taman di sebelah kiri dan kanannya, membuat gue tersenyum geli akan tingkah lucunya.
"Psst! Pegel nih berdiri terus," bisiknya.
Ya ampun berbisik tapi kedengaran sampai sini.
"Ck ... Salah siapa, diam saja lah," balas temannya.
"Ih! Ga-
Karena tidak tahan dengan bisikan mereka, gue pun dengan nada kesal menginterupsi obrolan mereka, menuai ekspresi yang lagi-lagi lucu di penglihatan gue.
"Kalian mau di tambah hukumannya?"
"Tidak"
"Dasar, lucu juga," batin Gue menahan geli, apalagi saat si siswi ubrek, menjawab gue dengan nada takut.
Rajendra pon end
Normal pov on
Perkenalan pun berlangsung dengan lancar, di lanjut dengan acara ploncoan lainnya, hingga tidak terasa waktu masa orientasi pun selesai.
"Ingat tugas kalian, yang lupa bawa, tunggu saja hadiahnya!" seru salah satu Panitia sebelum mempersilakan semua murid baru pulang.
"Baik, kak!"
Skip
Pulang sekolah
Saat ini Gavriel dan dua sahabatnya sedang ada di parkiran, bersiap-siap untuk pulang ke rumah Gavriel, ingin berkumpul dengan El, setelah seharian menjalani aktivitas orientasi sekolah mereka.
"Gav, Que bareng Gav, yah!" seru Queene, saat dua sahabatnya sedang memanaskan motor.
__ADS_1
Di sekitar mereka ada banyak murid baru dan juga panitia osis, sedang melihat ke arah ketiganya dengan pandangan kagum.
Sepertinya berkat hukuman berdiri yang mereka terima tadi, mereka menjadi terkenal di kalangan murid baru dan juga OSIS.
Pandangan terpesona sudah pasti di layangkan untuk Gavriel, saat ia tidak sengaja menyibak rambutnya, berniat memakai helmnya.
Kya!!!
"Ya Tuhan, tampan banget."
"Iya, tampan banget."
"Lihat keren sekali, itu yang tadi di hukum."
"Iya, namanya Gavriel."
"Iya, yang satunya Ezra."
"kya! Beruntung kita sekolah di sini."
"Mereka anak orang kaya di kota sini kan?"
"Iya, Anak konglomerat Wijaya, kya! Gue nggak nyangka ketemu di sini."
Queene seketika menoleh ke arah belakang, saat bisik-bisik terdengar ramai, ketika sahabatnya si Gavriel, tidak sengaja melakukan gerakan tebar pesona.
Dengan mata memicing layaknya katana, Queene melihat sahabatnya dan kerumunan di belakang secara bergantian, menuai kernyitan dahi, dari Gavriel karena kelakuannya yang aneh.
"Kamu kenapa?" tanya Gavriel bingung.
Ia takut kepala sahabatnya lepas, kerena melihat arahnya dan belakang, dengan gerakan cepat seperti itu.
"Awas, nanti kepala kamu lepas!" Lanjutnya ngeri sendiri.
Ia pun dengan segera menangkap kepala sahabat perempuannya, menolehkan tepat kearahnya dan menatap sahabatnya dengan kening berkerut.
"Hentikan, nanti leher kamu sakit," ujar Gavriel lembut dan khawatir di saat bersamaan.
"Gav, Ez!" panggil Queene, tanpa membalas ucapan Gavriel.
"Apa?"
Ezra membalas dengan alis terangkat penasaran, sedangkan Gavriel hanya bergumam pelan.
"Heum?"
"Jangan tebar pesona!" seru Queene serius.
"Hah! Maksudnya apa sih?" tanya Gavriel bingung.
Gavriel dan Ezra yang mendengar ucapan Queene ikut melihat sekitar, menatap satu per satu murid yang masih sama-sama baru, dengan pandangan datar tanpa minat.
"Lalu, masalahnya dengan kami, apa?" tanya Gavriel melihat lagi ke arah Queene.
"Itu kan mata mereka, Queene, jadi kita tidak bisa melarang," sahut Ezra ikut melihat ke arah sahabat perempuannya, yang saat ini sedang menahan kesal dengan pipi menggembung.
"Tapi mereka jelas banget, bisik-bisik ngomongin kalian," ujar Queene masih keras kepala.
"Ya wajar, mereka punya mulut," balas Gavriel bosan, bersiap menaiki motornya.
"Tapi bisik-bisik mereka itu fitnes, Gav!" seru Queene menatap Gav serius.
"Fitnah, Que-que. Aku ikat di pohon juga nih!" seru Ezra mengoreksi ucapan Queene, setelah menarik rambut dengan kuncir sepuluh milik Quene.
Rambut yang tadi pagi jadi korban olokan sahabatnya, di kepang, lengkap dengan tali warna-warni dari rapia.
"Iya dah terserah, omongan mereka itu fitnah loh, Gav, Ez!" seru Queene melanjutkan maksudnya.
Ezra yang ingin menaiki motornya menunda sebentar, untuk menghadap ke arah Queene, yang melihat ke arahnya dan sepupunya bergantian.
"Fitnah, bagaimana?" tanya Ezra penasaran.
Kalau tadi Ia tidak salah dengar, mereka hanya di julid dengan pujian seratus persen benar adanya.
"Fitnah dong, mereka bilang kalian tampan! Tampan dari mananya?" ujar Queene serius, tidak tahu saja jika saat ia menyelesaikan kalimat yang menurutnya fakta, kedua sahabatnya sedang menahan persimpangan kesal di dahi masing-masing.
"Benarkan?" Lanjutnya, kemudian tergelak kencang saat Ezra dan Gavriel melepas lagi helm yang di pakai mereka, hanya untuk balas dendam dengannya.
