Another Person Life

Another Person Life
Pembalasan yang Setimpal


__ADS_3

Setelah melihat mereka berkumpul, Quirin meninggalkan mereka dan melangkahkan kakinya untuk naik keatas, ia tau bahwa grizo tidak pernah keluar dari kamarnya.


tok


tok


tok


"Ayah, bisakah ayah keluar?, sekarang ini Lura tertimpa masalah besar" ucap Quirin sambil mengetok pintu kamar Grizo.


Namun, setelah menunggu beberapa menit Quirin tidak mendengar suara dari dalam, ia sedikit khawatir tapi Quirin menepis pikirannya itu.


tok


tok


tok


Quirin pun mencoba mengetuk pintu itu lagi "ayah?, sampai kapan ayah mengurung diri?," tanya Quirin sambil berteriak.


Mereka yang ada di bawah mendengar teriakan Quirin, lalu mulai menengadahkan kepalanya dan mereka melihat Quirin tengah mengetuk pintu kamar Grizo.


Lagi-lagi, tidak ada jawaban dari Grizo, Quirin yang tidak memiliki kesabaran lagi, kini mencoba menekan handle pintu dan ternyata pintu itu terkunci dari dalam.


Quirin pun benar-benar ke habisan kesabaran, ia memundurkan langkahnya lalu menyiapkan tenaganya di ujung kaki.


Brukkk


Quirin berlari dan menendang pintu kamar Grizo, orang-orang yang berada di bawah terkejut melihat tindakan Quirin.


Mereka menegang dan membulatkan matanya, bahkan Zee juga ikut terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat wanita bisa menendang pintu yang sedang terkunci.

__ADS_1


Staren menganga lebar "astaga, sudah terlalu banyak kejutan yang di buat olah nona Quirin, hanya dalam beberapa bulan setidaknya dia sudah membuatku terkejut sampai 50 kali lebih" ujarnya.


"Kau sangat berlebihan, tapi yang kau katakan sangat benar, dia telah banyak memberikan kita kejutan" ucap Arnius bergidik ngeri.


"Nona sangat luar biasa" batin Vano


"Apa dia itu benar-benar seorang wanita?, tapi kenapa kekuatannya seperti seorang pria" batin Max yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada.


Sedangkan Lura bahkan terkejut dan menutup telinganya rapat-rapat, ia terus menunduk dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut.


Quirin tidak melihat reaksi orang-orang yang berada di bawah, ia justru terpaku ketika melihat Grizo tengah memejamkan matanya.


Perlahan-lahan Quirin berjalan memasuki kamar itu, ada seperti rasa iba menghampirinya, lalu ia melihat raut wajah itu seperti orang yang bisa di habisi kapan saja.


"Andai saja kau memperlakukannya dengan baik, maka aku pun akan menghormatimu. Tapi perilaku mu sungguh membuatku muak, aku tidak perduli kau tengah sakit atau tidak, yang terpenting untuk ku adalah memberimu pelajaran yang cukup berharga" gumam Quirin sambil melangkah keluar.


"Zee tolong hubungi Al, aku membutuhkannya disini, dan juga jangan lupa beritahu dia untuk membawa obat yang di perlukan untuk tuan Alister" ucap Quirin sambil berteriak dari atas.


"Dia memerintah tuan muda Zee dengan sangat mudah?, aku yang sudah bertahun-tahun berteman dengannya justru belum pernah memerintahkan tuan muda. aku benar-benar sangat penasaran dengan apa yang sudah dilakukannya pada tuan muda?" batin Max sambil menoleh kearah Zee.


"Tunggulah beberapa menit, Al akan segera tiba" ucap Zee sambil melihat kearah atas.


"Kapan semua ini bisa berakhir?, aku harus pergi ke asia sesegera mungkin, tapi apa hatiku sudah siap bertemu dengan mereka secara langsung?" batin Quirin sambil memegang dadanya.


Zee yang melihat dari bawah, langsung berjalan dan naik ke atas "ada apa?" tanya Zee yang sudah berada di samping Quirin.


"tidak ada, aku hanya berpikir apakah aku sudah siap untuk bertemu dengan musuhku, hanya itu saja" ucap Quirin sambil menatap Lura dari atas.


"Sudah aku katakan, aku akan ikut dengan mu dan membantumu membereskan segalanya, jadi kau tidak perlu menghawatirkan apapun" ucap Zee sambil melihat menatap Quirin.


Quirin menoleh kearah Zee, ia berpikir bagaimana bisa pria dingin sekaligus penguasa ini bisa menenangkan ya hanya menggunakan kata-kata. dia bahkan berniat membantunya, apakah itu tulus atau tidak, entahlah tidak ada yang mengetahui isi hati pria dingin yang ada di depannya.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih, untuk kedepannya aku harus mengandalkan mu" ucap Quirin sambil berbalik dan menatap sang ayah yang sedang terbaring di atas tempat tidur.


"Aku lupa, kenapa dari tadi aku tidak melihat Beymi, kemana perginya dia?, aku harus memberikan hadiah besar ini padanya" ucap Quirin sambil menoleh ke kanan dan ke kiri namun mansion itu terasa sangat sepi.


"Biarkan saja, sebentar lagi pasti dia akan muncul" ucap Zee dengan santai.


Tidak butuh waktu lama, Al tiba di mansion dengan nafas tersengal-sengal, "dimana tuan Alister?" tanya Al pada orang-orang yang tengah menatap keatas.


"Al!," panggil Quirin dari atas.


Al menoleh keatas dan langsung berlari menaiki tangga, ia tidak perduli orang-orang yang ada di sana tengah menatapnya dengan tatapan aneh.


"Dimana tuan Alister?" tanya Al dengan dada naik turun karena berlari.


Quirin tidak menjawab, ia berjalan masuk kedalam kamar, Al yang melihat pun mengikuti langkah Quirin.


"aku tidak tau entah sudah berapa lama dia terbaring, yang pasti efek samping dari obat yang di masukkan Calis kini sudah menggerogoti jantungnya" ucap Quirin sambil melihat Grizo.


"Kau tau tentang penyakitnya?" tanya Al terkejut.


Pasalnya, Al tidak pernah memberitahukan informasi pasien pada siapapun kecuali Pasian mengizinkannya.


"Setiap hari Calis memasukkan obat kedalam teh ayah, efek sampingnya bisa memicu terjadinya penyakit jantung" jelas Quirin sambil memegang tangan Grizo.


"Nona, bagaimana kau bisa mengetahui tentang obat itu?, aku tidak memeriksa secara menyeluruh, karena dia melarang ku untuk memeriksanya, jadi aku tidak tau mengenai hal ini" ucap Al sambil memegang kepalanya karena terlalu terkejut dengan ucapan Quirin


"Tapi kenapa, kalau kau tau dia meminum obat setiap hari, lantas kenapa kau tidak membantu tuan Grizo?, selama ini dia menyembunyikan penyakitnya karena dia tidak mau kau mengkhawatirkan kondisinya" lanjut Al dengan ekspresi penuh tanda tanya.


"Dokter Al, semua ini tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata, selama bertahun-tahun ini dia terus memberi luka yang begitu dalam, bahkan aku tidak bisa melupakan rasa sakit itu begitu saja. Karena rasa sakit di hatiku ini, aku bahkan membiarkan dia menerima rasa sakit yang sama sepertiku. bukankah ini pembalasan yang setimpal?" gumam Quirin yang masih memegang tangan Grizo.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2