Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Rencana Liburan


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Masih di kediamanan Wijaya, atau juga Kediamanan milik Dirga dan Kiara.


Di sebuah kamar, tepatnya di kamar dengan cat biru langit, ada dua pemuda yang sedang melakukan kegiatan masing-masing.


Si pemilik kamar, Gavriel, sedang mencari laptopnya yang tiba-tiba menghilang.


Ia ingin mengerjakan laporannya, yang kemarin diserahkan kepadanya, untuk dipelajari lebih lanjut.


Gerakan bingung yang Gavriel lakukan, membuat Ezra, melihat sang sepupu dengan kening mengernyit bingung, ada apa pikirnya.


"Kenapa, Gav?" tanya Ezra dengan penasaran, membuat Gavriel yang sedang melihat kesegala arah mengalihkan pandangannya, melihat sepupunya yang juga melihatnya dengan raut wajah penasaran.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang mencari laptopku. Aku yang lupa atau ada yang mengambil ya," ujar Gavriel bingung sendiri, sebab ia yakin jika ia menyimpan laptopnya di meja kerja seperti biasa.


"Laptop? Coba tanya lucifer kecil, biasanya dia kan, yang pinjam."


Gavriel pun menepuk keningnya, saat ingat dan membenarkan ucapan sepupunya, yang memang benar adanya seperti itu.


Selain adiknya, tidak ada yang berani meminjam laptop atau pun barang pribadinya.


Bahkan sang Mommy juga tidak pernah menyentuh laptop miliknya.


"Kalau begitu, aku kesebelah dulu. Aku ambil laptopku dulu, sebelum El macam-macam," putus Gavriel tanpa tahu jika ia sudah terlambat, karena adiknya lebih dulu memperlihatkan isi dari laptopnya.


"Hmm ... Kalau bisa, ajak mereka juga ke sini. Jujur saja, aku malas berdua'an dengan kamu," sahut Ezra asal nyeplos, dan berikutnya sebuah sandal mengenai ubun-ubunnya telak, dengan tersangka Gavriel yang hanya menampilkan senyum puas, saat three poin shoot andalannya berhasil menyakiti kepala sepupu kupretnya.


"Akh! Gavriel, sialan. Sakit oy!"


Gavriel hanya mengangkat bahu tidak peduli, saat sepupunya menyumpah serapahinya. Ia dengan santai meninggalkan sepupunya yang masih asik ngedumel, sedangkan ia sendiri berlalu menuju kamar sebelah, tepatnya kamar milik sang adik.


Tangannya bersiap untuk mengetuk pintu kamar sang adik, namun berhenti di udara saat ia mendengar suara samar menyebut namanya, dengan suara yang sangat di kenal olehnya.


"Apa ini, apa yang sebenarnya sedang mereka bahas, kenapa harus ada nama aku serta di dalamnya," batin Gavriel bingung, saat ia hanya sekilas mendengar namanya, namun tidak mendengar kelanjutan saat suara itu semakin mengecil.


"Apa aku harus masuk, lalu berpura-pura tidak mendengar," gumam Gavriel bingung, saat ia tahu ada namanya di dalam obrolan dua perempuan kesayangannya di dalam sana.


Ia bingung harus berekspresi seperti apa, tahu begini ia tidak memiliki pendengaran tajam, sehingga obrolan di dalam tidak perlu ia dengar meski sekilas.


"Aish ... Ketuk aja deh," putus Gavriel pasrah, ia hanya perlu memasang wajah pura-pura tidak tahu, dengan topeng datar andalannya.


Tapi memang benar, jika ia hanya mendengar namanya tanpa kejelasan sesudahnya, itu lah yang membuatnya bingung harus seperti apa.


Jika ia tahu dengan gamblang, setidaknya ia tidak perlu lagi berpikir harus memasang ekspresi seperti apa.


"Huft ... Stay calm," bisiknya menenangkan diri.


Akhirnya ia pun mengetuk pintu kamar sang adik pelan, dengan adiknya yang segera menyahuti.


"Siapa?"


"Ini Mas, El. Buka pintu dong," balas Gavriel dengan nada datar, sedikit menaikkan intonasinya agar sang adik mendengar suaranya.


Ceklek!


Pintu pun terbuka, dengan Selyn yang memasang wajah penasaran, saat Mamasnya memandang ia dengan raut wajah datar menyembunyikan sesuatu.


"Huem ... Ada apa dengan Mas," batin Selyn penasaran, kemudian tersentak kaget saat Mamasnya menepuk kepalanya pelan.


