
Quirin menatap Zee dengan wajah yang sudah dialiri air mata, hatinya belum siap mengetahui fakta bahwa rahasia yang sudah ditutup rapat olehnya kini terbongkar begitu saja "Kenapa?, apa kau terkejut?" tanya Quirin
"Aku terlalu terburu-buru, sekarang dia menangis dan marah padaku" batin Zee
Zee sungguh tidak suka melihat Quirin mengeluarkan air mata, Kali ini Zee benar-benar sangat merasa bersalah, ia merasakan sakit di hatinya dan melanjutkan langkahnya karena ingin mendekati Quirin serta memberikan sebuah penjelasan
Quirin melihat Zee melangkahkan kaki untuk mendekatinya, ia mulai menatap tajam kearah Zee "jangan mendekatiku" teriak Quirin dengan amarah mengebu-ngebu
Zee tetap melangkah kan kakinya, hingga langkahnya terhenti mendengar ancaman Quirin "jika kau melangkah lagi, aku tidak segan-segan menaburkan racun ini ke wajahmu" teriak Quirin dengan menatap tajam di sertai air mata yang mengalir sambil memegang dua racun di dalam telapak tangannya
Saat Quirin menyebutkan racun, Xeno sangat terkejut sambil membulatkan matanya, ia melihat Zee ingin mendekati Quirin, Xeno bergerak untuk menghentikan Zee, tapi Zee sendiri sudah terlebih dulu menghentikan langkah kakinya
Mendengar teriakan itu, Zee menghentikan langkahnya "melihat dia menangis hatiku terasa sakit, bagaimana bisa aku membuatnya semarah itu" batin Zee dengan menatap wajah Quirin dengan wajah sendunya
Keduanya melupakan keberadaan Bivia, padahal Bivia berada ditengah-tengah antara Zee dan Quirin.
Darah mengalir keluar dengan deras, tapi Bivia masih bertahan dengan kesakitan luar biasa itu. ia sedaritadi hanya mendengar percakapan keduanya sambil menahan rasa sakit, Bivia tidak bersuara sama sekali karena dia takut dengan amarah Quirin, saat tiba waktu Bivia tidak bisa menahan sakitnya lagi, ia memberanikan diri untuk bersuara
"To....tolong" ucap Bivia melihat kearah Zee, ia berharap Zee mau menolongnya dari keganasan Quirin
Bivia sangat berharap Zee mau menolongnya, tapi dugaan Bivia salah, Zee sama sekali tidak memperdulikan ucapan Bivia bahkan sama sekali tidak menoleh kearahnya.
Saat ini Zee lebih mementingkan perasaan Quirin dan memberikan penjelasan padanya.
Mata Quirin langsung beralih menatap Bivia, ia sangat tidak suka jika ada orang yang mengganggu percakapannya "Kau sangat berisik" ucap Quirin sambil mengayunkan kakinya dan menendang badan Bivia hingga tersungkur ketanah.
Bivia hanya bisa menangis, ia sudah tidak mempunyai tenaga lagi, bahkan untuk berbicara saja sudah tidak bisa.
__ADS_1
"Apa jalan takdirku harus seperti ni?" batin Bivia
Bivia menolehkan kepalanya kearah Quirin "Ma...af kan aku" ucap Bivia pelan dengan wajah yang sudah pucat
"Sudah terlambat!" ucap Quirin melirik Bivia dengan tajam, padahal Bivia berbicara saat keduanya diam, tapi karena Quirin dalam keadaan marah, ia juga melampiaskan kemarahannya pada Bivia
"Kesialan ku bertambah setelah bertemu denganmu, lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi!," ucap Quirin dengan penuh penekanan disertai tatapan tajam sambil membalikkan badan dan melangkah kan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Zee hanya bisa mematung dan menyesal, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena untuk saat ini ia juga tidak mau mengganggu Quirin, Zee membalikkan badan dan menyuruh yang lainnya untuk membersihkan sisa perbuatan Quirin.
"Bersihkan sisanya, jangan meninggalkan jejak apapun" ucap Zee datar dan berlalu meninggalkan bawahannya
"Satu mengarah ke Utara, dan satunya mengarah ke selatan, mereka benar-benar sangat cocok" ucap Arnius sambil melihat punggung Zee dan sekarang melihat punggung Quirin yang melangkah berlawanan arah
"Mereka sekarang bagaikan minyak dan air" ucap Gavin yang mengikuti pergerakan leher Arnius
ketiganya maju untuk mendekat, semakin mereka mendekat maka semakin membuat mereka bergidik ngeri "Nona benar-benar membuat kita susah" ucap Staren yang bergidik ngeri disertai kesal
"Dia bahkan bisa di bidang racun, aku sangat terkejut mendengar dia mengancam tuan muda dengan dua racun yang ada di tangannya" ucap Gavin
"Benar-benar menyeramkan" ucap Arnius sambil menggerakkan badannya seperti orang kedinginan
Sedangkan Vano mendekati Bivia, tiba-tiba Vano merasakan sebuah tangan yang menggenggam kakinya, saat Vano melihat kebawah, ia terkejut ternyata itu tangan bivia.
"Bos, dia masih hidup" ucap Vano sambil melihat kearah Xeno
Xeno menoleh dan melihat kaki Vano di pegang oleh Bivia, lalu melihat Bivia memaksa secara perlahan mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"To...long a...ku" gumam Bivia yang sudah dalam keadaan setengah sadar
Xeno juga tidak memperdulikan ucapan bivia, ia langsung mengeluarkan pistol yang ada dibalik punggungnya, lalu menembak kepala Bivia hingga tangan Bivia terjatuh begitu saja dari kaki Vano.
Vano yang masih melihat kearah Xeno, menaikkan sebelah alisnya untuk meminta sebuah penjelasan, Xeno yang melihat itu langsung memberitahukan pada Vano "Dia sudah tidak bisa di tolong" ucap Xeno
Dari kejauhan Xeno sudah melihat luka di kedua paha Bivia, luka itu sangat dalam disertai aliran darah yang deras dan terdapat luka bakar di sekeliling daging yang sudah terbuka.
Xeno sendiri tidak habis pikir, dengan cara apa Quirin melakukannya hingga bisa menyebabkan luka seperti itu.
Ia sangat terkejut Quirin mengancam Zee dengan racun, Xeno merasa sangat lega, karena Zee masih bisa berfikir dengan jernih "Sungguh, tadi itu sangat menakutkan" batin Xeno
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
__ADS_1
Author sangat berterimakasih 🙏