Another Person Life

Another Person Life
Permainan yang Mengerikan


__ADS_3

"Huuh, kenapa kepalaku jadi sangat pusing ketika memikirkan hal ini?, ughh... sepertinya aku butuh ketenangan" tanya Xura memijat pelipisnya, lalu bangkit untuk mengambil air bening yng berada di atas meja


Xura berinisiatif keluar dari kamar untuk melihat-lihat sekeliling, matanya terfokus pada dinding yang di penuhi dengan bingkai-bingkai foto yang berjejer rapi


Tatapan Xura terhenti pada sebuah foto, yang setengahnya seperti sudah di gunting dengan rapi "Kenapa fotonya seolah seperti sudah di gunting?" tanya Xura yang ingin memegangi bingkai foto itu, namun suara seseorang membuatnya berhenti


"Nona muda, mari kita makan" ucap kepala pelayan yang memecah fokus Xura


Xura yang mendengar, langsung menoleh kearah belakang dan melihat kepala pelayan sedang berdiri beberapa langkah tepat dibelakangnya sambil tersenyum


"Baik pak, tapi tolong jangan memanggilku seperti itu, aku merasa tidak nyaman, panggil aku Xura saja" ucap Xura dengan hati-hati


"Astaga, yang benar saja, apa di dunia ini benar-benar ada yang namanya kebetulan? atau apakah ini memang sebuah takdir?" batin kepala pelayan


"Baiklah jika itu keinginan anda, tapi sebaiknya ketika di depan tuan muda, saya memanggil anda dengan sebutan "nona", bagaimana?" ucap kepala pelayan ramah


"Tidak masalah pak" ucap Xura tersenyum manis


Di lain sisi, Alpha yang telah keluar dari kamar Xura sedaritadi langsung menuju ke perusahaan untuk menyelidiki informasi mengenai Xura, karena ia hanya mendengar dan melihat mengenai Xura di majalah bisnis yang trending saja


Sesampainya di perusahaan, Alpha langsung menduduki sofa, saat itu ia menggunakan setelan jas serta celana senada berwarna biru dongker


5 menit berlalu, Alpha secara tiba-tiba berdiri, ia berpindah ke kursi kebesarannya, kemudian melepaskan jasnya dan menaruhnya di gantungan, lalu ia kembali duduk dengan melonggarkan dasinya sambil berusaha berfikir mengenai perusahaan Xavier


"Sepertinya, aku harus menggembalikan perusahaan Xavier pada Xura" gumam Alpha sambil memutar kursinya melihat keluar jendela


"Huh, kenapa dia sangat lamban?, berapa lama lagi waktu yang dia butuhkan untuk mencari informasi sekecil itu?" gerutu Alpha, yang tidak sabar menunggu kabar dari seseorang


"Ting" bunyi ponsel Alpha


Alpha memutar kursinya untuk melihat isi pesan masuk pada ponselnya yang terletak di atas meja, ia membelalak kan mata melihat adegan demi adegan di dalam video yang sudah terputar di layar ponselnya itu, tangan yang memegang ponsel itu pun bergetar, ia seketika menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya


"Lihat saja!, aku akan menghancurkan wanita dan pria yang sangat menjijikkan ini!" tegas Alpha yang sudah sangat geram


Setelah video itu selesai, ponsel Alpha kembali berbunyi "Ting"


Alpha melihat nama pengirim pesan yang masuk kedalam ponselnya, seketika itu pula ia memiliki firasat yang tidak enak, ia dengan cepat membuka isi pesan yang dikirim oleh kepala pelayannya


"Tuan muda, ketika tadi nona mengelilingi mansion, nona sempat melihat foto tuan yang sudah tergunting itu, tapi saat nona ingin menyentuh foto itu, saya dengan cepat mencegahnya, untuk sekarang hanya itu yang bisa saya lakukan, namun kelihatannya nona mempunyai rasa penasaran yang tinggi, jadi saya berinisiatif memindahkan foto tuan ke tempat lain"


"Terimakasih, aku berhutang padamu untuk kedua kalinya" balas Alpha, ia memang sempat melupakan foto yang masih terpajang itu, setelah mengetahui tindakan cepat yang telah dilakukan oleh kepala pelayannya, seketika itu pula ia bisa bernafas dengan lega