"Kabor!!" pekik Queene sebelum berlari.
"Kemari kau, pereman pasar!"
Sementara Ezra lari mengejar Queene, Gavriel menunggu di atas motornya dengan kepala menggeleng pelan.
Sahabat perempuannya paling suka memancing, maksudnya memancing amarah dari ia dan sepupunya.
Ia absen mengejar Queene, saat berpuluh-puluh pasang mata masih melihat ke arah mereka.
Image yang sudah di bangunnya, sangat susah untuk di lunturkan.
Ia akan bebas berekspresi jika itu di rumah atau tempat terjamin, bebas dari penglihatan orang-orang yang melihat mereka penasaran, itu pun dengan orang-orang tertentu pula.
Dan ia akan bebas berekspresi jika sedang bersama sahabatnya, itu juga jika ia sedang ada di zona nyamannya.
Meskipun ia tertawa saat bersama dua sahabatnya, nyatanya ia masih perlu berfikir seribu kali untuk melakukan hal yang sama, hal sedang di lakukan kedua sahabatnya di sana.
__ADS_1
Berkejaran di area parkir dan di lihat oleh khalayak ramai, tidak, terima kasih. Lebih baik ia menunggu eksekusi selanjutnya, duduk di sini, dari pada melakukan hal kekanakan seperti itu.
Gavriel tidak menyadari sedang di lihat dari arah belakang, saat ia duduk dan menggeleng kepala, melihat ke arah depan dengan bibir sesekali terkekeh.
Seseorang itu memperhatikan dalam diam, bagaimana Gavriel terkekeh dan melihat ke arah depan dengan binar bahagia.
Puk!
"Akh! Is ... Kamu, membuat aku kaget saja," ujar seseorang yang sedang melihat ke arah Gavriel.
"Kenapa tidak di samperin, sih?" tanya temannya dengan nada penasaran.
"Iya, padahal kan, tinggal sapa saja," sahut teman satunya.
"Aku, em ...."
"Ayolah Kei, hanya menegur, apa salahnya sih?" ujar temannya gemas, memanggil dirinya dengan nama Kei.
"Iya Kei, kalau dia ingat syukur, tidak ingat ya di ingatkan lagi. Iya nggak, Rai?" tanya teman Kei, kepada teman lainnya dengan nama Rai.
"Yups! Betul sekali, Intan memang pintar," balas Rai, memuji temannya yang bernama Intan.
"Ih! Kalian berdua, nyebelin banget sih!" balas Kei, dengan wajah merona malu.
"Yee! Nyebelin, tapi wajahnya malu-malu gitu," goda Intan membuat Kei tambah salah tingkah, sedangkan teman satunya tergelak, saat melihat tingkah malu temannya.
"Ih! Udahan ah, pulang yuk!" elak Kei dengan nada gugupnya.
Intan mengangguk ke arah Raiya, yang tersenyum dan ikut mengangguk juga, anggukan kode yang membuat Kei memiliki firasat tidak enak.
"Jangan lakukan itu, kalau tidak, aku marah nih!" seru Kei dengan mata memicing, terlihat lucu di penglihatan kedua temannya.
Kedua temannya tergelak mendengar ancaman Kei yang terdengar lucu, Kei yang marah akan terlihat semakin imut.
"Ih! Jangan pada tertawa, lebih baik kita pulang. Temani aku hingga ojek yang aku pesan datang," ujar Kei sebal, sambil mendorong punggung kedua temannya, yang saat ini masih saja menertawainya.
"Berhenti, ih, marah nih!" seru Kei kesal.
"Iya-iya, ha-ha!!"
"Kei, kalau marah imut!"
"Jangan menggodaku!"
Kembali pada Gavriel yang sedang menunggu sepupunya, yang saat ini masih berkejaran, untuk menangkap pereman pasar kesayangan mereka.
Di saat ia sedang terkekeh melihat Queene di piting lehernya oleh Ezra, telinganya tidak sengaja mendengar nama seseorang, yang entah kenapa tidak asing di pendengarannya.
Ia pun menoleh ke belakang, ke arah asal suara.
"Kei, kalau marah imut!"
"Jangan menggodaku!"
Di sana ia melihat tiga siswi dengan pakaian sama dengannya, berjalan dengan satu siswi mendorong punggung dua teman lainnya.
Keningnya mengernyit saat mengingat nama, yang sepertinya pernah ia ucapkan di dalam hati.
"Kei?" gumam Gavriel berusaha mengingat.
"Kei, jangan bil-
"kenapa Gav?"
Gavriel tersentak kaget saat gumamannya, ternyata di dengar oleh Ezra yang saat ini sedang berdiri, dengan Queene di pitingannya.
"Eh! Oh ... Nggak apa-apa," balas Gavriel dengan nada kaget.
"Sudah ketangkap, pereman pasarnya?" lanjut Gavriel mengalihkan pembicaraan.
"Sudah nih, enaknya di sate atau di presto?" balas Ezra tidak mempermasalhkan alasan sepupunya melamun.
"Di sate aja, biar saat kita kasih makan orang-orang, enak. Nggak di curigai," ujar Gavriel yang di sambut kekehan seram oleh sepupunya.
"Khi-khi-khi!!"
"Khe-khe-khe!!"
"Ah!! Hentikan kekehan kalian, lepaskan aku Ez. Khek ... Lepas, kalian mau aku menghadap yang Ilahi?" sembur Queene saat kedua sahabatnya asik tertawa layaknya psikopat.
"Khu-khu-khu!"
"Yah! Hentikan!"
"Siap-siap, Queene,"
"Tidak!!!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
__ADS_1