Another Person Life

Another Person Life
Siasat Memisahkan Quirin dan Zee


__ADS_3

Pria itu memandang ke arah Zee, lalu menatap kembali pada Quirin "maafkan aku tidak mengabarimu dan tiba-tiba muncul seperti ini, aku ingin memberimu kejutan, tapi justru aku yang terkejut karena kau membawa pria asing pulang bersamamu" ucap Pria itu dengan nada mengejek.


Mendengar ucapan pria itu, semua anggota keluarga Alister menegang, awalnya mereka ingin membuat pria itu dan Quirin segera meresmikan pertunangan, tapi siapa sangka pria itu berani menyindir Zee.


"Sialan!, apa dia tidak bisa menutup mulutnya itu" batin sang nenek kesal


"Quirin, aku sangat merindukanmu, sekarang kita bisa bersama kembali" ucap pria itu dengan lembut


"Sangat menarik, pria ini begitu gigih ingin mendapatkan nona, aku melihat seluruh anggota keluarga tidak ada yang menyukai nona, ini benar-benar kesempatan langka" batin Clamy tersenyum licik


Clamy memperhatikan setiap gerak anggota keluarga Alister, dalam pikirannya sekarang adalah ia harus bekerja sama dengan salah satu dari anggota keluarga itu untuk bisa menyingkirkan Quirin.


"Sekarang dia adalah tunanganku" timpal Zee sambil melirik kearah pria itu.


Kali ini semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. tak hanya anggota keluarga saja bahkan Quirin juga hampir mengeluarkan bola matanya, ternyata ia lebih terkejut dari anggota keluarga lainnya karena Zee secara tiba-tiba mengatakan bahwa mereka adalah tunangan tanpa berdiskusi terlebih dahulu.


"Apa yang harus aku lakukan?, putri mana yang harus aku pilih?"


"Bagaimana cara anak menyebalkan itu memikat tuan muda?, bahkan mampu membuat tuan muda yang kejam itu begitu tunduk padanya. aku juga tidak menduga tuan muda mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa mereka bertunangan"


"Tidak, aku tidak rela jika tuan tampan bersama nona, lihat saja nona, aku akan membuatmu merasakan neraka didalam rumahmu sendiri"


"Kenapa bukan Lura saja?, kenapa harus anak wanita miskin itu yang begitu beruntung?, bahkan keberuntungannya sampai ketahap menentukan jodoh"


"Apapun caranya, aku harus memisahkan tuan muda dari kakak!"


"Tidak, tidak, aku harus merebut Quirin dari pria asing ini"


Mereka semua yang ada di ruangan itu menatap Quirin dan Zee secara bergantian, mereka semua tidak mau jika keduanya bersama, ada yang tidak rela dan ada juga yang masih berniat memisahkan keduanya.


Bagaimana tidak?, wanita yang dulunya mereka hina serta mereka siksa kini mendapatkan pasangan yang sangat tampan dan juga derajatnya lebih tinggi dari yang telah mereka jodohkan sedari kecil.


Dunia kini telah berputar untuk keluarga Alister, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa anak yang telah mereka usir kini kembali dengan membawa keberuntungannya sendiri.


"Kita belum mendiskusikan ini, kenapa kau mengatakannya dengan sangat mudah?" bisik Quirin dengan wajah kesal


Zee menghiraukan perkataan Quirin dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.


Sedangkan Grizo ia tidak tau harus berbuat apa, karena dirinya tidak menyangka jika tuan muda yang terkenal dingin dan tak kenal ampun begitu sangat serius menjalin hubungan dengan putri sulungnya.

__ADS_1


Grizo menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menguatkan dirinya untuk berbicara "tuan muda, maafkan kami, Quirin sudah mempunyai tunangan sejak dia masih kecil, jika tuan muda menginginkan putri keluarga Alister maka Lura adalah pilihan yang tepat" ucap Grizo dengan nada rendah dan takut. sebenarnya ia sungguh tidak ingin menyinggung tuan muda yang ada di hadapannya, tapi istrinya selalu mendesak agar Lura bisa di jodohkan dengan Zee. Grizo seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan istrinya.


