
Lura sudah tidak sanggup mendengar tuduhan yang dilayangkan untuknya "aku tidak pernah melakukan itu!" Lura membantah sambil melihat kearah Quirin.
Wajahnya sudah di banjiri oleh air mata, bahkan mata yang tadinya melihat Quirin dengan tatapan menghina, kini sudah memerah karena menangis terus menerus.
Quirin tersenyum tipis melihat kehancuran Lura, ia semakin bersemangat untuk menjatuhkan Lura "kenapa kau menatapku seperti itu?, bukankah kau mengaku tidak melakukannya?, lalu wajah siapa yang ada di dalam video itu?, apakah orang lain?, kau pikir aku buta!" balas Quirin dengan berteriak lebih keras.
Lura kembali ketakutan dan ia kembali menutup kedua telinganya.
Lura semakin gemetar ketakutan, saat ini pikirannya sangat kacau, ia bahkan tidak mampu untuk berpikir jernih "aku telah dijebak!, kenapa kalian tidak percaya padaku!" teriak Lura dengan sangat keras.
Setelah melihat video itu mental Lura kini tengah terguncang, di tambah Quirin memarahinya dengan sangat keras sehingga membuat Lura semakin berteriak histeris.
Lura sendiri bahkan samar-samar mengingat kejadian itu, ia hanya mengingat jika dirinya pergi bersama Max, setelah itu ia tidak mengingat apapun. Apalagi setelah melihat video itu Lura bahkan lebih terkejut dari yang lain.
"Tolong percaya padaku!" teriak Lura sambil menangis.
Quirin mendekati Lura lalu memegang kedua pundaknya "apa yang harus aku percaya?, video itu sudah membuktikan kau juga sangat menikmatinya, bahkan kau memanggil nama-nama pria itu dengan suara nakal!, bagaimana bisa kau lakukan ini pada keluargaku!" ucap Quirin sambil mengguncang tubuh Lura.
Calis berdiri dan menghampiri mereka lalu memisahkan Quirin dari Lura "apa yang kau lakukan pada adikmu?, keluargamu?, dia ini juga keluargamu?!" teriak Calis yang tidak terima karena Quirin mengguncang tubuh Lura begitu kuat.
Quirin melepaskan tangannya dan berdiri sedikit jauh dari mereka.
"Adik?, ja-lang sepertinya tidak pantas menjadi adikku!, dalam silsilah keluargaku tidak ada satupun dari mereka yang memiliki sifat seperti anak menjijikkan ini!, camkan itu!"
Lura yang mendengar perkataan Quirin merasa semakin historis, ia semakin tersudutkan dengan perkataan Quirin "aku tidak tau!, aku tidak mengenal mereka kakak!, tolong percaya padaku!" teriak Lura sambil menggeleng kepalanya dan menangis terus menerus
__ADS_1
"Kenapa disaat seperti ini baru kau memanggilku kakak?, bukankah dulu kau tidak menyukaiku?" tanya Quirin dengan santai
Lura menangis sejadi-jadinya, pikirannya telah kacau, ia sungguh tidak bisa berpikir lagi, perkataan Quirin benar-benar menusuk hatinya.
"Kau kakak yang berhati batu, disaat seperti ini kau masih bisa menyudutkan adikmu" teriak Calis dengan air mata uang terus mengalir dan dirinya juga terus memeluk tubuh Lura
"Berhati batu?, kalian lah yang sudah membuatku seperti ini, mungkin ini balasan atas dosa-dosa kalian padaku, jadi terima saja hukumannya"
Calis yang mendengar itu langsung melototi Quirin "apa maksudmu!" tanya Calis sambil membekap tubuh Lura yang tidak berhenti menangis.
Quirin melipat kedua tangannya "aku akan menyelidiki masalah ini, tapi, jika itu benar dirimu maka lihat saja, aku tidak akan pernah mengampunimu, karena nama keluargaku sedang dipertaruhkan. Ibuku sudah bersusah payah membangun keluarga ini, jadi aku tidak akan memaafkan orang yang sudah menyia-nyiakan usaha ibuku, aku akan menghukumnya dengan seberat-beratnya!" ucap Quirin sambil melirik kearah Lura.
