
Pria itu tidak terima dengan perkataan Quirin, ia mengeram marah "kau!" ucap pria itu sambil berdiri dan menatap Quirin dengan wajah memerah.
Perdebatan keduanya hanya bisa di lihat oleh orang-orang yang ada di ruangan itu. Zee membiarkan Quirin berbicara sesukanya. ia tidak berniat membantu Quirin berbicara karena jika Zee ikut terlibat maka sudah di pastikan Quirin akan langsung marah padanya.
"Kau tidak terima?, artinya sekarang kau tidak berniat bertunangan dengan ku kan?" tanya Quirin dengan senyum di bibirnya
Pria itu memikirkan perkataan Quirin, ia seperti memiliki ide licik lalu mengatur nafasnya pelan "kedua keluarga kita sudah membuat perjanjian saat kita masih kecil, kau tidak bisa membatalkannya begitu saja" bantah pria itu sombong sambil melipat kedua tangannya.
Pria itu masih menahan Quirin dengan perjanjian itu, tapi diluar dugaan Quirin justru mulai mengubah tatapannya, ia memperlihatkan tatapan dingin serta dengan senyuman yang luntur "aku tidak perduli, karena semua yang mereka lakukan bukanlah kemauanku, jika kau masih menuntutnya maka nona kedua keluarga Alister akan bersedia bersamamu" ucap Quirin sambil melirik kearah Lura yang tengah asik memandang Zee
Lura yang merasa ada yang menyebut namanya langsung menjawab dengan spontan "Iyaa ..." jawab Lura sambil menatap Zee
Semua anggota keluarga Alister menoleh kearah Lura, tidak terkecuali Grizo "Lura!, apa yang kau katakan!" teriak Calis dengan marah
Lura langsung tersadar, ia melihat seluruh anggota keluarga kini tengah menatapnya "a-apa?!" ucap Lura dengan gugup
"Kena kau" ucap Quirin tersenyum licik
Lura merasa sedikit aneh, karena mereka memandanginya dengan tatapan penuh tanya "Ibu, aku tidak berkata apapun" ucap Lura sambil menggelengkan kepalanya
"Kau sudah setuju untuk menggantikanku bertunangan dengan pria ini" ucap Quirin sambil menunjuk kearah pria itu dengan santai
Lura begitu terkejut karena ia sendiri tidak ingat telah menjawab apa "ti ... tidak kakak, aku tidak bisa mengambil apa yang sudah menjadi milik kakak" ucap Lura dengan panik sambil mengayunkan kedua tangannya
"Karena kau begitu baik hati tidak ingin merebut, berarti Zee tetaplah milikku" ucap Quirin tersenyum sinis
"A-apa!?" ucap Lura tersentak sambil menatap Quirin. ia tidak tau harus berbuat apa sekarang, bahkan ia sendiri tidak tau tadi sudah berkata apa sehingga bisa membuat semua keluarga menatapnya.
"Kau baru saja mengatakan bahwa kau tidak bisa mengambil apa yang sudah aku miliki, kau sendiri yang mengatakan itu, bahkan semua orang disini mendengarnya" ejek Quirin
"Aku tidak ingin menikah dengan pria ini, jadi kenapa tidak kau saja yang menggantikan aku bertunangan dengannya?, dia sangat ingin masuk kedalam keluarga Alister bukan?, jadi Lura adalah pilihan terbaik" lanjut Quirin tersenyum licik
Lura yang tidak tau apa-apa menatap semua orang dengan binggung.
"Anak bodoh ini selalu merusak semua rencanaku" batin Calis mengeram marah
"Dia sungguh membuatku pusing" gumam nenek sambil memijit kepalanya
Grizo sendiri terdiam tidak tau harus melakukan apa, ia sungguh ingin mengakhiri pembicaraan yang tidak berujung ini.
"Adikmu tidak seperti itu Quirin, jika dia bertunangan dengan tunangan kakaknya, apa kata orang?, reputasi keluarga ini akan hancur" bela Calis dengan sekuat tenaga
"Jika dia tidak ingin membuat reputasi keluarga ini hancurlr, maka dia juga tidak bisa merebut Zee dariku, karena kami akan melangsungkan pertunangan" balas Quirin dengan suara keras
__ADS_1
"Keluarga ini sangat menarik, banyak sekali celah yang bisa aku manfaatkan" batin Clamy
Sementara itu Clamy tengah mengamati semua perdebatan yang ada, seolah-olah perdebatan keluarga itu begitu menarik untuknya.
