
Xura meminta Vano untuk menunggunya di mobil, ia pun memilih kembali ke kamar dan mulai berdandan dengan rapi.
Xura mengikat rambutnya, lalu memakai hot pants putih dan kemeja biru langit, ia juga tidak lupa membawa sebuah tas dan memakai sepatu kets Putih.
Saat Xura masuk kedalam mobil, Vano terkejut melihat dandanan Xura yang terbilang begitu rapi. Namun, Vano tetap memilih diam dan mulai membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Kini, mereka berdua tengah bergerak ke rumah sakit, Vano sangat mengetahui ke rumah saki mana mereka membawa Gilma.
Di dalam mobil Xura tidak sengaja melihat sebuah benda di depannya, ia merasa benda itu akan sangat berguna untuknya, lalu Xura pun langsung mengambil benda itu dan memasukkan kedalam tasnya.
Sesekali Vano melirik kearah Xura, ia mengernyitkan dahi ketika melihat Xura memasukkan benda itu kedalam tasnya sendiri.
Vano ingin bertanya, tapi ia sungguh tidak memiliki nyali, jadi ia pun memilih diam, keduanya saling tidak ada yang mau membuka percakapan apapun didalam mobil.
Setelah mereka sampai, Vano memarkirkan mobilnya, ia dan Xura keluar dari mobil, mereka pun mulai berjalan beriringan
"Setelah bertemu dengannya, apa yang akan nona lakukan?" tanya Vano sedikit mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.
"Melakukan hal yang sangat menyenangkan" ucap Xura sambil tersenyum
Vano memutar bola matanya dengan malas, ia terlihat kesal karena setiap dirinya bertanya maka Xura selalu memberikan jawaban yang selalu membuat Vano binggung.
Saat mereka sudah masuk kedalam rumah sakit, Vano pun langsung bertanya pada resepsionis pasien dengan nama Gilma, lalu mereka pun mendapat petunjuk mengenai ruangan yang di gunakan oleh Gilma.
Ternyata, Al memasukkan Gilma kedalam ruangan VIP, dan ruangan itu berada di lantai atas.
Xura dan Vano menaiki lift, lalu saat lift terbuka, mata Xura tertuju pada satu keluarga yang tengah duduk di kursi tunggu.
"Cih, benar-benar sial!" gumam Xura lalu melanjutkan langkahnya dengan wajah datar.
Vano bahkan terkejut melihat keluarga itu kini berada di depannya, lalu ia melirik kearah Xura yang tengah berwajah datar.
Vano juga melihat Xia berada di tengah-tengah mereka, tatapan keduanya saling beradu tapi Vano langsung membuang wajahnya kesembarah arah dan tetap jalan beriringan dengan Xura.
Xia tersentak kaget ketika melihat Vano membuang pandangannya ke arah lain.
"Apa dia juga membenciku?" batin Xia yang perlahan-lahan menunduk.
Sedangkan Feryun dan yang lainnya terkejut melihat Xura berada di ruang sakit, Feryun dengan cepat berdiri dan memangil nama Xura.
"Xura" sapa Feryun.
Xura pun tidak menoleh dan tatap melanjutkan langkah kakinya. Lalu tiba-tiba saja, Xura menghentikan langkah kakinya dan ia menoleh kebelakang.
Ternyata Feryun sedang memegang tangan Xura, "bisakah kita bicara sebentar?" tanya Feryun dengan pelan.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!, kita tidak memiliki urusan lagi!" ucap Xura dengan menghempaskan tangannya dan menetap Feryun dengan tajam.
Jay yang melihat itu langsung menghentikan Feryun, ia tidak ingin ada keributan apapun di rumah sakit.
Ketika Feryun ingin mengentikan Xura lagi, tiba-tiba Jay langsung menghentikan Feryun "Lepaskan dia, Feryun" ucap Jay sambil menepuk pundak anak sulungnya itu.
Xura pun terus melanjutkan langkahnya dan tampak tidak mempedulikan mereka sedikitpun, sedangkan keluarga Vermilion dan Xia, hanya bisa menatap punggung itu dengan wajah sedih.
"Kita benar-benar tidak bisa seperti dulu" ucap Amber sambil meneteskan cairan bening di pipinya.
"Benar ma, dia dulu terlihat sangat hangat, tapi sekarang, dia bahkan seperti berada di luar jangkauan kita" ucap Rea dengan sedih.
Xia mengingat bagaimana dirinya dulu menjenguk Xura di rumah sakit, bahkan mereka tertawa bersama "dia yang dulu benar-benar hangat, jika aku meminta maaf dan menginginkannya untuk kembali seperti dulu, apakah dia mau melakukannya?" batin Xia menatap punggung Xura yang melenggang pergi.
Penyesalan itu bahkan muncul di benar mereka masing-masing.
Vano kembali melirik kearah Xura "Nona, apa kau tidak ingin menjenguk mereka?" tanya Vano sambil melangkah sejajar dengan Xura.
Xura tampak memutar bola matanya dengan malas "tidak, untuk apa aku memperdulikan keluarga serakah seperti mereka, aku bahkan tidak sudi melihat wajah mereka lagi" ucap Xura dengan wajah datar.
Vano yang mendengar itu mulai mengeryirkan dahinya "Bukankah saat itu yang berada di luar adalah Quiran?, bagaimana kau mengetahui semuanya, nona?" tanya Vano dengan heran.
Wanita di depannya ini penuh dengan misteri dan juga cerdas, sedangkan mereka semua mengetahui bahwa jika yang berada di luar adalah Quiran, maka Xura tidak akan mengetahui apapun. Tapi sekarang apa?, Xura bahkan tau tentang segalanya.
