Another Person Life

Another Person Life
Perintah Zee


__ADS_3

Melihat kepergian Quirin, Zee hanya bisa menghela nafas kasar. Zee menoleh ke belakang, ia melihat semua orang tengah menatapnya, sepertinya mereka semua juga sedang menunggu perintah dari Zee.


"Alica, bereskan pakaian Quirin, setelah selesai berikan pada Xeno. Karena para penjaga sebelumnya sudah aku pecat, jadi Alica dan Max harus berjaga di mansion ini. Al, kau harus merawat ayahnya dengan baik, jika kau membutuhkan bantuan maka mintalah pada Alica atau Max. ... kau yang bersimpuh di lantai, pergilah kerumah sakit dan jangan pernah kembali lagi. Serta ... " perkataan Zee terjeda ketika melihat wajah datar Rea dan Jay.


Namun masih tersisa 3 orang lagi yang belum mendapatkan tugas, ketiga nya pun juga sedang menatap kearah Zee.


"Sisanya bereskan ruang bawah tanah itu, untuk paman dan Rea ... mari ikutlah dengan ku" lanjut Zee sambil melangkahkan kaki nya keluar dari mansion.


Zee masuk kedalam mobilnya, dan di dalam sana sudah terdapat Quirin yang sedang menatap keluar kaca mobil.


Semua orang yang ada di dalam mansion mengikuti perintah Zee, Sedangkan untuk ketiga orang itu hanya bisa menghela nafas dan mengomel.


"Aku tidak ingin melakukannya lagi, perut yang sudah terisi penuh ini bisa-bisa keluar kembali" keluh Arnius.


"Kenapa selalu saja kita yang mendapat hal menjijikan ini" sahut Staren sedikit kesal.


"Kalian ingin mengikuti perintah tuan, atau mendapat hukuman dari nona Quirin?" tanya Vano yang sudah melangkahkan kaki nya.


Keduanya melotot dan mereka langsung mengikuti langkah Vano dari belakang.


Sedangkan Rea dan Jay melangkah keluar, "Pa, aku sungguh tidak bisa menyembunyikan rahasia ini dari kak Quirin, aku akan benar-benar merasa bersalah pada nya" ucap Rea menghela nafas pelan.


"Bertahanlah Rea, dengan kekuatannya itu, papa juga yakin bahwa dia akan segera mengetahui nya tanpa harus kita beritahu, dan dia juga akan mengerti situasi kita. Jadi kamu tenang saja." ucap Jay sambil melangkah masuk kedalam mobilnya.


Rea memasuki mobil Jay, dan Xeno yang baru saja menyelesaikan tugasnya pun masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Alica, Max dan Al tetap berada di mansion. Ketiganya tampak begitu canggung, tapi apa boleh buat?, semua telah terjadi, dan penyesalan pun pasti akan datang terlambat.

__ADS_1


"Semua salah ku, jika aja aku mengetahuinya dari awal, maka semua ini tidak akan terjadi" ucap Grizo dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras.


"Ketahuilah, hidup anakmu sungguh tidak mudah, dia bisa bertahan hidup sampai saat ini semata-mata karena tuan muda yang telah menolongnya dari kecelakaan itu" ucap Al yang sudah tidak tahan melihat penyesalan Grizo.


Grizo tampak terkejut, ia pun menoleh ke arah Al. "kecelakaan?, dia mengalami kecelakaan?, dimana?." tanya Grizo dengan mata yng sudah ingin keluar dari tempatnya.


Al menghela nafas pelan, mau tidak mau ia harus menceritakan kejadian awal mula dimana pertemuan Zee dan Quirin, bahkan ia menceritakan pada Grizo hutang yang harus di bayar oleh Quirin.


Alica, Max dan Grizo tampak terkejut, dengan semua hutang itu bagaimana dia bisa hidup?, itulah yang ada di pikiran mereka.


