Another Person Life

Another Person Life
Tangisan Keluarga


__ADS_3

"Kau tidak membantunya Quirin?" tanya Grizo


Quirin yang menguap mulai menoleh kearah Grizo "itu bukanlah urusanku, aku hanya bertanya kenapa dia berteriak?, apa dia mengira ini adalah hutan sehingga bebas berteriak sekeras itu?, dasar pelayan rendahan" ucap Quirin kesal


Grizo menghela nafas kasar, ia berpikir sekarang bukan waktunya berdebat, karena Beymi seperti sedang syok sehabis melihat sesuatu "ayah tidak tau, Beymi mengatakan untuk mengikutinya" jelas Grizo


Quirin yang mendengar itu merasa jengah "tapi tidak perlu berteriak sekeras itu, karena itu sangat mengganggu" ucap Quirin sambil memutar bola mata malas


Disaat seperti ini Calis memiliki ide licik "Quirin!, kau benar-benar keterlaluan, jika tidak mau ikut yasudah tidak apa-apa, tidak perlu mengatakan hal sekejam itu pada pelayan Beymi" ucap Calis berpura-pura membela pelayan Beymi agar Grizo bersimpati padanya.


Sedangkan Grizo yang mendengar itu merasa tidak terima "Calis!, jaga ucapanmu" tegur Grizo sambil melihat tajam kearah Calis


Calis langsung terdiam, ia langsung membuang wajahnya ke sembarang arah "kenapa Grizo tidak terpancing dia justru malah memarahiku" batin Calis kesal


Setiba Lura ditempat mereka, ia terkejut melihat Beymi duduk sambil menunduk "Ibu, ayah, ada apa?, kenapa pelayan Beymi terduduk didepan kamar kakak?" tanya Lura penasaran


Grizo menoleh kebelakang "ayah tidak tau, beymi mengajak kita mengikutinya, tapi sepertinya dia tidak bisa berdiri, kau bantu dia berdiri" ucap Grizo


Clamy yang mau mencari simpati keluarga itu pun langsung memiliki inisiatif untuk membantu Beymi berdiri.


Quirin yang melihat itu tersenyum smirk tapi semua orang tidak melihat senyum itu karena mereka terlalu fokus pada Beymi.


"Kau ingin pergi kemana?" tanya Clamy setelah menggandeng tangan kiri sedangkan Lura berada disebelah kanan


"Ruang bawah tanah nona" jawab Beymi pelan, ia merasa tidak mempunyai tenaga lagi.


Lura yang mengetahui letak ruangan itu langsung berjalan dan diikuti oleh semua orang tak terkecuali Quirin. ia mau tidak mau juga harus ikut karena dirinya sangat penasaran dengan reaksi semua orang.


"Its show time" gumam Quirin menyeringai


Setelah sampai Beymi ingin membuka handle pintu tapi tangannya seakan tak bertenaga, Clamy yang melihat itu langsung membantu membuka pintu itu.

__ADS_1


Saat pintu mulai terbuka, semua orang sangat terkejut melihat kedalam ruangan, mereka menampilkan ekspresi yang sama, bagaimana tidak?, nyonya besar Alister tergeletak di lantai bersimbah darah dengan perut terbelah disertai jari-jari kaki hancur.


Semua orang syok melihat kondisi Jean begitu mengenaskan, bahkan Clamy yang bukan anggota keluarga Alister gemetar ketakutan dengan yang dilihatnya.


"Ibuuuu!" teriak Calis sambil berlari kedalam


Grizo terpaku di depan pintu dan berjalan perlahan memasuki ruangan itu.


Air mata mulai membanjiri pipi Grizo "i-ibu" ucap Grizo jatuh terduduk di samping mayat jean


Kedua orang yang memegang Beymi menjatuhkan air matanya, mereka tanpa sadar melepas Beymi hingga membuat Beymi jatuh.


"Nenek" gumam Lura sambil berjalan masuk dan memeluk sang ibu yang berdiri di sampingnya.


Clamy yang tidak kuat melihat banyaknya darah berlari keatas membuang seluruh isi perutnya.


