Another Person Life

Another Person Life
Persiapan Pertarungan


__ADS_3

Feryun yang mendengar itu menjadi sangat geram, ia tidak menyangka bahwa Andrea melimpahkan segala hukumannya pada Kiryu.


"Kenapa nenek selalu menyiksaku seperti ini!" teriak Feryun dengan keras.


Sejak berpisah dari keluarganya, Feryun menjadi anak yang pemurung, ia tidak pernah tersenyum pada siapapun termasuk Andrea.


Sedangkan Andrea tidak perduli dengan perasaan Feryun, ia terus membina Feryun dengan sangat keras, bahkan ketika Feryun membuat sedikit kesalahan maka Andrea mengamuk dan memukul Feryun.


Waktu berlalu begitu saja, Feryun yang tumbuh menjadi anak yang sangat dingin pada siapapun, lalu tiba-tiba Andrea membawa Kiryu untuk di tugaskan menjadi sekretaris pribadi Feryun.


Feryun yang sudah terbiasa hidup sendiri mau tidak mau harus menerima Kiryu untuk di tempatkan di sampingnya.


Feryun bahkan tau tugas yang di berikan Andrea pada Kiryu, tapi ia mencoba untuk membiasakan diri dengan keberadaan Kiryu.


Lambat laun, Feryun menjadi terbuka pada Kiryu hingga membuat Kiryu terus berbohong pada Andrea.


"Jika kau mau Kiryu, maka usir keluarga mu karena jika mereka ada di sampingmu, mereka pasti akan menghambat mu menjadi pewaris keluarga inti" ucap Andrea dengan keras.


Andrea pun memutuskan panggilan itu, sedangkan Feryun tampak terkejut mendengar persyaratan dari Andrea.


Quirin, Jay, Amber, Rea dan Zee mendengar teriakan itu dengan sangat jelas.


"Nenek tua itu benar-benar keterlaluan, aku sangat membenci nya, karena dia juga bibi mati di rumah monster itu!" geram Rea yang tidak tau bahwa Feryun belum mengetahui fakta itu.


Quirin dan Zee menoleh kearah Rea bersamaan, mata mereka bahkan melotot dengan sempurna.


Sedangkan Feryun yang mendengar itu juga mulai menoleh kearah Rea secara perlahan.


"A-apa yang kau katakan Rea?" tanya Feryun dengan terbata-bata.

__ADS_1


Rea terkejut melihat reaksi yang di perlihatkan oleh Feryun, ia pun menoleh kearah Zee lalu kearah Quirin.


Rea bisa melihat keduanya tampak sedang melotot ke arahnya, Rea yang mengerti situasi itu sontak menutup mulutnya, ia pun mulai takut ketika melihat mata Feryun.


"Itu tidak benar, apa yang kau katakan pasti salah, bibi tidak mungkin mati secepat itu" ucap Feryun dengan tubuh bergetar.


Rea yang melihat sang kakak merasa tidak tega "kakak, aku tidak ingin menyembunyikan ini dari mu, tapi faktanya bibi sudah meninggal sejak kak Quirin berusia 3 tahun" jelas Rea sambil menutup matanya dengan kedua tangan dan ia pun mulai menangis.


"A-apa!" Feryun tampak terkejut, ia bahkan tidak menyangka bibi yang sangat di sayangi nya sudah meninggalkannya sejak lama.


Quirin yang melihat itu langsung menghembuskan nafasnya dengan pelan, ia pun langsung berdiri di depan Feryun lalu memegang kedua lengannya.


"Kakak, tenanglah, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari mu, saat urusan kita selesai maka aku bisa menjelaskannya padamu, tapi tidak untuk sekarang, karena kita tengah mempertaruhkan nyawa Kiryu" jelas Quirin secara hati-hati.


Quirin sangat mengerti perasaan Feryun, tapi ia tidak bisa mempertaruhkan nyawa yang tidak bersalah hanya karena orang yang sudah lama tiada, bagi Quirin Kiryu orang yang sangat penting untuk Feryun, jadi ia harus menyelamatkan Kiryu dari nenek nya itu.


Feryun yang masih dalam keadaan syok perlahan menundukkan kepala nya, ia melihat mata Quirin yang tampak sangat serius.


Quirin juga memiliki firasat yang sama, pasalnya tidak mungkin ibunya yang berasal dari keluarga yang ditakuti justru menjadi sederhana dan menikahi Grizo yang berasal dari kalangan bawah, semua itu pastilah ada alasannya, yang jelas ia harus mencari taunya sendiri dengan cara bertemu dengan nenek nya langsung, karena di sana adalah jawaban dari semua penderitaan yang di alami Xura sejak memasuki tubuh Quirin.


"Lupakan itu, sekarang kita harus bergegas menyiapkan diri" ucap Quirin sambil menenangkan Feryun.


