Another Person Life

Another Person Life
Kemarahan Alvey


__ADS_3

Al yang terlihat kesal sudah keluar dari ruangan, ia melihat Zee masih berdiri di depan pintu, tatapan keduanya pun bertemu dan terlihat Zee menatapnya sangat dingin, Al sedikit takut jika Zee marah kepadanya.


"Maafkan aku, aku sungguh tidak tahan dengan sikapnya" setelah mengatakan itu Al mengalihkan pandangannya kearah lain dan langsung melangkahkan kakinya, sedangkan Vano yang baru saja keluar juga mengikuti langkah Al.


Zee yang melihat punggung Al menghela nafas pelan "dia pantas mendapatkan itu" jawab Zee sambil melangkahkan mengikuti langkah kaki Al.


Mendengar hal itu Alvey merasa sedikit lega, ia sempat berpikir bahwa Zee memihak dengan Xeno, mengingat Xeno sangatlah dekat dengan Zee, ternyata dugaannya salah.


Alvey berdecak kesal "ck, dia pikir siapa dirinya, aku saja yang saat itu masih bocah masih bisa berpikir bahwa dia pasti memiliki alasannya sendiri, tapi begitu dia sudah dewasa, justru dia yang melupakan perbuatannya dan menghakimi Quirin seperti itu, apa karena kita dulu terlalu baik padanya hingga membuat dia besar kepala seperti itu?,"


"Jangan berpikir seperti itu, kau juga tau bahwa dia mengalami hal yang sangat sulit, dan saat itu hanya neneknya yang membantunya"


"Aku tau, tapi apa pantas dia mengatakan hal sekejam itu pada Quirin, yang mana Quirin kemungkinan mengalami hal yang sama dengannya?, apa dia tidak berpikir seperti itu?, bukankah selama ini dia orang yang sangat pandai dimata orang-orang?, tapi kenapa sekarang otaknya tidak bekerja dengan semestinya?"


Kemarahan Al membuat Zee dan Vano terdiam, walau Al adalah orang yang ceria tapi di balik sifatnya itu, ia tidak membenarkan orang terdekatnya menghakimi orang yang mereka kenal, padahal dirinya sendiri membuat kesalahan yang sama dengan orang yang di hakimi nya.


Vano dan ketiga bodyguard lainnya mengetahui seluk beluk dari triangle, walaupun mereka hanya bodyguard tapi dimata para triangle mereka masuk kedalam kategori keluarga dan mereka juga memiliki kisah yang berbeda-beda.


"Sudahlah, lain kali kita akan membuatnya mengerti" ucap Zee sambil menepuk pundak Al.


"Tidak!, kali ini aku tidak memaafkan kesalahannya itu!," ucap Al mempercepat langkahnya dan meninggalkan Zee dan Vano.


Zee dan Vano bahkan belum pernah melihat Al marah pada Xeno, tapi kali ini, mereka melihat kemarahan itu dengan sangat jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Tuan, menurut saya tuan Xeno benar-benar keterlaluan, wajar saja tuan Al begitu marah padanya, dia menganggap semua nenek didunia ini sama dengan neneknya"


Zee hanya bisa menghela nafas, ia yakin suatu saat Quirin akan membalas perbuatan Xeno dan tidak akan membunuhnya.


...****************...


Quirin yang sudah keluar dari rumah sakit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, saat sampai di depan rumah, ia melihat sebuah mobil yang sangat asing terparkir di sana.


Quirin turun dan mencari sang pemilik mobil, tiba-tiba, seseorang meneriaki namanya "Quirin!" teriak orang itu sambil berlari memeluknya.


Quirin berdiri seperti patung ketika orang itu memeluk, lalu orang itu memeluknya dengan sangat erat sehingga membuat Quirin tersadar.


"Rea?, kenapa kau berada disini?" tanya Quirin heran sambil menepuk pundak Rea.


Quirin menaikkan alisnya, pasalnya sejak pertemuannya terakhir kali, mereka tidaklah sedekat ini.


Tapi Quirin tidak mempermasalahkannya karena menurutnya Rea bukanlah orang jahat yang akan memanfaatkannya "baiklah, kalau begitu, sebaiknya kita masuk dulu" ucap Quirin tersenyum sambil mempersilahkan Rea memasuki mansion nya.


Saat tiba di dalam, Quirin tidak melihat siapapun, ia pun tidak ambil pusing dan pergi ke dapur untuk membuatkan Rea minuman.


Setelah selesai, Quirin membawa nakas yang berisi dua gelas minuman dan sebuah cemilan "minumlah, aku membuatnya dengan sepenuh hati" ucap Quirin sambil menaruh satu gelas itu di hadapan Rea.


Rea menaikkan satu alisnya "kau yakin dengan sepenuh hati?, aku curiga kau menaruh racun didalamnya" sahut Rea sambil mengangkat gelas itu dan meneguknya sedikit.

__ADS_1


"Baiklah, jika kau mati disini, maka aku akan mengangkat tubuhm dengan kedua tanganku dan menguburnya dibelakang mansion ku" ucap Quirin dengan santai.


Rea yang mendengar itu melototkan matanya dengan lebar "apa menurutmu lelucon mu itu tidak keterlaluan?" tanya Rea sedikit kesal.


"Haha ..." Quirin tertawa sedikit keras, ia seakan merasa sangat akrab dengan Rea, tapi dalam ingatkan Quirin, dirinya tidak memiliki keluarga selain Grizo.


Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membuat tawa Quirin terhenti.


"Kakak, kapan kau kembali?, apa ada hal yang sangat mendesak sehingga kau pergi terburu-buru?"


"Bukan urusanmu!" ucap Quirin dengan tatapan tajam.


Rea menoleh kearah sumber suara, ia melihat seorang wanita tengah berjalan kearah mereka.


"Ke-kenapa kakak berbicara kasar seperti itu?, apakah aku memiliki salah?" ucap Lura sambil menunduk.


Rea yang melihat wajah wanita itu lalu menoleh kearah Quirin "tidak mirip" batin Rea


Quirin melirik kearah Rea, ia sangat mengerti arti tatapan Rea "adik tiri yang berbeda ayah dan ibu" jawab Quirin dengan santai.


Rea terkejut dan mengernyitkan dahinya, ia terlihat binggung dengan ucapan Quirin, dan Rea juga merasa ada rahasia di balik mansion Alister "aku harus mengatakan ini pada papa" batin Rea.


Sedangkan Lura yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2