
Jay pergi meninggalkan Rea di ruangan itu sindiran tanpa mengucapkan sepatah kata, sedangkan Rea melihat reaksi sang papa yang tersenyum pahit membuat hatinya begitu sakit.
"Sebenarnya apa yang papa sembunyikan?, kenapa papa berekspresi seperti itu?, aku ingin tahu segalanya tapi aku tidak bisa menanyakan nya pada papa ataupun keluarga lain, karena aku sudah berjanji pada papa untuk tidak mengatakannya pada siapapun" gumam Rea sambil menunduk.
Rea berpikir cukup lama, ia pun memiliki ide untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya, "sepertinya aku harus menggali informasi ini dari Quirin sendiri agar semuanya bisa menyatukan teka teki yang ada didalam pikiran ku" gumam Rea sambil bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar.
***
Sedangkan Clamy sangat menikmati kehidupannya di rumah megah itu, ia bahkan kelihatan lebih nyaman berada di rumah itu daripada saat dirumahnya sendiri.
"Haha ... rumah ini kedepannya akan menjadi milikku, lalu aku akan dengan mudah mengusir nona sok kaya itu keluar dari rumah ini" batin Clamy
Karena rasa iri yang ada di dalam hati, Clamy bahkan sudah menutup mata bahwa yang membantunya dari serangan media adalah Quirin.
Saat Clamy sedang menikmati mimpinya, tiba-tiba Grizel masuk kedalam kamar, ia melihat Clamy sedang duduk sambil bersandar di tempat tidur.
"Nona, aku harus mengganti perban yang ada di tubuhmu, lalu makanlah roti ini, setelah itu minum obat agar lukamu cepat pulih" perawat itu berjalan kearah Clamy lalu memberikan sebuah nampan yang berisi makanan, minuman serta obat-obatan.
Clamy langsung tersenyum lalu menuruti semua perintah Grizel. ia tidak membantah karena menurutnya Grizel orang yang sangat baik dan selalu membantunya di kala dirinya mengalami kesulitan.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Grizel keluar dan ia tersentak kaget karena Quirin sudah berdiri di depan pintu "astaga nona, kau mengagetkanku" ucap Grizel sambil mengelus dadanya dan menghembuskan nafas dengan pelan.
"Bisa kita bicara?" tanya Quirin dengan nada dingin dan berwajah datar.
Grizel yang melihat bergidik ngeri "bi-bisa nona" ucap Grizel yang sedikit gugup.
Setelah mereka diruang tamu Quirin duduk dan melipat kedua tangannya dan satu kaki menumpu di kaki lain "bukankah kau pekerja magang?" tanya Quirin dengan tatapan datar
__ADS_1
"Bagaimana nona bisa tau?, setelah bertemu dengannya aku bahkan hampir tidak pernah mengatakan apapun, lalu dia juga bisa mengetahui namaku" batin Grizel heran
Grizel tak ingin memikirkan apapun, ia langsung menjawab pertanyaan Quirin dengan penuh percaya diri "benar nona"
"Lalu, untuk apa kau berada disini?, bukankah kau harus menyelesaikan masa magang mu?"
"Aku hanya kasihan padanya karena dia sedang sakit lalu orang-orang memukulinya dan mencemoohnya"
"Jika kau berada diposisi wanita petinggi rumah sakit, apa yang akan kau lakukan?, apakah kau masih bisa bersikap seperti ini?, ataukah sikapmu akan berubah seperti petinggi rumah sakit itu?"
Grizel cukup lama terdiam, saat menolong Clamy, ia bahkan tidak memikirkan perasaan wanita petinggi rumah sakit tempatnya magang karena menurutnya profesional dalam pekerjaan adalah hal yang terpenting.
"Kenapa kau terdiam?, kau tidak mungkin tidak memikirkan perasaannya bukan?," tanya Quirin lagi sambil mengernyitkan dahinya.
