
Quirin yang melihat Cassi merasa sangat marah, ia bahkan tidak suka jika Cassi melihat Zee dengan tatapan terpesona, "Bisakah kau tidak memandang pacarku seperti itu?" ucap Quirin dengan kesal.
Quirin berbicara dengan nada sopan, tapi di dalam hatinya, ia benar-benar sangat marah pada adik tiri nya itu.
Zee yang mendengar Quirin menyebut diri nya sebagai pacar kini tengah tersenyum tipis.
Tapi, Cassi dan Quirin tidak melihat jika pria yang tengah mereka perdebatkan justru tengah tersenyum.
Cassi tersenyum miring "kau hanya lah pacar nya, jadi tidak perlu melarang dia untuk berkenalan dengan wanita lain" ucap Cassi dengan ejekan.
Quirin mengernyitkan dahi nya. ia berpikir mana ada wanita yang sudah punya pacar kini menggoda pria lain. "Kau berkenalan karena ingin merebut pacar ku bukan?," ucap Quirin dengan nada dingin.
Quirin yang tadi nya sopan kini mulai mengeluarkan aura dingin nya.
Cassi yang berada sangat dekat dengan Quirin bisa merasakan aura dingin itu, mata nya bahkan sudah melotot dengan sempurna.
"Kenapa dalam sekejap aku teringat dengan kakak?" batin Cassi.
Cassi pun langsung menepis pikirannya, "tujuanku hanya ingin berkenalan saja, apa itu salah?" tanya Cassi yang sudah meninggikan suaranya.
"Cassi!" panggil seseorang sambil berjalan mendekat kearah mereka.
Cassi yang di panggil kini menoleh ke belakang, "Sial!, kenapa dia mencari ku disaat seperti ini?" batin Cassi
Quirin yang sangat mengenal Suara itu juga juga ikut menoleh ke belakang Cassi.
Tangan Quirin mulai terkepal, sekarang ini ia benar-benar sangat marah dan semua itu terlihat jelas di wajah nya.
Zee yang berada di samping nya, langsung memeluk pinggang ramping Quirin.
__ADS_1
Hingga sang pemilik tubuh terkejut mendapat serangan tiba-tiba itu.
Cassi yang melihat tangan Zee berada di pinggang Quirin terlihat sangat kesal "Ada apa?" tanya Cassi dengan raut wajah tidak senang.
Orang itu telah sampai di hadapan mereka "Kenapa kau berada di sini?, bukankah kau sedang pergi ke toilet?" tanya orang itu sambil melihat kearah Cassi dan memegang lengan nya.
Cassi mulai memikirkan perkataan yang harus dia jelaskan pada Kai, "Aku baru saja selesai" ujar Cassi dengan santai.
Quirin yang mendengar perkataan Cassi pun mulai tertawa "Haha .. lihatlah, atau jangan-jangan, pria ini adalah hasil rebutan dari wanita lain" ucap Quirin dengan perkataan menohok.
Cassi terkejut melihat Quirin berani mengatakan hal yang sangat tidak di sukai nya. amarah mulai tampak di wajah Cassi, tanpa basa basi ia pun mengeluarkan amarahnya "apa yang kau katakan?" teriak Cassi dengan mata melotot.
Kai yang baru saja memanggil Cassi merasa tidak senang dengan perkataan Quirin. "Maaf nona, kenapa kau berbicara seperti itu pada pacar ku?" tanya Kai yang mengerutkan dahi nya sambil menatap Quirin.
"Haha ... ini sangat menggelikan, bisakah sebelum kau bertanya padaku, lebih baik kau tanyakan dulu pada pacar mu, apa alasan dia meminta kenalan pada pacarku?" ucap Quirin setelah tertawa keras.
Quirin bahkan tidak perduli dengan orang-orang yang kini sudah menatap nya.
Quirin tidak perduli dengan tatapan itu, tapi tidak dengan Zee, ia yang sedari tadi hanya diam, kini mulai berbicara "apa kau bisa berhenti menatap pacar ku?," tanya Zee dengan datar.