Alpha kemudian menaruh kembali ponselnya di atas meja, dan mulai berfikir lagi, ia terus memikirkan bagaimana kedepannya dia akan menghadapi Xura, karena wajah itu sangat mirip dengan mantan istrinya yang sudah meninggal setahun yang lalu


"Sebaiknya aku pulang terlebih dahulu" gumam Alpha, ia mengambil jasnya yang berada di gantungan, lalu bergerak keluar ruangan, berjalan menuju balkon dan secepatnya mengendarai mobil menuju mansion untuk beristirahat


***


Setelah beberapa hari berlalu, Quirin pun akhirnya sudah bisa berjalan dengan normal, walaupun ia hanya bisa berjalan sebentar, karena kakinya memang belum terlalu kuat


Tanpa Quirin sadari, Nevy tiba-tiba muncul di hadapannya dengan memperlihatkan senyum manis "Wah, nona sudah pulih?, apa nona ingin jalan-jalan keluar?" tanya Nevy

__ADS_1


"Ya, temani aku jalan-jalan" ucap Quirin datar pada Nevy


Nevy dengan senang menuruti Quirin, ia membawa Quirin ke bagian samping mansion, namun tempat itu tidak berpenghuni dan juga sangat gelap


"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Quirin dengan datar


"Aduh... , kenapa aku bisa lupa membawa keperluan nona?, nona, tolong tunggu disini sebentar ya, aku akan pergi untuk mengambilnya" ucap Nevy sambil memukul jidatnya dan memasang raut wajah yang terlihat panik


"Baiklah" ucap Quirin tersenyum smirk


Nevy pun berbalik, setelah berjalan beberapa langkah dan memastikan bahwa Quirin mempercayainya, ia pun berbalik lagi dengan berjinjit untuk mendekati Quirin


Namun, Nevy tidak mengetahui bahwa Quirin orang yang cukup pintar dan sudah bisa menebak kalau Nevy mempunyai niat yang buruk terhadap dirinya


Setelah posisi Nevy hanya berjarak satu langkah dengan Quirin, ia secara diam-diam mencoba mendorong Quirin, belum sempat ia menyentuh Quirin, tangannya langsung dicegat oleh Quirin


"Krekkkkk" bunyi tulang yang patah, bunyi itu juga terdengar sangat mengerikan


"Arghhhhhh" jerit Nevy saat tangannya di putar habis, Quirin menggenggam tangannya dengan kuat lalu menarik Nevy keluar, Nevy yang ditarik terseret dengan tidak elit


Lalu Quirin menaruh tangan itu di depan pintu, hal itu membuat Nevy membelalakkan matanya, ia berusaha mencoba menarik tangannya, namun tenaganya kalah kuat dari Quirin, Quirin langsung menarik pintu untuk menjepit tangan Nevy


"Krekkkkkk" bunyi tulang lancur, darah bercucuran dengan sangat banyak


"Arghhhhhh, sakittttt" teriak Nevy lagi


Semua tulang tangannya seperti hancur berkeping-keping, ia terus menjerit sekuat-kuatnya karena tidak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa itu, ia berharap ada orang yang datang untuk menolongnya


"Tolong......" ucap Nevy yang sudah mengenaskan


Quirin menarik Nevy lagi, Nevy terjatuh dengan lutut yang tegak, tangan yang telah di remukkan oleh Quirin hanya tersisa daging saja, tangan itu seolah melayang di udara seperti orang yang di gantung, setelah melakukan hal itu, Quirin tidak langsung melepaskan tangan Nevy


Tangisan pilu Nevy bahkan tidak di gubris oleh Quirin, Quirin yang sudah menatapnya dengan tajam memperlihatkan senyum yang mengerikan


Nevy hanya bisa menangis sejadi-jadinya, ia tidak punya tenaga untuk melepaskan tangannya yang sudah tidak berfungsi itu lagi


"Kenapa nona melakukan ini padaku?" tanya Nevy di sela tangisnya, ia beberapa kali melihat tangannya yang masih berada dalam genggaman Quirin


"Kau bercanda?, apa kau perlu menanyakan hal itu?, hehh... seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu" ucap Quirin dengan tersenyum smirk


"Apa maksud nona?, aku tidak mengerti" tangis Nevy sambil melihat kearah Quirin, ia sangat ketakutan melihat ekspresi dan mata tajam itu