#Flashback On


Grizo dan Calis sedang duduk berdua di kursi taman, mereka tengah asik berbincang. karena mengetahui suasana hati Grizo sedang membaik, Calis mengambil kesempatan untuk membujuk Grizo.


"Ayah, apa kau sudah membicarakan perjodohan Lura dengan tuan muda Zee?" tanya Calis secara perlahan


Grizo sedikit terkejut mendengar ucapan Calis, gelas yang ada di tangannya hampir saja terjatuh "aku tidak pernah membicarakannya pada tuan muda" ucap Grizo santai sambil menetralkan rasa keterkejutannya.


Calis tidak tinggal diam, ia mulai berdiri dan berbicara dengan nada tinggi "apa?!, kau tidak suka Lura bahagia?, kau selalu memanjakan Quirin, tapi tidak dengan Lura, kau benar-benar pilih kasih" kesal Calis sambil menatap Grizo.


Grizo memejamkan matanya dan mencoba untuk bersabar "bukan seperti itu, apa matamu tidak bisa melihat?, Lura masih kecil, dia tidak cocok dengan tuan muda" ujar Grizo sambil melihat Calis yang sedang berdiri di sisi kanannya.


Calis memanfaatkan sisi Grizo yang lemah "tapi dia menyukai tuan muda Zee, lalu aku harus apa?, sebagai ibu aku ingin membahagiakan putriku, jika kau tidak mau membahagiakannya, baiklah, biar aku saja yang berbicara pada tuan muda" cerca Calis sambil meninggalkan Grizo


Grizo benar-benar pusing memikirkan perkataan Calis, disatu sisi ia merasa kasihan melihat Lura, sedangkan disisi lain terdapat satu putri dengan sifat yang sudah sangat berubah, Grizo memikirkan semua itu sendirian hingga membuat kepalanya sering sakit dan juga sangat mudah membuatnya lelah.


"Aku tidak pernah membedakan mereka berdua, kenapa dia berkata seperti itu?, haruskah aku menyuruh pria itu kembali untuk melangsungkan pertunangan resmi?, setelah itu aku membicarakan soal Lura pada tuan muda, sepertinya ini solusi yang sangat tepat" gumam Grizo sambil memijit pelipisnya


#Flashback Off


"Dengan begini kau bisa membatalkan kerjasama antar keluarga kita" ucap Quirin sambil melipat kedua tangannya.


"A-apa?!" serempak semua anggota keluarga Alister.


Berbeda dengan Clamy dan pria itu, keduanya sedikit terkejut dengan suara keterkejutan yang sangat kompak, mereka terlihat binggung karena tidak mengerti apa yang telah di bicarakan oleh Quirin.


Sedangkan Zee tidak memperdulikan teriakan itu, ia justru sangat heran dengan jalan pikiran Quirin, sehingga Zee justru bertanya kembali "kau tidak menyesal?" tanya Zee sambil melirik kearah Quirin


"Tidak, untuk apa kau melanjutkan kerja sama dengan orang yang tidak menghormatimu?, bahkan mereka sangat berani membahas pertunangan wanita yang akan menjadi nyonya faresta di masa depan" ucap Quirin sambil menatap sang ayah dengan dingin.


Grizo benar-benar sangat kaget sehingga membuat tatapan keduanya bertemu, Grizo melihat Quirin menatapnya dengan dingin, ia bahkan bisa merasakan tatapan menusuk itu.


"Tatapan itu lagi" batin Grizo


Mereka semua membelalakkan mata dan langsung memandang kearah Zee, beberapa saat telah berlalu, mereka semua terdiam dan tidak berani menjawab.


Nenek yang tersadar menatap kearah Grizo, ia melihat Grizo tengah menatap Quirin.

