Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Album Tua, Pembawa Kecanggungan.


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Long ping, Yuen Long, New teritori.


Pukul. 21.00


Di kamar milik Queene dan Selyn, terdengar kekehan saat keduanya sedang bersenda gurau.


Kamar berisikan dua remaja perempuan ini ramai, saat keduanya sedang duduk di atas ranjang, saling berhadapan dengan ekspresi berbinar.


Sebenarnya, obrolan yang sedang jadi topik pembicaraan, hanyalah seputar kegiatan mereka yang sudah-sudah, atau juga bisa disebut nostalgia.


Ini di mulai saat Selyn tidak sengaja menemukan album tua, yang terselip di lemari buku milik nenek dari Queeneira, di antara buku yang lainnya. Kemudian berlanjut saat Selyn membawanya ke kamar, untuk di pamerkannya kepada cucu si pemilik album.


Mereka berdua asik cekikikan, membuat dua orang yang kebetulan melewati kamar mereka, berhenti dengan kernyitan heran di wajah keduanya.


Mereka tentu saja penasaran, kedua orang tersebut pun saling lihat, untuk saling pandang dan kemudian melihat lagi arah daun pintu.


"Mereka kenapa?" tanya salah satu di antara keduanya.


"Mana aku tahu, Ez. Kan aku disini, sama kamu," sahut seseorang yang tadi di tanya, dengan bahu terangkat tanda tidak tahu.


Ezra, orang yang bertanya mendengkus saat mendapatkan jawaban, yang selalu menggunakan nada datar, dari orang di hadapannya jika sedang di tanya.


"Ck, kebiasaan," sungut Ezra, kemudian dengan tidak perduli, mengetuk pintu kamar milik sahabatnya, yang di sahuti dengan segera. Membuat sepupunya yang melihat pun, hanya bisa geleng kepala tidak heran.


"Astaga, kamu ini selalu penasaran dengan urusan mereka, dasar."


Ezra hanya melengos, tidak perduli dengan gumaman meledek sepupunya, karena percuma dibantah jika itu adalah kenyataannya.


"Dari pada diam saja makan hati, mending jujur apa adanya," sewot Ezra tanpa maksud menyindir.


"Terserah kamu," sahut Gavriel tidak peduli.


Disaar bersamaan, di dalam ruangan.


Queeneira dan Selyn, yang mendengar ketukan dari luar pun melihat ke arah pintu, kemudian menyahuti ketukan tersebut.


"Siapa?" tanya Queene dengan suara sedikit keras.


"Ini kami!"


Mendengar seruan dengan menyebut kata kami yang ia tahu dengan jelas siapa, kedua remaja perempuan ini pun tentu saja mengerti. Kemudian Selyn pun berdiri dari duduknya, menghampiri pintu dan membukanya, melihat sepupunya dan kakaknya yang berdiri di hadapannya.


Ceklek!


"Ya Mas, ada apa?" tanya Selyn kepada dua kakaknya, yang saat ini menatapnya penasaran, sebenarnya hanya Ezra sedangkan Gavriel melirik ke arah lain.


Gavriel masih malu dengan kejadian di meja makan, apalagi ini menyangkut masalah kode yang berawal darinya juga.


Ibarat senjata makan tuan, dengan ia yang menjadi korban. Niat hati ingin menggoda kakek dari sahabatnya, malah ia yang balas di godain.


"Kalian sedang apa? Sepertinya seru sekali," tanya Ezra jujur apa adanya, kalau tidak mau di bilang penyakit kepo.


"Tidak sedang apa-apa, kami hanya sedang melihat foto mas-


"Yah! El! Jangan di kasih tahu dong,"


Kalimat yang akan di ucapkan oleh Selyn, terpaksa harus berhenti saat seseorang, yang adalah Queeneira, menyela kalimatnya cepat.


Jika sampai Selyn memberitahukan tentang penemuan fotonya semasa kecil, ia yakin jika dua sahabatnya akan mengejeknya habis-habisan.


"Loh! Kenapa tidak boleh kasih tahu, Mba?" tanya Selyn bingung, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Queeneira yang berdiri dari duduknya, untuk menyimpan album foto tua ke dalam laci meja di kamarnya.


"Kok di simpan, Mba?" lanjut Selyn bertanya, saat pertanyaan pertamanya tidak di jawab.


