
Darla berteriak sangat keras sehingga membuat suaranya bergema diseluruh lorong, keempat orang itu begitu terkejut ketika mendengar teriakan Darla.
Mereka menoleh bersamaan lalu melihat kearah Darla "semua ini salahmu!" teriak Darla sambil berusaha untuk duduk.
Setelah duduk ia terpaksa harus bergerak menyeret bokongnya karena jika kakinya digerakkan maka terasa sangat menyakitkan.
"Wanita j*lang!, untuk apa kau berada disini?, kau senang melihat keadaanku yang sekarang bukan?" teriak Darla dengan mata yang ingin keluar dari tempatnya.
Darla berteriak sambil menyeret tubuhnya mendekati jeruji.
Para pria sangat geram dengan ucapan yang dilontarkan oleh Darla, ketika Vano ingin melangkahkan kakinya sebuah tangan melentang lurus menghalangi Vano.
"Biarkan ini menjadi urusannya" ucap Zee melihat kearah Darla.
Vano menganggukkan kepalanya, kaki yang ingin melangkah ia kembalikan kebelakang dan sekarang berdiri tegak bersama Zee dan sang dokter.
Quirin menatap Darla dengan datar "siapa yang kau sebut j*lang?" tanya Quirin dengan dingin
Darla masih menyeret tubuhnya, setelah sampai ia langsung memegang jeruji itu dan memunculkan wajahnya lalu berteriak dengan amarah mengebu-ngebu "kau tidak mengerti?, atau kau berpura-pura bodoh?" teriak Darla
Didekat mereka terdapat lampu yang sedikit redup sehingga ketika Darla menempelkan dirinya pad jeruji membuat mereka semua bisa melihat dengan jelas.
Quirin menampilkan ekspresi terkejut, ia melihat banyak perubahan yang terjadi pada Darla, wajah yang dulu sangat mulus kini terdapat goresan-goresan panjang.
Begitu juga dengan anggota tubuh lainnya, tubuh yang dulu berisi kini terlihat sangat kurus dan juga kaki yang terlihat putih serta mulus kini terdapat luka tusukan yang sangat dalam, bahkan kakinya juga mendapat sayatan yang sangat banyak, semua terlihat begitu jelas dimata Quirin.
Saat baru sampai, ia hanya bisa melihat Darla menatapnya dengan tajam dengan rambut yang terurai, karena ruangan itu terlihat sangat gelap sehingga membuat Quirin tidak bisa melihat dengan jelas.
"Terkejut?, buang semua itu, bukankah kau sangat senang melihat keadaanku seperti ini?, sekarang lihatlah dengan puas!, kau sungguh sangat bahagia bukan?" teriak Darla
__ADS_1
Mendengar apa yang dilontarkan Darla, Quirin dengan cepat mengubah ekspresinya kembali menjadi datar.
Darla mulai menatap Quirin dari ujung rambut hingga kaki "aku sangat iri denganmu, bagaimana cara kau menggoda tuan muda, apa kau memaksanya untuk tidur denganmu?, kau pasti menggoda tuan muda dengan tubuhmu itu bukan?" teriak Darla
Zee yang mendengar itu mengeram marah, seketika ruangan itu terasa sangat dingin, aura membunuh begitu sangat kental, Quirin yang merasakan itu langsung menoleh kearah Zee.
"Ini urusanku, jadi simpan lah semua tenagamu" ucap Quirin sambil tersenyum manis kearah Zee, lalu menatap Darla kembali
Zee langsung melirik kearah Quirin, rasa amarahnya sirna ketika melihat senyum manis yang ditunjukkan untuknya.