Al pun melihat raut wajah ketiganya, nominal 1 juta poundsterling bukanlah sedikit, jadi wajar saja jika wajah ketiganya tampak terkejut.


"Ah ... bukan kah semua sudah selesai?, ibunya bahkan berasal dari keluarga kaya bernama Vermilion, tentu saja paman Jay akan membayar seluruh hutang itu pada Zee" ucap Al sambil tertawa kecil. ia berusaha untuk membuat Grizo tidak memikirkan masalah yang sudah berlalu.


Prioritas utamanya adalah kesembuhan dari pasien, karena itu adalah tugas yang harus di jalani oleh Al. Walau sekalipun nyawanya akan berada di ujung tanduk, Al pasti akan membantu merawat ayah Quirin.


"Obat?, aku tidak meminum obat apapun" balas Grizo dengan heran.


"Aku tidak tau pasti, yang jelas Quirin memberikan teh ini agar dapat menetralkan kerja jantung dan mendetoksifikasi efek obat tersebut. Apa kau ingat pesan yang di sampaikan ya paman?" ucap Al dengan berbicara dengan nada santai.


Seperti itu lah Al, dia bisa berbaur dan berbicara lembut pada pasien yng seharusnya, tapi jika pasien itu seperti Clamy, maka Al akan menunjukkan sisi yang tak pernah pasien mana pun lihat.


Tiba-tiba saja, wajah Grizo seperti sedang mengingat perkataan Quirin.


Al yang melihat itu pun merasa sedikit senang "mungkin kau menemukan jawabannya di sana" ucap Al tersenyum pada Grizo.


Sedangkan Grizo tidak percaya melihat Al tengah membantunya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau istirahatlah di dalam kamar, kapan pun kau membutuhkan bantuan, kau bisa memanggil salah satu diantara kami" ucap Al pada Grizo.


Grizo mengangguk dan Alica pun berinisiatif untu membantu Grizo, namun Max langsung mengambil alih Grizo dari tangan Alica.


"Ini tugas ku, kau lebih baik membuat makanan yang bisa di cerna paman" ucap Max sambil memapah tubuh Grizo.


Alica cukup terkejut melihat Max yang berbicara lembut padanya, biasa nya pria itu hanya tau marah-marah, walau didalam mansion Zee, dia bahkan berbicara dengan nada marah.


"Tumben sekali dia, apa dia kerasukan sesuatu?" tanya Alica sambil menatap punggung Max tanpa berkedip.


Sedangkan Al melihat max yang berbicara lembut juga merasa terkejut.


"Tidak biasanya dia seperti itu, sepertinya yang kau katakan benar Alica, mungkin dia di rasuki oleh makhluk astral" ucap Al membenarkan perkataan Alica.


Alica kini menoleh kearah Al, ia bisa melihat kantung mata hitam tengah bertengger dibawah mata Al.


Alica yang melihat itu pun merasa sedikit kasihan melihat Al terlalu berkerja keras, ia pun berinisiatif untuk menyuruh Al beristirahat.


"Em .. tuan, bisakah kau pergi beristirahat?, melihat kantung mata itu membuat ketampanan tuan hilang" ucap Alica tertawa kecil.


Al yang mendengar itu pun langsung memegang kantung matanya "ini semua karena Zee, aku bahkan sudah terlibat terlalu jauh dalam keluarga nona. dan sekarang aku lupa menanyakan pada paman di mana letak kamar tamu" ucap Al dengan kesal.


Alica tertawa kecil melihat Al yang selalu di idam-idamkan wanita ternyata memiliki sifat kekanan.


"Semua tuan muda ku tampan terlihat sama, dari luar mereka seperti acuh tak acuh, tapi nyatanya, itu semua hanya topeng belaka, kenyataannya adalah mereka juga bisa bertingkah layaknya anak kecil seperti yang lain" batin Alica sambil menggelengkan kepalanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2