
"Siapa dia?, tapi wajahnya sangat tampan" batin gadis itu
Pria itu, awalnya hanya melihat mata gadis itu yang sedang mengerjab, begitu gadis itu perlahan memutar kepalanya, ia seakan terpaku saat melihat mata yang sudah sebulan tertutup rapat itu, kini mulai terbuka lebar.
Sepasang mata berwarna coklat namun sedikit gelap, dengan bulu mata yang panjang nan lentik, alis mata yang melengkung, membuat siapa saja yang melihat tentu akan terpana
"Matanya sangat cantik" batin pria itu
Gadis itu mengedipkan matanya, membuat pria itu tersentak, ia tiba-tiba merasa bingung harus memulai pembicaraan dari mana "Hey, apa kau mendengarku?" tanya pria itu
Wanita itu hanya mengangguk pelan, tubuhnya tidak bisa ia gerakkan
"Sebentar, aku akan memanggil dokter" ujar pria itu
Pria itu berlari dengan cepat di koridor rumah sakit, ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang berada disana, sesampai di depan ruangan dokter, pria itu langsung membuka pintu dengan kasar
Dokter yang di dalam ruangan terkejut mendengar pintu dibuka dengan kasar dan melotot kearah pria yang sedang terengah-engah di depan pintu dengan posisi tangan masih menempel di pintu
"Apa kau tidak bisa mengetuk terlebih dahulu?, kau bisa merusak pintu ruanganku" ucap dokter sambil memegang erat pena yang sedari tadi ia pegang dan mengangkat tangannya ke atas, bersiap untuk meleparkan penanya ke arah pria itu
Namun dokter terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut pria itu, sehingga mengurungkan niatnya untuk melempar pena
"Dia sudah sadar" ucap pria itu tanpa basa basi, ia pun langsung duduk di kursi yang ada disana, ia bahkan tidak memperdulikan ucapan sang dokter
Dokter hanya bisa mengernyit kebingungan dan mengotak-atik keyboard komputernya, ia ingin melihat kembali catatan-catatan gadis itu, karena sudah sebulan gadis itu tidak melakukan reaksi apapun, hal itu membuat para dokter pasrah dan ingin melepas alat bantu dari tubuh gadis itu
Namun, karena pria di depannya melarang dan bersikeras ingin mempertahankan gadis itu, akhirnya dokter pun menyetujuinya, walau sang gadis memiliki detak jantung yang lemah pada saat itu
"Jangan bercanda, kau sudah melihat semua catatannya selama ini dan ini sudah satu bulan, dia bahkan tidak memiliki harapan" ucap dokter dengan menatap wajah pria itu lalu kembali menatap layar komputernya
"Apa kau seorang dokter sungguhan?, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?, dan juga apa wajah ku kelihatan seperti sedang bercanda?" tanya pria itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi
Dokter kemudian menatapnya lagi, ia melihat raut wajah serius pria itu, dan seketika ia mematung
Melihat dokter mematung, pria itu langsung berdiri dari kursi "Ayo ikuti aku, setelah melihatnya kau akan percaya" ucap pria itu dengan tegas sambil berjalan keluar dari ruangan
Pria itu berlari kecil di koridor diikuti dokter dan beberapa suster dibelakangnya, setelah sampai di ruangan sang gadis, pria itu membuka pintu dan masuk secara perlahan bersama dokter dan para suster
Ketika beberapa orang masuk ke ruangan gadis itu, sang gadis hanya bisa melirik sekilas, ia juga belum bisa bersuara
Karena merasa penasaran, dokter berjalan mendekati tempat tidur sang gadis, ia mencoba membuktikan perkataan pria itu dengan mata kepalanya sendiri
Saat dokter melihatnya, dokter pun merasa tidak percaya dengan penglihatannya, ia mencoba mengucek matanya berulang kali
Dokter merasa takjub karena melihat keajaiban yang luar biasa itu, tanpa sadar ia terus menatap pasiennya
__ADS_1
"Jangan menatapnya seperti itu" ucap pria itu dingin
Dokter yang mendengar itu terkejut dan mengalihkan pandangan ke arah pria itu "Maaf, aku hanya memikirkan bagaimana dia bisa melewati ini semua?, ini adalah keajaiban, dia benar-benar beruntung" ucap dokter
Dokter pun memerintahkan beberapa suster untuk melepas satu persatu alat bantu yang terpasang pada tubuh gadis itu