Pasal nya Kai tidak terlalu memperhatikan Zee yang ada di samping Quirin, ia terus terfokus pada Quirin yang tengah berdebat dengan pacarnya.
Mata Kai kini menatap Zee, ia harus melihat keatas karena Zee sangat lah tinggi. Wajah tampan dan rupawan itu mampu membuat Kai termenung.
"Apa mungkin yang di katakan nona itu benar bahwa Cassi lah yang memulai nya duluan?. Lihat lah wajah yang tampan itu, bahkan wanita lain juga akan mudah tergoda." batin Kai.
"Maaf tuan, tapi aku hanya penasaran, kenapa pacar mu mengatakan hal seperti itu pada pacar ku?" tanya Kai dengan sopan dan ingin tau apa permasalahan nya.
Zee mengerutkan dahi nya "Apa kau tidak punya mulut?, padahal kau bisa menanyakan pada nya sendiri. Aku juga yakin bahwa kau tidak percaya dengan apa yang di katakan pacarku" ucap Zee dengan datar.
__ADS_1
Selama Zee berbicara, Cassi terus menatap nya dengan tatapan terpesona.
Kai yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya kearah Cassi, dan benar saja, tanpa harus di mintai penjelasan, Kai langsung mengerti bahwa Cassi lah yang memulai pertengkaran itu.
"Apa kau tidak meminta maaf pada nona itu?" tanya Kai sambil memegang tangan Cassi.
Cassi yang mendengar itu pun langsung menatap Kai dengan tajam "Aku tidak bersalah, untuk apa meminta maaf padanya?" ucap Cassi tanpa ras bersalah.
"Lihat lah, apa ini wanita yang kau pilih?, dia bahkan tidak menghormatimu. kau membuang ku demi wanita seperti ini, sungguh menggelikan." batin Quirin tersenyum tipis.
Kai yang mendapat tatapan tajam itu pun mulai merasa sangat malu, karena Ia seperti tidak di hargai oleh Cassi. Walau Cassi selalu seperti itu padanya, tapi apakah wanita itu tidak bisa memilih tempat?.
Kai mulai menelusuri bar itu, ternyata setiap pasang mata yang ada di sana telah mengarah pada mereka.
Para pengunjung itu terus berbisik, namun mereka seolah tidak perduli, dan hanya KAI saja yang perduli dengan perkataan mereka.
"Yasudah, lakukan apa yang ingin kau lakukan ... " ucapan Kai tergantung, lalu ia menatap kearah Quirin dan Zee.
"Nona dan Tuan, aku mewakili pacarku untuk meminta maaf, sekali lagi maaf kan pacarku, permisi tuan" ucap Kak sambil membungkuk kan tubuhnya lalu pergi begitu saja.
Cassi yang di tinggal Kai merasa kesal, lalu ia pun melihat kearah Quirin "aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja" ucap Cassi sambil menatap Quirin dengan melototkan matanya lalu pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Apa dia adalah mantan pacarmu?" tanya Zee tertawa kecil.
Quirin yang mendengar tawa kecil itu langsung menatap kearah Zee "Apa ada yang lucu?," ucap Quirin kesal.
"Tidak!, tapi selera mu bisa di katakan buruk" ucap Zee sambil melepaskan tangan nya dari pinggang Quirin.
Quirin pun mengernyitkan dahinya "Buruk?, dulu dia benar-benar baik, tapi aku tidak tau, kenapa dia bisa berubah menjadi seperti itu. seharusnya kau mengatakan itu padanya ... karena dia membunuhku demi bersama wanita seperti itu" ucap Quirin dengan memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
Quirin benar-benar sudah melupakan Kai, tatapan cinta yang dulu terpancar di mata itu, kini berubah menjadi tatapan benci.
"Aku akan menghukum kalian berdua, lihat saja nanti" gumam Quirin dengan mengepalkan kedua tangan nya.