"Laptop Mas, sini?" pinta Gavriel, setelah menepuk kepada adiknya sayang, saat ia merasa jika adiknya sedang melamun.


Selyn terkekeh saat Mamasnya meminta alat elektronik, yang saat ini masih dikuasai olehnya.


"Malah ngekek, kemarikan. Mas mau pakai," lanjut Gavriel gemas, saat adiknya terkekeh alih-alih memberikan apa yang dimintanya.


"Masih belum selesai Mas, El lagi liat kutube bareng Mba Que," kilah Selyn lihai, saat sang kakak meminta dengan gemas laptop milik sang kakak.


"Kutube atau kutube? Jangan bohong," timpal Gavriel menatap adiknya curiga, menuai kekehan dari sang adik , yang segera bergelayut manja di lengannya, untuk kemudian membawanya masuk dan mendudukkan dirinya di samping sahabat perempuannya.


"Tanya Mba Que deh, iya kan Mba, kita tadi lihat film seru," ujar Selyn dengan segala elakan tersusun rapih, plus modus dengan cara halusnya.


Coba tebak apa?


Membuat kedua kakaknya duduk berdampingan, dengan Mba kesayanganya yang melotot lucu ke arahnya. Sedangkan kakaknya, dengan santai ikut melihat apa yang sedang mereka lihat tadi.


"Film anak-anak?" tanya Gavriel dengan menatap sahabat perempuannya, Queene hanya bisa mengangguk saat ia bertatapan dengan sahabat laki-lakinya.


"Kalian ini," lanjut Gavriel gemas, kali ini menoleh ke arah adiknya yang memberikannya cengiran khas.


"Dari pada nonton film aneh-aneh, hayoo!" seru Selyn berkilah, saat Mamasnya meledek tontonan mereka.


"Kamu kan bisa pakai laptop sendiri, El. Kenapa mesti pakai punya Mas, sih."


Gavriel menggerutu dengan perasaan lega, saat adiknya tidak memperlihatkan sesuatu yang ada di dalam laptopnya.


Akan sangat bahaya, jika adiknya melihat folder dengan nama 616 yang sudah ia pasang sandi khusus.


Kata sandi sama, dengan yang ia pakai di handphone miliknya.

__ADS_1


Enam angka yang menunjukkan nama seseorang, dengan metode sandi caesar.


Bahkan 616 pun adalah singkatan nama seseorang itu.


Gavriel menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran tentang sandi dan nama dengan sandi, yang ia simpan rapat sampai sekarang.


"Kalau pakai laptop sendiri sayang Mas," sahut Selyn dengan bibir mengerucut imut.


Ia duduk di kursi meja belajarnya, meja dengan banyak pernak-pernik girly, yang menutupi permukaan meja sangking menumpuknya.


"Sayang bagaimana?" tanya Gavriel dengan kening berkerut bingung, gagal paham dengan maksud tujuan arah pembicaraan ngalor-ngidul sang adik.


"Sayang lah Mas, nanti kuota dan batrai laptop El habis. El kan mau pakai buat kerjain tugas," jawab Selyn dengan watadosnya, menuai senyum kaku dari Gavriel.


Gavriel beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang adik, yang di sadari Selyn dengan seribu langkah cepat alias cepat kabur, sebelum dirinya jadi korban kegemasan sang kakak yang murka.


"Selyn Wicaksono, kemari kamu!"


"Ampun Mas! El nanti lagi-lagi!"


"Kemari!"


"Tangkap El, kalau bisa," tantang Selyn, saat ia berkelit, kabur dari kejaran kakaknya yang mencoba menangkapnya.


Queeneira yang tadinya rebahan tengkurap, duduk dan menyaksikan dalam diam, saat pasangan kakak-adik kesayanganya sedang bercanda, dengan kekehan dari si adik sedangkan si kakak berseru kesal.


"Astaga ... Bagaimana aku bisa punya pikiran pasrah, saat keduanya adalah orang yang paling aku inginkan di dunia ini," gumam Queeneira pelan, terkekeh kecil saat melihat Gavriel akhirnya bisa menangkap Selyn, yang memberontak di pitingan lengan sahabatnya.


"Mas! Ampun!"


"Tidak akan!"


Gavriel tetap menganiaya adik kesayangannya, dengan dekapan penuh kasih sayang, alias dekapan malaikat maut siap mengantar nyawa. Sedangkan Selyn berusaha memberontak, dengan brutal merengek agar Mamasnya melepaskan pitingan di leher cantiknya.


