Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Pembersihan Hama Perusahaan


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion Wijaya Muda


Tanggal 25 januari akhirnya tiba, di kamar milik tuan rumah ada Kiara dan Gav yang sudah rapih dengan dresscodenya.


Sedangkan Sang Daddy yaitu Dirga duduk di tepi ranjang, menunggu kedua kesayanganya selesai berdandan ria.


Ia memandang dengan tatapan geli, saat keduanya sibuk tanpa melihat jika pesta sudah hampir waktunya.


Dirga berdehem untuk mencari perhatian keduanya dan berhasil, pasangan ibu dan anak itu melihatnya dengan kening berkerut.


"Kenapa Daddy?" tanya Kiara dengan logat lucu. Membuat Dirga yang di tanya mendengus geli.


"Bukan kenapa? Tapi sudah jam berapa ini, sayang!" seru Dirga membalas pertanyaan dari istrinya.


"Jam? Jam ber- ... Ah, ya ampun sudah saatnya yah, maaf ya Daddy!" seru Kiara terkekeh canggung.


Dirga hanya bisa geleng kepala, saat melihat kelakuan istrinya yang sekarang sedang menampilkan senyum atau juga bisa di bilang cengiran canggung.


"Oke ... Fine, sebaiknya Kita turun ke bawah dan cepat berangkat. Papa, Mama dan Kakek pasti sudah menunggu Kita di sana," ujar Dirga mengalah.


Ia berdiri menggunakan kruknya dan melangkah dengan pasti ke arah istrinya.


"Ready, my lovely Lady?" ujar Dirga lembut. Ia mengulurkan sebelah tangannya yang tidak memegang kruk, ke arah Kiara yang menyambutnya segera.


"Yes, my love!" seru Kiara semangat.


"Ready kid?" tanya Dirga ke arah Anaknya,yang di jawab kekehan senang dari Gav yang bertepuk tangan.


"Hi-hi,"


"Good Boy," ujar Dirga lembut.


Mereka pun keluar dari kamar bersama, menuju ruang tamu di mana sudah ada Bima, yang berdiri tegap menunggu dan siap mengantarkan mereka ke tempat acara.


"Selamat malam Bos," sapa Bima sopan.


Dirga mengangguk menjawab sapaan dari Bima, sedangkan Kiara tersenyum lebar beda dengan Gav yang memanggil Bima dengan potongan huruf, namun jelas siapa yang di tuju.


"Bim-bim, hi-hi!"


"Ah ... Selamat malam, Tuan kicik!" seru Bima tersenyum lebar.


Dirga mengernyit saat melihat senyum lebar dari tangan kiri kepercayaannya, sepertinya Gav membuat Bima yang kaku menjadi lebih lembut.


"Senyum Lu bikin merinding Bim, hentikan itu!" seru Dirga dengan raut wajah menyebalkan.


Plak


"Auch ... Kok di tampol sih yank?" tanya Dirga setelah terpekik sakit. Istrinya dengan santai menampol bahunya, lalu melotot lucu ke arahnya.


"Kamu itu ada-ada saja, orang senyum kok malah di larang, emangnya Kamu kalau di depan orang jarang senyum?" sembur Kiara judes.


Ia mendelikkan matanya saat melihat Dirga yang malah terkekeh, lalu menepuk kepalanya pelan.


"Bahaya kalau Aku senyum," ujar Dirga singkat membuat Kiara mengernyitkan dahi bingung.


"Kok bahaya?" tanya Kiara penasaran.


"Aku tanpa senyum saja banyak yang suka, apalagi tebar senyum ke segala arah. Aku yakin banget pasti ribuan wanita mengekor di belakang Aku," ujar Dirga dengan percaya diri.


Ia menaik turunkan alisnya, menggoda Kiara yang memasang wajah mau gumoh.


"Narsis Kamu yank, idih ... Pede gila!" seru Kiara sadis.


Di depan mereka terdengar suara orang menahan tawa, membuat Dirga melirik ke arah orang tersebut yang adalah Bima.


"Kenapa di tahan? Awas tersedak," ujar Dirga sewot.


Bima berdehem guna menghilangkan tawanya, Ia sungguh tidak menyangka di depan nyonyanya, Sang bos yang terkenal songong kemana-mana terima begitu saja saat di aniyaya.


