
Beymi tidak menyangka bahwa di seluruh tubuh anaknya terdapat banyak luka sayatan, pakaian yang di kenakan Jeslyn juga terlihat terkoyak hingga memperlihatkan bentuk tubuh Jeslyn.
Beymi buru-buru menutupi tubuh anaknya dengan cara mengoyak rok yang sedang di kenakan nya.
"Jeslyn!"
"Jeslyn"
Beymi berteriak dengan air mata mengalir dan sambil menggoyangkan tubuh kaku Jeslyn.
Namun tidak ada jawaban dari Jeslyn, Beymi pun menangis sekuat-kuatnya. Rasa sedih itu menyelimuti hatinya.
Kini, anak perempuan yang sangat di sayangi telah meninggalkannya, tapi kesedihan Beymi tidak mampu mengubah isi hati Quirin dan lainnya.
"Arggghhh"
"Maafkan ibu!"
"Kenapa kau meninggalkan ibu, Jeslyn!"
Beymi berteriak dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Quirin dan yang lainnya tidak menunjukkan reaksi apapun, mereka bahkan menatap Beymi dengan tatapan sinis.
Berbeda dengan Max, ia justru terkejut melihat kondisi tubuh Jeslyn yang sudah tersayat-sayat, bahkan Quirin tidak memakaikan Jeslyn pakaian baru sehingga mata semua para pria itu ternodai, terkecuali Zee, ketika Beymi membuka kotak itu, Zee memilih untuk menatap ke arah Quirin.
"Ugh!, mataku benar-benar ternodai" batin Al kesal
"Kenapa aku harus melihat pemandangan menjijikkan ini" batin Xeno
Xeno baru saja berhasil menyusul mereka semua, ia berjalan dengan tergopoh-gopoh Karen tendangan Quirin benar-benar membuat Xeno tidak leluasa bergerak.
__ADS_1
Max tidak menyangka bahwa Quirin akan menyiksa seseorang dengan sangat kejam, ia juga merupakan seorang pembunuh, tapi cara kerja Max sama seperti Vano dan yang lainnya.
"Bagaimana bisa dia sekejam itu?, aku sungguh bertanya-tanya, apakah dia sungguh seorang wanita?, karena biasanya wanita suka berdandan dan memasak, tapi kenapa yang aku lihat adalah seperti seorang wanita pencabut nyawa?" batin Max.
Beymi menangis tersedu-sedu, seketika itu juga, ia menoleh dan menatap Quirin dengan tatapan tajam. Mata itu mengeluarkan kilatan amarah yang dan memperlihatkan kebenciannya.
"Kenapa kau begitu kejam padanya?, dia tidak memiliki masalah apapun padamu!" teriak Beymi dengan berderai air mata sambil memeluk jasad Jeslyn.
Quirin mengernyitkan dahinya "kau yakin?, bukankah karena keserakahannya kau malah menerima tugas yang di berikan Calis dan juga Wiliam?" tanya Quirin dengan dingin.
Calis yng mendengar itu tampak diam, ia ingin bersuara tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan suaranya itu.
Benar, awal mula kejadian itu adalah karena Jeslyn terus memarahi Beymi dan karena merasa sudah tidak tahan dengan amarah putrinya, Beymi menjadi kehabisan akal dan langsung menyetujui perintah Calis dan Wiliam.
Mereka semua tidak menyangka bahwa anak luar justru mampu memicu konflik di dalam kediaman Alister.
Beymi melepaskan pelukannya dari jasad Jeslyn, lalu ia mendongakkan wajahnya dan menatap kearah Quirin, keduanya pun saling melempar tatapan tajam. Tapi Quirin justru tidak memperdulikan nya, ia bahkan tidak memiliki rasa takut sedikitpun sekaligus menaik turunkan kedua bahunya itu dengan tatapan remeh.
"Apa kau merasa marah sekarang?" tanya Quirin dengan senyuman sinis.
Beymi tampak diam dan tetap menatap Quirin dengan tajam, mata itu terlihat memerah dan terus mengeluarkan air mata, sekarang, ia tidak tau harus berbuat apa karena melihat anaknya sudah tak bernyawa lagi.
