
"Apa kau tidak tau apa kesalahanmu?, atau kau hanya pura-pura tidak tau?" tanya Quirin dingin
"Ti... tidak nona" jawab perawat itu, ia berdiri dengan lemah sambil mengeluarkan sedikit air mata hingga menggenang di pelupuk mata, dan membuat seolah-olah ia telah di tindas
"Kau lupa?, kau sudah mengancamku saat pemeriksaanku tadi, dan sekarang kau membuat tampang seolah-olah aku sedang menindasmu?" tanya Quirin menatap tajam
"Mana mungkin saya berani berbuat seperti itu nona, saya tidak pernah mengancam nona, tega sekali nona memfitnah saya" ucap perawat itu sambil meneteskan air mata dan menunduk
"Sial, beraninya dia membicarakannya saat situasi sedang ramai seperti ini, dia pasti ingin mempermalukanku" batin perawat itu kesal
"Kau ingin melawanku?, hehh.. kau harus belajar lebih banyak lagi, lihat lah seperti apa aku akan mempermalukanmu" batin Quirin tersenyum smirk
"Fitnah katamu?, keuntungan apa yang bisa ku dapatkan jika aku memfitnahmu sekarang?, aku bahkan tidak mengenalmu sebelum kau membuat masalah denganku" tanya Quirin sambil menaikkan sebelah alisnya
"Apa aku akan mendapatkan kekayaanmu?, atau mungkin.... apa aku akan mendapatkan kekasihmu yang tampan?, apa kau benar-benar mempunyai kedua hal itu?" tanya Quirin tanpa jeda sambil tersenyum, ia membuat gestur seperti berbisik dengan telapak tangan kiri yang berdiri di depan wajah tepat di samping pipi kanan
Mendengar rentetan pertanyaan itu membuat perawat itu kewalahan, ia tidak tau ingin menjawab apa
"Kenapa kau terdiam?, fitnah seperti apa yang barusan kau sebutkan?" tanya Quirin lagi
Semua orang yang mendengar dan melihat langsung drama di depan mereka, seketika memberikan tatapan jijik dan mengejek pada perawat itu
Mendengar ucapan Quirin yang menyebut kata "kekasih yang tampan", membuat Zee sangat tidak menyukai ucapan itu dan melihat kearah Quirin
"Usir dia" ucap Zee dingin
"Dia selalu ikut campur urusanku, tapi tidak masalah, setidaknya aku bisa membalaskan perbuatannya sedikit" batin Quirin sambil melihat perawat itu dengan jengah
"Aa...apaaa?, kenapa?" ucap perawat itu terkejut
"Aku yakin, barusan dia melihat kearah ku dan tersenyum padaku, tapi kenapa dia malah..." batin perawat
"Ta..tapi aku tidak salah Zee" ucap perawat itu lantang
"Dia sangat berani" batin perawat lainnya secara bersamaan tanpa mereka sadari, mereka membatin bersama
Zee yang mendengar namanya dipanggil oleh orang yang tidak ia kenal tanpa menggunakan embel-embel tuan muda, langsung melihat perawat dengan tatapan tajam dan dingin sangat mengintimidasi, hingga perawat itu bergidik ngeri, ia gemetar dan jatuh terduduk dengan posisi yang sangat tidak elit
"Berani sekali kau memanggilnya tanpa menyebutkan kata "tuan muda"" ucap Xeno yang sedari tadi hanya menonton kini langsung membuka suara dengan berteriak tanpa menggunakan nona, Xeno sangat membenci wanita-wanita yang berusaha ingin mendekati Zee, dan sesuka hati memanggil nama Zee tanpa menggunakan kata tuan muda, atau CEO.
"Ma..maaf kan aku" ucap perawat itu sambil menunduk, dengan bergetar ketakutan dan menangis
__ADS_1
"Apa kau sederajat dengan tuan muda hingga kau bisa seenaknya memanggil namanya saja?" tanya Xeno yang berteriak lebih keras
"Ti..tidak" jawab perawat itu gugup
"Kau sudah tau jawabannya seharusnya kau memikirkan perkataan yang keluar dari mulutmu sejak awal" ucap Xeno dengan lantang
Vano, Staren, Arnius, dan Gavin yang mendengar suara keras Xeno, hanya diam sambil menatap ke arah perawat itu, mereka sudah terbiasa melihat kemarahan Xeno, karena hal itu seperti makanan mereka sehari-hari
Sedangkan Al dan Zee hanya menggeleng saja, Quirin hanya bisa menganga melihat pemandangan di depannya, pria yang dia kenal sebagai assisten cool dan hanya suka berdebat dengan orang terdekatnya seperti kucing dan tikus, kini menunjukkan taringnya hingga membuat raut wajah yang seperti ingin menerkam siapa saja yang ia lihat
"Perubahan ekspresi dan gestur yang sangat menakjubkan" batin Quirin
Perawat yang lain hanya menatap kasihan namun tetap mencacinya dengan berbisik satu sama lain, mereka tidak ada yang mau mencoba menolongnya
"Ma..maaf kan aku" ucap perawat itu berkali-kali dengan tubuh bergetar hebat dan penampilan yang sangat kacau
Perawat itu mencoba mendongakkan kepalanya sedikit dan melihat Xeno sedang menunjukkan ekspresi yang sangat marah
Xeno yang berdiri tegap di depannya, menatap tajam perawat itu hingga membuat bola matanya yang seakan ingin keluar.
