
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya
Di kamar dengan dinding berlukiskan awan dan matahari cerah, ada seorang pemuda yang duduk dengan menghadap ke arah laptop menyala.
Di layar laptop itu ada sebuah foto, tepatnya kumpulan foto dari seorang perempuan, yang sejak lama ada disekitarnya.
Di foto itu tidak ada ekspresi selain senang, bahagia serta gembira.
Dan itu membuatnya ikut tertular menampilkan senyum, senyum dengan gelengan kepala merasa lucu, lucu akan segela tentangnya.
Foto ini diambil saat sahabat perempuannya ulang tahun, dilain acara itu, mana mau sahabat preman pasarnya memakai baju gaun seperti itu.
"Khe, shining," gumamnya setelah terkekeh kecil.
Kemudian ia menggeser lagi foto demi foto dilayar laptopnya, kali ini foto mereka saat bermain di arena game di mall kemarin.
Ada dua wanita yang menjadi fokusnya, keduanya memiliki senyum yang berbeda.
Jika yang satu senyum dengan rasa manis, maka satunya senyum dengan rasa yang membuat hatinya tergelitik.
Hari ini ia sudah sedikit menyadari saat ada rasa tidak suka, yang menghampirinya dengan kurang ajar.
Bahkan jika pun itu hanya candaan semata, mengapa rasanya sekarang ia tidak terima.
Dulu ... Mungkin memang ia akan menanggapi ini dengan candaan pula, dengan tindakan biasa seperti yang ia lakukan kepada sahabatnya.
Tapi saat ini ia tidak bisa, ia ingin memastikan dulu rasa yang berbeda, rasa yang baru-baru ini disadarinya.
Mungkin jika sepupu dan adiknya tidak mengingatkannya, ia juga tidak akan menyadari ini lebih cepat.
Ada dua getaran yang dirasakanya, saat ia berada disisi keduanya.
Getaran saat ia nyaman dengan satu orang itu, serta getaran saat ia merasakan posesif dengan satu orang lainnya itu.
Diantara getaran ini, manakah yang ingin ia dapatkan dan pertahanankan.
Ia tidak ingin salah langkah, terlebih salah satu diantara keduanya adalah seseorang yang sudah lama ada dalam hidupnya.
"Aku harap, aku tidak akan menyakiti keduanya."
Ya ... Ia sangat berharap, apa yang akan dilakukannya berjalan sesuai rencana.
Besok adalah final pertandingan basket, artinya besok adalah hari kedua ia mencoba untuk menjauhi satu dan mendekati yang lainnya.
"Huft .... Tapi kok nggak rela yah," gumam Gavriel lirih.
Ia menutup galeri foto dan membuka file pekerjaannya, yang tertunda karena perasaan yang sungguh membuatnya selalu mengerutkan kening, ketika merasakannya.
Jika disuruh memilih, Ia lebih memilih diberikan setumpuk dokumen, dibandingkan dengan melakukan misi yang melibatkan perasaan hati ini.
Tapi ... Nasi sudah menjadi bubur, ia sudah melakukannya sekali, jadi ia harus menuntaskannya hingga akhir, hingga perasaannya menemukan titik terang.
"Tunggu aku yah, saat aku sudah merasa yakin, aku pastikan itu adalah rasa sesungguhnya," gumamnya tersenyum, saat ingat akan ia yang selalu menampilkan senyum, disetiap waktu kebersamaannya.
Skip
SMA TRISAKTI KOTA S
Pagi datang dengan cepat, pemeran utama dengan nama Gavriel Wijaya ini sedang memarkirkan motor sportnya, disebelah motor sport milik sepupunya, dengan sahabat perempun mereka diboncengan sepupunya.
Tos!
Pasangan sepupu ini mengadu kepalan tangan mereka, lalu saling menyapa seperti biasa.
"Ohayou (Pagi)" sapa keduanya.
"Cou san (selamat pagi) , Tav!" sapa Queene ceria, tapi sayang Gavriel hanya bergumam dan tidak melihat ke arahnya, membuat Queene merasa aneh dan sedih di saat bersamaan.
Di pintu gerbang sana, ada suara seseorang yang memanggil Gavriel dengan semangat, dia baru saja turun dari mobil lengkap dengan seragam cheersnya, membuat ketiganya pun menoleh ke arah asal suara.
