
Setelah mendengar penuturan Quirin, Grizo terlihat sedih namun dirinya hanya bisa menundukkan kepala, rasa bersalah itu seakan mencabik-cabik hatinya
Saat melihat Grizo menunduk, Quirin melanjutkan ucapannya sambil melihat kearah Calis "Satu hal lucu yang ada di rumah itu, rumah yang terlihat mewah nan megah itu bagaikan neraka untuk putri sulungnya, bahkan didalam rumah itu juga hidup seekor monster yang menjelma sebagai seorang ibu yang baik" ucap Quirin tersenyum manis dengan menaruh tangannya diatas meja sambil menopang dagu
Grizo yang menunduk langsung mengangkat kepalanya "Apa yang di katakannya" batin Grizo sambil melihat kearah Calis yang ada disampingnya
"Beraninya dia" batin Calis melototkan matanya kearah Quirin.
Lura yang memahami situasi tidak tinggal diam, ia tidak mungkin membiarkan ibunya mendapat masalah "Jangan mengucapkan kata yang tidak benar kakak" ucap Lura meninggikan suaranya
"Ah... aku melupakan sesuatu, anak bungsu yang selalu sakit dan lemah lembut itu kini sudah bisa menunjukkan taringnya dihadapanku dan untuk pertama kalinya dia kembali memanggilku kakak" ucap Quirin lagi sambil menoleh kearah Lura dengan senyum manis
"Aku berharap dia bukan Quiran, aku masih belum mengetahui bagaimana cara mereka bertukar" batin Zee menatap Quirin dengan intens
Zee berfikir cukup lama, ia mendapatkan pencerahan "Jika dipikir-pikir saat bersama Quiran, aku merasakan aura Quiran jauh lebih kuat dari Quirin, sepertinya aku bisa membedakan dari aura mereka" batin Zee tersenyum tipis
Grizo menoleh kearah ibu dan anak itu berulang kali, otaknya masih tidak bisa mencerna semua perkataan Quirin.
Lura dan Calis terdia setelah mendengar semua ucapan Quirin "Bagaimana dia tidak takut padaku?, dia telah banyak berubah, sekarang aku yang ketakutan melihat matanya" batin Calis
"Dasar lamban" ucap Quirin jengah melihat ayahnya lambat mencerna perkataannya
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Grizo dengan penasaran
"Tidak ada, jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, silahkan pergi dari sini!" ucap Quirin melanjutkan makannya
"Untunglah Grizo tidak mengerti ucapannya dan dia juga masih tidak berani membuka mulutnya itu " batin Calis lega
"Disini banyak orang, ayo kita pergi saja" ucap Calis menggenggam tangan Grizo dan Lura
"Quirin, jika kamu tidak ingin kembali sekarang tidak apa-apa, kami tetap akan menunggumu pulang" ucap Calis sambil tersenyum
"Jangan mencoba merayuku, semenjak aku
melangkah keluar, aku bukan bagian dari keluarga itu lagi!, ingat itu baik-baik!" ucap Quirin datar
Grizo hanya diam mematung, ia sungguh tidak tau lagi harus berbuat apa untuk mengajak putrinya pulang.
"Ibu.. aku tidak ingin pulang" ucap Lura sambil memberontak
"Jaga sikapmu didepan ayah, lebih baik kita pulang dulu" bisik Calis pada Lura
Lura yang mendengar ucapan ibunya langsung menurut, Calis menarik pelan Lura dan Grizo yang sudah seperti patung.
__ADS_1
Saat mereka bertiga melangkah, tiba-tiba suara Zee terdengar sedikit keras dan juga tegas "Hanya dia yang cocok untukku" jawab Zee tersenyum tipis sambil melihat kearah Quirin
"Semoga kau mendapat kebahagiaanmu" batin Grizo tersenyum tipis
Ketiganya mematung, tangan Lura kembali menggepal dengan raut wajahmerah padam.
Calis melihat ekspresi Lura, ia tidak ingin Lura lepas kendali, akhirnya Calis membawa Lura dan Grizo pergi dari restoran.