Quirin yang melihat tatapan kebencian itu pun tertawa terbahak-bahak "haha ... lihatlah ekspresi mu itu, bukankah itu sangat lucu?," ucap Quirin di sela tawanya.
Semua orang mulai terbiasa dengan tawa menyeramkan yang keluar dari mulut Quirin, tapi tidak dengan Max, ia masih terkejut karena Quirin terus memberinya banyak kejutan.
"Nona, kau benar-benar sangat tidak cocok seperti itu, jadi berhentilah tertawa" batin Arnius.
"Aku benar-benar takut ketika mendengar nona tertawa seperti itu" batin satin
"Ck, non sangat menyebalkan, dia memiliki hobi yang membuat orang bergidik ngeri" batin Vano
__ADS_1
Dan benar saja, Max yang baru bergabung minat tawa Quirin langsung bergidik ngeri.
"Mengerikan sekali" batin Max.
"Bukankah aku sudah memperingati mu?, tapi kau justru mengabaikan peringatan ku. Sekarang aku ingin bertanya padamu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau sayangi?" tanya Quirin dengan sorot mata yang tajam.
Beymi tampak terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Quirin, karena dadanya seakan ingin meledak karena dunia yang sangat disayanginya kini telah meninggalkannya sendirian.
Pikiran Beymi perlahan-lahan tertuju pada Arcy.
"Kau!, manusia yang tidak tau diri!, jika saat itu ibu tidak menyelamatkanmu maka kau tidak akan bisa menikmati hidup mewah di rumahku seperti sekarang ini" ujar Quirin dengan menggeretakkan giginya.
Beymi tidak terima ketika Quirin memberinya julukan manusia tidak tau diri. "Saat itu aku benar-benar kesulitan, aku bahkan tidak memiliki pilihan kedua" bantah Beymi dengan berteriak sambil meneteskan air matanya.
"Waw, tidak memiliki pilihan?, apa kau bercanda?, dalam rekaman itu kau bahkan sangat senang menaruh obat itu dalam minuman ibu, apa itu yang sedang kau sebut tidak memiliki pilihan kedua?" ucap Quirin dengan menggeretakkan giginya.
"Mereka memaksaku melakukannya karena saat itu anakku sedang sakit, dan gaji yang diberikan oleh nyonya Arcy tidak bisa menutupi biaya Pengobatan Jeslyn" teriak Beymi dengan berani.
Calis yang mendengar ucapan Beymi menjadi sangat kesal dan wajahnya berubah menjadi marah. Kini mereka semua tau bahwa dalang dibalik kematian nyonya Alister adalah Calis.
"Lalu kau dengan seenaknya membunuh majikan yang sudah membantu mu keluar dari penderitaan?" tanya Quirin dengan mengernyitkan dahinya.
Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada manusia yang sangat tidak tau berterimakasih seperti Beymi, bahkan dia mengatakan tidak memiliki pilihan kedua seolah dia hanya memiliki satu pilihan. Padahal kenyataannya, dia masih memiliki pilihan lain tapi dirinya justru memilih jalan pintas.
Di dunia ini, pasti ada yang namanya dua pilihan, yang pertama adalah menerima, dan yang ke dua adalah tidak menerima.
Jika saat itu Beymi tidak menerima tawaran itu lalu memilih memberitahukan pada Arcy, pasti sampai saat ini Arcy masih hidup dan masih berada di samping Quirin.
Tapi, Beymi justru mengambil pilihan pertama sehingga ia lupa masih memiliki pilihan kedua.
Quirin melihat Beymi tampak menunduk diam, ia pun sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya itu "kau tidak memiliki pilihan kedua?, maka, aku juga memiliki jawaban yang sama. Aku tidak memiliki pilihan untuk tidak membunuhnya. Mata di balas mata dan gigi di balas gigi!, itulah prinsip ku!" ucap Quirin dengan tegas sambil menendang kotak besar itu dengan kuat sehingga isi yang ada di dalam kotak itu terseret keluar.
__ADS_1
Bersambung ...