
"Kakak!" panggil Jay di sela tangisnya.
Mereka bertiga menangis bersamaan, walau Rea belum pernah melihat wajah asli ataupun merasakan hangatnya pelukan bibinya itu, tapi ia cukup bisa merasakan sakitnya hati sang papa saat ini.
Dalam pelukan Amber, Rea terus menanyakan hal yang Amber sendiri tidak tau, ia bahkan terlihat binggung harus melakukan apa, karena keadaannya yang sekarang membuatnya kesulitan untuk memahami situasi.
"Mama, apa yang bisa aku lakukan?, aku tidak sanggup melihat papa menangis seperti itu, ini pertama kalinya dalam hidupku melihat papa menangis, apa papa sangat menyayangi bibi?, lalu kenapa bibi tidak menemui kita?" tanya Rea dalam pelukan Amber.
Amber membela nafas dengan pelan "maaf rea, mama tidak bisa menjawabnya, yang pasti saat ini tolong jangan tanyakan itu" ucap Amber sambil menutup kedua matanya dengan satu tangan.
Rea pun bisa merasakan air mata Amber menetes di pucuk kepalanya, ia pun semakin mempererat pelukannya pada Amber.
Tiba-tiba saja Jay terjatuh dengan lutut yang menopang tubuhnya.
Amber tersentak kaget mendengar suara yang berguru kuat, ia terkejut melihat Jay sudah bersimpuh.
"Sayang!"
Teriak Amber sambil melepaskan pelukan Rea, sedangkan Rea langsung menoleh kebelakang dan betapa terkejut dirinya melihat sang papa bersimpuh di lantai.
"Papa!"
Keduanya mendekati Jay dan berjongkok di hadapannya.
"Ini semua salah ibu, jika saja saat itu ibu tidak memaksa kakak, maka kakak pasti akan hidup sampai sekarang" gumam Jay dengan menundukkan kepalanya dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Amber yang sudah tidak tahan lagi langsung memeluk tubuh Jay, biasanya tubuh itu selalu kuat menahan goncangan yang menerjang keluarga mereka, tapi kali ini, tubuh itu bagai kapas yang sewaktu-waktu dihembuskan maka bisa menghilang kapan saja.
"Kenapa kau seperti ini, kuatkan dirimu" Amber menangis sambil mengelus punggung Jay dan mencoba menguatkan suaminya itu.
"Kakak, dia adalah satu-satunya keluargaku, selama ini kedua orang itu menjadikan kami alat bisnis, lalu kakak lah yang selalu menjadi tameng dan melindungi ku, sekarang kakak telah tiada, bagaimana bisa aku hidup" ucap Jay dengan suara bergetar.
__ADS_1
Ucapan itu membuat hati Rea bagai teriris pisau, ia tidak menyangka sang papa sangat menyayangi bibinya itu, kepergian bibinya bahkan mampu membuat sang papa yang dijuluki sebagai singa kini bersimpuh dilantai sambil menangisi sang bibi.
Air mata Jay terus menurut menetes, ia sungguh tidak sanggup hidup tanpa kehadiran sang kakak. Jika bukan karena sang kakak yang menyadarkannya, maka dia tidak mungkin memiliki keluarga yang sangat diimpikannya.
Semua yang dia dapatkan adalah hasil dari nasihat sang kakak, sedangkan sang kakak justru hidup menderita dan dirinya tidak mengetahui itu.
Sejak dulu, sang kakak terus melindunginya, dan ia pun mulai berjanji pada diri sendiri, jika kelak dirinya sudah dewasa maka ia akan melindungi sang kakak.
Dia bahkan belum melaksanakan janji itu, setelah melihat Quirin ia sedikit memiliki harapan untuk bertemu sang kakak dan melaksanakan janjinya.
Tapi semua itu hanya angan-angan belaka, ia justru mendengar kabar yang membuatnya sangat menyesal karena tidak menghalangi sang kakak dengan cara yang keras.
