Another Person Life

Another Person Life
Tidak Mendapat Petunjuk Apapun


__ADS_3

"Tuan, dia terus saja seperti itu, selama ini aku mengabaikannya karena kau tidak suka di ganggu, tapi belakangan ini, dia terus menghubungi ponselku tiada henti, sebaiknya kau menjawabnya sekali saja" ujar Xeno yang terlihat tidak suka jika dirinya terus di hubungi oleh wanita itu.


Tidak menutup kemungkinan bahwa ponsel Zee juga ikut berdering, dan karena Zee juga mengabaikan ponselnya, maka deringan itu justru beralih pada Xeno.


Zee tidak mau mendengarkan perkataan Xeno, ia pun pergi meninggalkan Xeno yang sedang menghela nafas.


Kini Xeno menatap ponsel nya "Aku benar-benar kerepotan karena wanita ini" gumam Xeno lalu menyimpan ponselnya kembali.


Zee memasuki kamar yang lainnya, ia pun menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur itu.


Suasana di kamar itu sama seperti kamar yang di tempati oleh Quirin, karena awalnya Zee terlihat binggung ingin membuat nuansa yang seperti apa, dan terjadilah bahwa seluruh kamar yang ada di mansion memiliki warna yang sama namun dengan corak yang berbeda.


Bahkan, Zee tidak berpikir bahwa ia bisa membawa Quirin ke dua mansion yang di tinggali nya.


Dengan tubuh yang tertidur terlentang, Zee menumpu kepalanya dengan satu tangan, ia pun mulai berpikir tentang bagaimana ia harus mengikat Quirin di sisinya.


"Seluruh rencana ku berantakan, aku bahkan tidak berpikir bahwa keluarganya adalah keluarga yang sangat di takuti oleh dunia, sekarang dia begitu jauh dari jangkauan ku" gumam Zee sambil menutup matanya secara perlahan dan ia pun mulai memasuki alam mimpi.


Keesokan paginya ...


Quirin membuka mata nya, mata itu mulai berkedip berkali-kali, lalu ia mulai membelalakkan matanya.


"Dimana ini?" gumam Quirin dengan melihat ke ke kanan dan ke kiri.


Lalu Quirin terbangun lalu terduduk dan memeriksa seluruh tubuhnya, "kalau tidak terjadi apapun artinya dia yang membawaku" gumaman Quirin lalu bangun dari tempat tidurnya. lalu ia berjalan keluar ke arah pintu.


Quirin membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya setengah, ia melihat ke kanan dan ke kiri dan tidak mendapati seorang pun disana "mengapa sepi sekali?" gumam Quirin.


Quirin mengeluarkan seluruh tubuh nya dan mulai menutup pintu, saat itu ia mulai berjalan keluar dan menuruni anak tangga.


Quirin berjalan perlahan sambil menatap lukisan yang terpajang di dinding. Sepanjang tangga terdapat lukisan yang sangat di inginkan orang-orang.


Bahkan setiap lukisan itu tertera dua huruf F.V. Quirin yang baru melihat tanda tangan itu justru mengerutkan dahinya "tanda tangan ini ... apa mereka mengenal ibu?," gumam Quirin sambil berjalan memegang lukisan itu.

__ADS_1


Rasa penasaran Quirin semakin bertambah, "Sepertinya aku harus menanyakan hal ini pada Zee" lanjut Quirin sambil berjalan melangkah kan kaki nya menuruni anak tangga.


Quirin mencari-cari Zee ke sana dan ke mari, bahkan ia berlari tak tentu arah dan pada akhirnya jalan itu berujung ke arah taman tapi ia tidak menemukan Zee dimana pun.


Quirin terlihat terengah-engah, ia benar-benar sangat penasaran dengan lukisan dan siapa pelukisnya.


Tiba-tiba Quirin teringat satu tempat yang belum di tuju nya, "Dapur" gumam Quirin sambil berlari ke kearah yang belum pernah di datangi nya.


Dan benar saja tebakan nya, Disana Zee dan Xeno tengah sarapan dan tidak mengajak dirinya.