Nenek mengamati semua orang yang berkumpul, matanya mengarah pada Clamy, ia melihat Clamy tengah mengamati mereka dengan senyum liciknya "sudah cukup Quirin, kau jangan seperti ibumu yang keras kepala, kita akan membahasnya di lain waktu, aku sudah lelah mendengar perdebatan kalian" ucap sang nenek sambil memijit pelipisnya
Calis tersenyum senang melihat ibu mertuanya selalu membantunya untuk menyingkirkan Quirin "bagus nenek tua, setelah mendapat dukungan darimu, aku berharap Quirin secepatnya keluar dari rumah ini, dengan begitu Lura bisa menguasai seluruh harta keluarga Alister" batin Calis senang
Quirin mengepalkan kedua tangannya "jangan pernah membawa ibuku keberbagai hal, kau benar-benar menguji kesabaranku, lagipula kau tidak perlu mendengarnya lagi, karena ini keputusan terakhirku, aku akan tetap bersama Zee, jika kalian masih bersikeras menyuruhku bersama dengan pria ini, maka aku sendiri yang akan menggagalkannya" ucap Quirin dengan lantang sehingga membuat semua orang terkejut mendengar suaranya itu.
Sang nenek membulatkan matanya dengan sempurna karena setelah bertahun-tahun telah terlewati, ini pertama kalinya dia mendapat penghinaan didepan orang banyak dan yang melakukan itu tidak lain dan tidak bukan adalah cucunya sendiri.
Quirin tidak memperdulikan tatapan sang nenek, ia lebih memilih berjalan mendekati pria itu lalu mendekatkan wajahnya disamping telinga pria itu "dan ini untukmu, aku sudah menolakmu berkali-kali tapi kau masih tetap bersikeras mengikatku, aku berbaik hati memberitahumu sebuah rahasia besar ... aku bukanlah Quirin yang dulu, jadi jangan pernah mengusikku lagi, jika kau melewati batas mu, berhati-hatilah karena aku tidak berperasaan" bisik Quirin dengan suara dingin tersenyum smirk
Pria itu membulatkan matanya, seluruh tubuhnya seakan seperti mematung serta dengan mulut yang terbuka lebar, suara Quirin seolah seperti jarum yang menusuk seluruh tubuhnya.
Quirin menjauh, ia sedang menahan amarah yang kini menguasainya "aku tidak akan mematuhi ucapan kalian lagi, ingat apa yang aku katakan ini, sekarang kalian bisa lolos dengan mudah, tapi lain kali jangan berharap bisa lolos begitu saja, perdebatan ini aku akan membalasnya berkali-kali lipat" ucap Quirin sambil mengajak Zee berdiri untuk meninggalkan mereka
Grizo mendengarkan semua yang di utarakan oleh Quirin tapi dirinya tidak mengerti arti semua perkataan Quirin.
"Apa maksudnya?, aku sama sekali tidak mengerti, apa aku sudah melewatkan sesuatu" batin Grizo mengerutkan alisnya sambil menatap Quirin
Sebelum pergi, Quirin melihat kearah Zee "apa keputusanmu tetang kerja sama keluarga kita?" tanya Quirin dengan datar pada Zee
Seluruh anggota keluarga menatap kearah Zee dengan wajah berbelas kasih, tapi Zee tidak memandang kearah mereka, ia seakan tidak perduli dengan orang-orang itu.
"Tidak ada" ucap Zee sambil berjalan meninggalkan semua anggota keluarga yang sedang tercengang.
"Benar-benar susah di tebak" gumam Quirin sambil menggelengkan kepalanya. ia sedikit sudah mengetahui langkah apa yang akan di ambil Zee sehingga dia tidak terlalu terkejut dengan keputusan Zee.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bernafas lega, karena Zee tidak mendengarkan saran yang di berikan oleh Quirin.
Sedangkan Quirin mengantar Zee sampai didepan pintu rumah, lalu ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan menaiki anak tangga.
Setelah menaiki beberapa tangga, Quirin berhenti dan melihat kearah Clamy "sampai kapan kau berdiri disana?, aku sangat lelah dan butuh istirahat" ucap Quirin dengan datar
Clamy tersentak kaget dan berlari kearah Quirin, keduanya melangkah naik dan mencari kamar kosong untuk Clamy.
