Another Person Life

Another Person Life
Mengedipkan Satu Mata


__ADS_3

"Yeah!" gumam seseorang dengan tersenyum senang karena tembakannya tepat mengenai sasaran.


Tembakan itu tembus hingga mengenai dinding, Orang-orang yang ada di dalam terkejut mendengar tembakan itu, termasuk juga Raco.


Mereka melihat kearah dinding yang telah berlubang itu, lalu mata semua orang melotot ketika melihat peluru yang menancap di dinding sudah bercampur dengan darah.


Raco juga ikut melihat, Hal itu membuat Raco melihat ke tangannya yang sudah mengeluarkan darah, sedetik kemudian Raco bisa merasakan sakit di tangannya, besi yang ada di tangan Raco juga terlepas begitu saja.


Arrgghhhh


Raco jatuh bersujud sambil memegang tangan yang sudah berlubang itu dengan tangan lainnya.


Andrea mulai murka melihat tangan bawahannya di tembak oleh seseorang "Siapa itu!" teriak Andrea dengan marah sambil berdiri dan memutar tubuhnya.


Andrea melihat kaca rumahnya sudah berlubang, melihat itu Andrea melototkan matanya lalu kembali menatap layar.


Ternyata seluruh layar sudah berubah menjadi gelap, Andrea mulai mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


Dor


Dor


Dor


Dor


Tembakan itu tepat mengarah pada Raco yang tengah bersujud, para bawahan Andrea mulai tercengang.


Mereka tidak menyangka tembakan itu terus mengenai Raco, tidak ada satu peluru pun yang meleset mengenai Kiryu yang berada tepat di samping Raco.


"Singkirkan Mereka!" teriak Andrea dengan tangan yang sudah terkepal kuat.


Para bawahan itu pun langsung berlari dan membuka jendela, mereka langsung melepaskan tembakan bertubi-tubi, setelah merasa telah sunyi, tiba-tiba saja ...

__ADS_1


"Hai!, kalian mencari ku?" ucap seseorang yang tengah memunculkan wajahnya tepat di depan para bawahan itu.


Orang itu langsung menaburkan racun di wajah para bawahan Andrea.


Arrgghhhh


"Nyonya, tolong kami!"


Teriakan para bawahan itu membuat Andrea semakin marah, ia pun berlari lalu mengambil sebuah pisau yang ada pada bawahannya dan langsung menyerang orang itu.


Srakk


Srakk


Setiap Andrea mengayunkan pisaunya, orang itu menghindar sambil tersenyum.


"Siapa kau sebenarnya?, kenapa kau mengikuti Feryun!" teriak Andrea dengan marah.


"Kau tidak memiliki hak untuk bertanya nenek tua" ucap orang itu dengan tersenyum sinis lalu Orang itu mengambil pisau dari Andrea dan menggores tangan andrea dengan sangat dalam.


Arrgghhhh


Darah mulai mengalir dari tangan Andrea, ia pun mulai memundurkan langkahnya dan tidak memperdulikan para bawahan yang terus berteriak kesakitan.


Lalu tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sangat kuat, Andrea pun tampak menoleh kearah pintu.


Di sana ia melihat Feryun tengah menatap Kiryu yang sudah terkapar di lantai dengan kedu tangan dan kaki terikat.


"Hahaha ... bagaimana?, ini lah balasan yng akan kau terima jika berani menghiantiku" ucap Andre yang tidak memperdulikan tangannya yng mengeluarkan darah.


"Andrea!" teriak Feryun dengan mata yang sudah memerah serta tangan yang sudah terkepal dengan sangat kuat.


Xeno, Zee dan Rea berlari kedalam dan mereka di hadang oleh beberapa orang.

__ADS_1


Karena sudah terlalu kesal, Rea langsung menghajar mereka semua dengan menggunakan kekuatannya, tapi saat satu orang mengarahkan pistolnya pada Rea, Xeno langsung melepas pelatuk pistolnya dan menembak orang itu beberapa kali.


"Berhati-hatilah, gunakan senjata agar lebih cepat membereskan mereka semua" ucap Xeno yang memberikan peringatan pada Rea.


Rea yang mendapat kata-kata perhatian itu mulai tersenyum manis "baiklah, agar lebih cepat, aku harus menggunakan dua pistol" ucap Rea yang mengeluarkan pistol satunya lagi yang bertengger di paha kanannya.


Suara tembakan terdengar di ruangan itu, sedangkan satu orang tengah bersantai menikmati wajah kesal Andrea.


"Ada apa nenek tua?, apa hanya ini saja yang kau punya?, kau mengaku bahwa kau adalah orang yang kejam serta ber pengaruh, tapi lihatlah sekarang?, kau bahkan tidak bisa menang melawan cucu mu sendiri" ucap orang itu yang tak lain adalah Quirin.


"Tidak menang?, apa kau yakin?, aku bahkan sudah memegang kartu yang sangat bagus" ucap Andrea sambil tersenyum.


"Kau yakin?, apa menurutmu kau bisa menculik paman Jay dan bibi amber?" ucap Quirin sambil mengambil kursi yang baru saja di duduki Andrea dengan memegang satu nya.


"Ka-kau?, bagaimana bisa?" tanya Andrea dengan mata melotot.


"Tentu saja aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk membunuh mu" ucap Quirin sambil tersenyum manis.


Andrea sedikit bergetar melihat senyuman itu, ia pun mulai menoleh kebelakang dan ia melihat sua bawahannya telah mati, hal itu membuat Andrea tidak terima, ia pun berusaha mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi para bawahannya yang berada di mansion Zee dan yang berada di rawa.


Namun semua sambungan itu seolah terputus "ada apa nenek tua?, kau tidak bisa menghubungi mereka?, ah .. aku lupa, aku sudah membunuh mereka semua" ucap Quirin sambil mengedipkan satu matanya.


Zee, Xeno dan Rea telah berhasil mengalahkan para bawahan Andrea, tubuh ketiganya ya pun mengalami goresan yang di akibatkan peluru yang melesat serta tergores oleh benda yang jadi pelindung mereka.


Setelah selesai, mereka pun langsung menghampiri Kiryu, "ini benar-benar gila, kita harus segera pergi dari sini, jika tidak, kaki mu akan mengalami infeksi" ucap Xeno yang bergidik ngeri melihat bekas luka bakar yang di lakukan oleh Raco.


"To-long bawa aku juga" ucap Raco yang masih dalam keadaan setengah sadar.


Xeno melihat semua yang di lakukan Raco pada Kiryu, ia benar-benar kesal melihat Raco menempelkan besi panas itu di kaki Kiryu dengan wajah tersenyum puas.


Mengingat hal itu membuat Xeno terlihat kesal "Cih, membawamu?, teruslah bermimpi manusia menyedihkan" ucap Xeno sambil menendang wajah Raco dan ia pun langsung menembak tepat di kepala Raco.


Dor

__ADS_1


Kiryu ingin menghentikan Xeno, tapi ia tidak memiliki tenaga untuk melarang Xeno membunuh Raco.


Bersambung ...


__ADS_2