"Jangan memaksaku kembali, mereka monster berkedok keluarga" ucap Quirin menatap Zee
"Tadi aku hanya bertanya, tidak menyuruhmu kembali" ucap Zee menatap kearah jendela tembus pandang itu
"Jangan mengira aku tidak mengetahuinya, niatmu itu sangat mudah ditebak" ucap Quirin datar
"Pintar" batin Zee tersenyum tipis
"Baiklah, aku tidak memaksamu, lakukan apapun yang kamu suka" ucap Zee tersenyum lembut
Quirin terkejut melihat senyum Zee yang begitu tampan "Dia terlihat tampan, tapi terkadang juga menyebalkan" batin Quirin
"Jika kau tidak bisa tersenyum janganlah tersenyum, jelek bukanlah salahmu, tapi senyum adalah kesalahanmu" ucap Quirin pelan
Seketika senyum Zee memudar dan merubah wajahnya menjadi datar "Haha... tuan muda, baru kali ini aku mendengar seseorang mengatakan tuan muda jelek" tawa Xeno yang datang entah darimana
Xeno langsung berhenti tertawa, ia merinding mendengar suara Zee "Tidak, tidak, jangan lakukan itu" ucap Xeno ketakutan
Xeno sedari tadi menunggu dibawah, ia mendengar bisikan-bisikan para pengunjung yang keluar membuat Xeno terkejut dengan cepat Xeno menuju kelantai atas.
Hingga beberapa langkah lagi hampir sampai, Xeno malah mendengar Quirin mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"Lebih baik kita segera pulang, aku sudah kenyang" ucap Quirin bangkit dari kursinya
"Aku tertolong, terimakasih nona" batin Xeno sedikit terharu kali ini Quirin membantunya
"Untung saja Al berada di Eropa sana, jadi aku tidak perlu berdebat dengannya yang sangat menyebalkan itu, jika Ada dirinya, sudah pasti dia akan menertawai ku " batin Xeno sedikit tersenyum tipis
***
Di singapura, saat sedang berbelanja di sebuah mall, tiba-tiba saja Al bersin "Siapa yang berani mengumpat ku" ucap Al sedikit kesal
"Ah.. aku teringat akan Xeno dan Zee, lebih baik dalam beberapa hari aku terbang ke Inggris" ucap Al sedikit tersenyum jahil
"Akhirnya aku menemukanmu" ucap seorang wanita dibelakang Al
__ADS_1
Al menoleh kebelakang dan terlihat Clamy di belakangnya "Ada urusan apa denganku?" ucap Al yang tadinya tersenyum jahil, kini menampilkan wajah datar
"Aku sangat merindukanmu" ucap Clamy dengan manja, ia ingin meraih lengan Al, namun tangan itu langsung di tepis Al
"Cih, wanita murahan sepertimu tidak pantas didekatku" ucap Al dengan dingin
Al mendekat pada Clamy lalu berbisik "Aku lebih suka gadis yang masih bersegel daripada wanita yang selalu rela melebarkan kakinya kesemua pria demi sebuah ketenaran" ucap Al dengan dingin
Wajah Clamy yang terlihat senang kini menjadi merah padam, tangannya terkepal dengan kuat, kata-kata pedas itu bukan membuat semangatnya untuk mendapatkan Al runtuh namun membuat Clamy menjadi semangat "Aku tidak perduli apapun yang kau katakan, Aku harus mendapatkanmu Al" batin Clamy
"Jangan memasang wajah itu, terimalah fakta yang ada" ucap Al tersenyum miring, ia berlalu pergi meninggalkan Clamy yang mematung
Clamy mengikuti kemanapun Al pergi, Al sangat jengah melihat Clamy mengikutinya "Kita lihat sampai berapa lama kau bisa tahan mengikutiku" gumam Al tersenyum smirk
Satu minggu kemudian
Clamy masih mengikuti kemanapun Al pergi, Al tidak kembali kerumahnya, ia menyewa hotel untuk menginap selama satu minggu
Al berangkat kebandara, ia menunggu di kursi tunggu sambil menoleh kanan dan kiri, matanya tertuju pada seseorang yang sedang memakai pakaian serba hitam dan memakai masker.
"Sesuai rencana" gumam Al tersenyum smirk
Al menjalankan rencananya untuk membawa Clamy ke Inggris dengan cara menaiki pesawat class ekonomi.
Al hendak berdiri dan berjalan sehingga ia menabrak seseorang "Maaf, maaf aku tidak melihatmu" ucap Al merasa bersalah sambil meminta maaf
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1