Calis menggenggam kuat tangan sang putri, Lura yang mendengar ancaman itu langsung berlari keatas dan memasuki kamarnya.
"Kenapa kau melakukan itu pada adikmu?"
Calis yang tadinya menangis kini mulai tersenyum "kau sama sekali tidak pantas mengatakan itu padaku, karena seluruh harta keluarga Alister hanya milik Lura"
"Haha ... Aku hanya mengatakannya sekali, sejak aku didalam kandungan seluruh harta milik keluarga Alister adalah milikku. Jadi jika aku mau, aku bisa dengan mudah mengusir kalian semua kejalanan" ucap Quirin sambil tersenyum lalu mengambil laptop dan meninggalkan Calis yang sedang berdiri mematung.
"Aku akan terus merusak mental anak haram itu lalu selanjutnya permainan akan semakin menarik, ketiga orang ini tidak akan aku lepaskan dengan mudah" gumam Quirin tersenyum puas
Quirin menoleh kekanan dan kekiri, "aku daritadi tidak melihat ayah, dimana dia?" gumam Quirin sambil berjalan kearah kamar Grizo lalu mengetuk pintu.
"Ayah?"
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Grizo sambil menangis dan terus menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Syukurlah dia baik-baik saja, sepertinya ayahmu jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan, tapi tidak menutup kemungkinan aku tidak membalas padanya, ingat!, ini semua ku lakukan hanya untuk membalas perbuatan yng sudah dia lakukan padamu" batin Quirin
Quirin masuk kedalam lalu mendekati Grizo "kenapa ayah meminta maaf padaku?" tanya Quirin dengan datar
"Maafkan ayah karena sudah membandingkan dirimu dengan adikmu, dia tidak seperti yang ayah pikirkan" ucap Grizo dengan suara lemah.
"Ayah, bukankah dia anak kebanggaan ayah?, lalu bagaimana bisa dia bukan seperti yang ayah pikirkan?"
"Maafkan ayah nak, ayah sangat bersalah padamu" ucap Grizo sambil menunduk berderai air mata
"Kata maaf sangat mudah di ucapkan, tapi rasa sakit yang aku rasakan tidak bisa aku lupakan ayah" batin Quirin
"Aku akan menyelidiki kasus Lura, bagaimana pun dia masih bagian dari keluarga Alister, tapi bagaimana bisa video ini muncul di laptopku?, padahal aku hanya membuka Cctv saja, apa akhir-akhir ini ayah memiliki musuh?" tanya Quirin sambil menatap sang ayah. Ia tidak menjawab permintaan maaf Grizo karena Quirin ingin membalasnya dengan cara yang berbeda.
Grizo terdiam sesaat, pikirannya langsung tertuju pada apa yang telah di ucapkan oleh Quirin "apa kau lupa siapa yang membunuh nenekmu?, kemungkinan yang melakukannya adalah dia"
"tentu saja aku tidak lupa karena aku lah yang membunuh nenek menyebalkan itu, ini baru setengah pembalasan dariku, selanjutnya aku akan menghancurkan anak kesayanganmu sampai dia tidak bisa keluar dari rumah lagi. Lalu khusus untuk Calis, aku sudah menyiapkan hadiah yang sangat menarik, dan untuk pelayan itu hukuman ini tentu belum cukup untuknya" batin Quirin tersenyum
"Aku akan mengurus segalanya, ayah tidak perlu khawatir, sebaiknya ayah kembali beristirahat" ucap Quirin sambil meninggalkan Grizo sendiri di kamarnya.
Semua orang tidak ada yang sadar dengan pergerakan Quirin. Mereka semua orang masih dalam keadaan suasana berduka lalu sekarang mereka harus kembali menerima masalah baru.
Semua orang hanya bisa menerka-nerka namun tidak menemukan jawabannya. Grizo sendiri sangat pusing memikirkan keluarganya, ia sungguh tidak tahan menerima musibah yang menimpa keluarganya.
__ADS_1
Bersambung ...