Vano yakin bahwa Zee belum membicarakan apapun tentang Quiran, karena belakangan ini Xura selalu berada di dekatnya, dan juga Vano belum memberitahukan apapun pada Xura, sehingga sekarang Vano bahkan terkejut karena Xura mengetahui kejadian yang di lakukan oleh Quiran.
Vano terdiam dan tidak mengeluarkan kata-katanya lagi, setelah melewati banyak lorong, kini, mereka semua tiba di ruangan Gilma.
Xura yang tadinya berwajah datar, kini mulai tersenyum smirk dan ia pun langsung menekan handle pintu.
Mereka melihat Gilma tengah terbaring di ranjang dengan balutan putih yang sudah menutupi tubuhnya.
Gilma yang sedari sudah siuman terkejut mendengar suara handle pintu, ia mengira bahwa yang ada di sana adalah Zee, namun ternyata harapannya pupus ketika melihat Xura dan Vano.
Kedua orang itu melangkah mendekati Gilma, tapi Gilan seolah tidak terlihat senang dengan kedatangan mereka.
"Untuk apa kalian berada disini?, apa kau sudah puas melihatku seperti ini?" ucap Gilma dengan leher dan tubuh yang tidak bisa bergerak.
Xura yang mendengar itu mulai tertawa keras "Haha ... benar, aku sangat puas" ucap Xura di sela tawanya.
Lalu Xura mencabut selang oksigen yang sedang terpasang pada Gilma.
Uuhhkkk
Uuhhkkk
__ADS_1
Uuhhkkk
Lalu Xura memasang kembali selang itu sehingga Gilma bisa kembali bernafas.
"Bagaimana?, apakah kau sangat familiar dengan adegan ini?," tanya Xura sambil tersenyum smirk.
Gilma tampak melototkan matanya, sedangkan Vano tampak binggung dengan perkataan Xura.
"Kau ingat?, Dulu saat Gilan berada di rumah sakit, kau melakukan hal yang sama padanya seperti ini. Awalnya kau juga menyabotase mobil Zee, tapi Gilan mengetahui rencana mu, lalu Gilan sengaja meminta Zee untuk mencoba mobil itu agar jebakan itu tidak mengenai Zee. Kau bahkan tidak berhenti sampai disitu, lalu saat Gilan di larikan kerumah sakit, kau datang dan melepaskan selang itu seperti ini ..."
ucapan Xura menggantung sambil melepaskan selang oksigen itu lagi.
Uhhkk
Uhhkk
Uhhkk
"Lalu kau memasangkan selang itu seperti ini, dan kau menyuruhnya menuliskan sebuah pesan agar Zee terus menjagamu dengan baik sebagaimana Gilan menjagamu, bukankah kau licik dan cukup kejam pada kakakmu sendiri?" ucap Xura sambil mengelus jari Gilma dan langsung mematahkannya.
Kreekkk
Arrgghhh
Gilma mulai menitikkan air matanya, saat ini ia sungguh tidak bisa bergerak, Gilma hanya bisa pasrah dengan perlakuan Xura padanya.
Vano terkejut mendengar perkataan Xura, ternyata inilah kebenaran tentang di balik kecelakaan itu.
Vano pun mulai mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, wajahnya bahkan sudah mulai memerah marah.
"Jadi, kau pelakunya?, pantas saja selama ini kau terus menjebak tuan muda dengan terus mengatakan tentang kematian Gilan, apa kau bermaksud untuk masuk kedalam keluarga Ophelia dengan cara ini?" tanya Vano dengan mata yang melotot sempurna.
Xura sangat mengerti mengapa Vano begitu marah, karena ia juga merasakan hal yang sama saat mengetahui Cassi lah yang membunuh sang papa.
"Tenanglah Vano, aku akan mengurusnya" ucap Xura sambil melihat kearah Vano mengelus lengan nya.
"Bagaimana aku bisa tenang nona?, sejak kematian Gilan, tuan muda mulai mengurung dirinya di dalam kamar, rasa bersalah itu terus menghantuinya, dia berusaha melakukan penyelidikan, tapi tidak mendapatkan hasil apapun. Lalu tuan muda berubah seperti orang yang tidak kami kenal, ia bahkan terus diam dan tidak ingin berbicara pada siapapun, nyonya besar dan tuan besar bahkan tidak bisa berbuat apapun. Lalu kami mencoba memberi pengobatan pada tuan muda..."
"Saat tuan muda dalam masa pemulihannya, wanita ini justru datang dan selalu menempel pada tuan muda, ia meminta rumah, mobil serta barang-barang mahal lainnya, dan jika ada wanita yang mendekati tuan muda, maka dia langsung berubah seperti orang gila. Sejak saat itu, tuan tidak tidak pernah mendekati wanita lain, kami merasa kasihan melihat hidup tuan muda, lalu kami mengirimnya ke Inggris dan menyuruhnya buka perusahaan di sana" jelas Vano sambil menatap Gilma dengan tajam.
Xura kini melihat kearah Gilma yang tengah menangis, "kau sangat pintar membuat mereka kebingungan, sekarang adalah waktunya kau merasakan hal yang sama seperti apa yang telah kau lakukan pada Gilan" ucap Xura sambil mengeluarkan sebuah pemantik api lalu mulai menyalakannya didepan wajah Gilma.
Bersambung ...
Maaf ya jika ceritanya panjang dan membosankan, tapi jika memang ada yang bosan dengan cerita ini, kalian juga bisa kok untuk tidak membacanya lagi 🙂
__ADS_1
Dan untuk yang masih mau menunggu cerita ini, author sungguh ingin mengucapkan rasa terimakasih 🙏🙂
Maafkan Author 🙏