"Jangan, cukup kita saja yang tahu," sahut Queeneira, menghadap ketiga orang lainnya dengan senyum kaku.


"Emang apa'an sih?" tanya Ezra, dengan penasaran tingkat tingginya.


Selyn menghadap ke arah dua kakaknya, kemudian menghadap Mbanya lagi, lalu berjalan masuk meninggalkan dua kakak lelakinya, yang memasang wajah bingung saat mendengar kalimat larangan, dari sahabat perempuan mereka.


Selyn baru ini merasa tidak seperti biasanya, kenapa Mbanya malu seperti itu di hadapan dua kakaknya. Biasanya Mbanya akan santai, sekalipun itu berisi foto dengan ujung Mbanya yang di ledek.


"Atau tidak ingin di lihat Mamas yah," batin Selyn mencoba menebak.


"Mungkin saja," lanjutnya masih dalam batin.


"Tidak ada apa-apa, Ez. Eh! Kalian belum istirahat?" elak Queeneira, kemudian bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Belum ngantuk, jadi apa?" balas Ezra, kemudian mengulangi pertanyaan saat dirinya belum puas, akan jawaban atau juga elakan dari sahabat perempuannya.

__ADS_1


"Tidak ada loh, Ez. Serius," sahut Queeneira dengan nada meyakinkan.


Gavriel yang hanya melihat dalam diam, menghela napas lelah, saat menyaksikan sendiri bagaimana keras kepala sepupunya, yang bertanya kepada sahabat perempuanya namun tidak puas, akan jawaban singkat dari pertanyaan penasaran sepupunya.


"Ada apa, Que? Kenapa pakai rahasiaan segala, kamu tahu sendiri Ezra bagaimana. Jika kamu belum memberitahu, jangan harap dia akan pua-


Bugh!


"Dengan kata lain, kamu ngeledek aku sebagai orang kepo, begitu?"


Ezra yang awalnya ingin mengangguk setuju, akan ucapan panjang lebar sepupunya pun, dengan ikhlas memberikan tampolan pada punggung sepupunya pelan.


Sepupu tidak pekanya benar-benar minta di selepet, saat mengatakan kalimat dengan santai, namun penuh unsur untuk menyindirnya.


Gavriel tidak marah, ia justru terkekeh kecil, saat mendengar gerutuan dari sepupunya, yang tadi memukul punggungnya pelan.


"Katanya lebih baik bicara yang jujur, ya sudah aku jujur loh."


Lagi-lagi Gavriel membalikkan kata-katanya dengan santai, sehingga ia kadang berpikir jika sepupunya adalah orang pintar, namun juga bisa jadi bodoh disaat bersamaan.


"Tapi aku nggak kepo," dengkus Ezra sewot, sedangkan Gavriel dengan santai terkekeh, tanpa tahu kekehannya membuat sahabatnya yang lain, melihatnya dengan mata tanpa berkedip.


"Kamu memang tampan, saat terkekeh seperti itu," batin Queeneira dengan senyum di sembunyikan.


Puas terkekeh dengan sepupunya yang menjadi korban, Gavriel pun menoleh ke arah sahabat perempuannya lagi, melihat Queeneira dengan tatapan bertanya.


"Jadi, Que. Ada apa?"


Ukh!


Sepertinya seorang Queeneira harus pasrah, untuk memberitahukan apa yang tadi mereka bahas dan lihat, jika tidak ia sendiri yakin, sahabatnya akan keukeh bertanya dengannya.


"Huft ... Oke, aku kasih tahu. Kalian masuk lah, kita lihat sama-sama lagi."


Dengan helaan napas, Queeneira pun mengambil album tua itu tadi, membiarkan dua sahabatnya masuk dan duduk di atas ranjangnya dengan Selyn, yang tersenyum dan menyender manja di bahu kakaknya. Mereka Dlduduk dengan mata memandangnya berbinar, ini khusus untuk Selyn dan Ezra, karena nyatanya Gavriel lebih memilih melihat ke arah lain.


"Sepertinya, Gav masih kepikiran," batin Queeneira menebak, kemudian menggelengkan kepala, mengenyahkan pikirannya.


Setelah memastikan ketiga orang lainnya duduk dengan nyaman, ia pun berjalan pelan menghampiri dan duduk di hadapan ketiganya.


