
Dengan mata memerah, Quiran melangkah secara perlahan, orang-orang bisa melihat di genggamannya terdapat paku dan martil.
Di ruangan bawah tanah itu terdapat berbagai macam alat, jadi tidak heran jika Quiran menemukan benda-benda aneh "sepertinya akan jauh lebih menarik" ucap Quiran dengan mengangkat kedua tangannya.
Seluruh darah yang keluar dari luka di tubuh Calis telah terhenti, tapi perasaan sakit terus saja terasa, tapi walau begitu, Calis tetap bisa menahan rasa sakit itu, "a-apa yang kau lakukan?!" teriak Calis.
Saat melihat ke arah tangan Quiran, Calis benar-benar sangat takut, keringat dingin mulai keluar dari sela pori-porinya. Bahkan keringat itu menetes dan mengenai pipi Calis.
"Shhhh" Calis meringis kesakitan, ia bisa merasakan sakit ketika keringatnya mengenai luka terbuka itu.
Walau hanya setetes keringat tapi mampu menambah rasa perih di luka Calis. Wajah pucat itu tampak seperti zombie, jika orang lain melihatnya, maka mereka justru bukan merasa kasihan melainkan akan merasa sangat jijik dan akan menghina Calis.
Quiran telah tiba di depan Calis, ia dengan cepat menancapkan paku itu tepat di pergelangan kaki Calis.
"Ja-jangan lakukan itu" teriak Calis dengan meronta-ronta. Ia bahkan terus menyingkirkan tangan Quiran dari kakinya.
Tapi bukan Quiran namanya jika tangan itu bisa langsung tergeser begitu saja, Quiran yang sudah kesal langsung menarik kaki Calis dengan sangat kuat dan langsung menancapkan paku itu tepat di pergelangan kaki Calis, bahkan Quiran juga dengan cepat mengayunkan martil yang ada di tangan satunya.
"Argghhhhh"
Teriakan itu begitu kuat, para lelaki yang melihat adegan itu bahkan merasakan ngilu di seluruh tubuh mereka.
Mata Quiran kini beralih ke arah Lura "tunggu saja giliran mu" ucap Quiran dengan senyuman yang menakutkan.
Lura yang melihat ekspresi itu bahkan terus menutup mulutnya dengan perasaan takut.
Tiba-tiba saja, seseorang menyingkirkan Vano, Staren, Arnius dan Al dari hadapannya. Dan dua orang lainnya mengikuti dari belakang.
Orang itu menatap tidak percaya kearah Quiran, ia melihat sebuah paku tengah menancap di kaki Calis. Ia juga melihat tangan Quiran masih memegang paku itu.
"Apa yang sudah kau lakukan?!" teriak orang itu dengan suara menggelegar.
Quiran memutar bola matanya dengan malas "apa?!, tentu saja aku sedang bermain, apa kau tidak melihatnya?" ucap Quiran dengan kembali menatap Calis.
Bisa di pastikan pergelangan kaki Calis telah retak, bagaiman tidak?, kekuatan Quiran jauh lebih besar di bandingkan dengan Quirin.
__ADS_1
Alter ego itu seperti memiliki kekuatan mereka sendiri, karena itulah mereka bisa melawan para musuhnya dengan mudah dan juga bisa menyiksa lawan jauh lebih keji di bandingkan manusia biasa.
"Arghhhhh"
Sekali lagi, Quiran melayangkan martil itu sehingga membuat Calis berteriak lebih keras lagi. Quiran tidak perduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Baginya mereka semua tidaklah penting.
"Quirin!" teriak orang itu dengan marah.
Quiran sangat kesal mendengar panggilan yang keluar dari mulut orang itu "jangan coba-coba berteriak padaku!, memangnya kau pikir siapa dirimu?!" ucap Quiran sambil menoleh kearah orang itu dengan tajam.
Walau dia seorang Quiran, dirinya langsung mengenali suara orang tersebut.
"Tolong aku, Grizo" ucap Calis dengan lirih, Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berteriak keras, tenaganya terkuras habis karena penyiksaan Quirin.
Lura yang melihat Grizo juga tidak berani mendekat, ia sudah tidak bisa berharap pada Grizo lagi, Karen saat dirinya di pukul, Grizo bahkan tidak membantunya sama sekali. Lura bahkan sudah tidak bisa berpikir lagi, ia hanya bisa meringkuk sambil menutup kedua telinganya, dirinya sudah tidak sanggup melihat sang ibu disiksa di depan matanya.
Walau dengan suara kecil, tapi mampu membuat siapapun mendengar suara Calis.
"Kau sangat kasihan padanya?" tanya Quiran dengan mata yang sudah hampir keluar dari tempatnya.
"Arghhhh"
Grizo terlihat sangat marah, tapi hatinya melarangnya untuk melangkah ke depan.
