Another Person Life

Another Person Life
Lintah Darat


__ADS_3

Lura melihat Rea sedang menatapnya hingga kedua mata mereka telah bertemu "jika dilihat lebih rinci, bahan pakaian yang digunakan wanita itu sangat lah mahal, jadi aku harus membuat kakak tidak memiliki muka lagi di hadapan temannya" batin Lura sambil tersenyum licik, lalu dengan cepat menghilangkan senyum itu.


Tanpa disadari Lura, Rea sudah melihat senyum itu, ia oun mengalihkan pandangan pada gelas yang ada didepannya, melihat ketidak pedulian Rea, Lura berpikir keras agar Rea berpikiran yang jelek tentang kakaknya.


"Kakak, walaupun seperti itu, aku tetaplah adikmu, kakak kenapa kasar sekali padaku?, jika aku berbuat salah, aku minta maaf" ucap Lura sambil menunduk dan menitikkan air mata.


Rea yang baru saja meneguk air, langsung menyemburkan air yang ada di mulutnya. Ia bahkan terbatuk-batuk mendengar suara yang sangat mengganggu di telinganya.


Quirin membantu menepuk punggung Rea, sedangkan Lura hanya berdiam diri seperti patung.


Setelah selesai, Rea mengernyitkan dahinya lalu menoleh kearah Quirin sehingga keduanya saling bertatapan.


"Seperti yang kau lihat" Quirin menjawab seolah dirinya bisa membaca tatapan Rea.


Anehnya, semua jawaban yang diberikan oleh Quirin, justru sesuai dengan harapan Rea "hah, pantas saja dia tidak sopan padamu, ternyata semua itu ulah lintah darat" gumam Rea sambil mengelus dadanya.


"Lintah?, sepertinya julukan itu sangat cocok" lagi-lagi Quirin menjawab dengan santai santai, seolah bisa menebak siapa lintah yang dimaksud oleh Rea.


Lura yang masih berdiri disana tidak tau apa yang terjadi "kenapa dia tidak terpengaruh?" batin Lura kesal.


"Kakak, selama ini aku tidak pernah marah padamu karena telah memperlakukanku dengan kasar, tapi sekarang kau bahkan dengan terang-terangan mengabaikan ku didepan temanmu" ucap Lura dengan Isak tangis.

__ADS_1


Rea yang mendengar itu benar-benar jijik "hei lintah darat, jangan memperlihatkan wajah jelek mu itu di hadapanku, semua itu tidak akan berguna karena aku tau kalian tidak pernah bersikap baik pada Quirin" ucap Rea dengan santai.


"A-apa maksud kakak?, aku selalu memperlakukan kakak ku dengan baik, bahkan sebaliknya, dia yang tidak memperlakukan aku dengan layaknya saudara" teriak Lura dengan kesal.


Brakkk


Rea menghentakkan tangannya dengan kuat di atas meja, Lura yang tidak tau sifat orang didepannya tersentak kaget ketika Rea dengan spontan memukul meja.


"Beraninya kau berteriak padaku!" kesal Rea dengan melototkan matanya.


Lura bahkan sampai ketakutan mendengar teriakan itu, awalnya ia sedikit meremehkan Rea, ia berfikir bahwa Rea sama dengan kakaknya yang memiliki sifat anggun dan lembut, karena Rea menggunakan gaun putih di atas lutut, serta memakai high heels putih disertai dengan tas kecil dan rambut panjang bergelombang.


"Di-dia terlihat sama dengan kakak, tapi kenapa dia mengeluarkan sifat aslinya didepanku?, padahal aku tidak pernah berseteru dengannya, dan kenapa dia bisa mengetahui bahwa aku tidak pernah bersikap baik dengan kakak?" batin Lura ketakutan.


Lura yang mematung, melihat kearah Quirin "pasti kakak yang sudah mengatakan pada wanita itu" batin Lura dengan menggeretakkan giginya.


"Pergi dari sini!, dasar anak haram tidak tau diri!" bentak Rea dengan keras.


Lura semakin menitikkan air matanya, ia yang awalnya sengaja ingin berpura-pura menangis akhirnya tidak tahan mendengar bentakan Rea, dan ia pun mulai menitikkan air matanya dengan rasa sakit di hatinya.


"Beraninya kau mengatakan itu di dalam mansion ku!" Grizo yang berada di taman merasa terusik dengan suara Rea, ia pun masuk kedalam dan mendengar semua perkataan Rea yang mengatai Lura hingga membuatnya menangis.

__ADS_1


Melihat Lura menangis, Grizo seakan tidak tega, walau anak itu bukanlah anak kandungnya, tapi dia lah yang memberikan anak itu kasih sayang hingga membesarkannya sampai sekarang.


Rea mengernyitkan dahinya, ia yang mendengar itu sudah bisa menyimpulkan mengapa Quirin bisa diperlakukan berbeda di mansion Alister "lalu apa?, bukan kah itu kenyataannya?,"


Grizo terlihat sangat kesal "walau dia bukan anak kandung ku, tapi aku yang sudah membesarkannya dan menyayanginya. Apa kau berkah ikut campur dalam urusan keluargaku?"


Quirin yang mendengar itu terlihat sangat kesal, ia sudah menggeretakkan giginya dan sudah tidak bisa mentolerir perbuatan Grizo.


Lura yng mendengar perkataan Grizo merasa sangat senang "ternyata ayah masih menyayangiku, kali ini aku akan membalas perbuatanmu kakak" batin Lura tersenyum licik.


"Haa ... aku memang tidak berhak, tapi aku mengerti sekarang, kau lebih menyayangi anak tiri mu di bandingkan anak kandung mu, bukankah begitu?" tanya Rea dengan tersenyum mengejek.


Mendengar itu, Grizo tersentak kaget dan menoleh kearah Quirin, ia bisa melihat tatapan tajam Quirin sudah mengarah padanya.


"Ti-tidak seperti itu ... " Grizo mulai gugup dan perkataannya pun terpotong oleh perkataan Quirin.


"Sudahlah, tidak ada gunanya kau berdebat dengannya, lebih baik kita pergi dari sini" ucap Quirin beranjak dan pergi dari melewati Grizo yang sudah berdiri terpaku.


Rea mengikuti langkah Quirin dan saat melewati Grizo, Rea sempat berbisik "sebentar lagi kau akan menyesali perbuatanmu!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2