"Mas! El bisa melihat shinigami!" seru Selyn berlebihan masih berusaha memberontak.


"Bagus! Ada di mana dia?" tanya Gavriel tetap dengan kegiatannya, tidak perduli saat adiknya membohonginya dengan sosok shinigami.


"Ini! Yang lagi siksa El lahir-batin."


"Apa!" seru Gavriel semakin murka, ia dengan segera membawa wajah adiknya, masuk ke dalam ketiaknya, seperti biasa yang sering ia lakukan kepada sahabatnya.


"Yah! Mas! Jorok, iyuh!" seru Selyn blingsatan, saat jurus lagendaris sang kakak akhirnya keluar juga.


"Mata kamu mulai rabun, El sayang. Mas hanya memberikan stimulasi agar penglihatan El kembali kesedia kala," sahut Gavriel tidak peduli, tetap pada pendiriannya untuk memberikan kasih sayang kepada sang adik.


"Mas! El bilangin Dadd nih, Mas ikutan bisnis di luar perusahaan dan saham."


"Oh! Daddy sudah tahu kok," balas Gavriel semakin tersenyum setan, saat ancaman adiknya malah membuatnya terkekeh lucu.


"Ah! Momm-


Ceklek!


Ketiga orang yang ada di dalam kamar Selyn, kompak menoleh ke arah pintu, melihat Ezra yang berdiri berdekap dada, lengkap dengan ekspresi wajah kesalnya.


"Gavriel kamvret, aku tungguin kamu di sebelah, kamu malah enak-enakan bercanda tanpa mengingat aku, yang menunggu kamu di sana. Kamu tahu tidak sih, menunggu it-


"Berisik!"


Rentetan kalimat yang akan di keluarkan oleh Ezra, terpaksa harus di telan kembali saat ketiga orang, menyela kalimatnya kompak lengkap dengan mata melotot tajam.


Ezra pun terkekeh tanpa dosa, saat sepupu dan sahabatnya kesal, karena ucapan lebay nan indah darinya yang diucapkan dengan nada dramtis.


"Santai ae, elah," sahut Ezra tidak peduli.


Ia melenggang memasuki kamar adik sepupunya, lalu duduk santai menjadi rebahan, saat nyaman menghampirinya ketika wajahnya menyentuh bantal dengan aroma khas seorang Selyn.


Citrus ... Aroma kesukaan Daddy, Gavriel dan semua yang menyayangi seorang bontot dari pasangan Dirga-Kiara.


Ketiganya melihat Ezra dengan berbagai ekspresi, tapi tidak lama saat salah satunya melanjutkan sesi berkasih sayang dengan sang adik. Membuat pekikan lanjutan dari seorang Selyn, yang masih harus menikmati indahnya kebersamaan bersama sang kakak.


"Mas! Ampun!"


"Bilang apa?"


"Mas Ezra, bantuin El!"


"Mas sudah tidur El."


"Mas! Kenapa tega, Mba Que tolong El!"


"Ez ... Lihat, film Upil-Ipil sudah mulai," ujar Queeneira berpura-pura tidak mendengar, justru ia dengan santai menolehkan wajahnya, ke arah Ezra yang tidur tengkurap di sampingnya.


"Benarkah!"


"Yah! Kalian ini senang sekali, liat El di siksa! Huweeee .... Mas, Ampun!"


Dengan begitu, kamar berisi empat remaja ini ramai dengan pekikan kesal seorang Selyn, saat kakaknya semakin menyiksa wajah cantiknya. Lalu juga ada dua orang lainnya, yaitu Queene dan Ezra, yang asik menonton adegan kasih sayang di hadapan mereka saat ini.


Mari kita tinggalkan keseruan empat remaja, dengan kegiatan seru mereka.


Kita bergeser ke tempat lain, tepatnya ke sebuah ruang santai, dengan enam orang dewasa yang saat ini sedang membahas beberapa masalah.

__ADS_1


Berawal dari rencana liburan mereka yang sudah diendus oleh anak-anak mereka, berlanjut dengan obrolan lainnya seputar kegiatan mereka nanti. Kemudian saat Faro ingat akan rencananya, tentang kemana anak-anak mereka nanti berlibur.


"Eh! Gue dan Elisa sudah membicarakan ini sih, tentang liburan anak-anak nanti. Kalian mau dengar tidak?" ujar Faro, membuat dua sahabatnya serta masing-masing pasangannya menoleh ke arahnya.


"Apa?" tanya kedua sahabatnya kompak, lengkap dengan kening berkerut penasaran.