"Ck, baru pertama kali aku melihat tuan muda menurut pada wanita lain, aku sangat penasaran kemampuan apa yang dimiliki wanita ini, apa benar yang dikatakan Darla kalau wanita ini menggoda tuan muda menggunakan tubuhnya?, jika itu benar, maka aku tidak akan segan membuatnya menjadi eksperimenku" batin sang dokter sambil menyeringai
Vano yang berdiam menatap Darla kini melirik kearah sang dokter "jangan pernah berpikir untuk menjadikannya eksperimen gilamu, karena dia tidak seperti yang kau pikirkan" ucap Vano dengan pelan
Sang dokter memutar tubuhnya dan menatap lekat Vano "apa kau mengetahui apa yang aku pikirkan?" tanya sang dokter
"Kita sudah berteman lama, jadi aku bisa membaca semua pikiran kotormu, jangan sekali-kali membuat nona marah, aku memperingatkanmu karena kau temanku"
Interaksi mereka tidak didengar oleh Quirin karena teriakan dari darla membuat Quirin sangat fokus mendengarnya "mulutmu itu sangat beracun, awalnya aku merasa kasihan padamu, tapi sepertinya itu tidak perlu, karena kau tidak pantas untuk dikasihani" ucap Quirin dengan datar
"Sepertinya kau yang pantas berada disini, mengasihaniku?, apa itu sebuah lelucon?, kau yang memasukkanku kesini tapi kau juga yang mengasihaniku?, apa kau mengira aku bodoh?" teriak Darla dengan amarah yang mengebu-ngebu
"Aku bahkan tidak mengenalmu, bukankah kau yang memulai peperangan ini" tanya Quirin dengan guratan-guratan yang keluar dari tangannya
"Tapi yang memasukkan dia bukan aku, melainkan Quiran, tidak mungkin aku mengatakan itu padanya" batin Quirin
"Semua salahmu, karena kau telah merebut tuan muda dariku" teriak Darla tidak terima
Quirin tidak habis pikir, wanita didepannya ini sungguh tergila-gila dengan Zee, bukankah jika pria tidak menanggapinya maka mereka harus mundur sendiri?, tapi tidak dengan darla, ia begitu mengejar Zee hingga dirinya berakhir di tempat menjijikkan seperti ini.
__ADS_1
"Terserah, kau memang pantas berada disini, jika perlu habiskan saja sisa umurmu dibalik jeruji ini" ucap Quirin dengan nada meremehkan
Darla yang mendengar itu semakin marah "aku tidak rela menghabiskan sisa hidupku disini dan aku juga tidak akan mengampuni" teriak Darla dengan mata yang membulat sempurna.
Ia berbicara dengan berteriak-teriak, karena penderitaan yang dialaminya adalah perbuatan Quirin.
"Lihat saja, jika aku bebas, maka aku akan membuat semua orang yang berada di sekelilingmu pasti menderita, aku akan membunuh seluruh keluarga bahkan temanmu"
"Dan kau dokter gila ... aku akan membalas semua perbuatanmu padaku" teriak Darla dengan sekuat-kuatnya sampai ia tersengal-sengal
"Ck, membalasku?, apa kau mampu?" tanya dokter meremehkan
Kebencian semakin dalam semenjak ia dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa lalu dokter gila itu bahkan melakukan eksperimen yang mengerikan untuknya sehingga membuat tubuh yang dirawat sepenuh hati telah hancur begitu saja.
"Aku pasti akan membuat kalian semua menderita, kesialan ku ini disebabkan oleh mu!, jika saja kau tidak ada, maka saat ini aku sudah bersama dengan tuan muda!" teriaknya lagi sambil menunjuk kearah sang dokter dan Quirin.
Quirin benar-benar kehilangan kesabaran, garis batasnya telah di sentuh, siapapun tidak boleh mengatakan hal yang paling dia benci.
"Apa kau sudah selesai mengoceh?" tanya Quirin dingin sambil menurunkan tangan yang sedang menutup hidungnya
Darla menatap Quirin dengan dalam "berikan kuncinya padaku" ucap Quirin datar sambil membuka tangannya seperti menampung sesuatu.
Sang dokter langsung memberikan kunci itu pada Quirin, lalu ia melihat sekelilingnya, disana banyak terdapat alat-alat medis yang masih terlihat mulus dan tajam.
Quirin mengambil beberapa pisau, suntikan bahkan tidak lupa mengambil cairan alkohol dengan konsentrasi tinggi.
Quirin membuka jeruji dengan satu tangan, lalu tangan lainnya memegang beberapa alat.
Darla begitu terkejut melihat benda-benda yang membuatnya kesakitan selama ini di bawa oleh Quirin.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan?, jangan masuk kesini!" teriak Darla sambil mundur dari jeruji
Bersambung ...