
"Aku harus segera meminta bantuan padanya, jika tidak, maka aku akan terus berada disini dan tidak bisa kembali ke Singapura untuk membalas perbuatan adik tercintaku" gumam Quirin
Ia mencoba menekan handle pintu, hanya sekali saja sudah bisa membuat pintu itu terbuka "Tidak dikunci?" batin Quirin
Quirin memasukkan kepalanya sedikit bermaksud untuk mengintip, lalu mengedarkan pandangannya kesemua arah.
Ia melihat ruangan yang sangat luas serta perpaduan dengan warna hitam dan putih, siapapun yang melihatnya akan merasa sangat terpesona.
Quirin begitu terkejut melihat ruangan Zee tertata dengan sangat rapi "Luar biasa, ini pengalaman pertamaku memasuki kamar pria" gumam Quirin sambil memasuki seluruh tubuhnya kedalam ruangan
Selangkah demi selangkah membuatnya masuk semakin dalam, ruangan itu sangatlah luas "Kamarnya sangat besar" gumam Quirin dengan mata berbinar
Quirin melihat satu rak buku tertata dengan rapi, ia mulai mendekat dan memegangi satu persatu buku itu "Dia mirip seperti diriku yang yang dulu, selalu mengoleksi buku-buku bisnis" gumam Quirin
Tangan Quirin terhenti di sela-sela buku, Ia seperti samar-samar mendengar sesuatu. Quirin langsung mencari arah sumber suara itu.
Ia mendapati Zee sedang tertidur pulas, dengan langkah perlahan Quirin mendekati tempat tidur itu sambil melihat dengan seksama
Mata yang tadinya biasa saja kini membulat dengan sempurna, ia melihat Zee penuh dengan keringat "Ada apa dengannya?" batin Quirin sambil duduk disamping tempat tidur lalu mengecek dahi Zee
"Demamnya sangat tinggi" gumam Quirin panik
Quirin berlari kekamar mandi, ia dengan segera mengambil air dan juga kain, Quirin yang tidak mengetahui dimana letak kain itu, bergegas berlari kesana kemari dan mencarinya di lemari Zee
Setelah mendapati kain yang di inginkan, Quirin langsung membasahi kain itu lalu menaruhnya di dahi Zee.
Tidak sampai disitu, Quirin segera keluar kamar, ia turun dengan tergesa-gesa dan berlari kearah dapur
Disana terlihat para maid sedang sibuk menyiapkan makanan, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat, terlihatlah seorang wanita dengan nafas tersengal-sengal
"Siapa kamu?, bagaimana kamu bisa masuk kesini?" tanya seorang maid dengan nada sinis
__ADS_1
Quirin mengambil nafas dalam-dalam, ia melirik dengan sinis "Kekasih Zee " ucap Quirin dengan cuek
Semua mulut para maid menganga lebar, termasuk Alica, tidak biasanya sang tuan muda membawa seorang wanita kedalam mansion.
"Kekasih?" batin Alica terkejut
"Tidak mungkin tuan muda mempunyai kekasih" ucap maid itu
"Benar, tuan muda tidak mungkin memiliki seorang kekasih, karena tuan muda tidak pernah berpacaran dengan gadis manapun" ucap maid lainnya
Para maid tidak melihat sewaktu Quirin dirawat dimansion itu, karena mereka semua mengambil cuti hanya tersisa Nevy seorang, dan para maid lainnya mengontrol Darla dirumah sakit jiwa
"Apa aku bisa meminjam dapurnya?" tanya Quirin pada maid yang lain
"Silahkan nona, tapi untuk apa nona meminjam dapur?" tanya Alica dengan sopan
Quirin tidak menjawab pertanyaan Alica, sebaliknya ia malah bertanya pada yang lin "Apa kalian tidak mengetahui jika Zee sedang sakit?" tanya Quirin dengan sedikit heran sambil melewati para maid lalu memulai mengambil bahan-bahan yang sudah ada didepan matanya
"Apaaa?!" teriak semua maid yang ada disana dengan serempak dengan mata yang mengikuti tubuh Quirin
Semua maid terlihat hanya diam, mereka sedikit takut dengan tatapan Quirin, namun berbeda dengan maid yang satunya, ia terlihat geram karena Quirin bisa mengontrol para maid lainnya, padahal Quirin bukan siapa-siapa didalam mansion.
"Bagaimana kau bisa mengetahui jika tuan muda sakit?" tanya maid itu dengan sinis, ia berdiri tepat di hadapan Quirin
Quirin terlihat sangat kesal, dimana dirinya berdiri maka saat itu juga akan selalu ada musuh "Aku tidak perlu melaporkan apapun padamu!" ucap Quirin dengan menatap maid itu dengan tajam
"Kau!" teriak maid itu dengan kesal
"Aku yang mengecek suhu tubuhnya, apa kau memiliki masalah?" tanya Quirin sambil melipat kedua tangannya
"mengeceknya langsung?, bagaimana bisa?" batin Alica dengan penuh tanda tanya
__ADS_1
"Tidak sembarang orang bisa memasuki kamar tuan muda ..."
"Termasuk kau, pasti kau tidak diizinkan masuk oleh Zee" ucap Quirin dengan sombong sambil mengarahkan satu jarinya pada maid itu
"Keterlaluan!"
Alica yang mendengar itu langsung menengahi mereka, meski merasa takut dengan tatapan Quirin, ia tetap tidak ingin ada keributan dimansion, karena tuan mudanya tidak menyukai itu "Maafkan kami nona, kami tidak mengetahui jika tuan muda sakit, karena kami dilarang memasuki kamar tuan muda" ucap Alica dengan hati-hati
"Apa-apaan kau Alica!, Tidak perlu meminta maaf pada wanita tidak tau malu ini" teriak Lea dengan kesal
"Apa kau sudah selesai mengoceh?, aku sedang tidak ada waktu untuk meladeni mu, lebih baik aku membuat sesuatu untuk Zee" ucap Quirin sambil memutar bola matanya dengan malas lalu mengambil bahan-bahan yang masih kurang
"Kau tidak boleh berada disini! segera pergi dari sini!" teriak Lea dengan marah, ia hendak mendekati Quirin namun Alica bertindak dengan cepat untuk menghentikan langkah Lea
"Minggir!, Wanita tidak jelas ini mengapa lolos dari penjaga gerbang?" teriak Lea lagi sambil meronta-ronta
Bersambung ...
Maaf gak bisa update setiap hari, karena author terlalu sibuk dengan kerjaan 🙏 mohon pengertiannya 🙏
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
__ADS_1
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