
"Ini sangat menyakitkan" gumam Kai sambil terduduk di bawah pohon dan ia terus mencoba melepaskan lintah-lintah itu dari tubuhnya.
Setelah selesai melepaskan lintah-lintah itu, Kai akhirnya bisa bernafas dengan lega, ia melihat seluruh tubuhnya di penuhi dengan gigitan lintah, beruntung Kai memakai kaos dan kini ia pun melanjutkan perjalanannya.
"Aku harus menolong Cassi" gumam Kai sambil berjalan dengan perlahan.
"Haa ... lihat lah, pria mu itu sungguh sangat mengesankan, walau tubuhnya di penuhi oleh lintah, dia bahkan terus mencari keberadaan mu, betapa beruntung nya kau mendapatkan pria seperti itu" ucap Quirin yang sedang menggeretakkan gigi nya.
Walau di hati Quirin sudah menghilangkan nama Kai, namun entah mengapa ia justru terlihat iri dengan perjuangan Kai yang terus berusaha untuk menemukan Cassi.
Zee yang melihat wajah Quirin langsung berdecih, ia pun berjalan mendekati Quirin dan menutup kedua mata Quirin dengan satu tangan nya.
"Berhenti menatap dengan tatapan itu, dia tidak cukup baik untuk mu" ucap Zee sambil memeluk tubuh Quirin dari belakang.
Quirin mematung ketika mendapat pelukan hangat dari Zee, ia pun langsung menghela nafas dengan pelan "aku sudah tidak memikirkannya, tapi ... " ucapan Quirin menggantung ketika Zee mengigit leher nya.
"Aku sudah katakan untuk berhenti, jika kau membicarakannya lagi, aku tidak keberatan untuk melakukannya lagi" ucap Zee dengan nada datar.
Quirin yang mendapat serangan tiba-tiba itu langsung menghentikan mulut nya, "aku tidak menduga kau melakukan hal ini padaku, baiklah ... aku akan diam, sekarang menjauh lah dari ku" ucap Quirin dengan kesal.
Zee melepaskan pelukannya dan kembali kebelakang, ia melihat Feryun, Kiryu dan Xeno sedang menatapnya dengan tidak percaya.
"Aku hany tidak ingin dia memikirkan pria itu" ucap Zee sambil berbalik dan menatap lurus kedepan.
"Memikirkan pria itu?, apa jangan-jangan pria yang ada di sana itu adalah mantan pacarnya?" batin Feryun sambil menatap gerak gerik Quirin.
Feryun orang yang sangat terlatih, ia bisa menyimpulkan keadaan hanya dalam sekali melihat dan mendengar, kemampuannya di atas rata-rata.
Begitulah orang-orang keluarga tersembunyi, mereka di latih dengan keras dan tidak pernah memandang gender.
Awalnya Feryun juga terkejut dengan perbuatan Quirin, namun ia bisa yakin bahwa yang mengajarkan hal itu adalah sang bibi, Feryun bahkan masih berfantasi bahwa Arcy masih ada di dunia.
Feryun tidak berani menghubungi Rea, karena jika itu terjadi maka sang nenek akan bertindak dan membawa Rea kembali ke keluarga besar mereka.
__ADS_1
Beban yang di pikul Feryun sangatlah besar, ia harus berfokus pada kekuasan keluarga mereka dan dengan syarat mengharuskan dirinya memutuskan kontak dengan keluarga nya sendiri.
Karena hal itulah Feryun tidak ingin membebankan Jay, Amber dan Rea "aku tidak bisa menghubungi keluarga yang ada di Eropa, karena hal itulah aku harus terus mengawasi adikku yang nakal ini agar aku sendiri bisa tau situasi apa yang sedang di hadapinya" batin Feryun.
Cassi tidak bisa mendengar perkataan Quirin dan Zee karena ia terus merintih kesakitan karena lelehan lilin itu terus mengalir kearah nya.
"Sial!, sampai kapan aku berada disini, seluruh tubuhku terasa sangat panas" batin Cassi dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.
Quirin menoleh kearah Cassi yang sedang meringkuk "bagaimana jika aku menambah rasa sakit mu?, sepertinya ini sangat menyenangkan" ucap Quirin sambil melihat ke sana dan kemari.
Ia melihat 1 jerigen minyak yang terdapat di sudut ruangan, lalu dengan cepat Quirin mengambil itu dan menumpahkan nya sedikit di kaki Cassi.
Cassi yang melihat itu melototkan matanya "Apa yang kau lakukan?!" teriak Cassi dengan marah.
"Aku kehabisan waktu menunggu pacarmu, jadi aku akan membuat sedikit kejutan untuknya" ucap Quirin sambil memperagakan dengan tangan dan menyipitkan satu matanya.