"Kau ingin di pecat?" tanya Xeno sedikit mengecilkan volume suaranya
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, maaf kan aku, maafkan aku" ucap perawat itu pada Xeno sambil merapatkan kedua telapak tangannya tanda memohon
Al ingin menjawab pertanyaan Xeno, tapi saat baru membuka sedikit mulutnya, kini terpotong dengan suara seseorang dan membuatnya tidak jadi menjawab dan membantah
"Dia milikku, jangan menyentuhnya!" potong Quirin yang memperlihatkan tatapan seram diwajahnya, dengan sorot mata yang tajam dan dengan suara yang sangat menusuk seperti pisau
Sontak saja Xeno, Al, para bodyguard dan perawat lainnya langsung melihat kearah Quirin dan mereka terdiam cukup lama, namun kemudian Xeno memasang tatap tajam ke arah Quirin karena telah melarangnya memecat perawat itu
Al dan para bodyguard sangat familiar dengan tatapan Xeno itu, mereka takut Quirin akan di perlakukan sama seperti perawat itu
"Habislah kau" batin perawat itu sambil tersenyum jahat saat melihat tatapan Xeno sama seperti menatapnya tadi
Zee yang tetap fokus melihat Quirin langsung tertegun, Quirin yang sedari awal terlihat santai tanpa mengurangi aura kecantikannya, kini berubah drastis
Zee kemudian merasa ada yang tidak beres, ia melihat ke arah Xeno, saat Xeno membalas melihatnya, Zee langsung memberikan kode dengan menyilangkan kedua tangannya sambil membuat gerakan dibibir "kita harus memeriksanya nanti"
Xeno sangat mengerti ucapan Zee, Xeno pun setuju, sambil menganggukkan sedikit kepalanya, ia kemudian merubah ekspresinya menjadi datar ke arah Quirin "Baik nona"
Semua orang yang berada di dalam ruangan hanya bisa terheran-heran, bagaimana bisa ekspresi Xeno dengan cepat berubah, tadinya ia seperti singa yang ingin menerkam siapa saja, tetapi sekarang ia sangat penurut seperti kelinci putih
__ADS_1
Zee melihat kearah bodyguard, dan Vano refleks melihatnya, Vano lalu mencolek ke 3 temannya agar melihat ke arah Zee, kemudian Zee memberikan kode pada mereka berempat dengan matanya, ia menyuruh mereka membawa perawat itu pergi, mereka langsung bergerak mendekati perawat itu dan mendorongnya keluar ruangan
Perawat itu pergi menuju kearah kamar mandi sambil berlari, ia memasang ekspresi yang benar-benar murka, wajahnya terlihat semakin jelek karena semua make up luntur hingga membuatnya menjadi bahan tertawaan di sepanjang koridor
Sesampainya di kamar mandi, perawat itu membersihkan wajahnya dan membuat make up baru
"Awas kau Quirin, berani-beraninya kau mempermalukanku. Selama ini... tidak ada yang berani mengusikku" ucap perawat itu sambil memukul westafel menggunakan kedua tangan dengan kesal
"Hehh... lagipula kau belum mengenal ku bukan?" tanya perawat itu sambil menatap dirinya di cermin kemudian melihat kuku tangan dan menghembusnya
"Aku berjanji, besok aku akan kembali untuk memperkenalkan diriku" ucap perawat itu lagi dengan menatap cermin dan memasang senyum smirk sedikit lebih lama
"Dan... saat waktunya tiba, aku akan dengan senang hati mematahkan kakimu lagi, bersenang-senanglah untuk sesaat gadis malang, hahahaha" tawa jahat perawat itu bergema di toilet
"Ah, satu hal lagi... aku juga akan merebut Zee darimu, karena aku adalah Darla, perawat tercantik di rumah sakit ini, aku tidak akan kalah dengan wanita miskin sepertimu" ucap Darla dengan penuh percaya diri sambil mengibaskan rambutnya dengan 1 tangan lalu pergi dari toilet
Di ruangan, semua kembali normal dan para perawat siap untuk bekerja "Jangan tunda lagi, langsung lakukan operasinya!" perintah Zee
"Bantu aku pindahkan nona ini ke ruang operasi" ucap dokter Al kepada perawat
Perawat bergerak cepat lalu membawa tempat tidur itu ke ruang operasi, lampu hijau pun mulai terlihat menyala dari luar ruangan tanda bahwa operasi sedang dilaksanakan
Xeno, Vano, Gavin, Staren berjaga di luar ruangan dengan muka yang khawatir, mereka melihat kearah tuan muda mereka yang juga terlihat sangat mengerikan
"Lihatlah wajah tuan muda, wajahnya sangat jelek kalau seperti itu" bisik Staren
Vano, Arnius, Gavin, dan Xeno mengangguk setuju, mereka sangat tau siapa yang bisa membuat muka tuan muda mereka berubah drastis, siapa lagi kalau bukan gadis dingin itu
Bersambung....
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
__ADS_1
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