"Saya hanya menjalankan profesi saya nona" ucap Grizel yang tidak membantah ataupun menjawab pertanyaan Quirin.
"Kenapa nona memberikanku pilihan yang sulit?"
"Kau tau sendiri kota sangat jauh dari sini, aku tidak bisa mengantarmu setiap hari, kau bukan bawahanku dan itu akan membuatku repot, dan juga kami hanya memiliki satu kendaraan, jadi sekarang tentukan pilihanmu, karena ini adalah jawaban final." ucap Quirin dengan datar
Sebelum berangkat ia yakin bahwa dirinya bisa membagi waktu antara pekerjannya dan membantu merawat Clamy, tapi setelah mendengar penuturan Quirin, Grizel tampak ragu untuk tinggal di rumah ini karena jarak kota dan rumah tempat ia berpijak sangatlah jauh.
"Apa pilihanmu?, aku tidak punya waktu untuk menunggu jawabanmu, aku memiliki pekerjaan yang jauh lebih penting, jika kau ingin tinggal maka aku akan membiarkanmu hidup dengan gratis di rumah ini" ucap Quirin sedikit kesal
"Aku memilih menemaninya" ucap Grizel tanpa ragu
"Baiklah, karena itu pilihanmu, jangan menyesal dikemudian hari" ucap Quirin meninggalkan Grizel yang duduk sambil tertunduk.
__ADS_1
"Situasi ini memang merepotkan, tapi tidak menutup kemungkin aku akan mengundurkan waktu untuk memberi Clamy hukuman. Sepertinya aku membutuhkan seseorang untuk membantuku, semoga dia segera membalas pesanku" batin Quirin sambil mengeluarkan ponselnya lalu mengirimi sebuah pesan pada seseorang.
Setelah menunggu lama orang itu membalas pesan Quirin, melihat balasan itu membuat Quirin tersenyum "terimakasih, berkatmu pekerjaanku terasa jauh lebih mudah"
Beberapa jam menunggu, Quirin berdiri didepan rumah, ia melihat sebuah mobil berhenti didepannya.
Seorang dengan wajah kesal turun dari mobil itu "selamat datang" Quirin menyambutnya dengan senyuman tapi orang itu tidak menjawab apapun, lalu ia menerobos masuk tanpa memperdulikan Quirin yang ada di hadapannya.
"Sungguh menyebalkan, tidak bisakah melirikku sedikit" gumam Quirin sambil mengepalkan satu tangannya.
Setelah mereka masuk, keduanya tampak duduk bersebrangan, orang itu tetap memperlihatkan wajah kesalnya pada Quirin "bagaimana kabarmu Al?" tanya Quirin sambil melipat kedua tangannya.
"Jangan bertanya pertanyaan bodoh nona, dari wajahku apakah terlihat baik-baik saja?" tanya Al dengan kesal
"Ba-baiklah, maafkan aku sudah menanyakan hal yang tidak penting" ucap Quirin sambil tertawa canggung.
"Apa yang membuat nona memanggilku kemari?" tanya Al datar dan berterus terang.
"Kali ini aku membutuhkan bantuan mu" ucap Quirin dengan percaya diri.
Al berdecak kesal "jika aku tidak ingin membantumu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Al dengan datar.
Quirin melebarkan matanya, ia tidak percaya Al langsung menolaknya dengan tegas "eh ... tidak bisa, kau harus membantuku, kalau tidak, aku akan melaporkanmu pada Zee" ancam Quirin sambil tersenyum smirk
"Nona, aku tidak lupa dengan perbuatan yang telah kau lakukan padaku, jadi kali ini jangan harap kau bisa meminta bantuan ku" ucap Al dengan mata tajam.
Quirin terkejut mendengar perkataan menohok dari Al, ia pun terlihat binggung harus membujuk Al dengan cara apa, karena bantuan yang ingin dikatakan Quirin akan berhubungan dengan Clamy.
__ADS_1
Bersambung ...