Another Person Life

Another Person Life
Memaafkan ..., tapi Menjauh dariku


__ADS_3

Zee tampak terus mengemudi, didalam mobil, keduanya tidak berniat untuk berbicara, mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku berharap, suatu hari nanti, Xura masih mau menerima anak bodoh ku ini. Dia adalah wanita kuat dan mandiri, aku sangat menyukainya" batin Leva sambil tersenyum tipis.


****


"Beri dia obat bius dengan dosis ringan, dan balut kapas itu di dalam tangannya, wanita seperti dia memeng pantas mendapat hukuman seperti itu. Dan satu lagi, jangan biarkan Zee mengetahui hal ini, biar wanita itu sendiri yang membongkar rahasianya pada Zee" ucap Xura pada Al, lalu ia pun menyimpan pemantik api itu san pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya.


Gilma sudah tidak mendengarkan perkataan mereka karena pikiran saat ini benar-benar sangat kacau.


Melihat kondisi Gilma yang terlihat tidak seperti biasanya membuat Vano sedikit tidak yakin "Nona, bagaimana cara agar dia mengaku?, itu tidak akan pernah terjadi nona" ucap Vano sambil menatap Xura.


"Kau hanya perlu menunggu dan melihat saja, pria itu sebentar lagi akan sampai, dan saat itu juga kita harus menjadi penonton" ucap Xura sambil tersenyum dan terus menggosok tangannya hingga darah yang ada di tangannya tidak terlihat lagi.


Al dengan cepat melaksanakan semua perintah Xura, ia pun membius Gilma dan langsung membalut semua lubang tangan itu dengan kasa putih.


"Tugas ku sudah selesai nona" ucap Al sambil berjalan menjauh dari tempat tidur Gilma.

__ADS_1


"Kita harus keluar dari sini" ucap Xura sambil melangkah cepat menuju pintu.


Lalu Vano melihat darah di tempat tidur dan pakaian Gilma, Vano dengan cepat menepuk pundak Xura dan menghentikan langkah kakinya "Nona, bagaimana dengan darah itu?, jika tidak di bersihkan maka tuan muda akan curiga pada kita" ucap Vano sambil melihat kearah Xura.


"Dia tidak akan curiga, biarkan saja darah Riu mengering. Kita hanya perlu menonton saja" ucap Xura dengan santai sambil menekan handle pintu dan keluar dari ruangan Gilma.


Vano dan Al tampak heran melihat sikap Xura, mereka tidak bisa menebak apa yang ada di kepala kecil itu, mereka bahkan berpikir bahwa wanita itu sungguh bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


Keduanya mengangguk dan ikut keluar dari ruangan, namun ternyata di depan pintu Gilma, seseorang tengah menunggu mereka.


"Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Feryun dengan nada sedih.


Kedua pria itu pun mengerti, dan mereka dengan segera memberikan tuang untuk Feryun dan juga Xura.


"Katakan" ucap Xura sambil menatap lurus kedepan.


Feryun tersenyum dan duduk di samping Xura "aku ingin meminta maaf padamu atas kesalahan orang-orang yang ada di keluarga ku. Satu hal lagi, setelah aku melihat wajah pria itu, aku baru mengingat bahwa ada seorang mata yang menjual informasi orang lain. Dulu orang bernama carlos berada di mansion Alpha, ia menjual informasi Alpha ke sana dan kemari, dan sebuah kebenaran aku bertemu dengannya, dan aku membeli beberapa informasinya. Aku sempat mendengar bahwa Alpha membawa seorang wanita dan wanita itu memiliki identitas lain, aku tidak menduga, ternyata yang di bicarakan Carlos adalah tubuh orang yang aku cari selama ini tapi dengan jiwa adikku. Setelah itu, aku tidak pernah bertemu dengan Carlos lagi, sepertinya tuan muda itu mengetahuinya dan membunuhnya. Atas semua perbuatan keluargaku, sekali lagi aku ingin meminta maaf padamu" ucap Feryun sambil menundukkan sedikit kepalanya.

__ADS_1


Walau Xura menatap lurus kedepan, tapi mata itu sesekali melirik kearah Feryun. Ia ingin mencoba membenci keluarga itu, tapi di lubuk hati yang terdalam Xura, ia seakan tidak bisa membenci mereka, karena bisa di katakan mereka juga adalah korban dari permainan Arcy.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Xura sambil melirik kearah Feryun.


Sontak saja Feryun terkejut mendengar suara dingin Xura, ia pun mulai mengangguk pelan.


"Aku sudah memaafkan kalian, .. " ucap Xura sambil menggantungkan perkataannya.


Feryun yng mendengar itu langsung tersenyum dan mendongakkan kepalanya, ia yakin bahwa Xura akan memaafkannya dan hal itu pun menjadi kenyataan.


"Tapi tolong, menjauh lah dariku, walau pun kita bertemu maka berpura-pura untuk tidak melihatku" ucap Xura sambil menutup matanya dan menyenderkan pundaknya ke kursi.


Seketika saja senyum Feryun memudar, kali ini, Feryun sungguh tidak bisa melakukan apapun untuk mendekat pada Xura.


Feryun merasa wanita di depannya bagai orang yang tidak di kenalnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, tapi ketika kita bertemu, kau mengingatkanku pada arwah egois itu, dan aku membenci hal itu" batin Xura tanpa membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2