
Suasana mobil yang hening membuat Xia hanya dapat terfokus pada tangan yang ia pegangi sedari tadi, ia tampak menahan rasa sakit dan terus-terusan memegangi tangannya, hal itu terlihat dari ekspresi wajah dan gestur tubuhnya, sesekali ia menyatukan alisnya sambil meniup lukanya yang terasa perih
Vano yang tanpa sadar telah melirik Xia beberapa kali, sudah mulai tidak sabaran karena khawatir dan ingin segera tiba di rumah sakit, ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh
"Hei apa kau gila?" teriak Xia saat tangannya terbentur pintu mobil, akibat Vano yang secara mendadak menghentikan mobilnya
"Ssttt, kita hampir sampai" ucap Vano yang tetap menatap lurus kedepan
Saat mereka sampai, Vano membuka pintu untuk Xia dan menarik tangan Xia dengan cepat, mereka menemui dokter Al yang sedang berada di ruangannya
Ketika berada di lorong rumah sakit, tanpa sengaja Xia melihat seseorang yang dia kenal baru keluar dari ruangan dokter Al, namun orang itu justru tidak mengenalnya, mereka saling melewati satu sama lain, tetapi Xia sempat melihat raut wajahnya yang sedang memperlihatkan kesedihan mendalam
"Apa yang dilakukannya di sini?, sepertinya aku harus bertanya secara langsung pada dokter Al" batin Xia, ia terus saja melihat orang itu sampai menghialng dari pandangannya
"Brukkkk" suara bantingan pintu
"Dokter Al, tolong segera obati tangannya" ucap Vano yang langsung menerobos masuk
"Astaga, kau membuatku kaget, apa kau tidak di ajari sopan santun?" tanya dokter Al yang memegangi dadanya akibat terkejut, ia melihat kearah pintu dan mendapati Vano dengan wajah paniknya
"Ah... maafkan aku dokter" ucap Vano dengan wajah sedikit merasa bersalah
"Ternyata dia juga bisa membuat ekspresi seperti itu" batin Xia yang sedari tadi memandangi punggung Vano dari belakang, hingga saat Vano memutar tubuhnya kesamping dan memperlihatkan ekspresi tersebut
"Bawa dia lebih dekat ke sini, aku akan mengobatinya, tapi... kenapa kau sendiri tidak melakukan hal yang sama saat kau terluka dalam misi?" tanya dokter Al yang melirik Vano dengan tajam
"Jangan bahas hal itu, tuan tau kan kalau dia itu tidak sepertiku... jadi aku membawanya kemari" ucap Vano sambil berjalan mendekati dokter Al yang diikuti dari belakang oleh Xia
"Apa yang mereka bicarakan sih" gumam Xia yang kesal karena tidak mengerti
__ADS_1
Vano memerintahkan Xia untuk duduk, Xia pun hanya menurut dan duduk di depan dokter Al tanpa membuat drama
Dokter Al yang melihat luka Xia pun merasa heran "Bagaimana kau bisa sampai terluka seperti ini?" tanya dokter Al santai
"Em... aku menyenggol nenek bermuka dua yang berada di mansion tuan Zee, Alhasil Vas bunga di sampingnnya pecah dan mengenaiku" ucap Xia jujur
"Apaaaa?, kau melakukannya dengan sengaja lagi, apa kau....?" tanya Vano yang sedikit terkejut namun langsung diam saat dokter Al memotong pertanyaannya
Dokter Al yang terkejut dengan ucapan Xia, mulai memiliki ide untuk menjahilinya "Apa kau tau harga 1 Vas di mansion itu?" tanya dokter Al sambil menaruh obat dan sedikit menjahit luka Xia
"Tidak" ucap Xia enteng
"Hidupmu, tidak akan bisa membayar 1 Vas bunga itu" ucap Dokter Al menakuti Xia, tanpa melihat ekspresi Xia yang sudah sangat tidak enak dipandang
"Haaaaa?, mampus aku, bagaimana jadinya sekarang?, seharusnya aku berfikir dulu sebelum melakukannya, apa yang harus aku katakan pada tuan Zee" gumam Xia yang merubah ekpresinya karena ketakutan, sambil menepuk bagian samping kepalanya beberapa kali
Otak kecil Xia langsung bekerja setelah mendengar ucapan dokter Al, jika hidupnya saja tidak bisa membayarnya, maka vas bunga itu sangatlah mahal
"Jadi, apa alasanmu melakukan itu?" tanya dokter Al yang kini mulai panasaran, saat dokter Al melihat wajah Xia, ia sangat ingin tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajahnya itu
Xia menceritakan kejadian yang terjadi pada Quirin, dokter Al yang mendengar hanya merespon dengan anggukkan tanda mengerti, Vano hanya diam dan menatap Xia yang sedang bercerita dengan membuat berbagai ekspresi wajah, hal itu terlihat menggemaskan bagi Vano
"Bagus, kau boleh memecahkan 100 Vas di rumah itu" ucap dokter Al sedikit memberi dukungan
"Maaf?" tanya Xia heran sambil memiringkan kepalanya dan mengernyitkan dahi
"Sebelum kemari, apa kau bertemu dengan Zee?, apa dia sempat memarahimu?" tanya dokter Al sambil berkutat mengobati tangan Xia
"Ya, aku bertemu dengannya, tapi dia hanya diam" jawab Xia
__ADS_1
"Ok, aku akan mendukungmu, kalau kau butuh ide, datang saja padaku!" tegas dokter Al sambil tersenyum, ia mengerti betul bahwa Zee sudah pasti akan mengetahui semua kejadian yang ada di mansionnya, karena mansion itu di lengkapi dengan cctv, artinya Zee sendiri tidak keberatan dengan perlakuan Xia terhadap maid di mansionnya itu
"Selesai, jangan lupa kalau lukamu tidak boleh terkena air" ucap dokter Al yang menulis resep untuk Xia
"Em... dokter, ada yang ingin aku tanyakan, apakah orang yang baru saja keluar itu sakit?" tanya Xia penasaran
"Dia hanya kelelahan, dokter peribadinya sedang ke luar kota, jadi untuk sementara ini, aku yang akan menggantikan dokter itu untuk merawatnya" ucap dokter Al santai, tidak mungkin ia memberitahukan kondisi pasien, karena itu bisa melanggar sumpahnya sebagai dokter
"Apa kau mengenalnya?" tanya dokter Al sambil melihat Xia
"Apa?, ah tidak" ucap Xia gugup sambil mengangkat tangannya dan menggoyangkan kekiri dan kenan
"Apa aku harus memberitahukan apa yang telah kulihat hari ini padanya?" batin Xia yang menunduk diam sambil berfikir
"Ini resepnya" ucap dokter Al yang tidak memperpanjang dan memberikan resep pada Xia
Bersambung.....
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
__ADS_1
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