
Vano mengikuti langkah kaki Xura, lalu ketika Xura memasuki mobil, Vano justru menghentikan langkahnya.
"Apa kita akan pergi nona?" tanya Vano pada Xura.
"Masuklah, aku ingin pergi ke suatu tempat" ucap Xura sambil memasuki mobilnya.
Vano terlihat ragu untuk masuk kedalam mobil, ia melihat keatas dan ternyata Zee sudah menatapnya dengan tajam dari atas balkon.
"Sialan!, kenapa tuan menatapku seperti itu, tapi bukankah semua ini karena dirinya sendiri?, lagi pula aku hanya membuat perkataannya menjadi nyata serta aku juga harus membantu nona Xura berakting" batin Vano sambil membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.
Xura membawa mobil itu dengan kecepatan sedang, begitu mobil itu keluar dari gerbang, Xura langsung mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
"Nona, apa yang akan kau lakukan dengan wanita itu?" tanya Vano dengan mencoba membuka obrolan.
"Entah lah Vano, sepertinya aku tidak akan melakukan apapun" ucap Xura dengan santai.
Vano menoleh kearah Xura, ia melihat wanita itu tengah tersenyum smirk dengan tatapan lurus.
"Astaga, awalnya aku percaya bahwa dia tidak akan melakukan apapun pada Gilma, tapi setelah aku melihat wajah nona Xura, aku jadi tidak yakin dengan perkataannya itu" batin Vano sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Xura membawa mobil itu melaju melewati kota, ia pun memarkirkan mobilnya di parkiran.
Vano melihat ke sekelilingnya ternyata Xura membawanya ke sebuah pasar "Nona?" tanya Vano sambil menoleh.
"Maukah kau menemaniku berkeliling?" tanya Xura sambil tersenyum.
Vano bisa melihat bahwa senyum itu bukanlah tanda kebahagian, melainkan seperti memancarkan sebuah kesedihan.
__ADS_1
"Apa kau orang yang seperti ini nona?" batin Vano sambil menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari mobil.
Xura tampak sangat antusias, ia terus melihat ke kanan dan kekiri tanpa henti, sedangkan Vano yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Pergilah nona, kau bebas mengambil apapun yang ada di pasar ini" ucap Vano sambil mendorong tubuh Xura dengan pelan agar nona nya itu segera membeli apa yang dia inginkan.
"Semuanya?, benarkah?" tanya Xura dengan sangat antusias serta mata yang sangat berbinar.
"Tentu saja, Nona bisa membeli apapun karena kali ini aku yang akan mentraktir, nona" ucap Vano sambil menganggukkan kepalanya.
Xura pun langsung berlari kearah penjual manisan buah, ia langsung mengambil dua tusuk lalu memberikan satu pada Vano "Ambillah, ini waktunya kita bersenang-senang" ucap Xura sambil menggigit manisan itu.
Vano segera membayar manisan itu, dan langsung mengambil manisan yang di berikan oleh Xura.
"Terimakasih nona" ucap Vano sambil memasukkan manisan itu ke mulutnya.
Sedangkan Vano memperhatikan dari kejauhan sambil tersenyum "kau sangat hebat nona, kau bisa melewati semua rintangan itu dengan usahamu sendiri, dan aku sangat berharap kau bisa tertawa seperti ini di samping tuan muda" batin Vano sambil menghampiri Xura.
"Nona, kita sudah terlalu lama di luar, sekarang waktunya kita pulang nona" ucap Vano sambil menatap Xura yang berjongkok.
Senyum indah itu tampak memudar lalu Xura pun mengangguk setuju, kali ini yang menyetir adalah Vano.
Keheningan mulai terjadi di dalam mobil, Vano sedikit canggung karena tidak ada obrolan di antara mereka "Nona, apa kau akan melanjutkan akting itu?" tanya Vano sambil menyetir agar memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
Kini wajah datar itu terus menatap kedepan "Tentu saja, ini pasti akan sangat menyenangkan Vano" ucap Xura sambil tersenyum smirk.
Vano pun melirik kesamping, ia terkejut melihat perubahan Xura yang begitu cepat "apa aku salah?, seharusnya aku membiarkan wajahnya tampak datar saja, daripada aku harus melihat senyuman yang menjengkelkan itu" batin Vano sambil menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Vano tidak ingin berlama-lama di dalam mobil bersama Xura, karena ia merasa takut dengan senyuman yang di tampilkan oleh Xura.
Setelah sampai di mansion, mereka berdua masuk dengan Xura yang tertawa, lalu langkah keduanya berhenti ketika melihat Zee sudah berada di depan mereka.
Xura langsung memutar bola matanya dengan malas "Sayang, sebaiknya kita masuk lewat pintu belakang saja" ucap Xura sambil menggandeng tangan Vano.
Vano pun menyetujui perkataan Xura dengan memberikan sebuah anggukan.
Saat kaki mereka akan melangkah, tiba-tiba saja Zee menghentikan pergerakan kali mereka.
"Tunggu!" ucap Zee dengan tegas.
Vano dan Xura pun berbalik dan menatap Zee dengan datar "Ada apa, tuan muda?" tanya Vano sambil berdiri tegap.
"Apa kalian benar-benar ... " ucapan itu tiba-tiba saja tidak bisa di selesaikan oleh Zee.
Lalu Xura pun mengerti arti perkataan Zee, dan ia tersenyum tipis sehingga tidak ada yang menyadarinya "Tentu saja, bukankah kau yang memperkenalkan ku seperti itu?, jadi aku sudah mengatakannya dengan Vano dan dia setuju untuk menjadi pacarku" ucap Xura sambil tersenyum dan menyenderkan wajahnya di lengan kekar Vano.
Tangan Zee yang berada di saku celana kini sudah terkepal dengan kuat, ia tampak sangat marah mendengar perkataan Xura, tapi Zee yakin bahwa jika dia mengeluarkan kekesalannya itu, maka semua situasi ini akan semakin runyam.
"Jika tidak ada yang tuan katakan, aku dan pacarku akan pergi, permisi tuan" ucap Vano sambil membungkukkan tubuhnya dan Xura pun mengikuti gestur Vano.
Zee tampak seperti patung, setelah kepergian keduanya, Zee tampak menutup matanya sebentar lalu membukanya sambil menghela nafas pelan.
"Apa yang sudah aku lakukan?, kenapa situasi ini berubah seperti ini?" batin Zee sambil menggeram marah
Bersambung ...
__ADS_1