Xeno dengan cepat bergerak ke arah dinding dengan cat berwarna putih "nona, tuan dan yang lain, mari ikut aku" ucap Xeno tanpa menoleh kebelakang.


Xeno menekan sebuah tombol tersembunyi dan dindin itu berputar hingga memperlihatkan begitu banyak senjata.


Semua orang pun mulai mengikuti langkah Xeno, kecuali Rea, Jay, Amber dan Xia, mereka tidak mengikuti langkah pria-pria gagah itu, mereka hanya berdiri sambil melihat kepergian semua orang.


Jay dan Amber saling melempar pandangan "bagaimana ini pa, apa kamu yakin mereka bisa melawan ibu?" tanya Amber yang sedikit gelisah dengan keselamatan putranya dan yang lain.

__ADS_1


"Tenanglah ibu, kedua kakak ku bisa mengatasinya, percayakan saja pada mereka" ucap Rea sambil tersenyum.


"Aku percaya mereka bisa mengatasi semua rintangan itu bibi" ucap Xia sambil melihat kearah Amber.


"Benar, kau harus ingat, mereka semua anak-anak kita, jadi kita harus mendukung semua keputusan mereka" ucap Jay sambil mengelus pundak Amber yang terlihat gemetar ketakutan.


Amber yang mendengar kata-kata penyemangat dari ketiga orang itu mulai bernafas dengan lega "Ya, aku harus memercayakan semua urusan ini pada mereka, ibu memang harus di hukum, dia telah mencelakai kakak dan juga anak kita, aku berharap mereka berhasil karena aku tidak ingin berpisah dengan Feryun lagi" ucap Amber sambil menitikkan air matanya dan menenggelamkan wajahnya di dada Jay.


Jay merasa hatinya tersayat-sayat, ia tidak tega melihat sang istri menangis, Jay mulai mengingat bagaimana dirinya tidak berdaya di hadapan Andrea, penyesalan itu pun mulai menghampiri Jay.


"Maafkan aku, jika saja saat itu aku bisa melawan ibu, maka Feryun akan tumbuh seperti Rea" ucap Jay sambil membalas pelukan Amber.


"Tidak, tidak, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri karena dari dulu sifat ibu memang seperti itu, dan tidak ada yang bisa mengubahnya selain kematian" ucap Amber sambil menghapus cairan bening itu dan melepas pelukannya dari Jay.


Rea yang mendengar itu merasa sangat kesal, ia tau bahwa bertahun-tahun mama nya sangat ingin bertemu dengan sang kakak, tapi karena mengingat syarat yang di ajukan Andrea membuat Amber melepaskan rasa rindunya dengan melihat foto figur sang putra.


"Ma, aku akan ikut dengan mereka, karena dulu dia pernah menginginkan ku tapi kakak justru menghalangi nenek dengan mengorbankan dirinya demi kebahagiaan ku, jadi aku akan ikut andil dalam pertempuran ini sebagai ras bersalahku pada kakak" ucap Rea dengan penuh ketegasan.


"A-apa!, tidak Rea, jangan lakukan itu, ibu tidak ingin kehilanganmu" ucap amber sambil memegang tangan Rea.


"Pilihlah senjata sesuai kemampuanmu, pertempuran ini sangat menyenangkan, aku yakin kau akan menyukainya" ucap Quirin yang baru saja tiba di tengah-tengah mereka.


Rea yang mendengar itu langsung tersenyum, ia menjelaskan tangan amber dan langsung berlari ke arah yang di tuju Xeno.


"Tapi nak ... " perkataan Amber terhenti ketika Quirin mulai memegang tangan Amber.


"Bibi, ini adalah pertemuan pertama kita, aku tau bahwa aku tidak memiliki hak untuk mengatur Rea, tapi bibi, kita semua terlibat dalam sebuah permainan, karena itu aku ingin Rea ikut andil dalam pertarungan ini, karena orang yang menjalankan permainan ini adalah orang terdekat kita dan aku berharap bibi bisa mempercayakan Rea padaku. Aku berjanji akan menjaga Rea, dia adalah adikku satu satunya dan sudah kewajiban ku untuk melindunginya" ucap Quirin sambil tersenyum dan memegang tangan Amber dengan kedua tangannya.


Amber yang mendengar perkataan itu langsung menghela nafas dengan pelan "baiklah nak, tolong jaga adikmu untuk bibi, dan bibi berharap kalian semua pulang dengan selamat" ucap Amber sambil memeluk Quirin.

__ADS_1


Quirin yang mendapat pelukan itu langsung membalasnya dengan sangat erat "terimakasih sudah percayakan Rea padaku, aku akan memenuhi janjiku, bibi" ucap Quirin lalu melepas pelukan nya.


Bersambung ...


__ADS_2