"Tidak, Saya tidak tertawa. Saya hanya terkekeh saat ingat tentang kucing jantan kalah dengan kucing betina, sungguh tragis," ujar Bima datar. Namun jika di perhatikan sudut bibirnya bergetar, menahan kekehan yang sekuat tenaga Dia tahan.


"Ngeles ae Lu Bim, Gue selepet juga nih!" seru Dirga pura-pura kesal.


Mulai saat ini Ia hanya ingin bisa dekat dengan orang terpercayanya, tanpa ada batasan yang bernama kaku seperti Ia di masa lalu.


"Nyonya Tuan jahat," adu Bima dengan nada memelas.


"Yank!"

__ADS_1


"Oke fine, nggak jadi deh,"ujat Dirga pasrah.


Kiara dan Bima terkekeh saat melihat perubahan dari diri seorang Dirga, Si songong yang akan songong hanya saat di depan lawan, namun akan menjadi orang yang berbeda di depan orang terdekatnya.


"Mobil dan penjagaan sudah siap Bim?" tanya Dirga serius. Raut wajah yang tadi santai berubah seiring dengan pembahasan yang sedang berlangsung.


"Siap Bos, Leo sudah di tempat dan Saya sendiri yang akan mengawal Bos," balas Bima tegas.


"Good," ujar Dirga singkat dengan kepala mengangguk.


Ia menoleh ke arah istri dan anaknya, lalu mengubah lagi raut wajahnya menjadi lembut.


"Sudah siap sayang?" tanya Dirga lembut.


Kiara mengangguk lalu tersenyum lebar.


"Siap, Gav juga siap!" balas Kiara semangat.


"Good!"


"Kita berangkat!" lanjut Dirga yang di angguki kepala mengerti dari Bima.


"Siap, Bos!"


Akhirnya mereka pun berangkat menuju ke hotel milik keluarga Wicaksono, untuk merayakan ulang tahun Gavriel yang pertama, sekaligus untuk memberitahukan sesuatu yang berhubungan dengan Dirga.


Hotel Luxury, Cendrawasih Ballroom.


Di hotel bintang lima milik keluarga Wicaksono, tepatnya di area luar gedung sudah berbaris pencari berita serta stasiun televisi swasta, yang akan meliput acara pesta yang di selenggarakan oleh keluarga konglomerat di kota S.


Pesta ulang tahun ini di berlangsung dengan meriah, meski hanya dua hari persiapan.


Event Organisasi yang di tunjuk oleh Hendri bekerja sangat keras, sehingga acara dengan waktu terbatas ini tetap terlihat wah, membuat tamu yang hadir berdecak kagum di buatnya.


Tamu yang datang bukan hanya kalangan relasi dan pemilik saham, namun juga sahabat dan keluarga dekat.


Di luar sudah terbentang karpet merah menyambut mereka.


Mobil yang di kendarai oleh Bima sampai di ujung karpet, tepatnya di pintu masuk ke tempat acara yang di tata rapih sedemikian rupa.


Sebelum turun dari mobil, Dirga melihat lagi sekitar, di mana kerlipan lampu flash menghujani mobil miliknya.


Ia melirik ke arah samping, di mana Kiara sedang memangku Gav yang tidak sabar ingin keluar.


"Bim, sudah siap?" tanya Dirga yang di angguki kepala oleh Bima.


"Siap sayang?" tanya Dirga tersenyum lembut.


"Eum .... Siap!" balas Kiara dengan senyum bahagianya.


"Tav, yap!"


"Daddy tahu, Kamu juga sudah tidak sabar kan?" sahut Dirga lalu mencolek gemas hidung Putranya.


"Hi-hi!"


Ceklek!


Pintu terbuka lebar, dengan Bima yang membawakan kruk milik Dirga.


Kaki dengan alas pantofel hitam mengkilat turun menapaki tanah, di susul dengan setelan celana hitam rapih setelahnya.


Tangannya menerima kruk yang di ulurkan Bima, lalu menahan beban badannya dan berdiri dengan sempurna.


Tuxedo hitam membalut tubuhnya dengan sempurna, dengan dasi kupu-kupu tersemat indah di lehernya.


Setelah berdiri dengan sempurna, Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah dalam mobil, di mana tangan putih menerimanya segera.