"Kalian kenapa tidak mengajakku?, aku juga butuh asupan" ucap Quirin dengan nafas terengah-engah.


"Aku sudah mengetuk pintu kamar mu berulang kali, tapi kau tidak mendengarnya, sepertinya kau tidur seperti orang mati" ucap Zee sambil mengunyah roti yang ada di di mulut nya.


Quirin tampak termenung, ia sendiri heran kenapa dirinya tidak pernah terusik jika sedang bersama Zee.


"Apa karena aku merasa aman ketika berada di dekatnya?" batin Quirin sambil termenung.


"Tidak!, orang tua ku yang mendapatkan lukisan itu, mereka pernah mengatakan bahwa yang melukis itu adalah seorang wanita, tapi ia selalu memakai topeng ketika berada di podium" jelas Zee.


Quirin menghela nafasnya, ia yang sudah penasaran sangat bersemangat ketika melihat lukisan itu berada di rumah Zee.


Quirin berpikir bahwa Keluarga Zee mengenal ibunya, tapi ternyata tidak. ia pun merasa sangat lega.


"Berarti mereka bukan orang terdekat ibu, aku sampai sekarang sangat penasaran siapa yang menyimpan barang-barang ibu di taman terbengkalai itu" batin Quirin.


Zee melihat ada kekecewaan di wajah Quirin, "ada apa?" tanya Zee dengan mengerutkan dahinya.


"Tidak ada" ucap Quirin sambil menggelengkan kepala nya.


Quirin tidak bisa membiarkan membiarkan Zee tau mengenai rahasia yang dia temui di rumah Alister.


Zee melihat kearah Quirin, ia tau ada yang tidak beres dengan wanita itu, tapi ia tidak ingin bertanya dulu padanya.

__ADS_1


Quirin mengambil roti dan mengoleskan selai di atas roti itu, ia langsung mengunyah makanan itu dengan rakus.


Bahkan, roti pertama telah habis, lalu Quirin mengambil roti ke dua, ia pun memakan roti itu dengan habis, Quirin mengambil roti ke tiga dan kembali menghabisinya.


Ketika Quirin ingin mengambil roti ke empat, sebuah tangan menghentikan tangan Quirin, siapa lagi kalau bukan Zee.


"Kau ingin tersedak sampai mati?, setidaknya minumlah dulu" ucap Zee sambil melihat ke arah Quirin.


Sedangkan Xeno tengah menatap Quirin dengan heran, ia tidak menyangka dan baru pertama kali melihat bahwa porsi makan Quirin sangat lah banyak.


Quirin melihat Zee, ia pun langsung mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan cepat kalau menelan nya.


Melihat itu, Zee pun langsung melepaskan genggamannya dari tangan Quirin.


Quirin mengambil minum dan langsung meneguknya hingga habis.


Setelah selesai, Quirin pergi dari sana dan pergi ke taman. "Segar sekali udara di sini, apa aku harus keluar sebentar?" gimana Quirin sambil menghirup udara segar yang ada di taman.


"Tidak bisa!, kau harus tinggal di sini satu harian" ucap Zee yang ternyata menyusul Quirin.


Quirin tersentak kaget dan ia pun menoleh kebelakang "apa maksudmu?, jika aku berada disini sepanjang hari, mana mungkin aku bisa membalaskan dendam ku" ujar quirin yang terlihat kesal.


Zee mengerutkan dahi nya, "Apa kau tau?, ketika kau tidak sadarkan diri aku yang mengangkat mu, dan hal itu benar-benar merepotkan ku" ucap Zee dengan datar.


Quirin melorotkan matanya, ia tidak percaya bahwa ketika dirinya pingsan ternyata Zee lah yang mengangkat dirinya.


"Ah ... maafkan aku, aku tidak bermaksud merepotkan mu" ucap Quirin merasa bersalah.


mendengar ucapan rasa bersalah itu, Zee pun sedikit luluh, namun ia tidak bisa lunak ketika berhadapan dengan wanita keras kepala ini.


"Jika kau tidak ingin merepotkan ku, maka dengarkan perkataanku, semua ini juga demi menjaga kesehatan mu" ucap Zee sambil meninggalkan Quirin di taman.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2