"Jangan berpura-pura bodoh di depanku, kau ingin bermain denganku kan?, jadi aku mengabulkan keinginanmu, ayo kita bermain, aku sangat suka permainan ini" ucap Quirin dengan tertawa bahagia


Nevy yang mendengar tawa itu seketika menggigil ketakutan "Kau... monster!, tidak cocok dengan tuan muda ku!" teriak Nevy dengan memberanikan diri


"Hahaha, cocok atau tidaknya, itu bukan urusanmu, dengan kondisimu yang sekarang, apa kau pikir kau pantas untuk tuan muda mu itu?" ucap Quirin menatap dengan tajam sambil mengayunkan tangan yang hanya tinggal daging itu


"Nona, kau sangat kejam!" teriak Nevi yang mendongakkan kepalanya


Quirin yang masih berdiri seketika melepas tangan Nevy, hingga membuat Nevy terduduk, lalu Quirin berjongkok di hadapan Nevy yang sedang menangis

__ADS_1


"Kau berkata aku kejam?, sebaiknya kau berkaca, bukankah kau sendiri yang memulai?, sekarang aku akan bertanya, kenapa kau terus-terusan menggangguku?" tanya Quirin dengan memegang rahang Nevy, hingga membuat Nevy mau tidak mau melihat ekspresi Quirin yang sangat menyeramkan itu


Nevy tidak menjawab sama sekali, ia hanya meratapi kebodohannya karena telah salah mengganggu orang, orang ini seharusnya tidak boleh ia ganggu


"Kau masih ingin bermain?" tanya Quirin yang sudah melepas Nevy, lalu melihat-lihat tubuh Nevy


Nevy tidak bisa lagi menjawab, tenggorokannya tercekat, ditambah lagi karena sedari tadi ia membuat tangis yang sangat menyayat hati


"Tidak bisa menjawab?, kalau begitu mari lanjutkan permainan ini" ucap Quirin tersenyum smirk


Quirin memegang tangan Nevy yang lain, tangan yang masih memiliki tulang utuh, lalu ia jatuhkan ke tanah, membuat Nevy terkejut karena terjatuh


Nevy yang memiliki firasat buruk langsung menjerit "Nona, kumohon, jangan lagi, aku takut" teriak Nevy dengan sesegukan


"Oh, kau mau lagi?, oke, aku juga akan mengabulkannya" ucap Quirin yang sibuk mencari benda berat, tidak lama kemudian ia melihat besi yang panjang dan bulat, ia pun tersenyum manis, namun senyum itu memiliki arti yang berbeda


"Nah, ketemu!" ucap Quirin lalu mengambil benda yang berada tidak jauh darinya itu, ia lalu memutar besi itu seperti tongkat biasa, padahal sebenarnya untuk seorang wanita, tongkat itu sangat berat, namun ketika Quirin yang mengangkatnya, terlihat seperti ia mengangkat buku


Nevy sudah tidak bisa bersuara lagi, ia hanya bisa pasrah dan terus menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan hingga ajal menjemputnya, ia juga sangat menyesali perbuatannya


"Tangan ini, terlihat sangat jelek" sambil memukul kearah tangan Nevy yang sudah ia injak agar tidak leluasa bergerak


"Arrghhhh"


Darah Nevy menyebar kemana-mana, hingga terkena wajah cantik Quirin, namun Quirin tidak memperdulikannya, ia tetap lanjut memukul tangan itu


"Tangan ini, juga yang membuat tangan temanku terluka" memukul kedua kalinya


"Arghhhhh"


Nevy menjerit sekuat-kuatnya, ia sungguh tidak menduga inilah permainan yang dikatakan oleh Quirin


Nevy sudah tidak tahan dengan siksaan yang ia terima, darah berhamburan ke mana-mana, Quirin tertawa senang saat melihat Nevy sudah tidak berdaya


"Tolong hentikan, ini sangat sakit" ucap Nevy dengan suara lemah


"Apa??, kau ingin lagi?, baiklah baiklah, kau tidak perlu memohon seperti itu, aku akan memberikanmu permainan yang lebih menarik" ucap Quirin dengan panjang lebar dengan senyum khasnya yang sangat menyeramkan itu, ia kemudian melepas injakan kakinya, lalu memutar-mutar tongkat besi yang dipegangnya itu


Bersambung....


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment

__ADS_1


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏


__ADS_2