Kiara turun dengan tangan berpegangan pada tangan Suaminya, beserta Gav yang ada di gendongannya.


Memakai baju senada dengan Suaminya, Kiara tampil sexy dengan balutan dress hitam di atas dengkul, memperlihatkan kaki jenjangnya.


Gav sendiri memakai pakaian seperti Daddynya, namun dengan ukuran sesuai badannya. Dasi kupu-kupu ikut menghiasi lehernya,membuat tampilan pasangan keluarga kecil itu serasi dan sangat memukau.


Seketika kliatan blitz dari lampu kamera bersautan, saling berlomba mengambil gambar terbaik dengan objek ketiganya.


Dengan tangan melambai ke arah segala penjuru, Dirga dan Kiara beserta Bima yang mengekor di belakang jalan dengan langkah pelan. Sesekali mereka menjawab pertanyaan ringan dari wartawan, namun akan mengelak jika keluar dari tema malam ini.


Di dalam Ballroom yang sudah di dekor, terdapat keluarga beserta para tamu yang sudah duduk di tempat masing-masing.


Dekorasi dengan dominan balon berwarna biru ini adalah permintaan Sang istri, mewakili Gav yang memang suka dengan benda berwarna biru.


Di ujung sana ada keluarganya menanti, mereka segera berjalan menghampiri dengan langkah semangat.

__ADS_1


"Cucuku!" seru Putri dan Sarah heboh saat melihat Gav yang tersenyum lebar.


Dirga dan Kiara akhirnya sampai di depan mereka, tersenyum dan bersalaman. Dirga kemudian melihat sekeliling, mencari sahabatnya yang ternyata berkumpul di satu meja, lengkap dengan pasangan dan anak masing-masing.


Di meja itu juga ada Asistennya beserta karyawan, yang kalau tidak salah ingat bernama Ros. Lalu ada Kaisar dan Fania juga, tidak ketinggalan Ronald dan pasangannya Tara, kalau tidak salah nama.


Ia tersenyum bahagia saat semua orang yang di sayangnya telah berkumpul, di acara yang paling penting baginya,bagi keluarganya dan bagi sesuatu yang akan Kita ketahui.


Dari sini Dirga bisa melihat Raka yang melambaikan tangan ke arahnya, membuatnya balas melambai juga.


Untuk saat ini Ia tidak bisa menemui sahabatnya, karena saat Ia tiba di tempat sudah ada beberapa Tamu undangan penting yang segera mendatanginya, menyalami dan memberi selamat serta Doa untuk kesehatannya dan Sang anak.


Ia dan keluarganya menerima setiap Doa dengan hati senang, balas tersenyum dan mengamini dengan segera.


Acara yang di pandu oleh MC akhirnya di mulai, rangkaian acara demi acara di sebutkan satu per satu.


Ketika saatnya tiba giliran untuk sambutan, Dirga mempersilahkan untuk para tetua untuk memulainya, sebelum sesuatu pembahasan yang ingin Ia sampaikan.


Kakek Bakrie bergantian dengan Kakek Bagus memberikan sambutannya, dengan suara khas dan wibawa dari masing-masing, mereka sukses membuat ballroom tersebut ramai dengan tepuk tangan bahagia.


Isinya tidak jauh yaitu ucapan syukur kepada Tuhan yang maha Esa, atas segala kenikmatan yang di rasakan oleh mereka.


Sambutan berganti dengan Hendri dan Fandi sebagai Kakek dari Gavriel, mereka di temani oleh pasangan menaiki podium, lalu menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan para undangan.


Kini giliran ayah dari Si bintang utama acara, yaitu Daddy Dirga yang melangkah dengan pasti ke arah podium.


Ia mengandeng Istrinya untuk ikut ke atas podium dan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada Kiara, untuk menyampaikan maksud dari kesepakatan mereka sebelumnya.


Kiara mengangguk dan berbicara dengan lantang, pengumaman kepemilikan saham atas nama Dirga yang di alihkan ke Putra mereka, berbagai tanggapan di terima dari para pemilik saham yang merasa tidak setuju, namun tidak bisa membantah.


Mereka diam dengan tepuk tangan seperti biasa, tapi Dirga sudah memprediksinya. Ia tersenyum ke arah para tamu undangan dan mengambil alih mic yang ada di hadapan istrinya.


