
Jeslyn menatap ke arah Quirin, ia mulai mengembangkan senyumnya walau Quirin menatapnya datar dan juga sudah menyiksanya dengan sangat kejam.
Tapi ketahuilah, Jeslyn benar-benar tidak tahu mengenai kejahatan ibunya, jika dirinya tau, maka ia akan langsung menghentikan ibunya itu.
Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing dan masalah yang di hadapi Jeslyn adalah di bagian perekonomian keluarga.
Padahal Jeslyn adalah anak yang baik, tapi karena keuangan yang selalu tidak pernah cukup, membuat Jeslyn tidak sengaja mendorong sang ibu ke tepi jurang.
Ia juga sempat menyalahkan sang ibu karena membuatnya berada di posisi yang sangat tidak masuk akal.
Lalu setelah mendengar perkataan Quirin, Jeslyn jadi mengerti, semua yang di lakukan sang ibu adalah karena kesalahannya.
Jadi, walaupun Quirin menyiksanya dengan kejam, ia memang harus menerimanya dengan lapang dada dan terus meminta maaf.
Dengan sisa-sisa kesadarannya, Jeslyn mempertahankan senyumnya "ja-jangan me-nangis, hukuman ini sangat pantas untuk aku terima, ka-rena itu aku akan terus mengucapkan kata maaf sampai akhir hayat ku, su-ngguh aku benar-benar menyesal ... maafkan aku" ucap Jeslyn dengan terbata-bata.
Jeslyn benar-benar sudah tidak kuat menahan kesadarannya, perlahan-lahan mata indah itu pun mulai tertutup dan Jeslyn menghembuskan nafas terakhirnya karena kehilangan banyak darah.
Kursi dimana tempat Jeslyn berada sudah di kelilingi oleh darah, bahkan seluruh bagian kursi juga ikut terkena darah.
Quirin menatap jasad Jeslyn dengan datar, ia pun melempar pisau yang ada di tangannya ke sembarang arah.
Quirin sedikit tidak mengerti dengan tubuhnya itu, kenapa cairan bening di kelopak matanya terus mengalir dengan deras.
Quirin masih berjongkok di hadapan Jeslyn "apa aku menyesal?" gumam Quirin sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"Tidak bisa!, saat aku berpindah ke tubuh ini, aku sudah berjanji untuk membalaskan semua dendamnya. Tidak boleh ada penyesalan dalam diriku!, Yang seharusnya menyesal itu adalah mereka, karena mereka yang membuat ibu pemilik tubuh meninggal dan pemilik tubuh di siksa habis-habisan oleh keluarganya sendiri " batin Quirin
Quirin berdiri dan masih memunggungi keempat orang itu "kalian bisa berbalik badan dan bereskan sisanya, aku akan pergi ke kamar dulu" ucap Quirin sambil terus menghapus air mata yang menetes.
Keempat pria itu pun berbalik, lagi-lagi Arnius dan Staren terkejut melihat kondisi fisik Jeslyn. Kondisinya bahkan sangat mengenaskan, bahkan mereka tidak memperdulikan kedua mata mereka akan ternoda.
Vano yang ada di samping mereka langsung bergerak membersihkan lantai yang sudah terkenal darah. Mereka tetap harus melihat tubuh Jeslyn yang sudah tidak berbusana.
Sedangkan Zee, justru langsung menatap kearah Quirin dan melangkah mendekatinya "kenapa kau menangis?" tanya Zee sambil mengeluarkan sebuah kain yang ada di sakunya lalu menghapuskan darah yang ada di wajah Quirin secara perlahan.
Mendengar pertanyaan Zee, sontak Staren dan Arnius menoleh, satu menggelengkan kepalanya dan yang satunya lagi mengucek mata.
Quirin terkejut mendengar perkataan Zee "menangis?, aku?, sepertinya tidak, mataku hanya terkena darah saja" elak Quirin dengan canggung sambil berpura-pura menghapus darah yang ada di wajahnya.
Setelah terlihat sedikit lebih bersih, Zee menuntun Quirin berjalan "sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini" ucap Zee sambil memegang pundak Quirin.
"Sejak kapan tuan muda begitu lembut pada wanita?, selama ini aku bahkan berpikir bahwa tuan sangat tidak menyukai wanita" gumam Arnius sambil menatap punggung keduanya sampai menghilang.
"Aku tidak percaya ini, apa mataku salah melihat?, bagaimana bisa tuan muda yang dingin itu memperlakukan wanita dengan lembut?" tanya Staren sambil mengucek matanya berulang kali.
Vano yang sedang bekerja terlihat sangat kesal karena ternyata ia baru menyadari bahwa dirinya berkerja sendirian.
Vano menghentikan aktifitasnya, lalu menatap kedua bawahannya "hei! kalian!, jangan sampai aku yang membereskan kalian, lakukan pekerjaan ini dengan cepat karena aku masih ingin kembali kerumah sakit!" perintah Vano dengan mata melotot.
Keduanya pun memegang dan mengangguk "ba-baik bos" ucap Staren dan Arnius dengan serempak.
__ADS_1
...****************...
Di tepi jalan, Beymi tengah berjalan sambil menunduk, di sepanjang jalan, ia harus mendengar cemoohan dari orang-orang.
Dan tiba-tiba saja, jantung Beymi berdetak sangat cepat, pikirannya terus tertuju pada Jeslyn.
"Jeslyn" gumam Beymi sambil memegang dadanya yang berdetak sangat cepat.
Beymi bergegas mencari sebuah toko ponsel, dan lagi-lagi, ketika ingin membeli sebuah ponsel, ia harus menghadapi orang-orang yang mengkritiknya dengan tajam.
"Kau lihat dia?, sepertinya wanita tua itu yang sedang trending" ucap para pengunjung sambil mengecek ponsel mereka.
"Benar, dia wanita yang tidak tahu malu itu, untuk apa dia berkeliaran seperti ini?"
Salah satu pengunjung ponsel pun mendekati Beymi "hei wanita tidak tau malu!, untuk apa kau berada di sini?" tegur salah satu pengunjung.
Beymi mengabaikan perkataan pengunjung itu, ia lebih memilih membeli ponsel dan menghubungi Quirin untuk menanyakan kabar sang anak.
Namun sang pemilik ponsel tidak menerima uang yang di berikan oleh Beymi.
"Lebih baik kau mencari di toko lain saja, aku tidak menerima pembeli sepertimu, wanita jahat" tolak pemilik toko dengan kasar.
Beymi tak kuasa menahan tangisnya, sekarang ini ia benar-benar di selimuti oleh rasa khawatir "aku akan membayar berapapun yang kau minta, tapi tolong berikan ponsel ini padaku" ucap Beymi sambil menunjuk sebuah ponsel yang ada di dalam steling.
Pemilik toko menatap Beymi dengan tajam "tidak!, lebih baik kau pergi saja!" ujar pemilik toko sambil mendorong tubuh Beymi dengan kasar.
__ADS_1
Bersambung ...