Didepan pintu hanya tersisa dua orang, Quirin berjongkok disamping Beymi "pembunuh!" bisik Quirin ditelinga beymi


Quirin mengernyitkan dahinya "padahal kau sudah aku beri peringatan, seharusnya kau tau seperti apa diriku, tapi kau tetap saja mengunci kami berdua, jadi bisa dikatakan disini kau lah pembunuhnya" bisik Quirin sambil menyeringai


Dalam keadaan syok Beymi menggelengkan kepalanya menutup kedua telinganya "tidak!, tidak!" gumam Beymi sambil menunduk takut.


"Haha .... bukankah ini menarik?, kenapa kau setakut ini?, aku bahkan belum membalas perbuatanmu padaku, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, jadi berhati-hatilah, karena aku bisa mencabut nyawamu kapanpun yang aku mau" bisik Quirin sambil menyeringai


Keadaan Beymi semakin kacau, keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuh Beymi, air mata mengalir dengan deras, wajahnya tampak sangat pucat seakan tubuhnya tidak memiliki darah.


Sedangkan didalam ruangan itu terdengar Isak tangis Calis, Grizo dan Lura.


Grizo memegang tangan Jean "Ibu, siapa yang melakukan hal sekejam ini padamu?, aku tidak akan pernah memaafkannya" ucap Grizo dalam tangisnya


Grizo tidak sanggup melihat perut Jean menganga lebar, ia membuka bajunya dan menutupi perut Jean.

__ADS_1


Calis dan Lura menangis sejadi-jadinya, Calis merasa kehilangan karena Jean akan selalu membantunya disaat dirinya sedang kesusahan.


Tiba-tiba tubuh Calis melemas, Lura terkejut dan tidak sanggup menahan tubuh sang ibu "ayah tolong ibu!" teriak Lura


Grizo langsung menahan tubuh Calis, ia panik melihat Calis terjatuh di sampingnya


Grizo menoleh kebelakang, di sana terdapat Beymi terduduk sambil menangis dan Quirin sedang berjongkok "apa yang kau lakukan?! cepat bantu nyonya!" teriak Grizo marah


Beymi tersentak kaget, ia berusaha berdiri walau kakinya gemetar hebat "ba-baik tuan" ucap Beymi pelan


"Pem-bunuh" bisik Quirin sambil menekan perkataannya.


Beymi melangkahkan kakinya secara perlahan, kakinya seolah tidak sanggup untuk melangkah tapi karena majikannya baru memberi perintah, ia tidak bisa menolak perintah itu.


"Lura keluarlah bersama ibu dan pelayan Beymi, serahkan urusan disini pada ayah dan kakakmu" ucap Grizo sambil menghapus air matanya.


Lura mengangguk dan membawa sang ibu keluar, saat sampai di depan pintu, Lura melihat Quirin berjongkok santai sambil tersenyum smirk.


Lura menghentikan langkahnya sambil menatap Quirin, ia merasa heran karena senyum itu sangat mengerikan baginya "kenapa kakak tersenyum seperti itu?" batin Lura


Beymi tidak ingin berlama-lama berada di hadapan Quirin karena tatapan Quirin benar-benar menakutkan untuknya "nona muda, sebaiknya kita cepat membawa nyonya keluar dari sini" ucap Beymi sambil melihat kearah Lura


Lura mendengarkan perkataan Beymi, ia langsung bergerak membawa sang ibu keluar dari ruangan itu.


Quirin berdiri dan menyandarkan tubuhnya di depan pintu, ia menatap Grizo yang sedang menangis tersedu-sedu di samping mayat Jean, tatapan itu terlihat tidak perduli dengan kesedihan orang lain "dulu kalian selalu membiarkanku menangis, sekarang lihat lah, kalian bahkan terlihat sangat rapuh daripada diriku saat itu" gumam Quirin sambil menyeringai


Quirin berjalan masuk dan berjongkok disamping Grizo "Ayah" panggil Quirin sambil menepuk pundak sang ayah


"Quirin, siapa yang melakukan pada nenekmu?, selama hidup nenekmu tidak pernah membuat kesalahan" gumam Grizo sambil menutup wajahnya dengan satu tangan, ia tidak ingin anaknya melihat dirinya begitu rapuh.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2