"Gavriel!"
Disana ada Keineira, berjalan menuju mereka dan berdiri dihadapan ketiganya.
"Selamat pagi, semuanya!" sapanya dengan senyum cerah.
"Pagi, kei."
"Pagi."
"Hn."
Ketiganya menyapa dengan berbagai jenis sapaan, tapi Kei tahu jika sapaanya diterima, kecuali satu perempuan, yang melihatnya tanpa senyum lagi seperti dulu.
"Gavriel, Ezra, hari ini harus lebih semangat yah!" seru Kei dengan tangan mengepal di udara.
"Tentu saja, Kei!" balas Ezra semangat, sedangkan Gavriel hanya mengangguk mengiyakan.
"Oh iya Gav, kit-
"Sambil jalan yuk,kei. Aku duluan Ez, Que," sela Gavriel, kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua sahabatnya, jalan bersama Kei yang berjalan dengan langkah semangat.
Dua sahabatnya hanya bisa mengangguk dengan ekspresi beda, ekspresi yang disadari Ezra, sehihgga Ezra lagi-lagi harus menghela napas.
"Haih ... Aku takutnya kamu Gav, yang termakan rencanamu," batin Ezra prihatin.
"Masuk yuk Que," ajak Ezra berpura-pura tidak tahu, menuai gumaman singkat dari Queene yang masih memproses kejadian yang baru saja dialaminya.
Ada apa ini.
Ya ... Itulah yang sedang dipikirkan seorang amuy kesayangan Baba Faro.
__ADS_1
Menyaksikan sendiri perubahan dari sahabatnya, seperti dia sudah mengetahui tentang perasaan terlarangnya.
Tunggu!
Jangan-jangan memang dia tahu, maka dari itu dia menjauhinya secara perlahan.
"Tidak, ini tidak mungkin," batin Queene takut, tentunya juga salah paham tanpa disadarinya.
Mereka berdua jalan bersama dengan pikiran masing-masing, hingga mereka berpisah di persimpangan koridor, untuk menuju tempat tujuan masing-masing pula.
"Sampai jumpa, Que!"
"Sampai jumpa, Ezra!"
Dan keduanya pun berpisah.
Di sepanjang perjalanannya Queene tak henti-hentinya berpikir.
Perasaannya tidak enak, ia mendadak ingin segera menampar pipi sahabatnya, tapi apa daya ia selalu kalah jika itu sudah dihadapan sahabatnya, apalagi jika ini hanya salah paham dan hanya perasaannya semata.
Queene menggelengkan kepalanya, tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Bisa saja Gavriel sedang dalam masa mood tidak bagus, dan ia bukan lah orang yang diharapkan ada disekitarnya saat ini.
"Hais ... Aku terlalu banyak mikir," dumel Queene sebal sendiri.
Disisi lain, disaat bersamaan.
Keineira yang jalan berdua dengan Gavriel , tidak henti-hentinya bertanya, membuat Gavriel menggeleng kepala, namun tetap dijawab juga.
"Aku akan dukung kamu, Gav. Jadi kamu harus tambah semangat ya!" seru Kei saat mereka berdiri berhadapan, di depan pintu ruang ganti tim basket.
"Tentu, kamu juga. Oke," balas Gavriel dengan nada biasa.
"Pastinya, he-he," kekeh Kei senang.
"Kalau begitu aku ke ruangan aku, sampai jumpa di lapangan, Gav," lanjut Kei pamit undur diri.
Gavriel hanya mengangguk, memperhatikan dalam diam setiap langkah teman sekelasnya, dengan tangan memegang dadanya.
"...."
Kemudian membalikkan badan dan masuk ke dalam ruangan, dengan beberapa anggota tim yang sudah datang.
"Selamat pagi, Gavriel!"
"Hn."
Skip
Akhirnya pertandingan final ada di depan mata, sesuai dugaan Pak Daniel, jika mereka pasti akan bertemu dengan sekolah Bakti Bangsa, karena dari tujuh lawan mereka, sekolahan tersebut lah yang memiliki potensi sebagai lawan berat.
Di pinggir lapangan sudah berdiri tim cheerleaders, dengan seragam putih ungu yang terlihat matching, tidak ketinggalan pom-pom di tangan masing-masing.