Brug!


Queeneira meletakkan album tua itu sedikit dengan melempar, sehingga menimbulkan bunyi beradu, membuat dua dari tiga orang di hadapannya, melihatnya dengan kening bertaut heran.


Sekali lagi Queeneira menghela napas, sebelum membuka lembar demi lembar, foto dirinya saat kecil dulu.




Mereka semua, maksudnya Ezra melihat foto tersebut dengan orang yang ada di hadapannya bergantian, sehingga membuat Queene pun mendengkus kesal ke arah sahabatnya, yang selalu punya cara membuatnya kesal dan gemas disaat bersamaan.


"Apa sih Ez, minta di gampar, yah?" sentak Queene, yang risih di pandangi bergantian oleh sahabatnya.


Ezra terkekeh, dengan Selyn yang santai membolak-balik halaman album, dengan Gavriel yang turut serta, melihat foto dengan binar senang tertutup wajah datarnya.


Setiap lembaran, akan berisi foto berbeda pose yang di ambil setiap jepretannya.


Hatinya senang saat melihat ekspresi polos, dari setiap lembaran foto di hadapannya. Padahal di laptop yang ada di kamarnya, ratusan foto sahabatnya tersimpan dengan rapih. Namun ia tidak tahu, jika masih banyak foto dengan berbagai ekspresi, yang belum ia simpan sampai saat ini.


"Aku belum punya yang ini," batinnya, saat melihat sahabatnya waktu kecil, tepatnya saat masih balita.



"Lucu," batinnya dengan senyum geli, yang lagi-lagi ia sembunyikan.


Gavriel tidak memerhatikan dua sahabatnya yang sedang bertengkar, saat dirinya larut dalam kesenangan saat melihat foto-foto di album tua.


Foto pernikahan, dari kedua orang tua Queene pun tidak luput oleh dua kakak-adik ini, yang kebetulan tidak ikut serta dalam gelud Queeneira VS Ezra.



"Mas, ini yang foto seperti di rumah itu?" bisik Selyn, bertanya dengan mata menatap sang kakak, yang juga melihatnya dengan anggukan kepala mengiyakan.


"Iya, sama. Tapi dalam moment berbeda, yang di rumah sedang foto bersama Dadd dan Momm, kan?" sahut dan tanya Gavriel memastikan, yang mendapat anggukan pula dari sang adik.


"Iya, he-he. Seru juga yah kalau menikah dengan baju pengantin seperti itu," ujar Selyn dengan polos, menatap sang kakak dengan binar mata bahagia yang tidak perlu repot ditutupi.


Gavriel mengangguk, tidak menjawab berlebih akan ucapan sang adik. Ia tidak mau salah saat menjawab pertanyaan simple, namun sebenarnya menjebak dari sang adik.


Jenis pertanyaannya sama seperti saat mereka di pesawat, tapi jawabannya lebih rumit.


Padahal jawabannya hanya iya atau tidak, tapi bagi Gavriel yang memiliki pemikiran rumit, pertanyaan simple ini pun, menjadi pertanyaan yang sungguh rumit.


Untunglah Selyn tidak terlalu menanggapinya, saat sang adik lebih fokus dengan foto-foto berikutnya di album tersebut.

__ADS_1


"Ck, Ezra. Kalau mau ngeledekin, manding nggak usah lihat deh," sungut Queene saat lagi-lagi sahabatnya, menggodanya dengan sebutan bakpao kecil.


"Ih ... Apa sih Que, siapa yang ngeledek. Aku lagi lihat ini, nih. Kamu lagi makan, pipi kamu seperti ini mirip bakpao, tahu nggak," sahut Ezra tidak perduli saat sahabatnya menatapnya, dengan gembungan pipi kesal.


Ezra justru dengan santai, tertawa ngakak tanpa melihat ke arah Queene, yang melipat wajahnya kesal sedemikian rupa.


"Reseh, Ez. Au ah," dengkus Queeneira menoleh ke arah lain, asal tidak melihat wajah menyebalkan sahabatnya, yang masih saja tertawa dengan sesekali melihat fotonya.


"Jelek bang-


"Cantik kok, Queene cantik dari kecil hingga saat ini."


Sunyi.


Tiba-tiba saja ruangan yang tadinya ramai dengan kekehan Ezra, dumelan Queeneira dan juga lembar foto yang di balik oleh Selyn hilang dalam sekejap.


