Another Person Life

Another Person Life
Seperti Parasit


__ADS_3

Vano melirik ke samping, ia melihat Xura tengah tersenyum smirk "nona, apa kau sudah mengetahui semuanya?" tanya Vano dengan pelan.


"Tentu saja" ucap Xura dengan santai.


Vano tidak terkejut lagi mendengar bahwa Xura sudah mengetahuinya, ia pun menghela nafas dengan pelan.


Ia hanya sedikit binggung dengan perkataan Xura, namun Vano memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaan itu lagi "Lalu apa yang sudah kau bicarakan pada wanita itu, nona?" tanya Vano yang sedikit penasaran.


"Kau akan tau setelahnya" ucap Xura sambil menggerakkan giginya.


Lagi-lagi Vano mendapat jawaban yang tidak ingin di dengar, tapi apa boleh buat, wanita yang ada di depannya bukanlah manusia biasa, jadi dirinya tetap harus berhati-hati dalam melakukan apapun.


"Apa kau tidak marah pada tuan muda, nona?" tanya Vano lagi dengan pelan.


Xura menggelengkan kepalanya dengan pelan "Tidak, aku tidak marah padanya, tapi karena dia yang memulai permainan ini maka dia juga yang harus mengakhirinya, aku hanya membantunya dari belakang saja" ucap Xura sambil keluar dari mansion dengan tangan yang masih memegang Vano.


"Aku sudah memperingatkan mu tuan, tapi kau tidak mendengar perkataan, maka kau hanya bisa menikmati permainan dari nona Xura" batin Vano yang mulai bergidik ngeri melihat senyum smirk di wajah Xura.


Setelah punggung keduanya tidak terlihat lagi, Zee tampak terlihat sangat marah, ia pun menggeretakkan giginya dengan sangat kuat sehingga Leva yang ada di sampingnya mendengar gesekan gigi Zee.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak salah, anakku menyukai wanita itu" batin Leva sambil melirik kearah Zee.


Sedangkan Gilma justru masih terduduk di lantai, Leva pun menoleh kearah Gilma, ia melihat Gilma begitu ketakutan, lalu mata Leva mengarah ke pintu keluar.


"Aku penasaran, apa yang dia katakan pada Gilma sampai dia ketakutan seperti itu?" batin Leva.


Leva melangkahkan kakinya dan berjongkok di hadapan Gilma, lalu ia pun langsung menepuk pundak Gilma "kau tidak apa-apa Gilma? ... apa yang dia katakan padamu nak?, sampai kau terduduk di sini?" tanya Leva sambil melihat wajah Gilma yang mulai di banjiri air mata.


"Dia mengatakan aku miskin bibi, padahal aku tidak miskin, aku sudah memiliki rumah, mobil, dan yang lain nya. Apa salahku padanya bibi?, kenapa dia melakukan itu padaku?" ucap Gilma sambil menangis.


Leva yang mendengar itu mengerutkan dahinya, ia meras aneh dengan perkataan Gilma, tapi ia juga tidak mempertanyakan hal itu lagi pada Gilma.


Gilma yang mendengar itu langsung mengangguk dan menghapus air matanya. Ia pun bangkit dan melihat kearah Zee.


"Kakak, kau tidak ingin mengantarku?" tanya Gilma dengan wajah kasihan.


Zee melirik sebentar kearah Gilma dengan tajam, lalu ia pun melangkah pergi dari sana tanpa meninggalkan sepatah katapun.


Gilma tampak terkejut, tidak biasanya Zee meninggalkannya begitu saja, tapi kali ini Zee terlihat sangat tidak menyukai Gilma.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan kakak Zee?" gumam Gilma dengan berdiri mematung sambil melihat punggung Zee yang mulai menghilang.


"Mungkin Zee memiliki banyak pikiran, lebih baik kau pergi beristirahat" ucap Leva sambil menenangkan Gilma.


"Baiklah bibi, terimakasih bibi" ucap Gilma yang mulai berjalan memunggungi Leva.


"Menyebalkan, padahal perkataan Xura yang mengatakan dia miskin tidaklah salah, dia terus menyalahkan Zee atas kecelakaan itu, lalu dia mengancam akan bunuh diri jika melihat Zee bersama dengan wanita lain, dia melakukan itu agar dirinya bisa bersama dengan Zee, wanita sepertinya bahkan terus menempel pada anakku seperti parasit. Jika bukan karena Zee yang memperingati ku, tentu aku sudah mendepak mu keluar dari rumahku" batin Leva yang sangat tidak menyukai Gilma.


Leva teringat bahwa saat Gilan di nyatakan tewas, Zee terus mentahkan dirinya atas kecelakaan itu, ia bahkan sangat merasa bersalah pada Gilan, bahkan setelah berhari-hari berlalu anaknya terlihat sangat murung dan semakin kurus. Lalu mereka mendengar bahwa Gilma terlihat sangat depresi karena kehilangan kakaknya.


Zee yang mendengar kabar itu merasa sangat bersalah, ia pun pergi mengunjungi gila di rumah sakit dan saat Zee memunculkan wajahnya, Gilma langsung berlari dan memeluk Zee.


Gilma terus memanggil nama Gilan pada Zee, sejak saat itu juga Gilma terus menempel tanpa membiarkan Zee pergi, mau tidak mau Zee harus bertanggung jawab pada Gilma, hingga saat dimana Gilma melihat Zee pada wanita.


Gilma berteriak bahwa Zee yang membunuh kakaknya, melihat Gilma histeris, Zee semakin merasa bersalah.


Leva yang tidak menyukai Gilma mencoba berbicara pada Zee untuk tidak terlalu memanjakan Gilma, tapi Zee tidak bisa melakukan itu, ia tetap menyuruh Leva untuk bersikap baik pada Gilma.


"Hah ... anak itu, kapan kau sadar bahwa Gilma terus memanfaatkan rasa bersalah mu untuk bisa masuk keluarga kita" gumam Leva ambil menghela nafas dengan kasar.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2