Di pinggir lapangan ada Keineira, yang berdiri sendiri saat dirinya akan menampilkan akrobat, sesuai dengan latihan yang sudah mereka jalani.
Bukan hanya penonton, tapi tim basket yang ada di pinggir lapangan, yang saat ini sedang bersiap untuk bertanding pun ikut melihat ke arahnya.
Bagaimana dengan Gavriel?
Meski sesekali ia menghadap ke arah lapangan, untuk melihat atraksi dari anggota cheerleaders, nyatanya ia mencari keberadaan sahabat perempuannya.
Ia mencari kesetiap sudut bangku penonton, namun tak kunjung dapat ia temukan.
Ia memutar kembali kepalanya, ke arah sebaliknya dan akhirnya ketemu.
Gotcha!
Queeneira duduk dengan memakai seragam olahraga, bersama teman sekelasnya, yang kemarin bersama sahabatnya juga.
"Sepertinya, Queene sudah bisa menerima pertemanan dengan yang lain," batin Gavriel dengan senyum kecil, namun ia kembali melengoskan wajahnya, saat sahabatnya melihat ke arahnya.
Gavriel tidak tahu, jika perbuatannya sekali lagi membuat sahabatnya yang melihatnya meraskan sakit, serasa ingin menangis saat ini juga.
Di bangku penonton sana, Queene hanya bisa menatap tidak percaya ke arah sahabat sepopoknya.
Tidak cukup kemarin dan pagi tadi saja, ia tiba-tiba dijauhi seperti itu. Apa harus sampai seperti ini, apa harus sampai ia merasakan perih di mata dan hatinya.
Di sebelahnya ada Syasa, yang melihat teman sekelasnya diam pun heran, karena meskipun ia baru mengenal beberapa waktu seorang Queeneira, dia bukan orang yang akan diam jika itu berhubungan dengan sahabatnya, yang sebentar lagi akan bertanding.
"Queene, kamu kenapa?" tanya Syasa hati-hati.
"Tidak, aku tidak apa-apa," balas Queene dengan cengiran yang dibuat senatural mungkin.
Syasa tidak ingin menjadi teman yang tidak baik untuk teman sekelasnya, jadi ia hanya mengangguk dan tidak ingin mengetahui lebih lanjut, kecuali jika orangnya langsung yang bercerita.
"Kei! Kei!"
Diantara seruan semangat dengan tim cheers yang disebut, Queene mendadak tidak suka saat nama itu disebut, termasuk saat dua teman dari seorang Keineira, yang saat ini sedang memanggil nama Kei dengan semangat.
"Kenapa ini, kenapa semakin menjadi saja," batin Queene bingung.
"Go-go Tiger go, yes-yes Tiger yes!"
Prok! Prok! Prok!
"Go-go Blackshawn go-go-go!"
Tim cheerleaders dengan semangat, menyerukan nama dan mendukung tim dari sekolah mereka masing-masing.
Tepukan penonton pun bersautan, menambah suasana ramai dan menambah
Intensitas gugup dari masing-masing anggota tim basket.
Mereka sudah saling berhadapan, dengan jumlah 5 orang, berdiri serta berjejer rapih dan saling memanda dengan sengit.
Setelahnya mereka mengatur posisi masing-masing.
__ADS_1
Sesuai kesepakatan, Gavriel adalah pemain dengan posisi small forward, sedangkan Ezra shooting forward.
Mereka bersiap di sayap kiri dan kanan, dengan sikap siap, menanti kapten mereka dengan posisi center, selain memiliki tinggi dan tubuh proporsional, dia juga adalah kakak kelas tingkat akhir, yang akan menyerahkan posisi kapten setelah pertandingan ini.
Bisa dibilang ini adalah pertandingan terakhir sang kapten basket.
Kapten sudah berdiri berhadapan, dan sama-sama melompat saat wasit melempar bola ke udara.
Prit!
Pats!.
Permainan dimulai, seruan semangat semakin menggema memenuhi lapangan indoor.
Pertandingan dengan waktu 4x10 menit ini adalah pertandingan penentuan, siapa yang akan memenangkan pertandingan ini, akan mendapatkan tropy serta penghargaan dari federasi pemerintah.
"Tav!".