Setelah alat-alat dilepas, dokter menyuruh suster untuk segera keluar, setelah suster keluar dari ruangan, dokter membuka pembicaraan dengan sang gadis
"Nona, apa kau bisa mencoba menggerakkan tanganmu?" tanya dokter dengan sopan
Gadis itu mencoba menggerakkan tangannya tetapi yang bergerak hanya jarinya saja
"Sepertinya tubuh gadis ini sudah kaku, untuk saat ini, dia hanya perlu menggunakan infus saja karena alat lainnya sudah dilepas, beberapa hari lagi aku akan melepas seluruh perban di tubuhnya" ucap dokter panjang lebar
Pria itu mendengar seksama dan membuat raut wajah senang tetapi ia dengan cepat merubah ekspresinya setelah mendengar kalimat terakhir dokter itu, ia menoleh kearah sang dokter dan menatapnya dengan tatapan tajam
"Kau yang akan melepas sendiri perbannya?, Tidak!, suruh perawat perempuan" ucap pria itu sedikit menaikkan suaranya
"Ada apa dengan pria ini?" batin gadis itu
Dokter hanya bisa menghela nafas, ia sudah lama menjadi dokter pribadi keluarga pria itu, jadi ia sedikit tau akan sifat pria itu
"Baiklah, kau temani nona di sini, jangan lupa membeli kan makanan dan minuman yang bergizi, aku akan keluar" ucap Dokter
Dokter keluar dengan perasaan kesalnya, lalu menutup pintu ruangan dan berdiri disana "Ugh, dia membuatku kesal!, sebelumnya dia selalu meminta bantuanku, tapi lihatlah dirinya sekarang, setelah gadis itu siuman, dia mengusirku seenak jidatnya" gumam dokter
Setelah bergumam tidak jelas dokter berlalu pergi keruangannya
"Nona?, aku akan memesan makanan tetapi aku tidak tau nona menyukainya atau tidak" ucap pria itu dengan raut wajah sedih kemudian menunduk
Ketika gadis itu melihat raut wajah pria itu, ia pun langsung tidak enak hati "Aku akan memakan apapun yang kau bawa" batin gadis itu
Gadis itu ingin berbicara tetapi tidak bisa, mulutnya sangat kaku dan tenggorokannya terasa begitu sakit, ia membutuhkan air, namun ia hanya bisa menggerakkan jari-jarinya sedikit
Pria itu seketika mengangkat kepalanya saat melihat jari yang berusaha bergerak, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu
"Nona, apa kau ingin sesuatu?," tanya pria itu
Gadis itu mengangguk sekali namun pelan dan masih bisa di lihat pergerakkannya oleh pria itu
"Bagaimana cara agar aku bisa berkomunikasi dengannya?" batin pria itu sambil berpikir
"Nona begini saja, aku akan menanyakan beberapa pertanyaan, nona bisa menjawabnya dengan cara berkedip, bagaimana?" tanya pria itu
Gadis itu kemudian mengedipkan mata
__ADS_1
"Hemm, apa yang harus aku tanyakan terlebih dahulu?, bukankah biasa orang yang tidak bangun lama membutuhkan air?" gumam pria itu kecil
"Baiklah, Apa nona ingin air?" tanya pria itu lembut
Gadis itu mengedipkan mata
Dengan cepat pria itu mengambil teko bening yang berisikan air diatas nakas dan menuangkannya ke dalam gelas kaca, lalu memberikannya pada gadis itu
Pria itu membantu mengangkat kepala gadis itu dengan perlahan lalu membantu meminumkannya, air yang ada di gelas habis tidak bersisa
"Ternyata dia sangat haus, tapi aku malah berbicara panjang lebar dengan dokter menyebalkan itu, sial.... benar- benar tidak becus" batin pria itu memperlihat wajah yang sangat sedih
Pria itu sangat menyesali perbuatannya telah mengabaikan gadis di depannya sejak tadi
"Aku akan mengambil satu gelas lagi, Apa kau mau?" tanya pria itu dengan raut wajah sedih
Gadis itu mengedipkan matanya lagi
Setelah membantu sang gadis, pria itu tersenyum hangat
"Nona, aku akan memesan buah agar nona bisa cepat pulih" ucap pria itu
Mendengar kata "buah", membuat mata gadis itu berbinar, ia sudah lama tidak memakan buah, membeli buah itu sangat mustahil baginya, mengingat gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari, terkadang ia juga tidak makan,ia bekerja keras untuk menghidupkan dirinya sendiri
"Aku sudah lama tidak memakan buah" batin gadis itu
Melihat mata berbinar sang gadis, pria itu menyergit heran "Sepertinya dia menyukai buah, aku akan membelikan berbagai macam buah" pikir pria itu
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1