Another Person Life

Another Person Life
Rencana Bivia


__ADS_3

Kai berdiri dari duduknya dan menatap Cassi "Kita pergi sekarang" ucap Kai dengan sikap acuh tak acuh


Cassi mulai tersenyum dan beranjak, ia langsung mengalungkan tangannya di lengan Kai "Ayo sayang, nanti kita belanja baju, tas, sepatu, kalung dan masih banyak lagi" ucap Cassi


Kai tidak habis pikir, padahal perusahaan baru saja stabil, Cassi selalu minta berbelanja, ia seperti sangat tidak memikirkan perusahaan "Bukankah baju dilemari mu masih banyak, bahkan itu belum tersentuh, untuk apa kau menghambur-hamburkan uang sebanyak itu" ucap Kai dengan datar


"Aku ingin model yang terbaru" ucap Cassi dengan manja


Kai hanya bisa menghela nafas "Aku sangat ingin pergi darinya, tapi semua keuanganku berada di tangan Cassi" batin Kai


"Seharusnya aku tidak mengikuti kemauan Cassi, Xura apa kau masih hidup?, sungguh aku sangat menyesal" batin Kai merasa menyesal


***


Quirin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia melihat kekanan dan kekiri dan melihat danau yang sangat asri, Quirin berfikir untuk jalan-jalan sebentar, ia menurunkan kecepatan mobilnya dan memarkirkannya ditepi jalan.


"Huh seharusnya aku melihat ini sejak awal, aku sangat ingin menenangkan pikiran dan menekan semua amarahku" ucap Quirin sambil keluar dari mobilnya


Diseberang sana terdapat seorang wanita dan pria tua sedang bercumbu didalam mobil.


Wanita itu melihat Quirin keluar dari mobil, seakan memiliki ide yang licik, wanita itu menghentikan aktifitasnya


"Sayang, aku memiliki permintaan" ucap wanita itu manja


"Permintaan apa sayang?" ucap pria tua itu sambil menghirup aroma tubuh wanita itu


"Bantu aku menyingkirkan wanita itu sayang" ucap Bivia sambil menunjuk kearah Quirin yang sedang menghirup udara segar


Pria itu menoleh kebelakang "Baiklah sayang, tapi aku meminta sebuah imbalan" ucap pria tua itu dengan langaung menatap dada Bivia dengan mesum


Senyuman terbit dibibir Bivia "Aku akan memberikan semua yang kamu minta" ucap Bivia sambil mengalungkan tangannya di leher pria tua itu


"Aku harus membalas wanita itu, jika saja dia tidak ada sudah pasti aku yang berada di samping tuan muda Zee, dan hidupku tidak seperti ini" gumam Bivia menggeretakkan giginya


Pria tua itu memanggil dua orang untuk melancarkan aksinya pada Quirin.

__ADS_1


Setelah keduanya datang, mereka langsung mencari ciri-ciri Quirin dan langsung menemukannya.


Quirin merasakan ada yang tidak beres, instingnya mengatakan jika ada orang yang mengikuti pergerakannya, ia berbalik dan melihat dua orang pria berlari mendekatinya dari belakang.


"Huh menyebalkan, sepertinya aku harus bertarung" gumam Quirin sambil membunyikan semua jari-jarinya


Quirin maju terlebih dahulu sebelum keduanya menyentuh tubuh Quirin.


Quirin dengan cepat menahan kedua tangan itu, dan memutar tangan kanan keduanya


KREKKKKKKK


"Sakit, Sakit" ucap keduanya secara bersamaan,


Quirin menghempas mereka dan keduanya jatuh ketanah, mereka menahan rasa sakit yang amat luar biasa. sepertinya tangan kanan keduanya patah akibat Quirin memutar dengan paksa.


Keduanya berusaha bangkit dan memaksa untuk bertarung dengan Quirin memakai tangan kiri, namun lagi-lagi Quirin mematahkan tangan keduanya hingga keduanya terjatuh dan tidak sanggup untuk berdiri karena menahan sakit di kedua tangan mereka.


Quirin berjongkok dihadapan keduanya "siapa yang menyuruh kalian?" ucap Quirin menatap keduanya dengan tajam


Keduanya tidak mau menjawab, mereka hanya bungkam dan malah menatap Quirin dengan tajam.


Keduanya hanya diam, Mereke menagnggap remeh Quirin, karena mereka tidak tau apa yang ada di tangan Quirin.


Quirin memilih salah satunya untuk di jadikan target bahan percobaan racun yang dia ambil.


Quirin berdiri sambil menyeringai, ia membuka tutup botol meneteskan racun itu di bahu salah satu dari mereka.


Arrrggggghhhhhhhhhhh


Jeritan itu membuat teman disebelahnya terkejut, ia membulatkan matanya dan melihat racun itu mampu merusak kulit temannya.


"Apa yang kau lakukan!" teriak temannya, hanya melihat saja sudah bisa membuatnya merinding, kedua tangannya saja terasa sakit, bagaimana jika terkena tetesan cairan itu


"Hanya meneteskan ini, jika saja kalian menjawab pertanyaanku, maka temanmu tidak akan terluka seperti itu" ucap Quirin santai sambil memegang racun itu

__ADS_1


"Wanita ini seperti monster, aku tidak bisa melawan, sekarang saja kedua tanganku sakit dan aku tidak memiliki tenaga hanya untuk sekedar berdiri"


"Hmm, aku beri sedikit informasi, luka itu akan terasa lebih menyakitkan jika terkena sinar matahari" ucap Quirin dengan senyum menyeringai


"Apaaaa!?, kau monster!, lepaskan kami"


Quirin mendongakkan kepalanya melihat keatas, kebetulan yang sangat luar biasa, mereka berada di alam terbuka dan sinar matahari tertutup oleh awan "Jika dilihat-lihat jika awan itu berjalan, maka sinar matahari akan mengenai pundak temanmu, dan temanmu akan merasakan sakit yang amat menyakitkan, jadi semua tergantung padamu" ucap Quirin menurunkan pandangannya sambil melihat kearah keduanya


"Dia pasti berbohong, tidak ada luka yang terkena sinar matahari maka akan lebih terasa sakit"


Quirin melihat teman disebelahnya hanya termenung dan meremehkan ucapan Quirin "1....2....3...." ucap Quirin dengan santai sambil melihat kuku-kukunya


Aaarrrgggghhhhhhhhhhh


Sang teman kembali meringis kesakitan, teman disebelahnya hanya menganga tak percaya, ia sedikit merinding melihat luka bakar itu.


Orang yang terkena tetesan itu sudah tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa meringis kesakitan dan menahan sakit di salah satu pundak dan di kedua tangannya


"Sudah kukatakan, semua tergantung padamu" ucap Quirin santai


Quirin mendekati orang yang terluka "Jika kau mati, maka salahkan temanmu itu" ucap Quirin tersenyum smirk


Bersambung....


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment

__ADS_1


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏


__ADS_2