Clamy mengikuti langkah Quirin dari belakang, ia menoleh kekanan dan kekiri untuk melihat-lihat "keluarganya benar-benar sangat kaya, tapi sebentar lagi aku akan membuat mereka semua berdiri dipihakku dan kau akan di tendang oleh keluargamu sendiri" batin Clamy tersenyum licik
Quirin berbalik dan seketika wajah Clamy kembali kebentuk semula "kau bisa menggunakan kamar ini, ah satu lagi karena semua maid disini sedang cuti, jadi jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa bertanya pada bibi dan jangan menggangguku" ucap Quirin lalu meninggalkan Clamy begitu saja tanpa menunggu jawabannya.
"Sombong sekali dia, lihat saja, aku akan menyingkirkanmu" gumam Clamy lalu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah memasuki kamarnya, Quirin berjalan kearah balkon untuk menghirup udara segar, Quirin memandang keatas, ia melihat pemandangan langit yang indah. setelah bosan melihat keatas Quirin menurunkan pandangannya lalu matanya menulusuri seluruh taman dari balkon.
Dari kejauhan ia tidak sengaja melihat seorang pria paruh baya mencoba menyelinap masuk kedalam rumahnya.
Quirin sedikit menyipitkan matanya dan ternyata ia mengenal orang tersebut "sungguh kebetulan, aku benar-benar harus melampiaskan semua amarah yang sudah menumpuk ini" gumam Quirin sambil mengepalkan tangannya.
Quirin melihat kebawah untuk memastikan seluruh dinding, disana terdapat celah kecil yang bisa diinjak. ia kemudian turun dengan memegangi celah-celah dinding dan salah satu kakinya menginjak celah yang tidak terlalu besar dan langsung melompat kebawah.
Quirin melompat tanpa menimbulkan suara, ia segera berlari dan bersembunyi dibalik pohon
"jika dipikir lagi kehidupan keluarga ini sungguh sangat lucu, berani sekali mereka memimpikan hal yang tidak mungkin terjadi" gumam Quirin dengan senyum smirk
Pria paruh baya itu melihat kekanan dan kekiri, setelah merasa cukup aman, ia berbalik untuk meninggalkan taman dan berjalan menuju sudut taman.
Belum sempat pria paruh baya itu melangkah jauh, tiba-tiba tubuhnya terpental mengenai dinding.
Arghhhhhhhh
Benturan serta suara yang begitu keras membuat kaget seluruh keluarga yang masih berada di dalam ruangan, mereka dengan cepat bangkit dan berjalan kearah taman, tapi mereka tidak menemukan apapun.
Ternyata Quirin dengan cepat langsung menarik kaki penyusup itu untuk bersembunyi "kalau kau tidak bisa diam, aku dengan senang hati akan melempar pot besar ini kewajahmu" ucap Quirin pelan namun dengan aura yang sangat menakutkan.
Pria paruh baya itu masih tidak menyangka jika yang menendangnya adalah nona besar keluarga Alister, bahkan ia bisa merasakan seluruh tubuhnya sakit akibat dari benturan itu "no-na" pria paruh baya itu terbata
"Lama tidak bertemu paman W-i-l-i-a-m" ucap Quirin sambil mengeja nama pria itu
"Atau aku harus menyebutmu ayah biologis adikku?" tanya Quirin dengan wajah mengerikan
Wiliam yang masih berada ditanah merasa terkejut, ia tidak menyangka bahwa apa yang di katakan Calis benar adanya, Calis mengatakan bahwa Quirin telah berubah tidak seperti dirinya yang lemah dan polos.
"Bagaimana nona bisa mengetahui rahasia itu?" batin Wiliam panik
"Aku tidak mengerti apa yang nona katakan" bantah Wiliam dengan wajah panik sambil menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya.
"Paman, jangan membuatku tertawa, aku sudah mengetahui rencana dari keluarga kecil kalian" ucap Quirin sambil menginjak dada Wiliam
Arghhhhhh
Sebelum menimbulkan masalah baru, Quirin mencabut segenggam daun dan memasukkan paksa kedalam mulut Wiliam "hari ini keluargamu benar-benar membuatku marah, jadi sekarang apa aku harus melampiaskan amarahku ini padamu saja?" tanya Quirin sambil menekan kakinya di dada Wiliam
Emmm
Wiliam merasakan dadanya teramat amat sakit sehingga membuatnya ingin berteriak tetapi ia tidak diizinkan bersuara karena mulutnya dipenuhi oleh dedaunan yang diambil oleh Quirin.
__ADS_1
Bersambung ...