Another Person Life

Another Person Life
Sebagai Penonton


__ADS_3

Jasad Jeslyn keluar dari kotak itu dan sehelai kain yang menutupi tubuhnya juga terhempas ke sembarang arah.


Calis dan Lura yang melihat tubuh Jeslyn pun langsung berteriak keras.


"Arghhhhh" teriak keduanya secara bersamaan.


Sedangkan Beymi benar-benar terkejut melihat tindakan Quirin "apa yang kau lakukan!" teriak Beymi dengan marah sambil berlari mendekati jasad Jeslyn dan langsung menutupi tubuh anaknya lagi.


Lura hampir mengeluarkan bola matanya, ia bahkan tidak menyangka bisa melihat kulit manusia yang sudah tersayat "di-dia tidak mungkin Jeslyn kan, ma?" teriak Lura dengan terbata-bata sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Calis.


Calis tidak menjawab perkataan Lura, ia justru diam terpaku dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya, tubuhnya bahkan bergetar hebat, rasa takut kini sudah menghantui dirinya, ia bahkan menoleh kearah Quirin dengan tatapan takut.


Sedangkan Quirin tengah menatap Beymi yang menangisi sang putri tercinta. "Aku sudah katakan bahwa aku juga tidak punya pilihan. Apa kau tidak mengerti?," ucap Quirin dengan mata melotot tajam.


Beymi terus menangisi kepergian sang putri, ia tidak lagi mendengar perkataan Quirin. Jika orang lain melihat keadaan Beymi, maka mereka pasti akan turut prihatin.


Itu jika mereka hanya melihat dari sisi Beymi, tapi, kika ketika kita menyuguhkan bersama rekaman Quirin, maka sudah di pastikan rasa simpati itu akan hilang dalam sekejap.


Jika itu kalian, apa kalian juga akan memilih bersimpati pada Beymi?, atau justru bersimpati pada Quirin?, entahlah, yang pasti mungkin akan sulit memilih.


"Aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada ibuku. Bedanya adalah kau membunuh ibu menggunakan obat, maka aku membunuh anakmu dengan cara melukai fisiknya. Bukankah itu sepadan?"


Lagi-lagi Beymi tidak memperdulikan perkataan Quirin, ia justru memilih menangis sambil memeluk jasad Jeslyn.


Tangisan itu sangat memilukan, orang tua mana yang bisa melihat anaknya terbunuh dengan cara mengenaskan. Apalagi yang membunuh anaknya adalah anak dar majikan yang sudah di bunuhnya.


Melihat perkataannya telah di abaikan oleh Beymi, Quirin memutar tubuhnya dan langsung mengambil pistol yang berada di tubuh Vano.


Vano dan yang lain begitu terkejut melihat Quirin langsung mengambil senjatanya.


Dor


Dor


"Arghhh"

__ADS_1


Teriakan itu berasal dari Beymi, ia berteriak sambil menutup mata. karena ia berpikir bahwa dirinyalah yang di tembak, Tapi Beymi merasa tubuhnya tidak merasakan sakit, ketika matanya ingin melihat kearah Quirin ternyata di kedua kaki Jeslyn masing-masing terdapat satu lubang.


Semua orang yang ada di belakang Quirin lebih memilih membungkam mulut mereka, karena mereka baru pertama kali melihat seorang wanita menggunakan pistol dan ia menembak tepat di tempat yang diinginkannya.


"QUIRIN!" teriak Beymi marah.


Beymi bangun dan berlari kearah Quirin, mata itu bahkan terlihat benar-benar sangat marah. Bagaimana tidak?, anaknya bahkan sudah mati, tapi Quirin tetap menembak meski anaknya sudah tak bernyawa. Bukankah itu terlalu kejam?.


Lalu dengan santai Quirin menembak satu kaki Beymi.


Dor


"Arghhh"


Beymi tiba-tiba saja terjatuh dan berteriak keras. Sedangkan Lura dan Calis menutup mulut mereka karena ketakutan.


"Kau tidak perlu berlagak seperti itu padaku, aku bukanlah anak kecil seperti dulu yang sangat mudah kau tindas" ucap Quirin dengan datar sambil menodongkan pistol mengarah ke wajah Beymi.


Darah mengalir begitu deras, Beymi menahan rasa sakit di kakinya dengan tubuh bergetar ketakutan dan menunduk.


Dengan Isak tangis, Beymi mengatakan hal yang begitu konyol di telinga Quirin "nona, aku menyerahkan diriku, jadi kau bisa menembak ku sekarang" ucap Beymi dengan pasrah.


