Another Person Life

Another Person Life
Jawaban Jujur Vano


__ADS_3

Darah mengalir dengan sangat deras, Calis menahan sakit yang luar biasa itu, sedangkan Quirin melangkahkan kakinya perlahan dengan senyuman smirk.


Calis yang terfokus dengan rasa sakitnya tidak mengetahui bahwa Quirin tengah mendekatinya "kau benar-benar memuakkan, aku sangat membenci orang sepertimu" ucap Quirin sambil jongkok di hadapan Calis.


Quirin dengan cepat menarik pisaunya lalu menyeretnya kebawah sehingga membuat daging tangan Calis terlihat dengan jelas.


"Arghhhhh"


Jeritan Calis terdengar memilukan, air matanya bahkan terus mengalir karena menahan rasa sakit itu.


Lura yang sudah menjauh menutup mulutnya dengan rapat, ia sungguh tidak sanggup melihat Quirin menyiksa ibunya. Tapi, ia sendiri tidak berani untuk membuka mulutnya lagi, baginya Quirin bukan lah manusia.


Quirin melihat Calis berdesis menahan sakit, tapi bukan Quirin namanya jika terus membiarkan lawannya bernafas terlalu lama "apa kau pikir ini sudah selesai?, perjalananmu sungguh masih panjang, lagi pula ada satu rahasia yang harus aku beritahu padamu, jadi kau tidak ku izinkan untuk berpikir" ucap Quirin tersenyum smirk.


Calis melototkan matanya, ia benar-benar sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu "A-apa maksudmu?" tanya Calis dengan terbata-bata.


"Oh ayolah bibi ... semua yang kulakukan ini bahkan tidak apa-apanya dengan perbuatan yang telah kau lakukan padaku dan juga ibuku. Lagipula, aku memegang teguh prinsip ku. Aku akan membalas mereka yang telah bersalah padaku!, mereka semua akan merasakan hal yang sama dengan apa yang sudah aku rasakan" ucap Quirin sambil tersenyum dan membersihkan darah yng ada di pisau menggunakan pakaian Calis.


Xeno yang mendengar itu langsung melototkan matanya, sedangkan yang lain menoleh kebelakang dan melihat reaksi Xeno.


"Sudah kuduga, pasti nona akan melakukan apapun untuk membalas, tuan Xeno" gumam Arnius.


"Aku bertaruh tuan Xeno tidak akan lama lagi pasti akan mendapatkan hadiahnya itu" gumam Staren.


"Dia harus merasakan apa yang sudah kita alami" gumam Al tersenyum tipis.


Walau mereka sudah berteman lama, tapi Al tipe orang yang sangat senang jika mereka mendapat hukuman yang sama. Tapi semua itu tidak berlaku untuk Zee.


"Aku berharap wanita itu tidak keluar, dia bahkan lebih mengerikan dari Quirin, jika dia keluar, maka aku tidak tau dia masih mau mendengarkan ku atau tidak" batin Zee yng sangat fokus menatap kearah Quirin

__ADS_1


Pisau itu bahkan terlihat seperti baru lagi, kilatan pisau itu mampu membuat Calis merinding. Padahal, pisau itu juga yang menggores tangannya tapi ketika melihat kilatannya mampu membuat bulu kuduk orang merinding.


"Sial!, dia tak akan melepaskan ku!, apa yang harus ku lakukan?" batin Calis


Tiba-tiba Calis teringat bahwa Quirin sangat takut jika ia mengancamnya dengan menggunakan Grizo.


"Aku adalah ibumu, kau tidak pantas melakukan hal ini padaku. Lihat saja, aku akan memberitahukan perlakuan mu pada Grizo" ucap Calis sambil menunduk dan menangis.


Calis tidak mendengar jawaban Quirin, ia pun langsung tersenyum karena dirinya merasa bahwa Quirin akan takut dengan ancamannya. Padahal Quirin tengah mengerutkan dahinya dan menatap Calis dengan tajam.