__ADS_1


Sang nenek memutar kepalanya dan menatap Zee kembali "ma-maafkan kami tuan muda, jangan lakukan itu pada keluarga kami" ucap sang nenek mewakilkan keluarga Alister


"Tidak bisa, jika tuan muda membatalkan kerja sama dengan keluargaku, aku tidak mempunyai peluang untuk mendekatinya lagi" batin Lura kesal


"Tuan muda, jangan dengarkan perkataan kakak, kakak pasti terlalu banyak pikiran, sehingga dia bisa berkata seperti itu" ucap Lura berkata lembut


"Bagus Lura, ibu pasti akan membantumu" batin Calis tersenyum licik melihat anaknya kini tengah berusaha mengambil hati Zee


"Benar tuan muda, Quirin anak yang baik, jadi tidak mungkin dia mengatakan itu dengan sengaja" timpal Calis


"Aku tidak meminta pendapat kalian" ucap Zee dingin dan berbalik menatap keduanya dengan tajam.


Kedua mata mereka bertemu dengan mata Zee, mereka merasakan tatapan dingin serta menusuk sehingga mampu membuat keduanya langsung terdiam dan menunduk secara bersamaan.


"Menakutkan" batin Lura dan Calis


Grizo masih dalam keterkejutan, ia tidak menyangka putri yang sangat disayanginya kini dengan mudah mengatakan untuk memutuskan kerja sama perusahaan yang sudah di bangunnya dengan susah payah.


"Nak, kau sadar dengan apa yang kau katakan?" tanya Grizo memastikan.


"Aku sangat sadar ayah, untuk apa dia melanjutkan kerjasama dengan orang yang tidak menghormatinya?, jika itu aku, sudah pasti akan memutuskannya sekarang juga, didalam dunia bisnis hanya ada kata keuntungan, ayah pasti setuju dengan perkataanku" ucap Quirin percaya diri sambil menatap sang ayah.


Nenek menggeretakkan giginya, ia sudah tidak tahan mendengar perkataan Quirin "kau anak tidak tau diri, ini adalah perusahaan yang ayahmu bangun dengan susah payah dan kau ingin menghancurkannya begitu saja?" tanya nenek dengan marah sambil beralih menatap Quirin.


Quirin tersenyum smirk "nenek, tidak perlu berteriak karena itu tidak baik untuk kesehatanmu, lagipula aku hanya memberinya saran tapi keputusan itu tetap ada di tangannya" ucap Quirin masih menatap Grizo


Grizo terkejut melihat senyuman Quirin "senyum itu sangat mengerikan, aku mempunyai firasat buruk" batin Grizo


Pria itu tengah menatap semua orang yang sedang bersi tegang "dia benar-benar sangat hebat, bahkan dirinya mampu membuat suasana seperti ini, dulu dia anak yang pendiam dan pemalu, tapi sekarang dia seperti singa, menerkam siapa saja yang menghalanginya, dia yang seperti ini jauh lebih menarik, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja" batin pria itu tersenyum licik


"Jangan membawa perusahaan, karena pertunangan ini sudah direncanakan saat kau masih kecil, jadi kau harus menerimanya dan melepaskan tuan muda" ucap nenek bersikeras agar Quirin meninggalkan Zee tanpa melibatkan perusahaan


"Kau merencanakannya dengan bibi, bukan dengan ibuku, jadi aku tidak akan menerima pertunangan dengannya, ini adalah keputusan terakhirku, dan untuk perusahaan sudah aku katakan keputusan ada di tangannya" jawab Quirin jengah sambil memutar bola matanya dengan malas


"Tapi tetap saja kau adalah tunanganku" timpal pria itu.


Pria itu beralih pada Zee "tuan sekarang kau bisa meninggalkannya, karena tujuanku untuk membuat sebuah pesta pertunangan resmi dengan Quirin" ucap pria itu tersenyum mengejek


Quirin benar-benar kesal, baru pertama kali ia bertemu dengan pria tidak tau malu ini "hei!, apa kau tidak bisa menutup mulut busukmu itu?, kau tidan mendengar ucapanku?, aku hanya ingin dengannya, kau tidak berhak memaksaku!" ucap Quirin sambil berdiri dan mulai menaikkan nada bicaranya

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2