Beymi berpikir bahwa Quirin akan mengabulkan permintaannya begitu saja, namun ia tidak tau bahwa dalam kamus Quirin tidak ada musuh yang mati dengan begitu cepat.


Quirin mengernyitkan dahinya "kau bercanda?, aku bukan orang yang begitu mudah mengabulkan permintaan penghianat sepertimu" ucap Quirin sambil berjalan melewati Beymi yang terduduk sambil memegang satu kakinya dan melangkahi jasad Jeslyn.


Beymi hanya bisa menangis karena memikirkan kesalahan yang di lakukan ya, ia bahkan sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi.


Penyesalan kini sudah menggerogoti hatinya, jika saja dia tidak melakukan hal kejam itu, maka anaknya juga pasti akan selamat. Jika saja saat itu dia memilih untuk memberitahukan pada Arcy, maka penyelamatnya pasti masih hidup. Jika saja ia mendengarkan peringatan Quirin, maka anaknya tidak akan mati dengan cara mengenaskan seperti ini.


Anak yang di besarkannya dengan kasih sayang kini dipandang dengan tatapan hina, bahkan Jeslyn mati dengan luka sayat di tubuhnya. Beymi bahkan tidak sempat melihat anaknya itu, ia justru memilih untuk membantu mengerjakan tugas yang diberikan oleh Calis padanya.


Beymi tertunduk sambil menangis sesenggukan, penyesalan itu seakan sudah menggerogoti seluruh isi dalam tubuhnya.


Keenam orang itu menahan nafas mereka ketika melihat kelakuan Quirin yang begitu absurd, bagaimana tidak?, untuk pertama kalinya mereka melihat Quirin melangkahkan kakinya diatas mayat yang sudah tersayat itu dengan santai.

__ADS_1


Zee yang melihat itu justru tersenyum tipis, yang di butuhkan nya memanglah orang yang seperti Quirin, kejam dan tak kenal ampun.


Quirin mengambil sebuah pisau yang memang sudah ada di dalam ruang bawah tanah itu.


Ia kembali dan berjongkok di hadapan jasad Jeslyn, Quirin tidak segan-segan kembali menggores tubuh mayat itu menggunakan pisau yang ada di tangannya.


Beymi yang membelakangi Quirin, justru tidak mengetahui apa yang tengah di perbuat oleh anak majikannya itu.


Lura yang melihat itu justru menurun mulutnya sambil manangis.Calis yang melihat perbuatan Quirin memberanikan diri untuk memberitahukan pada Beymi.


"Bey-beymi, di-dia menyayat tubuh Jeslyn" ucap Calis terbata-bata sambil menunjuk Quirin.


Beymi yang mendengar itu langsung menoleh kebelakang dan benar saja, Quirin dengan santai tengah menyayat tubuh anaknya lagi.


"QUIRIN!" teriak Beymi lagi


Beymi berputar dengan menyeret satu kakinya, ia bahkan tidak perduli dengan rasa sakit di kakinya itu, yang terpenting adalah ia harus menyelamatkan anaknya.


Beymi langsung menghalau pisau yang akan menggores ke tubuh Jeslyn, namun Quirin justru tidak berhenti, ia berpindah menggores kan pisau itu ke Beymi.


"Arghhhh"


Saat Quirin ingin menggoreskan pisau itu, Beymi terus menghalanginya dengan satu tangan dan akhirnya tangan Beymi lah yang tersayat.


"Haha ... pasti anakmu sangat sedih melihat ibunya terus melindungi tubuh yang rusak ini, bukankah ini mirip seperti yang ibuku alami?, ketika aku dimarahi dan di tendang oleh nenek, ibuku terus melindungi ku seperti kau melindungi anakmu. Dan kau menjadi penonton seperti yang mereka lakukan disana" ucap Quirin sambil terus menggerakkan tangannya tanpa henti dan melirik kearah Zee dan yang lainnya.


Beymi mengingat itu, ia memang menonton ketika Jean menyiksa Quirin, dan Arcy melindungi Quirin kecil dengan tubuhnya.


"Kau harus merasakan apa yang ibuku rasakan, tapi sayangnya permainanku lebih bagus daripada nenek tua itu" ucap Quirin sambil tersenyum smirk.


Darah terus mengalir di tangan Beymi, ia bahkan menangis sambil melindungi tubuh Jeslyn.


Beymi sudah tidak menjerit lagi, ia menahannya karena ia sudah menyesali perbuatannya itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2