
Di luar ruangan, semua orang tengah menunggu Xeno keluar, sedangkan Xeno yang baru saja membuka pintu, kini menutup pintu itu kembali, "biarkan dia menjaga Zee, dan jangan biarkan siapapun masuk kedalam," ucap Xeno yang melihat kearah Vano.
Vano yng mendengar perintah itu pun langsung mengangguk dan dirinya berdiri tegak didepan pintu itu
Sedangkan Max yang mendengar itu pun merasa tidak terima, ia maju dan menghadang Xeno yang hendak melangkah pergi.
"Tunggu, kenapa kau membiarkan wanita iru menjaga Zee?, apa kau sudah gila?, Zee berada di rumah sakit karena wanita itu, dan sekarang kau mendukungnya?," tanya Max dengan marah.
Xeno yang mendengar itu pun merasa sangat marah pada Max, "Lalu kau ingin aku melakukan apa?, mengusirnya?, jika kita mengusirnya dan Zee terbangun lalu mencari Xura, apa yang akan kau lakukan?" tanya Xeno membalas Max dengan berteriak juga.
Benjolan-benjolan yang ada di leher Xeno bahkan terlihat sangat jelas.
Max terdiam mendengar perkataan Xeno, dan kesunyian pun terjadi diantara mereka.
"Apa kau tau kehidupanku di saat Zee berada dalam mode yang tidak waras?, untuk bernafas sedetik saja, aku tidak bisa melakukan itu!, aku menghandle seluruh pekerjaannya dan menjalankan beberapa proyek sendirian. Apa kau pikir melakukan semua itu menyenangkan?!" teriak Xeno dengan amarah menggebu-gebu.
__ADS_1
"Dan ketika aku pergi berlibur, kejadian buruk ini bahkan terjadi pada Zee, aku terpaksa kembali ke Inggris dan begitu aku tiba, kalian semua mengusir dia?, lelucon macam apa ini?!" teriak Xeno lagi.
Ia melampiaskan kekesalannya pada mereka yang telah mengusir Xura. Mereka bahkan tidak mengetahui seberapa tidak waras nya Zee ketika Xura meninggalkannya.
Sedangkan Xeno hanya bisa tersenyum tipis ketika tumpukan berkas di depannya kian bertambah, hal itu berjalan sampai setengah tahun lamanya.
Xeno bahkan hampir ikut gila karena dirinya benar-benar sulit untuk bernafas, ketika bertemu dengan Al, Max, Vano, Gavin, Arnius dan Staren, ia menceritakan betapa ganasnya Zee pada wanita-wanita itu, dan membuat mereka mati hanya dengan satu tarikan pelatuk.
Hal itu yang di katakan sepenggal cerita, karena Xeno tidak menceritakan kesulitannya didepan mereka.
padahal di dalam hati Xeno, ia bahkan benar-benar putus asa karena tidak sanggup menerima beban yang di berikan oleh Zee.
Jika itu orang lain, maka mereka memilih untuk meninggalkan perusahaan Zee, tapi tidak dengan Xeno, ia justru memilih untuk bertahan di samping Zee karena mengingat bahwa Zee adalah sang penyelamatnya.
Melihat kebungkaman Max, Xeno maju dan meraih kerah pakaian Max.
__ADS_1
"Kau yang terlahir sebagai orang kaya pasti tidak tau yang namanya utang Budi, bahkan kau sendiri tidak pernah berada di samping Zee, jadi ku sarankan untuk tutup mulut mu dan duduk diam disana ... " lalu Xeno melepas tangannya dari kerah pakaian Max.
"Dan kau tuan muda Alvey, bagaimana kau bisa lupa seperti apa Xura membantumu mengurus Clamy. Seharusnya kau juga tau mengenai seperti apa kasus percintaan Xura, dan kau yang berprofesi sebagai dokter tidak mungkin tidak tau apa yang paling di butuhkan oleh pasienmu," Lanjut Xeno sambil menoleh kearah Al.
Al dan Max tampak berdiri mematung, kini mereka membenarkan perkataan yang keluar dari mulut Xeno.
Keduanya mengingat bahwa Xeno memang benar-benar tidak mengeluh tentang pekerjaan nya, ia terus bercerita tentang wanita yng di buluh oleh Zee saja.
"Bagaimana aku tidak menyadarinya," batin Al sambil melihat kearah Xeno.
Kini ketika melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, Al bisa melihat bahwa Xeno sudah benar-benar terlihat kurus dan seperti kekurangan Gizi.
"Pantas saja Alica mengatakan lebih memilih menghubungi Max, ternyata ini alasannya," batin Al yang terus menatap dengan intens
Bersambung ...
__ADS_1