Sungguh, kalimat pujian ini adalah kalimat yang begitu saja keluar dari mulut Gavriel. Saat sepupunya dengan santai berkata, jika foto kecil sahabat perempuannya adalah foto jelek, meski pun ia tahu itu hanya candaan semata.


Gavriel yang masih menunduk perlahan mengangkat wajahnya, menatap satu per satu wajah ketiga orang di depannya dengan kernyitan di dahinya.


"Mereka kenapa?" tanyanya dalam hati.


"Kalian, kenapa?" tanya Gavriel dengan alis terangkat, penasaran dengan apa yang sedang terjadi sehingga ia di pandang sedemikian rupa, oleh adik, sepupu serta sahabatnya yang menatapnya dengan mata melotot kaget.


"Emang apa yang aku katakan tadi?" batinnya masih bertanya bingung.


"Mas," panggil Selyn, orang yang pertama kali sadar akan keterkejutan mereka.


Selama ini Mamasnya tidak pernah menilai seseorang dari bentuk fisik, jadi saat ia mendengar untuk pertama kalinya seorang Gavriel memuji, meskipun itu sahabat. Ia jadi kaget juga, jadi wajar dong jika mereka diam tiba-tiba.


"Hn?"


"Mas, tadi ngomong apa?" tanya Selyn, membuat kernyitan di dahi milik Gavriel semakin bertambah.


"Ngomong apa?" sahut Gavriel balik bertanya dengan bingung.


"Gav, tadi kamu bilang Queene cantik. Itu benar kamu?" tanya Ezra dengan ekspresi tidak percaya.


Oiy, sepupunya memuji sahabat perempuan mereka, dengan kata cantik untuk pertama kalinya.


"Tentu saja, Queeneira emang can-


Deg!


Seketika Gavriel terdiam, saat matanya bertemu pandang dengan sahabatnya, yang juga sedang menatapnya tanpa berkedip.


Deg! Deg! Deg!


"Apa ini? Kenapa ini?"


Gavriel menatap bingung, dengan degupan jantung kian bertambah. Saat ia dan sahabat perempuannya, terkunci dalam satu buah pandangan mata.


"Tidak," batin Gavriel, mengalihkan pandangannya dan berdehem untuk menghilangkan canggung mereka.


"Maksud aku, semua perempuan pasti cantik tidak ada perempuan yang tidak cantik," elak Gavriel dengan nada gugup di awal, namun kemudian ia dengan lancar menyampaikan alibinya.


Perkataan Gavriel membuat ketiganya menanggapi dengan berbeda, dua dari mereka melihat ke arah satu, yang melihat ke arah Gavriel dengan senyum hambar.


"Tentu saja aku cantik, Ez. Karena aku cantik, akan aku pastikan jika kekasih aku adalah laki-laki yang tampan. Jadi antara aku dan kekasihku nanti seimbang, cantik dan tampan. Iya kan?" sahut Queene menatap Gavriel yang masih melihat ke arah lain.


"Iya, Que kan cantik, tentu saja akan mendapatkan yang tampan."


"Hanya laki-laki bodoh, yang tidak melihat kecantikan dari seorang Queeneira Wardhana. Iya kan, Mas Ez."


Ezra mengangguk, saat adik sepupunya mengatakan kalimat positif, dengan Queeneira yang tersenyum ke arahnya.


Sedangkan Gavriel merasakan aneh di dada, saat mendengar perkataan sahabat perempuannya, yang saat ini sedang melanjutkan obrolan, tanpa ia ikut serta.


Ia larut dalam lamunan sendiri, memikirkan antara degup jantungnya, dengan nyeri hatinya saat melihat ekspresi dibuat-buat dari sahabatnya, yang baru saja ia akui kecantikannya.


"Kamu memang cantik Queene, bahkan tanpa kecantikanmu pun, aku sudah mengagumimu." Gavriel


"Mas, El tahu. Saat ini Mas hanya sedang malu, karena El tahu seperti apa perasaan Mas sebenarnya." Selyn


"Gavriel, aku hanya bisa menunggu. Sampai saat itu tiba, aku harap aku masih ada di samping kamu." Queene.


"Tuhan, aku hanya berharap kebaikan untuk keduanya." Ezra.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih, sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2