
Setelah melihat kepergian Quirin, Xeno yang sempat terpaku kini bisa menghirup udara dengan bebas "kenapa saat wanita itu dihadapan ku, pernafasan ku seakan tidak berfungsi dengan yang seharusnya?" gumam Xeno sambil memegang dadanya.
Xeno berbalik dan melihat Zee tengah menatapnya dengan dingin "kau lihat tadi?, dia mengatakan segalanya lalu pergi begitu saja" gerutu Xeno dengan kesal.
Xeno tidak perduli dengan tatapan Zee, baginya Quirin tetaplah seorang wanita kejam, ancaman yang diberikan Quirin bahkan tidak mampu menyingkirkan pemikiran jelek Xeno terhadapnya.
"Xeno, bersyukurlah karena yang berbicara padamu bukan lah Quiran, tapi tetap saja aku tidak membenarkan perkataanmu itu, kali ini tindakanmu terlalu berlebihan" ucap Zee beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti langkah Quirin yang semakin menjauh.
Xeno yang mendengar itu justru semakin tidak mengerti dengan pikiran Zee, memang benar, jika yang ada dihadapannya tadi adalah Quiran, maka dirinya bahkan mungkin tidak akan selamat dengan mudah, tapi kenapa Zee bahkan ikut memberinya peringatan?.
"Ada apa dengan Zee?, tidak biasanya dia mengatakan berlebihan padaku, dia benar-benar sudah terpengaruh oleh Quirin" gumam Xeno sambil menatap punggung Zee.
"Tampaknya Quirin bersungguh-sungguh ingin membalas ku, tapi menghadapi Quirin dan Quiran bukanlah perkara mudah, bagaimana aku bisa menang melawan mereka?," gumam Xeno sambil memijit pelipisnya.
Zee melihat Quirin sedang duduk di kursi taman, ia menengadahkan wajahnya agar bisa menatap langit.
"Hari ini aku melepaskan Xeno karena aku menghormatimu, tapi tidak untuk lain kali, jika aku punya kesempatan, aku akan membalas perbuatannya itu padaku" Quirin mengetahui Zee tengah mengikutinya.
Keterampilan saat dirinya masih menjadi Xura belum hilang sampai saat ini, bahkan instingnya itu sudah lebih tajam daripada biasanya.
__ADS_1
"Aku mengerti, asal kau mengetahui batasan" ucap Zee sambil melangkah pelan dan duduk disamping Quirin.
Quirin yang sudah memiliki banyak pertanyaan, berusaha mencoba mengeluarkan seluruhnya,
"kenapa kau bisa mengetahui identitasku?, bahkan mereka yang berada dunia gelap belum bisa menemukan rahasia itu sampai saat ini" ucap Quirin sambil menyandarkan punggungnya di kursi itu.
"Aku hanya menebak, karena aku pernah mendengar bahwa kau adalah orang terkaya se-Asia, lalu aku menggabungkan seluruh teka-teki yang ada didalam kepalaku. Aku juga tau isi pesan yang telah kau kirim pada yvon melalui komputer milikku" Zee menjawab dengan santai, ia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Quirin.
Quirin yang mendengar itu sedikit terkejut, lalu ia menetralkan dengan menghembuskan nafas dengan pelan "pantas saja kau tau segalanya, tapi bagaimana kau bisa mengembalikan data yang sudah ku hapus?" tanya Quirin tanpa menoleh kearah Zee.
"Perkataan Xeno sudah mewakili segalanya" jawab Zee yang ikut menengadahkan kepalanya dan menatap langit
"Kau bisa menyebutku seperti itu" balas Zee tanpa menoleh kearah Quirin.
Keduanya tampak terdiam sejenak, Quirin mulai menutup mata sambil menikmati udara segar "entah aku harus bahagia atau sedih, sepertinya kehidupanku ini sudah berada dalam genggaman mu" kata-kata itu keluar dari mulut Quirin begitu saja.
Zee tiba-tiba menoleh dan menatap wajah Quirin "aku memang menggenggam kehidupanmu, tapi aku juga membebaskan pergerakan mu"
Seketika mata Quirin terbuka dengan lebar, apa yang di katakan Zee memang benar, setiap Quirin bergerak untuk memasarkan dendamnya, Zee justru tidak pernah melarangnya melainkan selalu membantu pekerjaannya agar lebih mudah.
__ADS_1
Quirin menoleh dan keduanya pun saling pandang "terimakasih, jika bukan karena kau yang menolongku, mungkin aku tidak akan berada disini"
"Selesaikan masalah disini dengan cepat, aku akan menemanimu ke Asia, aku juga tidak tau kenapa jiwa mu berpindah ke raga Quirin, tapi aku yakin, kau sangat ingin membalaskan dendam mu itu"
Lagi-lagi Quirin dibuat terkejut oleh Zee "bagaimana kau mengetahui niatku itu?" tanya Quirin
"Hanya dugaanku, aku berpikir tidak mungkin jiwa seseorang berpindah jika dia tidak memiliki niat balas dendam"
"Masuk akal, tapi semua yang kau ucapkan benar ... " Quirin menjeda perkataannya "baiklah, aku akan segera mengurus keluarga Quirin, lalu kita segera berangkat ke Asia, sudah waktunya aku pulang ke negara itu " ucap Quirin sambil beranjak dan berjalan terlebih dahulu.
Zee yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, Quirin tampak acuh tak acuh padanya, ia juga bisa melihat Quirin masih terlihat sangat kesal dengan ucapan Xeno.
Zee tidak ambil pusing, ia mengikuti langkah Quirin dari belakang, saat ingin masuk Quirin melihat Xeno masih duduk di sofa itu, lalu ia memutar wajahnya agar terhindar dari hal yang bisa membuat Zee marah, Quirin benar-benar tidak ingin melihat wajah menyebalkan Xeno.
Ketika emosi Quirin muncul, maka Quiran pasti akan memaksa untuk keluar, tapi Quirin berusaha keras menekan amarahnya agar Quiran tidak keluar untuk membuat kekacauan, ia hanya ingin Quiran melihat saja dan tidak bertindak untuk sekarang ini.
Hal itulah yang Quirin lakukan tadi saat berhadapan dengan Xeno "aku berterimakasih karena kau sudah mau mendengarkan ku Quiran, tapi untuk balas dendam ini serahkan saja padaku, aku tau kau sangat marah padanya, tapi kali ini kau tidak perlu ikut campur karena aku sudah punya rencana ku sendiri" batin Quirin
Xeno merasa ada yang lewat, ia pun melihat Quirin dan Zee sudah melangkah jauh "aku harus membuat rencana untuk menyingkirkan wanita itu dari lingkaran Zee " batin Xeno sambil menatap punggung Quirin sampai tak terlihat.
__ADS_1
Bersambung ...