Faro melihat ke arah istrinya, yang mengangguk mendukungnya.


"Jadi gini, kita kan semua tidak bisa mengawasi anak-anak. Bagaimana kalau liburan mereka ke desa Nuan saja, biar para pekerja di sana bisa jaga mereka. Bagaimana?" tanya Faro meminta izin semuanya.


Mereka berpikir sejenak, kemudian saling melihat.


Bagi Dirga, ia tidak masalah jika anaknya liburan di mana saja. Yang penting kedua anaknya senang, mau di desa atau pun di luar negeri sekali pun ia setuju.


"Gue sih setuju aja, yang penting anak-anak senang. Tapi gue takutnya mereka bosan, apalagi Gav dan El, yang dari kecil main di sana," ujar Raka ikut saja, tidak menolak ataupun menerima. Ia lebih mementingkan keinginan anaknya, dengan cara menyetujui kemana saja mereka pergi, asal mereka bisa menjaga diri dan saling melindungi.


Faro mengangguk menerima keputusan bijak Raka, lalu ia menoleh ke arah sahabatnya yang punya tempat, dengan pertanyaan yang sama dan jawaban sama pula.


"Ikut aja, tapi semua terserah anak-anak," timpal Dirga, yang di angguki kepala setuju dari istrinya.


"Ya ... Aku juga setuju, jika anak-anak setuju."


Mereka pun larut lagi dalam pembahasan lainnya, dengan tema bermacam-macam, serta obrolan yang tentu saja semakin membuat ramai suasana seperti biasa.


Skip


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, sudah saatnya dua keluarga cemara kembali ke habitatnya.


Keluarga Dirga mengantar hingga depan rumah, dengan Selyn yang merangkul erat lengan Mba Que kesayangannya.


Sedangkan Gavriel dengan Ezra, yang masih terlibat dalam obrolan rahasia, sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, apalagi kedua orang tua mereka.


"Yakin kamu Gav, masih mau lanjut?" tanya Ezra berbisik, saat yang lainnya berpamitan di depan sana.


"Iya ... Sudah terlanjur, Ez," balas Gavriel bergumam pelan, menuai anggukan kepala mengerti dari Ezra, yang hanya bisa menepuk bahunya sebagai bentuk dukungan.


"Oke deh, aku tetap dukung kamu kok. Apa pun yang terjadi," timpal Ezra dengan senyum kecil.


Ia mengulurkan kepalan tangannya, yang di sambut segera oleh sepupunya.


Tos!


"Sangkyu (Terima kasih)," balas Gavriel dengan senyum tipis pula.


"Aku pulang, besok coba kamu kasih kejutan untuk dia," ujar Ezra, dengan usulan yang di angguki kepala oleh Gavriel.


"Oke! Kamu nanti langsung saja," balas Gavriel menyetujui.


"Sip!"


Dan dua keluarga ini pun meninggalkan Kediamanan Wijaya, menuju arah rumah masing-masing.


Gavriel berjalan duluan, menuju kamarnya setelah berpamitan untuk mandi, yang di balas dengan seruan memperingatkan tentang makan malam dari sang Mommy.


Ceklek!


Gavriel membuka pintu kamarnya, lalu berjalan menuju nakas tempatnya meletakkan handphone, kemudian mengambilnya dan memasuki sandi angka enam digit, sehingga kini foto sang adik terpampang jelas.



162044


Senyum kecil terbit saat ia ingat apa makna dari angka sandi itu, apalagi di tambah dengan wallpaper menu layar handphonenya.


Menu utama memang foto sang adik, berganti dengan foto lainnya, foto yang menjadi kenangannya, ketika mereka masih kecil, foto yang sama dengan figura yang ada di kamarnya dan kamar seseorang itu.



"Shining," gumamnya saat melihat foto tersebut.


"Jangan tinggalkan aku, sampai aku tahu, apa arti dari kamu untuk kehidupan aku."


Ia pun berjalan menuju kamar mandi, tanpa mengetahui jika ada notip pesan singkat dari seseorang.


Sedang apa?


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Secuil note :


Shinigami \= Malaikat maut, ada dalam bahasa Jepang.


Siapa yang kirim pesan kepada Gavriel?


Akan kemana mereka berlibur?


Sebenarnya, siapa penghuni hati, dari seorang Gavriel?


Kenapa harus memastikan dulu?


Mau tahu ....

__ADS_1


Ikuti saja kisah selanjutnya ....


Sampai babai.


__ADS_2