"Apa!, tidak!, jangan lakukan itu!" teriak Cassi dengan air mata yang sudah mengalir di pipi nya.
"Baik lah, aku akan lakukan, kau tidak perlu berteriak seperti itu kan" ucap Quirin sambil menyalakan sebuah mancis yang ada di tangannya.
Feryun yang sedang melipat kedua tangannya kini menatap Cassi sambil menjatuhkan tangannya "berani sekali kau mengatakan adikku gila!" ucap Feryun dengan tatapan yang sangat tajam dan melangkah mendekati Quirin.
Quirin yang berada di samping Feryun merasakan hawa membunuh sang kakak, ia bahkan bergidik ngeri dengan amarah Feryun.
"Saat pertama kali bertemu, dia menunjukkan sifat yang sangat manis, aku sampai berfikir bahwa dia kakak yang seperti malaikat. Tapi ternyata dugaan ku salah, sifatnya yang seperti itu sepertinya hanya berlaku pada keluarga saja, dan jika dia tidak suka dengan satu hal, maka aura di sekitarnya berubah seperti Zee, mereka benar-benar sangat mirip" batin Quirin
Cassi yang melihat itu benar-benar ketakutan, ternyata ucapannya itu mampu memancing amarah orang sejak awal menonton juga ikut menatap dirinya dengan tajam, bahkan Cassi berpikir bahwa Feryun juga ikut menyiksa dirinya.
"Ti-tidak!, ti-dak!" ucap Cassi ketakutan.
"Aku juga mendengar bahwa kau mengatakan pacarku gila" ucap Zee yang ikut maju dan berdiri di samping Feryun.
Ketakutan Cassi semakin bertambah besar, ia bahkan tidak menyangka bahwa pria yang sangat di inginkannya kini ikut menatapnya dengan tatapan jijik dan benci.
__ADS_1
Feryun menoleh kearah Quirin, ia melihat sang adik tengah memperhatikannya, Feryun yang melihat itu pun langsung mengubah wajahnya sambil tersenyum lembut, lalu ia langsung mengambil mancis yang ada di tangan Quirin lalu melemparnya pada Cassi.
Argghhhhh
"Panas!" teriak Cassi dengan bersedia air mata.
Zee yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, ternyata kekejaman Feryun lebih mengerikan darinya.
"Awalnya aku berpikir untuk mematahkan tulangnya saja, tapi aku tidak menyangka tuan muda Feryun bertindak jauh dari yang aku bayangkan" batin Zee sambil melirik Feryun yang sedang tersenyum pada Quirin.
"Lain kali, kau tidak perlu mengotori tangan ini, kakak akan melakukan apapun untuk mu" ucap Feryun sambil memegang tangan Quirin dan mengambil sapu tangan yang ada di jas nya lalu membersihkan tangan Quirin dari bekas minyak dan mancis.
Xura yang di kehidupan sebelumnya tidak mendapat perlakuan manis seperti itu, ia merasa terharu karena mendapatkan perhatian dari kakak Quirin. Ia pun langsung menghamburkan sebuah pelukan pada sang kakak dan menangis di pelukannya.
"Aku menyayangi kakak" ucap Quirin sambil memeluk erat tubuh Feryun.
Feryun pun terkejut dan ia juga semakin menarik sudut bibirnya. "Kakak juga menyayangimu" ucap Feryun sambil membalas pelukan Quirin dengan satu tangan dan tangan lainnya mengacak-acak rambut Quirin.
Mereka bahkan seperti tidak mendengar teriakan Cassi.
"Seolah dunia ini milik mereka berdua" batin Xeno yang sedikit jengah melihat kelakuan kakak dan adik itu.
Sedangkan Kiryu ikut tersenyum karena melihat kebahagiaan Feryun, "Andai saja nyonya besar tidak membatasi kebahagian tuan, aku yakin tuan tidak akan berhati dingin dan pasti akan menjadi orang yang hangat pada siapapun" batin Kiryu
"Hei, sudah, sudah jangan seperti ini, bibi akan memarahi kakak jika tau kalau kau menangis dalam pelukan kakak" ucap Feryun yang terus mengusap rambut Quirin.
Deg.
Jantung Quirin seakan berhenti berdetak, ia bahkan lupa untuk menceritakan tentang Arcy pada Feryun.
"Gawat, aku lupa tentang itu, sepertinya aku harus mengubah topik ini lagi" batin Quirin
Zee dan Xeno yang mendengar itu juga ikut terkejut, Xeno bahkan mulai berfikir bahwa Feryun belum mengetahui kenyataan itu.
__ADS_1
Bersambung ...