#Flashback On
Sejak berumur 7 tahun, Jay selalu mendapat perlakuan kasar dari teman-temannya, ia pun pulang dengan keadaan acak-acakan.
Arcy yang melihat itu merasa tidak terima, keesokan harinya, ia datang ke sekolah Jay dan membalas orang-orang itu dengan kejam.
Arcy yang berada dalam sekolah yang sama, tidak terima sang adik mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan, ia pun menghajar teman-teman Jay hingga mereka semua masuk kedalam rumah sakit.
Sejak saat itu, identitas keduanya terbongkar dan tidak ada lagi yang berani dengan mereka.
Sesampai dirumah, Arcy di marahi oleh sang ibu, Jay yang melihat itu mulai merasa tidak enak hati pada sang kakak. Ia pun memantapkan hatinya untuk menjadi kuat dan mulai melindungi sang kakak.
Tapi, hari-hari pun berlalu, Arcy tetap memenuhi kewajibannya sebagai kakak, tanggung jawabnya adalah terus melindungi Jay.
Beberapa tahun pun terlewati ...
Sepasang kakak adik duduk di Gazebo "kak, biarkan aku menjagamu, aku sudah dewasa dan sudah mampu melindungi kakak" ucap Jay dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Arcy yang mendengar itu tersenyum tipis "kau yakin sudah menjadi dewasa?" tanya Arcy menggoda sang adik.
__ADS_1
"Sangat yakin" jawab Jay dengan mantap tapi matanya mengarah kearah lain.
"Baiklah, kalau begitu kenapa kau tidak menerima Amber sebagai istrimu?" tanya Arcy sambil tersenyum.
Jay terkejut dan mulai menatap sang kakak dengan wajah memelas "kakak, dia sangat menyebalkan, lagipula aku tidak menyukainya, ibu memaksaku menikahinya karena ibu memiliki perjanjian dengan keluarganya"
"Tapi Jay, bukankah kau sangat dekat dengannya?, bahkan sedari kecil kalian berada di sekolah yang sama, kau juga sudah mengetahui sifatnya, kenapa tidak menerima dia saja?"
"Tidak kak, lebih baik aku menunggu kakak menemukan pendamping, baru aku akan menyusul kakak"
"Tidak Jay, sekarang aku masih ingin fokus pada karir ku, ingat Jay!, wanita membutuhkan kepastian, kau sudah cukup umur untuk menikah. Jika kau kehilangannya maka kau akan menyesal, jangan membuat penyesalan yang tidak berarti Jay" ucap Arcy sambil mengacak rambut Jay.
Jay tampak termenung memikirkan perkataan Arcy, sang kakak terus membicarakan pernikahannya dan disetiap akhir kalimat selalu menyelipkan kata-kata jangan membuat penyesalan yang tidak berarti.
Jay memikirkan kalimat itu dan selalu mengingat perkataan sang kakak.
Sejak saat itu Jay menerima perjodohan yang diberikan padanya, ia tidak ingin perkataan kakaknya menjadi kenyataan.
#Flashback Off
"Kakak, kalimat mu telah menjadi kenyataan, sekarang penyesalan itu telah hadir dalam kehidupanku" gumam Jay disela tangis dan mulai bersujud di lantai.
Amber pun semakin tidak kuat melihat Jay menangis. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apapun selain menenangkan sang suami.
"Sayang, jangan seperti ini" ucap amber berusaha menguatkan hatinya agar bisa menenangkan sang suami.
"Papa, aku akan membalaskan perbuatan mereka, papa tidak perlu seperti ini" gumam Rea sambil mengepalkan kedua tangannya.
Baginya, siapapun yang sudah mengusik keluarganya maka dia harus mendapat hukuman, apalagi Rea melihat dengan sangat jelas, sang papa yang selalu berdiri tegap kini bersimpuh dilantai dengan air mata yang terus mengalir dengan deras.
Bersambung ....
__ADS_1