Ezra mendapatkan bola, lalu memanggil nama sepupunya dengan panggilan yang hanya mereka tahu, dan dimengerti oleh sepupunya langsung.
Kali ini Gavriel tidak kesal, ia menangkap dengan sigap bola dan bersiap dengan posisinya, Gavriel dengan percaya diri melakukan shooting dan mendapatkan three point shoot, saat berhasil memasukan bola ke dalam ring di atas sana.
Prit!
Prok! Prok! Prok!
"Gavriel!"
"Gavriel!
"Ezra!"
"Tiger!"
Jika tadi adalah nama anggota cheerleaders, yang penonton elu-elukan, kali ini pasang sepupu lah yang menggema memenuhi stadion tempat pertandingan.
Queeneira yang melihatnya tentu saja bangga, permainan kedua sahabatnya tidak pernah berubah, selalu tampil memukau dengan kerja sama kompak.
"Mereka hebat," bisik Syasa, yang dibalas anggukan kepala dari seseorang yang dibisikinya.
"Tentu saja," gumam Queene dengan senyum mengembang.
Angka demi angka pun dicetak oleh kedua tim, saling berkejar angka dan hanya menyisakan satu angka penentuan.
Waktu tidak lama lagi akan habis, hanya butuh satu angka poin lagi, untuk tim Trisakti memenangkan pertandingan.
Degub gantung masing-masing pemain menggila, mata saling melihat awas, keringat bercucuran membasahi wajah mereka.
Bola karet berwarna orange list hitam ini masih jadi rebutan, saat detik terakhir sang bola ada di tangan kapten dan bersiap melakukan shoot, tim lawan tidak membiarkan dan akhirnya mengepung, sehingga kapten pun mencari celah dan mendapati small forwordnya melambai.
Sang kapten mengangguk dan berputar sebagai tipuan, agar bisa mengoper bola kepada Gavriel yang menerimanya sigap.
Pats!
Gavriel segera berlari dengan mendrible tiga kali bola, untuk melakukan shoot.
Waktu tersisa sepuluh detik, saat Gavriel melempar dengan jarak cukup jauh.
Para penonton yang melihatnya semakin tegang dengan doa dan harap-harap cemas.
Waktu menunjukan angka 00:03 saat bola yang dilempar Gavriel, menari disekitar ring untuk kemudian masuk di angka waktu nyaris 00:01.
Prit!
Bola masuk dan peluit berbunyi, serta surakan dan seruan pendukung pun terdengar setelahnya.
"Tiger! Trisakti!"
Pemain basket melakukan euforia, berkeliling lapangan dengan senyum dan tawa dibibir masing-masing.
Sedangkan tim lawan yang kalah terduduk di lantai lapangan, dengan ekspresi kecewa namun puas juga disaat bersamaan.
Puas saat mereka mendapatkan lawan yang seimbang.
Semua anggota tim basket dan cheerleaders bergabung untuk merayakan kemenangan mereka.
Berkumpul menjadi satu, untuk melakukan high-five dengan menyebut nama Trisakti semangat.
"Trisakti jaya!"
Prok! Prok! Prok!
Diantara anggota tim, ada Gavriel yang juga sedang merasakan senang luar biasa.
Ia mengadu kepalan tangan dengan sepupunya, dengan Keineira disisi keduanya dan ikut bertepuk tangan senang.
"Gavriel, Ezra, kalian memang luar biasa," ujar Kei semangat, menatap keduanya dengan binar bangga.
"Tentu saja," balas Ezra dengan senyum senang.
Lalu Gavriel sendiri , ia menepuk kepala Keineira dengan senyum yang saling berbalas, tanpa tahu, jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dari ujung lapangan, dengan hati dan perasaan menahan kecewa.
"Gavriel," gumamnya dan lebih meninggalkan lapangan, dari pada harus melihat pemandangan yang membuatnya sakit.
Bukan hanya kajadian ia yang tiba-tiba didiami, tapi juga perbuatan Gavriel yang memandang teman sekelasnya beda.
Queeneira pergi meninggalkan lapangan, tanpa tahu juga, jika tingkah lakunya diperhatikan oleh seseorang, yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam dari kejauhan.
"Ekspresi itu lagi," gumam seseorang itu, lalu mengikuti dari belakang ke arah Queene berlari pergi.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Sampai babai.