"Selamat malam, semua Tamu undangan yang Saya hormati," ujar Dirga dengan nada tegas. Ia menjeda kalimatnya sesaat, ketika sapaannya di balas dengan serempak oleh Tamu undangan.


"Keputusan untuk pemindahan hak milik sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat. Ini juga bukan karena Saya sudah tidak mampu, saat ini dan di sini Saya akan memberi tahu, jika Saya sudah sembuh total dan bisa berjalan lagi," ujar Dirga menuai tanggapan kaget dari semuanya. Bahkan Kiara yang di sampingnya juga ikut kaget, dengan ekspresi yang tidak mampu di tutupi.


Dirga melihat sekeliling dengan mata tajamnya, sebenarnya Ia tidak ingin merusak pesta ulang tahun anaknya. Tapi saat mendengar dari asistennya, jika ada pro dan kontra karena kecacatannya yang tidak bisa berjalan dari pemilik saham, membuat Ia gerah dan ingin menghabisi dengan cara mutlak.


Maka itu di sini Ia mengumumkan, jika Ia sudah bisa berjalan dan mampu meningkatkan pendapatan dari investor dan pemilik saham.


Setelah puas melihat ekspresi dari semuanya, Dirga melepas kruknya dan jalan ke depan podium dengan langkah tegap seperti biasa.


Ia melihat dengan tajam ke arah depan, mengeluarkan aura dominannya dan hawa kepemimpinan absolut dari seorang Wijaya.


"Selanjutnya akan ada pembersihan kepemilikan saham, bagi yang sudah meremehkan Wijaya terlebih Saya karena keterbatasan saya. Besok Kita bertemu di ruang meeting, selamat malam dan selamat menikmati pesta yang apa adanya ini!" lanjut Dirga dengan tegas dan menyindir saat ada beberapa pemilik saham yang melirik ke arahnya dengan takut.


Dirga kembali ke sisi Kiara yang masih menampilkan wajah kaget dan tidak percayanya.


Ia tersenyum kecil lalu mengandeng tangan istrinya lembut.


"Sayang?" gumam Kiara dengan nada bertanya.


Dirga tidak menjawab, Ia hanya tersenyum lalu mengajak Kiara turun dari podium, yang segera di mengerti MC sebagai pemandu untuk memulai pesta.


"Nanti Aku jelaskan," bisik Dirga saat mereka melangkah turun dengan Dirga yang lebih dulu sampai di bawah.


Kiara mengangguk, ini benar-benar di luar kesepakatan. Memang ada pembicaraan tentang pembahasan hak milik, tapi Ia tidak tahu jika keputusan Suaminya sampai membuat pro dan kontra di dalam jejeran kepemilikan.


Di mejanya sudah ada keluarga besarnya yang menunggu, di lihat dari raut wajahnya sepertinya Kakek dan dua Papanya sudah tahu akan ada kejadian ini.


"Akhirnya Kamu bertindak," ujar Hendri yang mengetahui ada beberapa hama di jejeran direksi perusahaannya.


"Seharusnya dari dulu, Kamu adakan pembersihan. Apalagi saat mengingat Kamu kena skandal, mereka sudah mulai beralih dan menjilat lagi saat Kamu bangkit," sahut Bakrie dengan nada mencibir. Tenang saja bukan mencibir yang jelek, tapi greget karena Dirga baru ini bertindak.


"Semua butuh proses Kek, Pah. Lagian selain tetap menerima, pun mereka pindah ke perusahaan lain akan Dirga pastikan tidak ada yang menerima. Dirga hanya menunggu mereka benar-benar mengeluarkan taring dan see ... Mereka memanfaatkan keabsenan Dirga beberapa waktu ini," balas Dirga tidak mau kalah.


Di sampingnya Kiara yang tidak mengerti, menarik lengan jas Suaminya pelan.


"Ada apa?" tanya Dirga.


"jelaskan kenapa dan kapan Kamu bisa jalan," ujar Kiara tidak sabar.


"Duduk dulu, nanti Aku jelaskan pelan-pelan. Oke?" balas Dirga lembut.


Kiara mengangguk dan mengikuti Suaminya, yang menuntun Ia untuk duduk di sampingnya.


"Jadi ...


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ...

__ADS_1


Next episode akan ada visualnya.


Di tunggu yah ...


__ADS_2