Amarahnya kini sudah tak terbendung lagi, ketika Calis mengancamnya menggunakan nama Grizo, Quirin terlihat sangat marah, ia langsung mengingat bagaimana ayah kandungnya menyiksanya hanya karena mulut wanita yang ada di hadapannya itu.


Quirin tertunduk dan terdiam sebentar, lalu tangan Quirin kembali berayun dengan cepat, tapi kali ini bukan mengenai kaki atau tangan Calis, melainkan mengayunkannya pada mulut Calis sehingga sebelah pipi wanita itu robek dengan sangat lebar.


"Arghhhhh"


Lagi-lagi tindakan Quirin membuat Calis berteriak keras, ia melakukannya sungguh dengan tiba-tiba sehingga Calis tidak bisa menghindar sama sekali.


Calis mengangkat wajahnya dan melihat keurus kedepan dengan air mata terus mengalir, ia melihat Quirin tengah tertunduk.


"Mulutmu sungguh beracun, jadi aku harus membantumu untuk mengeluarkan racunnya. Bukankah aku baik?" ucap Quirin dengan tersenyum menyeramkan.


Kali ini Calis merasakan hawa di sekitarnya berubah, rasa tertekan itu bahkan sangat di rasakan oleh Calis.


Zee yang merasakannya juga ikut terkejut "sial!, kenapa disaat seperti ini?" gumam Zee sedikit kesal.


Hawa menyeramkan itu bahkan sudah menyebar ke seluruh ruangan, semua orang bisa merasakan hawa itu.


Al dan Xeno tersentak kaget, mereka berdua spontan menatap kearah Zee. Sedangkan Xeno yang masih terduduk kini mencoba bangkit dan berjalan perlahan.

__ADS_1


"Dia sudah berubah, apa yang akan kau lakukan?, permainannya pasti akan jauh lebih mengerikan lagi" ucap Xeno yang bisa di dengar oleh Vano, Staren dan Arnius.


Vano yang tau rahasia itu begitu sangat terkejut, ia tidak menyangka ketiga tuannya akan bersikap santai.


"Tuan, apa tidak apa-apa jika kita membiarkan nona Quiran melakukannya?" tanya Vano secara tiba-tiba.


Sontak saja Zee, Al dan Xeno langsung menoleh kearah Vano "kau mengetahuinya?" tanya Al penasaran.


"Apa tuan lupa telah meninggalkan wanita menyeramkan itu pada siapa?" ucap Vano dengan malas.


"Ah, di rumah itu, benar ... saat itu aku langsung pergi dan meninggalkan wanita gila itu padamu" ucap Al sambil memegang kepalanya.


"Pada saat itu bahkan keadaan Clamy benar-benar sangat mengerikan, dia juga menyuruhku mengirim Clamy ke penjara" ucap Vano mengingat-ingat kejadian di rumah itu.


Bagi Vano sangatlah mudah mengatasi malasah yang ada di kantor polisi, walau membawa Clamy dengan keadaan terluka, tapi Vano bahkan tidak mendapat hambatan apapun.


"Lalu bagaimana keadaan Clamy sekarang?" tanya Al penasaran.


Vano menggeleng "aku tidak tau tuan, aku tidak mendapat kabar apapun setelah aku mengantarnya ke kantor polisi. Aku juga menyewa orang untuk terus memukuli Clamy di penjara" ucap Vano dengan santai.


Mereka semua menatap Vano tidak percaya, biasanya Vano tidak mau mengurusi hal merepotkan seperti itu, tapi kali ini dia mengurusinya dengan sangat detail.


Vano pun melihat mata semua orang tengah mengarah padanya. "A-apa?, aku melakukannya karena takut pada nona" ucap Vano jujur.


Ia memang berkata jujur, karena faktanya, Vano lebih takut pada Quiran daripada yang lainnya, bahkan Zee berada di urutan kedua.


Vano juga tau bahwa mereka tidak akan percaya begitu saja pada dirinya yang telah melakukan hal merepotkan itu.


Bersambung ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir ke audio author dan juga kalian bisa merequest lagu di kolom komentarnya 🙏


__ADS_2