Jay dan Rea bahkan terkejut ketika melihat tindakan Quiran. Rea yang memang memiliki sifat keras bahkan tidak mengedipkan matanya sekali pun. Terkejut?, tentu saja, tapi ia justru merasa senang dengan tindakan kakaknya itu, bagi Rea, kakaknya itu memang harus membalaskan perbuatan sepasang ibu dan anak iru dengan balasan yang setimpal.
"Kenapa kau mengeluarkan ekspresi itu?!" tanya Quiran dengan senyuman menakutkan.
"Arghhhhh"
Jika satu pertanyaan keluar dari mulut Quiran, maka akan terdengar satu ketukan martil di kaki Calis.
"Hentikan" ucap Calis dengan wajah pucat.
Quiran tidak mendengarkan perkataan Calis, ia bahkan terus melanjutkan pertanyaannya pada Grizo "kau ingin menolongnya?" tanya Quiran dengan senyuman khas seorang Quiran.
__ADS_1
"Arghhhhhh"
Satu ketukan itu tepat mengenai paha Calis. Setiap ketukan martil itu bisa membuat tulang Calis hancur, bahkan bisa ngeluarin darah yang cukup banyak di sela-sela kulitnya.
Grizo mengeram marah, kedua tangannya terkepal dengan kuat, ia bahkan tidak bisa membayangkan anak yang sempat di abaikannya kini berani berbuat jahat pada ibu tirinya, bahkan di depan Grizo sendiri.
"Walau dia bertindak semena-mena padamu, tapi tetap saja dia itu ibu mu, kenapa kau begitu kejam padanya?, kau bisa mengirimnya ke penjara tanpa harus melukainya" ucap Grizo dengan marah.
Calis yang mendengar itu merasa tidak percaya, padahal ia merasa Grizo sangatlah menyayanginya, tapi sekarang apa?, perkataan Grizo sangat melukai hati Calis.
"Ah haha ... kau pasti berpikir bahwa aku Quirin, baiklah, aku akan memberi satu rahasia, dan aku akan memperkenalkan diriku lagi, walau aku cukup bosan terus memperkenalkan diri pada orang bodoh seperti kalian. Perkenalkan aku Quiran, sang alter ego yang terbentuk dari sisi kelam anakmu, lagi pula anakmu sudah mati sekarang, jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi" ucap Quiran disela tawanya dengan tersenyum manis.
Grizo yang sempat mengeram marah begitu terkejut dengan penuturan Quiran. Ia bahkan tidak percaya dengan perkataan itu.
Jay dan Tea bahkan menegang mendengar perkataan Quiran. Rea pernah membaca sebuah majalah tentang keluarga Alister, sifat yang di ketahui Rea bukanlah tegas dan pemberani melainkan pemalu dan menutup diri dari dunia, bahkan dia tidak pernah menunjukkan wajahnya kedepan publik.
"Apa yang semua dia katakan benar?" batin Rea
Sedangkan Calis hanya bisa melototkan matanya, pikirannya terus tertuju pada perubahan Quirin. Ia menyangkal untuk percaya namun perubahan Quirin sendiri dapat membuktikan bahwa apa yang di katakan Quiran adalah benar.
"Ka-kau bukan Quirin?" tanya Calis dengan lemah.
"Haha ... aku sangat berterimakasih padamu, jika kau tidak menyiksanya, maka alter ego sepertiku pasti tidak akan pernah tercipta dan aku pasti tidak akan bisa menikmati dunia yang indah ini" ucap Quiran dengan tawa yang sangat keras.
Spontan saja Staren dan Arnius menoleh kearah Al, Xeno, dan Zee secara bersamaan.
"Jadi dia yang mereka bertiga bicarakan?" tanya Arnius dengan menelan saliva nya.
"Pantas saja aku melihat mereka sedikit gelisah, apa semua karena alter ego itu?." ucap Staren dengan tidak percaya.
Calis seperti memiliki sedikit harapan, ia pun tengah tersenyum tipis "jika kau ingin berterimakasih, maka kau bisa melepaskan ku, lalu membiarkan aku hidup. Maka dengan itu kau dan aku bisa menjadi teman, Aku akan memberikan apapun yang kau minta. Seorang teman?, itu sangat mudah bagiku. anggap saja hal itu sebagai tanda ucapan terimakasih mu padaku dan juga sebaliknya." ucap Calis dengan mata yang penuh harap.
Quiran tampak terdiam dan berpikir, ia bahkan seperti tersenyum senang memikirkan tawaran Calis.
Xeno dan Al terkejut mendengar perkataan Calis, bagaimana tidak?, dalam keadaan kritis, Calis bahkan mampu memberikan sebuah tawaran yang sangat menggiurkan bagi para alter ego.
__ADS_1
Zee yang mendengar itu juga sangat terkejut, ia sudab melototkan matanya dan ingin melangkah.
Bersambung ...